Sebelumnya ....
Sebenarnya Endang ingin menolak, tapi lagi-lagi pria yang tadi membawa kemari kembali hadir di dekat mereka. Seakan memantau pergerakan dari keduanya.
Akhirnya dengan senyum pahit, Endang mengiyakan ajakan Supri.
BUDAK SETHAN
Selamat membaca ~~~~
Supri tampak lahap memakan menu makanan sajian yang dia ambil tadi, sedang Endang hanya memegangi piring berisikan makanan di tangannya.
"Kenapa tidak di makan?" tanya pria yang lagi-lagi kehadirannya mengagetkan Endang.
"Ah, iya." Endang tersentak, lalu perlahan menyendok makanan itu, sadar bahwa hal yang tidak beres sedang berlangsung, Endang tidak benar-benar ******* makanan yang dia suap pakai sendok tadi, melainkan melepehnya ke samping sedang makhluk penjaga tadi tidak mengetahui.
Usai menunggu Supri menikmati hidangan, Endang memutuskan untuk segera pamit, mengingat perjalanan mereka masih memakan waktu 1-2 jam.
"Kalau begitu, kami pamit dulu," ujar Endang segan.
"Tunggulah sebentar ...." Pria itu meraih sesuatu, lalu menyerahkan pada keduanya. "Ini .. bawalah bingkisan kecil dari kami," ujarnya memberikan sekotak bingkisan yang terbungkus kain.
"Wah, terimakasih banyak atas sajian juga bingkisannya. Maaf tidak bisa membalas kebaikannya!" ujar Endang.
Pria itu melontarkan senyum tapi seakan terpaksa.
Endang dan Supri kemudian pergi dari hajatan itu mengikuti jalan yang sebelumnya mereka lewati. Sejuta kecamuk mulai menggerayungi pikiran Endang, sementara Supri masih tampak sumeringah meski sudah tak lagi berada di tempat hajatan.
"Pri, kamu kok enteng aja dari tadi, kamu gak merasa ada sesuatu yang gak beres apa?"
"Enggak tuh, Mbak! Orang mereka baik," sahutnya lempeng, sambil terus menjenteng bingkisan yang dihadiahkan pada mereka.
"Itu bingkisan, tolong kamu buang!" perintahnya.
"Ih, gak mau, Mbak. Makanan enak gini kok dibuang sih?"
Kesal karena Supri terus saja membantah, Endang sampai mencubit lengan atas Supri.
"Ih, sakit, Mbak Endang!" Dia melenguh memegangi lengannya.
"Ya, makanya, jadi orang jangan terlalu ngeyel. Kamu sadar tidak, tempat tadi itu terasa angker, makanan yang kamu bawa itu bisa saja isinya hal-hal gaib."
"Aduh, kayaknya daritadi Mbak Endang mikirnya negatif terus."
"Ya, wajarlah. Kamu aja yang gak peka."
"Bukan gak peka, Mbak. Tapi, Mbak aja yang terlalu berpikir negatif!"
"Huh, dasar ngeyel! Ya, sudah buruan jalankan lagi motornya. Keburu pagi kita sampainya."
Tak lagi menyahut, Supri yang juga mulai lelah itu langsung menyalakan kendaraannya dengan cara mengengkol. Segera Endang naik begitu sudah menyala.
Sepanjang jalan, banyak sekali kendala aneh yang mereka alami, mulai dari jalan yang tiba-tiba becek padahal seharian cuaca di sana cukup panas, juga beberapa pohon ranting yang jatuh menutupi jalan. Namun, mereka tetap meneruskan perjalanan.
Satu setengah jam perjalanan di tempuh, mereka akhirnya tiba di tujuan. Dusun Marjo terlihat sedikit lebih ramai dibandingkan dengan Dusun Rongge, hal itu terlihat dari padatnya bangunan yang memadati desa itu.
Supri mulai menanyakan alamat yang tertulis di kertas pada warga. Ya, sejak awal Endang sudah membawanya di dalam tas. Tak butuh waktu lama, mereka akhirnya tiba di tujuan.
Supri memarkirkan kendaraan roda dua di halaman rumah kediaman Nyi Sundo. Pemandangan mistik sekaligus menawan langsung memadati pandangan keduanya. Harum semerbak aroma melati melintas di indra penciuman mereka.
"Akhirnya kita sampai juga, Mbak!" ujar Supri.
"Iya, ayo buruan masuk, Pri!" ajak Endang pada kerabatnya itu.
Bergeras Endang masuk tanpa menunggu Supri yang dia rasa gerakannya sedikit lambat, sementara Supri sendiri sibuk mengamankan bingkisan hadiah dari hajatan tadi.
Taro di mana ya, kalau ditinggal di motor, ntar ada yang ambil lagi. Pikirnya dalam hati.
Ah, lebih baik aku bawa ajalah, toh gak masalah juga.
"Suprii!" panggil Endang yang membuatnya tersentak kaget.
"Iya, iya, Mbak!" sahutnya, dengan tergesa dia menyusul Endang ke dalam rumah kediaman Nyi Sundo.
Sesampainya, mereka disambut oleh pelayan Nyi Sundo, dia meminta keduanya menunggu di ruang sakral tempat biasa bagi Nyi Sundo melakukan ritual-ritual gaib.
Selang beberapa detik, wanita berambut panjang dengan pakaian jubah hitam datang. Ya, dia adalah Nyi Sundo, dukun yang sering di kunjungi kaum haus harta, termasuk Endang.
