Flasback 1 bulan lalu ....
Happy Reading 🤗
"Hahahaha!" Tawa kedua pasutri, Juragan Tanah sang rentenir yang sering dijuluki Tuan Takur tadi menggema dalam bilik kamar lantai 2 kala Bainah melintas.
Bainah dapat mendengar dengan jelas meski sudah beranjak sejauh 50 meter dari rumah sang juragan.
Air matanya masih setia turun beriringan di bawah kelopak mata, seiring dengan curah hujan yang juga lekat seakan tak ingin pergi.
Mulai berjalan gontai, dengan raga yang seakan remuk redam setelah seharian perut tipisnya belum menyentuh makanan sedikitpun.
Rumah-rumah dari penduduk desa kala itu terlihat sepi. Semua pintu tertutup rapat, mereka tak ingin bias guyuran masuk ke dalam rumah. Pandangan Bainah menyapu sekeliking, kini nampak sebuah rumah yang terbuka pada bagian jendela, lampu kekuningan terlihat memberi kesan hangat dari luar. Dalam hati ia menjerit, berandai bisa berada di dalam sana barang sebentar hanya sampai hujan reda.
Ingin mengetuk pintu, Bainah ragu kalau pemilik rumah itu akan mengusirnya seperti tuan takur tadi yang menendangnya bagai hewan pengganggu, tapi keadaan semakin memaksa, ia terpaksa pergi dan mencoba meyakini bahwa tidak ada salahnya untuk mencoba.
Tok!
Tok!
Tok!
"Permisi?"
Hening, hujan masih mengalahkan panggilan Bainah untuk si pemilik rumah.
"Permisi!" Kali ini Bainah mengeraskan suaranya. "Semoga mereka membukakan pintu."
Kriieet!
Suara dari daun pintu yang sedikit lapuk itu berderit saat seseorang membukanya dari dalam. Kini, tampak jelas di hadapan Bainah seorang wanita berumur 30-an tahun, dengan mimik heran bercampur kesal ia menatap Bainah. "Loh, Bainah, ada apa, kenapa kamu mengunjungiku di hari hujan begini, jangan bilang kalau ke sini karena mau meminta pinjaman lagi, iya, begitu?"
"Bu-bukan begitu Cek Narti, a-aku cu-"
"Halah! Gak usah banyak alasan, kamu ke sini karena mau ngutang lagi kan? Maaf ya, gak bisa, hutangmu yang kemarin aja belum di bayar-bayar!"
"Ta-tapi, Cek-"
"Halah!" Narti mengibas tangannya dan nyaris mengenai wajah Bainah. "Gak usah banyak alasan, Nah. Aku tahu kok, kamu pasti mau cerita panjang lebar dulu kan! Aku tahu cara mainmu, sudahlah!"
Bainah tertunduk pasrah. Heran saja, bahkan matanya yang merah bengkakpun sudah tak cukup untuk membuat simpati wanita yang berdiri di hadapannya itu.
"Makanya, Bainah, kalau milih suami itu yang bener dong, jangan cuma karena ganteng terus kamu langsung mau dirayu, diajak nikah Kalau sudah begini, kamu yang sengsara 'kan? Suamimu pinjam uang sana sini, mana pake nama dan identitasmu lagi, giliran uang terkumpul dianya kabur ninggalin kamu," terangnya. "Pokoknya aku gak mau tahu, ya, utang yang kemarin harus di bayar dulu, sesuai janji yang ditandatangani suamimu, kalau lewat tempo dan kamu belum membayarnya, ingat aja, kamu bakal berurusan dengan pihak berwajib, paham kamu?"
"Iya, Cek. Aku paham." Isaknya pilu.
"Ya sudah. Terus sekarang kamu mau apa? Mau pulang, hari masih hujan nih?"
"Kalau boleh sih, aku cuma mau numpang berteduh di dalam, Cek!"
Kening Narti mengkerut mendengarnya. "Ehh, enak aja di dalam, nanti kalau kamu nyolong barang-barang aku gimana?"
Deg!
Bainah menatapnya pilu. Dalam hati ia terhenyak, bagaimana bisa ada manusia yang masih berpikir dirinya memanfaatkan keadaan? Padahal ia benar-benar butuh tempat teduh.
"Udah, jangan tatap aku kayak gitu."
Bainah kembali tertunduk lesu.
"Kamu di luar saja sampai hujan reda! Makanya, kalau sudah tahu hari mendung jangan keluyuran!" Narti kembali masuk ke dalam, memegang daun pintu untuk merapatkannya kembali.
"Tunggu, Cek!" Mendadak Bainah menahannya."
"Ih, apalagi sih, Bainah?"
"Cek, kalau boleh, beri aku sepiring nasi, aku sangat lapar."
Melihat itu, Narti hanya bisa menghela kasar. "Kamu itu ya, merepotkan sekali, cocok sekali dengan suamimu, ck ck ck!" Ia berdecak seraya menggeleng. "Suami tukang tipu, istrinya tukang minta-minta, ck ck ck." Lagi, ia mengulangnya. "Tunggulah di sini, aku akan ambilkan sepiring nasi!" ucapnya yang kemudian melenggang ke dalam.
Selang beberapa saat ia keluar, membawa sebuah piring berisikan nasi putih dengan lauk 1 potong tempe goreng. Juga satu buah selendang untuk menutupi tubuh Bainah agar tidak kedinginan.
"Pakailah selendang itu untuk menghangatkan tubuhmu. Jangan salah sangka, aku berbuat baik padamu hanya agar kamu bisa menemukan suamimu, atau setidaknya kamu berjuang melunasi hutang suamimu!" tukasnya.
"Terimakasih, Cek Nar-"
"Eit tunggu dulu." Ia menariknya lagi. "Yang ini tidak gratis, akan aku hitung sebagai tambahan hutangmu, paham?"
"Ah, iya, Cek Narti. Akan aku lunasi semua secepatnya."
"Baguslah kalau kamu berniat melunasinya, aku do'akan semoga kamu berhasil mendapatkan banyak uang, jadi janjimu gak hanya sekadar di mulut saja."
Cekat sekali tenggorokan Bainah saat mendengar penuturan Narti. Sungguh manusia yang tak punya hati. Dengan air mata pilu ia menelan lahap makanan di dalam piring tadi, sedang Narti sudah masuk ke rumah dan langsung menguncinya dari dalam.
Bersambung ....
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 50 Episodes
Comments
Sri Mesna
bagus skli kisahnya 😻
2022-01-31
0
Else Widiawati
mampir kak, masih nyimak cerita
2021-12-11
0
neng amhie
semangat baca nya
2021-04-17
1