Episode 13

Selamat membaca ~~~~

Flash back beberapa pekan lalu ....

Klentong!

Klentong!

Waktu menunjukkan pukul 03:00 dini hari saat beberapa warga peronda berlari membunyikan alat pemukul berbahan bambu sebagai tanda adanya musibah di rumah salah seorang warga.

Mendengar itu, beberapa warga yang terlelap seketika terjaga, sebagian berhamburan keluar rumah untuk mengetahui masalah apa yang sedang terjadi.

"Ada apa, Pak Slamet?" tanya Pak RT saat peronda itu sudah menapaki area teras rumahnya, sedang Pak RT yang juga sudah terjaga, berdiri di ambang pintu saat mendengar kentung bambu dipukul.

"Anu, Pak RT, itu ...."

"Anu itu, apa? Bicara yang benar, Pak," tegasnya.

"Tuan Takur, Pak RT!"

"Ada apa dengan Tuan Takur?"

"Beliau sedang sekarat!"

"Sekarat?"

"Iya, Pak RT!"

"Kalau begitu, cepat bawa ke Rumah Sakit!" Seketika itu si peronda menahan tangan Pak Rt.

"Nggak boleh, kita tidak boleh membawanya ke Rumah Sakit."

"Loh, kenapa, bukannya tadi kamu bilang Tuan Takur sekarat."

"Iya, tapi kali ini kondisinya berbeda, Pak RT."

"Berbeda bagaimana maksudmu?"

"Ahh, pokoknya, Pak RT lihat sendiri dulu saja ke sana. Keadaannya sangat mengenaskan!"

Deg!

Mendengar itu, tubuh Pak RT serasa lemas, masalah apalagi yang kini dihadapi warga Dusun Rongge, karena beberapa tahun terakhir warga Dusun Rongge sudah bebas dari masalah kemusyrikan.

"Ayo, Pak. Lebih baik kita ke sana saja sekarang!"

"Ya betul, Pak!" Peronda itu manggut, mengajak Pal RT berlari menuju kediaman Tuan Takur.

Tak ada penghambat sepanjang jalan. Ya, sebab saat itu warga belum beraktifitas penuh, hanya beberapa saja yang keluar subuh mencari keperluan di pasar untuk dagangan mereka.

Mereka tiba di depan gerbang rumah milik juragan terkaya, beberapa warga sudah lebih dulu berkumpul, dari sana terdengar jelas tangisan histeris keluarga Takur.

"Itu Pak RT!" Seorang warga yang menyadari kedatangan pak rt langsung berteriak begitu melihatnya.

"Pak RT, cepat kemari, Pak," ajak salah seorang warga yang langsung menyambut lengan pak rt membawanya ke dalam rumah. Tak banyak pertanyaan, pak rt yang sudah dibuat penasaran itu manut mengikuti langkah warga yang mengajaknya.

"Lihatlah Pak." Dia membawa pak rt menuju ruang kamar si pemilik rumah. Seketika istrinya menangis histeris memegangi tangan pak rt.

"Pak RT, suami saya kenapa, tolong suami saya pak rt?" tangisnya.

Pak rt langsung terhenyak saat melihat kondisi Takur yang mengenaskan, wajahnya biru lebam, lidahnya menjulur keluar, sementara tangannya tak henti mencekik leher sendiri. Sudah puluhan warga mencoba menarik tangannya dari leher, tapi tak ada yang bisa membantu melepaskannya. Sementara dari lubang hidung dan telinga sudah mulai mengeluarkan darah segar.

Anak-anaknya menangis histeris, sementara saudara-saudara Takur hanya bisa pasrah sambil mengelap darah yang mengalir dari sela lubang hidung dan telinganya.

"Bagaimana ini, Pak Rt? Hu hu hu!" Istrinya masih tersedu.

"Bismillah, Biidznillah, saya akan mencoba membantu semampu saya, mari kita berdoa bersama," tutur Pak RT pada istrinya dan warga yang berkumpul.

Pak Rt dulunya adalah seorang ustad yang biasa mengajar mengaji di Kampung Dusun Rongge, dia juga mempunyai kemampuan merukiah warga yang terkena gangguan sihir dan kiriman dukun, sehingga tak jarang warga meminta bantuannya untuk melepaskan diri dari gangguan jin dan setan, meminta dirukiahkan dan lainnya. Selain itu, sifatnya juga sangat amanah, membuat warga mempercayakan untuk memilihnya sebagai RT yang mengatur jalannya ketertiban di dusun mereka.

Pak RT mulai merapal doa, lalu menempelkan telapak tangannya di dahi Takur.

"Harrgghhh!" Takur mengerang, jin yang sedang mengusiknya-lah yang muncul dan mengerang dalam tubuh Takur.

"Lepaskan orang ini!" tegas Pak RT pada makhluk yang merasuki Takur.

"Tidak mau! Orang ini harus mati!"

"Lailaha illAllah! Allahu akbar!" Pak RT kembali menempelkan telapaknya pada dahi Takur, tapi tetap saja jin itu tak melepaskannya.

"Hahahah!" Jin itu justru tertawa. "Kau terlambat, Hasan! Orang ini akan segera mati! Aku sudah mengoyak-ngoyak hati dan ginjalnya, aku sudah memakannya, dia akan segera mati. Kau tidak bisa menyelamatkannya, kau gagal Hasan, kau lemah! Hahahaha!"

"Allahu Akbarrr!" Lagi, Hasan alias Pak RT menghentakkan telapaknya pada perut Takur, membuat jin yang ada di dalam tubuh Talur melepaskan cengkramannya di leher Takur, tapi bersamaan dengan itu, darah segar menyembur dari mulut Takur, dan berhasil menodai wajah Pak Rt. Lalu Takur tergeletak tak bergerak.

Semua warga terdiam, melotot menyaksikan hal mengerikan itu. Darah yang dia muncratkan sudah bercampur isi perut, usus, hati, dan juga ginjal.

Pelan Pak RT menekan leher Takur dengan 2 jari, dia mencoba mencari denyut nadinya.

"Inna lillahi wa inna ilaihi roojiuun!" ucapnya setelah melepas jarinya dari leher Takur, seketika istrinya menjerit histeris.

"Aaaa, engggak boleh! Suamiku gak boleh mati, aaaaa!" Dia histeris ingin menghamburkan pelukan di dada suaminya, tapi keluarganya berusaha menahannya.

Bersambung ....

Terpopuler

Comments

Othor Bahenol 😍

Othor Bahenol 😍

Tuan takut, kok kayak nggak asing yah namanya, kayak pernah denger gitu, tapi dimana ya??

2021-06-21

0

𝕸𝖆𝖘𝖎𝖙𝖆𝖍 𝕬𝖟𝖟𝖆𝖍𝖗𝖆

𝕸𝖆𝖘𝖎𝖙𝖆𝖍 𝕬𝖟𝖟𝖆𝖍𝖗𝖆

ngeri banget kak 🙁🙁🙁

2021-03-13

2

Nawan Damanik

Nawan Damanik

Tuan Thakur Ajib Titus Singh Kho

2021-03-12

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!