Beberapa tahun yang lalu, Endang sengaja mendatangi kediaman Nyi Sundo untuk meminta agar diperkaya. Dengan bantuan jin, dia mendapat jimat penglaris, hingga usaha jual beli tanahnya makmur jaya. Namun, dia menyembunyikan rahasia itu dari suaminya.
"Salam, Nyi Sundo." Endang dan Supri langsung memberi salam dengan menundukkan kepala pada dukun wanita yang mereka agungkan itu. Namun, tanpa di duga Nyi Sundo langsung menghamburkan amarah pada keduanya, membuat mereka kaget terpingkal-pingkal.
"Dasar Bod*h!" Kalimat itu langsung mengawali perbincangan Nyi Sundo.
"Ampun, Nyi. Tolong jangan marah pada kami, jelaskan dulu kesalahan kami."
"Jelaskan kesalahanmu?" Dia melotot, sementara kedua bola matanya sudah memerah akibat emosi yang membuncah. "Kalian sudah bertindak ceroboh, tahu!"
Deg!!
Mata keduanya menatap nanar. Antara bingung dan takut.
Sementara Supri masih meletakkan bingkisan itu di hadapannya.
Praaak!!
Seketika Nyi Sundo mengibas bingkisan di hadapan Supri, bingkisan itu terpental hingga menghamburkan seluruh isinya.
Deg!!
Mata Supri melotot hebat begitu melihat isi bingkisan.
Potongan daging hewan busuk terhamburan di sana. Seketika Supri mual dan nyaris memuntahkan isi perutnya. Sementara Endang terus menganga tak percaya.
"Kau tahu apa artinya itu?" Nyi Sundo berkata dengan nada dingin.
"Ampun, Nyi. Maafkan atas kebodohan kami yang tidak tahu apa-apa!" Endang memohon dengan bersujud.
"Kalian berdua sudah mengirimkan sinyal pada mereka. Bingkisan itu adalah kiriman untuk melacak keberadaanku."
Endang terdiam. Dadanya berdebar hebat, sebaliknya Supri terus bersujud tanpa bangun sekalipun, dia sangat ketakutan atas tindakan cerobohnya.
"Ma-maksud, Nyi?" tanya Endang sedikit bingung.
"Ada seorang dukun sakti yang tinggal di perbatasan hutan terlarang, namanya Darto, dia musuh bebuyutanku sejak puluhan tahun lalu. Sudah lama aku dan dukun itu bersiteru. Selama ini dia tak pernah bisa melacak keberadaanku, tapi sekarang ...." Dia menunjuk pada Endang dan Supri. "Berkat kecerobohan kalian, dia akhirnya berhasil melacak keberadaanku."
Bagai tersambar petir, Endang terhenyak mendengarnya.
"Kau tahu apa yang dukun itu lakukan di sana?"
Endang diam sesaat. "Ti-tidak tahu, Nyi."
"Dia sedang mengadakan ritual sakral, pernikahan gaib antara manusia dan jin."
Dhuaaar!
Endang semakin melotot.
"Kau tahu tujuannya?"
"Ti-tidak, Nyi."
"Untuk memperkuat ilmunya, sementara manusia seserahan yang menikah dengan iblis itu berniat untuk membalas dendam pada warga Dusun Rongge."
Deg!!
"Aku sudah pernah mengirim salah satu mata-mata untuk menguntit hal apa yang mereka lakukan di sana, sejak itu aku tahu bahwa Darto memperkebal dan memperdalam ilmunya dengan ritual sakral pernikahan gaib. Aku sudah mencoba menggagalkan rencana Darto, dengan mengirim jerami yang ditusuk jarum lalu kulumuri darah manusia, tapi upayaku gagal."
Endang diam mendengarkan.
"Saat itu dia tak tahu siapa yang mencoba menggagalkan rencananya, tapi sekarang .. karena ulah kalian yang bod*h, dia akhirnya tahu siapa pengirimnya."
"Tolong maafkan kami, Nyi. Tolong maafkan kecerobohan kami."
"Aku bisa saja memaafkan kecerobohanmu, tapi aku tidak bisa menyelamatkan suamimu."
Deg!
"Jadi .. Nyi sudah tahu mengenai suami saya diganggu oleh makhluk astral."
"Ya, bahkan sebelum kau berniat untuk menginjungiku, aku juga sudah tahu."
"Jadi .. apa yang harus saya lakukan agar suami saya bisa terlepas dari gangguan itu."
"Tak ada. Kau hanya harus merekakannya."
"Apa? Merelakannya??"
"Ya!"
"Tidak, Nyi. Kumohon, bantulah aku melepaskan jeratan iblis dari suamiku."
"Carannya? Hanya ada satu!"
"Apa itu, Nyi?"
"Salah satu dari kalian harus mati. Hanya itu caranya, maka dari itu aku sarankan padamu untuk melepas suamimu saja, atau kau harus kehilangan segalanya."
Dhuaar!
Bagai terhantam godam, Endang lemas mendengar penuturan Nyi Sundo.
Bersambung ....
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 50 Episodes
Comments
Else Widiawati
deg2an bacanya
2021-12-12
0
𝕸𝖆𝖘𝖎𝖙𝖆𝖍 𝕬𝖟𝖟𝖆𝖍𝖗𝖆
ngeri banget yah... nikmat sesaat... sengsara di dunia dan akhirat 🙁🙁🙁
2021-03-22
4
🦈Bung𝖆ᵇᵃˢᵉ
semangat..makin deg-degan..
2021-03-17
1