Sebelumnya ....
"Inna lillahi wa inna ilaihi roojiuun!" ucapnya setelah melepas jarinya dari leher Takur, seketika istrinya menjerit histeris.
"Aaaa, enggak boleh! Suamiku gak boleh mati, aaaaa!" Dia histeris ingin menghamburkan pelukan di dada suaminya, tapi keluarganya berusaha menahannya.
___________________________________________
BUDAK SETHAN
Selamat membaca ~~~
Seminggu sebelum Takur meninggal ....
"Argghh!" Takur tiba-tiba mengerang di dalam kamar, istrinya yang baru saja keluar menuju dapur pun terkejut mendengar itu, dengan tergesa dia berlari mendatangi suaminya.
"Pah, apa yang terjadi? Pah?" Dia mengguncang tubuh suaminya begitu sampai, tapi suaminya tak menyahut. Matanya terus menatap ke atas dengan buih yang keluar dari mulutnya.
Keributan itu mengundang kehadiran saudara-saudara Takur yang juga tinggal di kediaman mewah miliknya.
"Ada apa, Endang. Apa yang terjadi?"
"Udahlah, jangan banyak. Tolong bantu aja!" Dia berteriak setengan mengisak. "Mas, kamu kenapa, Mas?"
Takur seperti kehilangan kesadaran, tapi matanya terus menyalak, sedang buih di mulutnya semakin banyak.
"Cepat, panggilkan Dokter Hendra!"
"Iya, Mbak!" Segera salah seorang saudara Takur berlari keluar, menuju satu-satunya klinik yang berada di Dusun Rongge. Sementara itu, Endang sang istri dan saudara iparnya berusaha menolong Takur yang tampak sekarat itu.
******
"Ini obat pil penenang, tadi juga sudah saya berikan lewat infusnya, nanti kalau siuman, jangan biarkan bapaknya berpikir banyak ya, Bu. Berikan istirahat yang cukup."
"Emm," sahut istrinya. "Tadi, suami saya itu sakit apa, Pak Dokter."
"Kalau menurut ilmu medis, ini adalah gejala epilespi, di mana pasien akan mengalami kejang dan tak sadarkan diri. Saat sadar, sebagian dari pasien biasanya tak bisa mengingat atau mengenal orang terdekatnya. Tapi, kita tunggu saja. Semoga hal itu tidak terjadi dengan Tuan Takur."
"Oh, begitu ya, Pak Dokter."
"Iya, banyak berdoa ya, Bu. Saya izin pamit dulu."
"Oh iya, mari, Pak Dokter!" Endang mengantar Dokter Hendra sampai ke depan pintu, lalu menutupnya setelah kendaraan sang dokter hanya tinggal bayangan.
Menjelang malam ....
"Ma, apa bapak sudah baikan?" tanya Mirna anak dari Juragan Takur.
"Bapak baik-baik aja," jawabnya ketus dan terdengar dingin, membuat Mirna sedikit curiga.
"Boleh Mirna melihatnya?"
Endang langsung melototi anaknya begitu Mirna mengajukan permintaan itu. "Kan sudah Mamah bilang kalau papahmu baik-baik saja. Sudahlah, pergi ke kamarmu, enggak seharusnya kamu masih bangun jam segini."
Deg!
Mirna terdiam mendapati sikap ibunya yang mendadak berubah dingin. Sedang Endang sendiri langsung pergi setelah mengunci kamar miliknya, meninggalkan suaminya seorang diri di dalam kamar.
"Mirna, ibu kenapa?" tanya Lita saudara Mirna yang berdiri di ambang pintu kamar, gadis kecil itu baru saja melihat ibu yang dia sayangi memaki kakaknya tepat di depan matanya.
"Gak tau, yuk tidur aja!" ajaknya pada adiknya agar tidak memikirkan sikap ibunya yang baru saja mendadak berubah dingin.
Malam semakin larut, Endang yang merasa curiga di buat gelisah oleh pikirannya sendiri.
Beberapa saat sebelum dia keluar dari kamar dan mengunci suami dari dalam ....
*
*
*
"Hahahaha!" Takur yang sebelumnya bicara tenang itu tiba-tiba tertawa, membuat Endang terkejut heran.
"Mas, apa yang terjadi sama, Mas?" Dia mendekat ke arah suaminya, dan sedetik kemudian suaminya menoleh.
"Aaa!" Endang menjerit, wajah Takur berubah pucat, sementara bola matanya sudah berubah merah. "Mas, apa yang terjadi?"
"Hahaha, kalian semua akan mati!" tawanya menggema, bahkan suaranya pun Endang nyaris tak bisa mengenali.
"Apa maksudmu, Mas. Kamu ngomong apa?" Ia menjerit menutup mulutnya. "Mas, kata dokter kamu harus istirahat. Ayo, aku bantu baring, ya." Endang kembali mendekat, dia berniat membantu suaminya untuk merebahkan tubuh di atas ranjang.
"Agghhh! Lepaskan tanganmu!" hardiknya. "Heh, dengar, ya! Dokter itu tidak akan mampu mengobati suamimu, dia akan segera mati. Dokter itu tidak akan mampu, Hahahaha!" Kembali Takur tertawa.
"Mas!"
Deg!
Seketika Endang tersadar, sepertinya sosok yang berbicara dalam tubuh suaminya adalah makhluk lain yang sedang merasuki.
"Apa maumu? Lepaskan suamiku!" pekiknya.
"Hahahah, melepasnya? Tentu saja aku tidak mau! Dia adalah makananku, organnya adalah milikku. Hahahah."
"Siapa kamu, pergi dari suamiku sekarang juga!"
"Tidak akan. Hahahha! Aggghhh!" Tiba-tiba Takur mencekik lehernya sendiri, membuat Endang sang istri semakin histeris.
"Mas, apa yang kamu lakukan??"
Sadar bahwa kini nyawa suaminya sedang terancam, Endang berlari cepat, menarik lengan suaminya yang kuat mencengkram leher sendiri. "Sadar, Mas! Sadar!!" Dia menarik semampunya.
"Agghh!" Sedetik kemudian Takur kembali tergeletak lunglai, sepertinya hantu yang merasukinya sudah keluar. Endang mundur sejengkal, dia terduduk dengan napas tersengal-sengal. Selang beberapa saat Endang tersadar, bisa saja hantu itu kembali merasuki, lalu mengancam nyawa dia dan anak-anaknya. Takut hal itu terjadi, segera Endang bangkit, mengambil beberapa pakaian yang dia ikat dengan cara memanjang, lalu kain itu dia gunakan untuk mengikat lengan suaminya di belakang punggung, sambil menangis dia terus meminta maaf pada suaminya yang pingsan itu.
"Maafkan aku, Mas! Hiks!" ....
Bersambung ....
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 50 Episodes
Comments
Syarisa Askana Shakii
lita nama gueeee..😒
baru sekarang baca novel ada nama lita🤦♀️
2021-10-09
0
sigadisimuut
Endang nama emak gue😭
2021-05-17
1
Septya
Gw tambah semangat bacanya kak🤗
2021-03-20
1