Sebelumnya ....
"Supri, kamu yakin gak dengan apa yang kita lihat ini?" Endang sedikit merinding saat melihat puluhan makhluk nyaris seperti manusia berpesta-pora di sana.
"Yakinlah, Mbak. Kan jelas kita sudah melihatnya," sahut Supri meyakinkan.
BUDAK SETHAN
Selamat membaca ~~~
Pemandangan acara pengantin di sana benar-benar membingungkan mereka berdua, pasalnya tempat itu bukanlah kawasan pemukiman, sudah puluhan tahun hutan itu masih terjaga kelestariannya, sebab menurut warga, banyak makhluk tak kasat mata yang menghuni, sehingga tak satu pun penduduk pribumi berani menginjakkan kaki untuk mendirikan bangunan di sana.
Endang masih ragu dengan apa yang dia saksikan, sementara Supri tampak terhipnotis oleh acara hiburan yang terus berlangsung di atas panggung.
Tampak seorang pria kekar duduk di kursi pengantin menikmati hiburan, sementara mempelai wanitanya terus saja menari mengikuti irama. Gerakan tari yang dia lakukan benar-benar lemah gemulai, lebih mirip penari handal.
"Hai, kalian siapa?" Tiba-tiba seseorang menegur mereka, membuat Endang dan Supri terkejut hingga nyaris kabur.
"Apa yang kalian lakukan di sini? Kalian sedang menguntit, ya?"
Deg!!
Seorang pria tinggi dengan tubuh kekar bak bodyguard kerajaan tengah berdiri menghadang mereka.
"Maaf, kami tidak ada maksud menguntit!" jawab Supri gemetar.
"Iya, itu benar! Kami hanya pengguna motor yang kebetulan lewat, dan tanpa sengaja kami mendengar ada suara dari musik gamelan seperti hajatan, kami hanya ingin memastikan apa yang kami dengar, tidak ada maksud lain, kok! Iya kan, begitu 'kan?" sambung Endang yang juga tak kalah gugup sambil berbicara pada Supri.
"I-iya, itu benar!"
Pria tinggi itu terus menatap mereka seakan hendak menerkam keduanya sekaligus.
"Benarkah yang kau berdua katakan itu, karena jika kalian berbohong, maka bisa dipastikan kau berdua tidak akan pernah bisa kembali pulang ke tempat tinggal kalian selamanya."
Deg!!
"Su-sumpah, kami gak bohong kok!" sergah Supri meyakinkan.
"Baiklah, kuharap kalian berkata jujur. Kalau benar begitu, apa kalian sudi menyinggahi hajatan kami sebelum melanjutkan perjalanan?"
"Mau!" sahut Supri cepat dengan raut gembira, sedang Endang langsung menyenggol lengannya.
Endang kesal karena Supri sepertinya belum paham, bahwa hajatan yang tengah berlangsung itu adalah acara sakral kaum kasat mata.
"Ehehe, maaf. Tapi kami buru-buru!" sahut Endang mengelak. Namun, tiba-tiba tatapan pria itu mendadak dingin, juga hawa di sekitar semakin mistik.
"Mohon maaf, tidak baik bagi pengguna jalan menolak tawaran baik dari kami," ujarnya ramah.
"Iya, bener tuh kata Bapak ini, Mbak Endang, kita gak seharusnya menolak tawaran baik begini." Lagi-lagi, Supri seperti terhipnotis dan sangat ingin menghadiri undangan dadakan itu.
Pria itu tersenyum simpul atas tanggapan Supri, tapi senyumnya terlihat sangat dingin.
Dasar Supri Gendeng, batin Endang menggerutu.
"Silahkan, sebelah sini!" Dia mempersilahkan keduanya menuju panggung hajatan. Dan, tiba-tiba saja sudah ada jalan setapak menuju panggung itu.
Endang menyadari betul akan keanehan yang terjadi, sedang Supri sudah benar-benar terhipnotis oleh kemewahan yang mereka suguhkan.
Mereka akhirnya sampai ke acara itu. Suasana di sana benar-benar ramai. Ada ratusan pria dan wanita yang menghadiri hajatan itu, mereka mengenakan pakaian batik jawa, wajah mereka cantik dan tampan, nyaris tak ada yang setara dengan Endang, kecantikan Endang berada di bawah standar mereka.
Puluhan menu makanan berjejer di pinggiran panggung, Endang melihat mereka bergaul dan berbicara layaknya manusia normal, makan dan duduk di kursi-kursi yang tersedia.
Pria tadi mempersilahkan keduanya untuk menyicipi hidangan mereka.
Benar-benar tak masuk dinalar, bagaimana mungkin ada acara hajatan ditengah hutan, begitu pikir Endang.
Sementara itu, Supri tampak terhipnotis dengan semua suguhan yang ada, hidangan juga hiburannya. Dia sibuk, ikut berbaur dengan kaum kasat mata, memasukkan puluhan menu yang tampak lezat itu ke dalam piring di tangan.
Ingin sekali Endang menyentilnya, tapi jarak mereka terlanjur jauh. Dia akhirnya pasrah, menunggu sampai Supri selesai mengambil makanan lalu duduk di kursi kosong di sampingnya.
Lamat pandangan Endang mengarah pada panggung yang sejak awal berhasil menarik perhatiannya.
Sosok wanita yang menari di atas panggung benar-benar memesona, hingga Endang memutuskan untuk menonton lebih dekat.
Semakin dekat semakin jelas wajah mempelai wanita yang sedang menari itu.
Deg!!
Mata Endang melotot begitu menyadari dia mengenal sosok wanita yang sedang menari. Ya, wajah itu benar-benar tak asing. Anehnya, mata wanita yang tengah menari itu tertutup rapat, seperti sedang terlelap, walau begitu, Endang masih bisa mengidentifikasi wajahnya dengan jelas.
Bainah? batinnya bergumam.
Kenapa mempelai wanita yang sedang menari itu benar-benar mirip dengan Bainah. Tapi ah! Tidak mungkin!
"Mbak Endang!" sapa Supri mengagetkannya. Ngapain di sini, ayo duduk, aku sudah mengambilkan makanan untuk Mbak Endang juga nih!" ujarnya, memperlihatkan dua porsi makanan di tangannya. "Semuanya kelihatan lezat, ayo makan dulu, Mbak. Nanti baru kita lanjutkan perjalanan kita!"
Sebenarnya Endang ingin menolak, tapi lagi-lagi pria yang tadi membawa mereka kemari kembali hadir di dekat mereka. Seakan memantau pergerakan dari keduanya.
Akhirnya dengan senyum pahit, Endang mengiyakan ajakan Supri.
Bersambung ....
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 50 Episodes
Comments
𝕸𝖆𝖘𝖎𝖙𝖆𝖍 𝕬𝖟𝖟𝖆𝖍𝖗𝖆
berarti ini kejadian pas bainah nikah sama sutedjo 😞
2021-03-22
5
Nawan Damanik
Supri = supir pribadi...Supri Supri...buyan
2021-03-19
2
🦈Bung𝖆ᵇᵃˢᵉ
Kayaknya gak asing dengan adegan di episode ini...tapi semangat akak...
2021-03-16
2