Hari menjelang petang, burung-burung sudah nampak beterbangan menyusup ke ranting-ranting dahan lebat, bersembunyi di balik rerimbunan daun untuk mengistirahatkan diri. Juga riuh terdengar suara jangkrik saling bersahutan di kala pergantian hari siang ke malam.
Sebuah mobil mewah tampak memasuki kawasan padat penduduk di Kampung Dusun Rongge, semua warga yang tadi menutup rapat pintu tampak celingukan di balik korden mereka, sebagian bahkan terang-terangan membuka jendela hanya untuk melihat pemandangan langka di kampung mereka.
Bip!
Lampu mobil itu berkedip sebentar sebelum memarkir di depan rumah Pak RT. Dia Bainah, wanita yang turun dari kendaraan itu, bersama seseorang yang membantu mengendarai mobil miliknya.
Bainah menuju rumah Pak RT dan langsung di sambut hangat oleh pemilik rumah. Para warga yang penasaran, berbondong-bondong mengintip di balik tembok rumah Pak RT. Sementara Bainah, dia melirik kecil sambil tersenyum sombong.
Adzan Magrib usia berkumandang, lampu-lampu sudah mulai menyala di Kampung Dusun Rongge, menandakan bahwa kini petang sudah berganti malam. Sebagian warga nampak beriringan menuju mushola kecil di kampung itu, beberapa melirik ke arah rumah Pak RT, yang mana terdapat beberapa tamu juga Pak RT sendiri tengah duduk di sana.
"Gak ke Mushola, Pak RT?" tanya salah seorang warga yang melintas di depan rumahnya.
"Duluan aja, Pak. Nanti saya menyusul, masih ada tamu," sahutnya, melambai pada mereka.
"Ya, sudah. Kalau begitu kami duluan. Mari, Pak."
"Mari." Pak RT mengangguk, dengan senyum ramah di bibirnya.
******
Keesokan paginya ....
"Eh, dengar-dengar, ada warga pindahan baru di kampung kita, ya?" Ibu-ibu warga Dusun Rongge mulai menggosip kala berbelanja di halaman utama keluarahan Dusun Rongge.
Ya, wilayah itu memang biasa menjadi tempat perbelanjaan terdekat, di mana para pedagang kaki lima dapat membuka lapak dengan gratis.
"Masa sih, tahu dari mana?" tanya Narti pada Juleha.
"Masa kamu gak tahu, sih? Kan tadi malam ada mobil yang markir ke rumah Pak RT."
"Ehh, seriusan, aku juga lihat loh." Tina ikut menyahut, membuat Narti semakin penasaran.
"Ngomong-ngomong, tadi malam suami aku iseng mengunjungi rumah Pak RT buat nanyain tentang orang pindahan itu loh," ujar Juleha, berbicara dengan khas gaya bergosip.
"Waah, suamimu gercep juga, ya." Mereka mulai tertawa. "Terus, terus?"
"Kata Pak RT, dia ini orang kaya, dia mau beli rumah bekas peninggalan Juragan Takur," tutur Juleha yang membuat para ibu-ibu bergosip itu sampai tercengang mendengarnya.
"Tu-tuan Takur??" tanya mereka bersamaan, seakan masih tak percaya dengan apa yang mereka dengar.
"Iyaa!!"
"Ihh serem deh aku kalo membayangkan tidur di rumah Tuan Takur itu."
"Ihh, bukan kamu aja, aku juga sereem."
"Iyaa, Tuan Takur yang baru aja meninggal itu kan?"
"Ya, iyalah. Memangnya ada berapa banyak orang yang punya nama Takur di Kampung kita?
"Hmm, iya juga sih, tapi yaa, kok bisa-bisanya Tuan Takur mati mengenaskan begitu?"
"Iyaa!!"
"Dengar-dengar sih, Tuan Takur itu mati karena terkena kiriman guna-guna."
"Guna-guna, apa tumbal?"
"Nah, gak tau deh yang mana yang bener, pokoknya matinya itu sadis, menakutkan, hiii!" Juleha sampai bergidik ngeri saat membicarakan Takur.
Ya, Takur dulunya adalah juragan terkaya di Kampung Dusun Rongge, tapi baru beberapa pekan ini tersirat kabar bahwa dia mati di kediamannya dengan kondisi mengenaskan. Banyak warga yang prihatin terhadap keluarga yang ditinggal, tapi tak sedikit juga yang mencela kematiannya, sebab semasa hidup, dia sering menindas orang yang telat membayar hutang padanya. Dan bahkan merampas secara paksa harta mereka jika tenggat waktu yang diberikan sudah jatuh tempo.
"Eh, Leha. Suamimu sempat nanya gak, siapa pendatang baru di kampung kita itu?"
"Belum sempat sih, tapi kata Pak RT, dia bukan orang asing!"
"Bukan orang asing??" Semua kembali tercengang, menutup mulut mereka yang nyaris menganga.
"Sumpah, jadi tambah penasaran."
"Iya, pokoknya, kita lihat aja, kata Pak RT, dia mau renovasi rumah itu sebelum di tempati."
"Wah, berarti dia kaya raya dong, ya."
"Ohh, jelas!"
"Hmm, siapa ya, bukan orang asing tapi kaya raya?"
Para Ibu-ibu di sana semakin sibuk bergosip, sementara sayur yang mereka pilah-pilih tak kunjung kelar.
Bersambung ....
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 50 Episodes
Comments
Ketty Kristiawan
emak2 gibah berjamaah...seru thor😀
2021-07-23
0
Nawan Damanik
power ghibah of emak emak comberan wc
2021-03-12
5
Yunita Si Retjeh
Update lagi dong author
2021-03-09
1