Sebelumnya ....
"Ya, sudah Mbak, aku bakal antar," ujarnya lemas. "Tapi kalau nanti Mas Takur sudah kembali pulih, jatahku ditambah ya." Dia menyeringai kecil.
"Huh, dasar kamu! Ya sudah, Mbak mau minta peta perjalanan dulu. Segera sehabis itu kita berangkat. Waktu kita hanya sedikit sampai fajar."
BUDAK SETHAN
Selamat membaca ~~~
Tak lagi pikir panjang, Endang langsung kembali mendatangi pos penjaga loket, dia menyanyakan peta petunjuk jalan menuju Dusun Marjo.
"Maaf, Bu. Kami gak menyediakan peta!"
"Loh, jadi gimana dong, saya perlu ke dusun itu malam ini."
"Ya, Ibu pakai GPS aja."
"GPS itu apa, Pak?"
"Itu ...." Dia menunjuk ponsel android yang tergenggam di tangan Endang.
"Ini kan hp saya," ujarnya dengan raut kesal.
"Iya, saya tahu, Bu. Maksud saya, di hp Ibu itu ada aplikasi GPS, nah Ibu bisa gunakan itu, ikuti petunjuk rutenya."
"Ohh, ada ya, Pak?"
Segera Endang menyerahkan ponselnya, meminta petugas itu membantunya mengaktifkan mode GPS.
Ya, di Dusun Rongge memang belum terbilang modern, banyak warga yang masih menggunakan alat-alat tradisional sebagai kebutuhan utama untuk menggantungkan hidup, termasuk ponsel pintar seperti yang dimiliki Endang. Tak banyak yang mampu membelinya, hanya mereka yang memiliki duit lebih yang memiliki. Endang sendiri membelinya hanya untuk menambah gaya, sedang dia sendiri tak begitu tahu fungsi utamanya.
"Gimana, Mbak, petanya ada?" tanya Supri begitu Endang sudah menghampirinya.
"Gak pake peta, kita pakai GPS!"
"GPS? Apa itu, Mbak?"
"Sudah kamu gak perlu banyak tanya, pokoknya jalankan saja motormu sekarang!"
"Ihh, iya iya, Mbak!" Supri sedikit kesal karena Endang enggan memberitahunya perihal GPS yang dia tanyakan.
Kendaraan Supri kembali melesat di atas lajur, memecah keheningan di sepanjang jalan.
Sahut-sahutan burung penjaga malam mulai terdengar jelas. Endang sedikit merinding, hingga tanpa sadar dia sudah memeluk erat punggung Supri.
"Mbak, gak usah pegangan juga, saya gak laju kok bawa motornya!"
"Ih, justru karena kamu lambat bawanya makanya aku pegangan!" Dia memukul kepala Supri yang tertutup helm.
"Ck!" decak Supri kesal. "Mbak Endang, berapa lama lagi kita akan sampai? Udah 1 jam nih."
"Iya, sabar, dong!"
Anda memasuki kawasan perbatasan hutan terlarang. Bunyi suara google translit di ponsel Endang membuat Supri bergidik ngeri.
"Mbak?" sapa Supri yang mulai merinding.
"Sudah ah, jangan banyak omong! Jalan aja, kalau menurut aplikasinya masih sekitar 5 kilo meter lagi nih!"
Supri tak lagi menyahut, wajahnya sudah kusut mendengar bahwa mereka masih harus menempuh perjalanan sejauh 5 kilo meter.
Di depan sejarak 10 meter, Supri menyipitkan mata saat melihat palang berwarna merah terpampang di tepi jalan, lalu kendaraannya berhenti tepat di depan papan tulisan.
"Kawasan perbatasan Dusun Rongge dan Hutan Terlarang."
Sesaat dia menenggak saliva usai membaca tulisan yang tertera.
"Mbak, pernah dengar mitos gak?" ujarnya berusaha menyingkirkan rasa takut dengan mengajak bicara Endang.
