Episode sebelumnya ....
Di saat bersamaan, alunan gamelan kembali terdengar.
Deg!
Seketika semua lamunan Bainah buyar, matanya melotot, sementara otot-otot persendiannya melemas.
"Akankah dia si dedemit itu melakukannya lagi padaku malam ini?"
______________________________
BUDAK SETHAN~~~
Selamat membaca ~~~
Alunan musik gamelan semakin terdengar nyata, Bainah langsung bangkit dari tidurnya, duduk pada sandaran ranjang, dia meringkuk, melingkarkan kedua lengan pada betis yang melipat di dada.
Keringat dingin mulai keluar dari sela kulitnya, Bainah takut jika saja kejadian semalam mungkin akan terulang, ingin merapal doa tapi teringat pesan Darto yang melarangnya menyebutkan ayat-ayat suci, karena itu adalah pantangan terlarang.
Bainah akhirnya pasrah, pikirnya kelak dia akan mencapai puncak atas apa yang sudah dia korbankan, yaitu harga diri dan nyawa.
*******
Bulan telah berganti, begitu pun dengan Bainah yang kini sudah menyelesaikan proses ritualnya, 1 bulan Bainah lalui bukanlah hal yang mudah, ia pamit dari kediaman Darto, membawa 1 buah tas besar berisikan tumpukan kertas merah berharga.
Mbah, saya izin pamit," tuturnya lembut.
"Ya, kamu sudah menyelesaikan ritual dengan sabar, kini saatnya kamu tunjukkan siapa dirimu pada warga Dusun Rongge, tidak akan ada seorangpun yang akan menghinamu lagi. Berjuanglah. Dan jangan lupa pesan dari Mbah."
"Nggeh, Mbah," angguk Bainah.
Sepanjang jalan, Bainah menjenteng tas besar menuju kota, dia ingin membeli mobil terlebih dahulu sebelum akhirnya muncul di Kampung Dusun Rongge, agar tidak ada satu warga pun yang curiga atas pekerjaan yang Bainah lakoni hingga menjadi sukses.
Sepanjang menuju kota dengan menumpangi bus, Bainah teringat beberapa pesan Mbah sebelum dia pergi.
"Bainah, waktumu menjalani ritual hanya tinggal 1 hari, ada satu hal yang belum kuberitahu padamu, hal ini sangat penting dan harus kamu ingat dengan baik."
"Nggeh, Mbah. Akan saya lakukan semuanya."
"Bagus! Bainah?"
"Ya, Mbah."
"Kelak jika kamu sudah kembali, kamu harus menyerahkan sesuatu berupa tumbal setiap bulannya."
"Tumbal?"
"Ya, dan tumbal itu haruslah nyawa seorang laki-laki, tidak peduli berapapun umurnya, kau harus mempersembahkan pada Sutedjo setiap bulan."
Deg!
"Ke-kenapa Mbah baru cerita sekarang kalau saya harus memberikan tumbal?"
"Kenapa kau malah bertanya!" Tak disangka, tanggapan Darto justru membuat Bainah bergidik tak percaya. "Bukankah seharusnya sejak awal kau sudah paham, pesugihan adalah sesuatu yang pasti berhubungan dengan tumbal, kau pikir menjadi kaya raya dengan menyerahkan tubuhmu saja sudah cukup?"
"Ma-maafkan saya, Mbah. Maaf karena saya tidak tahu.".
"Apa kau berpikir untuk menghentikan semua upaya yang sudah kau lakukan?" hardik Darto. Bainah terdiam, dia tahu betul Darto bisa menebak pikirannya dengan mudah.
"Ma-maafkan saya, Mbah. Kalau boleh, saya berhenti sampai di sini saja. Saya tidak sanggup jika harus berhadapan dengan nyawa seseorang. Saya tidak mampu menghabisi nyawa orang."
"Munafik!" hardiknya. "Kau datang padaku saja itu sudah menunjukkan jika dirimu makhluk hina, mengapa sekarang kau ingin berlagak suci! Cuuuh!" Dia meludah ke samping, membuat Bainah terhenyak.
"Saya mohon, Mbah. Saya tidak sanggup melakukannya ...." Kini Bainah sudah bersimpuh di hadapan Darto, memohon agar dilepaskan dari jeratan kontrak dengan iblis.
"Tidak semudah itu, Bainah. Apa kau tahu akibat dari ulahmu jika kau memutuskan untuk berhenti?"
Seketika Bainah mendongak. Bibirnya bergetar hebat.
"Apa kau lupa, kau sudah bersumpah dengan darahmu yang dibacakan mantar di dalam kendi?"
Deg!
"Kau tidak akan bisa lari dari ini, Bainah. Kalau kau tetap nekad untuk berhenti, maka kau harus rela melihat kedua anakmu mati sakit-sakitan."
Dhuaar!
Seketika hati Bainah seperti tersambar petir, dia yang tadi bersimpuh langsung terduduk lunglai. Semua otot persendiannya melemas. Matanya melotot tak percaya sementara buliran kristal berhasil lolos melalui kelopak matanya. Tanpa di sadari dia sudah menangis.
"Tidak ada yang perlu kau sesali, Bainah. Bukankah dendammu pada warga dan mantan suamimu masih membara? Ini adalah saatnya membalaskan perbuatan mereka, jadi untuk apa kau bersedih?"
Bainah masih terdiam lemas, ia seperti tak punya tenaga untuk bangkit.
"Sudahlah. Aku tak suka melihatmu lemah begini, bukankah sejak awal kau terlihat gentar! Tetaplah menjadi dirimu yang dulu, Bainah. Kini kunci kehidupanmu ada di tanganmu, tidak akan ada yang mengendalikanmu lagi, bukankah begitu lebih baik?"
Bainah mendongak, mencoba menghapus air mata yang banjir di pipi.
"Baik, Mbah. Saya akan coba lakukan apa yang sudah Mbah sarankan. Mohon bimbingannya." Ia kembali bersimpuh, membuat tawa kecil Darto mencuat.
"Bagus, sepertinya sekarang kau sudah paham akan kewajibanmu. Aku akan sentiasa membantumu, karena aku adalah penyelamat hidupmu."
"Terimakasih, Mbah."
Bainah terdiam, tapi tangannya mengepal erat. Geram, dia merasa seperti dipermainkan oleh Darto. Andai sejak awal dia tahu bahwa kelak akan diminta untuk menyerahkan tumbal, mungkin dia berpikir untuk menyerah saja, lebih baik mati daripada hidup sengsara sebagai budak setan.
Bersambung ....
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 50 Episodes
Comments
Omar Diba Alkatiri
Gila tumbal tiap bulan... bisa2 habis rakyat Indonesia sama bainah
2021-08-06
0
Siti Nur Maisyaroh
Bainah...Bainah masa kmu g tau sih,klo kerja sama ma mahkluk gaib pake tumbal,tiap bln lg tumbalnya hrs Bainah berikan ke sutejo,hai thor nanti klo aku dah slesai baca crita ini,aku mo baca karyamu yg lain y thor,msih ad kan thor karyamu yg lain,semangat y thor tuk slalu berkarya💪🏻🥰
2021-06-27
0
netizen maha benar
dasar bainah bego bin tolol ..dimana2 yg namanya pesugihan ya pst minta tumbal lah...nah bainah...
2021-04-12
2