Sebelumnya ....
Bainah membuka kain yang di sodorkan Darto tadi. Sepintas tak ada yang aneh, hanya kain dari batik asli sepanjang jarik. Namun saat sudah terbuka lebar, tiba-tiba satu buah benda kecil terjatuh dari dalam gulungan kain tadi, membuat Bainah terkejut dan jatuh terjerembab, dia menutup mulutnya tak percaya.
Happy reading ~~~
_____________
"Aaaaa!" Bainah menjerit tanpa suara sambil menutup mulutnya.
Satu buah boneka berbahan dari jerami sudah tergeletak di lantai paska terjatuh tadi, tapi bukan itu saja yang membuat Bainah terkejut, 4 bilah jarum yang dilumuri darah dan sudah mengering menancap pada boneka itu, 1 di bagian ********, 1 di bagian perut letaknya tepat di bagian hati, dan 2 lainnya di bagian payudara.
"Apa ini?" Ia mencoba meraihnya, tapi tiba-tiba Darto datang dan langsung menyambar benda itu dengan tangannya.
"Apa itu, Mbah?" tanya Bainah penuh curiga.
"Bukan apa-apa, jangan dipikirkan, kamu hanya perlu bersiap saja seperti yang kuminta tadi," ujarnya bangkit dan kemudian melangkah keluar kamar, sementara pikiran Bainah mulai berlarian, sejuta pertanyaan mengambang dalam kepala.
Apa sebenarnya yang terjadi, kenapa Mbah seperti menutupi sesuatu dariku? Bainah membatin.
Meski ragu, Bainah tetap melanjutkan apa yang sudah diinstruksikan padanya, dia mulai melucuti pakaian lalu mengganti dengan kain yang diberikan Darto tadi. Dia juga mengurai rambut, menyisirnya di depan cermin yang yang tergantung di dinding.
Lamat bayangan dirinya yang terpantul di cermin itu seakan enggak mengikuti gerakannya. Bainah berhenti menyisiri rambut, ia terdiam menatap bayangannya yang tersenyum menatapnya.
"Aaa!" Bainah terkejut hingga terjatuh dari kursi rias. Jantungnya berdetak tak karuan. "Apa itu, apa yang baru saja aku lihat?"
"Kamu sudah selesai?" tanya Mbah Darto yang tiba-tiba sudah berada di ambang pintu. "Mengapa tidak mengunci pintunya?"
"A-apa aku harus menguncinya, Mbah?"
"Yaa, untuk menghindari serangan dukun penguntit."
"Dukun penguntit? Maksud, Mbah?" tanya Bainah penuh selidik.
"Dia adalah dukun yang ingin mencuri informasi tentang apa saja yang dilakukan lawannya?"
"Wujud dukun penguntit itu seperti apa, Mbah?"
"Hmm .. wujudnya bermacam-macam. Terkadang dia menyamar sebagai kucing, atau burung, terkadang juga mengikuti bayangan kita."
Deg!
''Mbah ... sebenarnya .. tadi-"
"Sudah, jangan terlalu lama mengulur waktu, acara ritual sudah hampir di mulai. Para ruh leluhur dan dedemit sudah berkumpul di ruang sakral."
"Begitu ya, Mbah? Jadi .. apa yang harus kulakukan sekarang?"
"Ikuti saja aku!" ujarnya.
Sepanjang menuju ruang sakral, Bainah terus memikirkan hal mistik yang terjadi padanya di ruang kamar Sutedjo tadi. Ya, dia sangat bingung mengapa bisa pantulan bayangan dirinya dalam cermin berbeda dengan apa yang dia lakukan.
"Bainah, duduklah di atas kursi batu itu."
"Emm!" angguk Bainah, bentuk dari dia mematuhi perintah Darto.
Bainah masuk ke dalam satu buah ruangan yang mana terdapat beberapa peralatan wajib milik Mbah Darto untuk melakukan ritual. Satu buah gentong yang terbuat dari tanah liat sudah terisi penuh dengan air yang dipadati tumpukan bunga, sehingga aromanya semerbak.
Darto tampak sibuk mengambil beberapa peralatan lainnya, tak tahu pasti peralatan seperti apa yang akan dia bawa, Bainah hanya manut saja.
"Kau siap, Bainah?" tanya Darto memastikan.
"Ya, Mbah."
Darto yang sudah hadir itu memulai ritual sakral. Perapin yang berisi dari bara api kayu wengi dia putari di depan wajah sebanyak 3 kali, asapnya berhasil menerpa wajah Bainah.
Bainah fokus mengikuti acara itu, mendengarkan dengan khidmat lantunan mantra yang dibaca Mbah Darto.
Selang beberapa saat, bayangan gelap tampak meliputi ruang kecil itu.
Bersambung ....
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 50 Episodes
Comments
𝕸𝖆𝖘𝖎𝖙𝖆𝖍 𝕬𝖟𝖟𝖆𝖍𝖗𝖆
baca pas malam... pas lagi hujan lagi.... agak takut tp senapsaran 😞😞😞
2021-03-06
3
Yunita Si Retjeh
nah hayo, mbahnya gak tau2 tuh, kenapa bayangannya beda gerakan thor? ihh sereem 😨
2021-03-06
1
~■Na Daniel■~
seram aku bacanya thor.. 🙈
2021-03-05
1