"Iya, aku juga tahu, sudahlah bukan saatnya untuk membahas hal itu!" Endang menepis pertanyaan Supri.
Motor kembali melesat pelan di sepanjang jalan, dengan jejeran pohon menjulang di kiri dan kanan. Riuh angin malam menerpa dahan-dahan itu, membuat suasana pohon yang tadi damai seketika ramai bergoyang.
Supri mencoba mempercepat laju kendaraan yang hanya bisa mencapai 60 perkilo-meter.
"Pri, motormu bisa lebih kenceng lag, gak?" maki Endang yang sepertinya sudah mulai gemetar di belakang Supri.
"Ini juga udah pol, Mbak!" sahutnya lemas.
Di saat motor Supri tengah melaju maksimal, perlahan dia mulai mendengar alunan musik gamelan, terdengar kecil tapi nyata. Dia tersentak kaget hingga merapatkan kendaraannya di tepi jalan.
...Kuningan kiwari hangkeut ngawangun...
...mupul daya mancegkeun tatapakan...
...bubat jalan gedong sigrong...
...seja tandang maju tanding...
"Pri, kok berhenti, sih! Ayo, cepetan lanjut!" maki Endang dari belakang.
Supri tak langsung merespon, dia masih berusaha menyimak pendengarannya, memastikan bahwa apa yang dia dengar tidaklah salah.
"Prii!" hardik Endang.
"Tunggu, Mbak! Mbak dengar juga 'kan?" ujarnya.
"Dengar apa!" Nada bicara Endang sedikit menekan.
"Itu Mbak, ada suara musik gamelan. Suaranya ramai sekali, seperti ada hajatan!"
"Ah, jangan ngaco kamu, ini tuh perbatasan antara hutan terlarang dan dusun rongge! Mana mungkin ada yang mengadakan hajatan di tengah hutan, apalagi tengah malam begini."
"Tapi, Mbak! Aku serius mendengar loh!"
Suara musik itu kembali menyeruak.
...Kuningan kiwari hangkeut ngawangun...
...mupul daya mancegkeun tatapakan...
...bubat jalan gedong sigrong...
...seja tandang maju tanding...
Sesaat Endang terdiam. Semakin Endang berusaha fokus, semakin jelas suara itu terdengar nyata. "Iya, Pri. Aku juga dengar!" tukasnya seperti tak percaya.
"Tuh, bener kan, Mbak!"
"Iya, suaranya dari arah sana!" Endang menunjuk ke arah timur, yang mana area itu tertutup semak belukar.
Keduanya kemudian turun dari kendaraan, dan bergegas mencari arah suara. Mereka menyibak semak untuk mencari asal-usul musik gamelan yang terdengar seperti sebuah hajatan besar. Dan betapa terkejut keduanya saat menemukan sebuah panggung yang amat meriah sejarak 300 meter, di hiasi oleh berbagai macam ornamen jawa bertahtakan emas, seperti dekorasi pernikahan pada umumnya. Namun, lebih unik dan berdeda dari panggung yang sering mereka lihat.
"Supri, kamu yakin gak dengan apa yang kita lihat ini?" Endang sedikit merinding saat melihat puluhan makhluk nyaris seperti manusia berpesta-pora di sana.
"Yakinlah, Mbak. Kan jelas kita sudah melihatnya," sahut Supri meyakinkan.
"Hai, kalian siapa?" Tiba-tiba seseorang menegur mereka, membuat Endang dan Supri terkejut hingga nyaris kabur.
"Apa yang kalian lakukan di sini? Kalian sedang menguntit, ya?"
Deg!!
Bersambung ....
'
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 50 Episodes
Comments
Anisbasri
mantap thor
2021-04-16
0
Yunita Si Retjeh
lanjut, makin penasaran
2021-03-16
1
Nawan Damanik
jadi longor ya
2021-03-16
1