Sosok itu mengulurkan tangan padanya.
"Kemari!" ujar makhluk itu.
"Tidaaak! Bainah menjerit.
________________
Dhuuarr!
Tepat setelah Bainah menolaknya, kilatan petir menyambar di angkasa, kilau kedahsyatannya berhasil menerangi bumi dalam sedetik. Bainah berpaling sebentar karena terkejut.
"Apa yang kamu lakukan di tengah hutan malam-malam begini?" ujar pria itu. Suaranya terdengar parau, seperti pria paruh baya. Dia berjongkok disamping Bainah sambil memegang kedua bahu wanita itu, membuat Bainah semakin merinding ketakutan.
"A-anda siapa?" Gagap, Bainah takut dengan sosok asing itu, tapi saat pria itu membuka penutup kepalanya, barulah Bainah tenang.
Ternyata dia hanya seorang pria tua pencari burung di malam hari. Dia Mbah Darto.
"Mbah Darto?"
"Bainah, kamu sedang apa di sini, tidak bagus berada di hutan ini apalagi malam hari, cepatlah pulang," ujar Mbah Darto.
Bainah tak menyahut, hanya raut sendu yang menjadi jawaban, dan perlahan dia mulai menitikkan air mata, disertai isakan yang membuat Mbah Darto kalang kabut.
"Bainah, Bainah. Tenanglah, bicaralah dulu."
"Mbah, aku harus bagaimana?"
"Kenapa, apa yang terjadi denganmu? Apa kau merindukan kedua anakmu?
"Tidak, Mbah. Ini bukan sekadar masalah rindu pada anakku, tapi ini menyangkut kelangsungan hidup saya, Mbah."
"Baiklah, kamu bisa ikut saya dulu, nanti kita bicarakan semua di rumah saya. Siapa tau saya bisa membantu mengatasi masalahmu!"
Mbah Darto terkenal sebagai pria yang jarang berbaur dengan warga, hanya terkadang sesekali rumahnya di sambangi oleh tamu asing yang datang dengan membawa mobil. Para warga mengira dia memiliki keluarga kaya di kota lain, tapi bukan itulah kenyataan yang sebenarnya. Begitupun dengan Bainah, dia memiliki pikiran yang sama dengan para warga, dia mengira Mbah Darto memiliki anak dan cucu yang kaya raya di luar kota.
"Ayo, bangun! Tidak aman berada di sini tengah malam begini, ujarnya."
"Emm!" Bainah mengangguk, dia bangkit dengan dibantu Mbah Darto.
Mbah Darto mengangkat kayu yang sudah dia kumpulkan di hutan, yang tadi dia letakkan sebelum mengulurkan tangan pada Bainah, lalu memikulnya di bahu.
Sepanjang jalan, Mbah Darto bercerita panjang lebar soal lika-liku kehidupannya semasa muda dulu, pahit-manisnya sudah dia jalani, hingga mengambil profesi sebagai buruh kayu bakar, selama bercerita Bainah hanya menjadi pendengar yang baik, hingga mereka sampai di dusun Rongge. Mereka mulai menyusuri jalan setapak, ditemani cahaya rembulan sebagai penerang.
Sesekali mereka tertawa bersama saat Mbah Darto bercerita perihal yang lucu.
"Saya pikir selama ini Mbah Darto ini orangnya dingin dan menakutkan, karena saya enggak pernah melihat Mbah berbaur dengan warga, tapi ternyata saya salah." Tertawa kecil.
Seketika Darto diam, dia menarik napas dalam setelah mendengar penuturan Bainah.
Apa aku baru saja salah bicara? gumam Bainah dalam hati.
"Mbah." Dia gugup. "Maaf, kalau saya salah bicara."
Mbah Darto masih diam, hingga dia mulai membuka percakapan lagi.
"Tidak apa-apa, Bainah. Saya tahu, semua warga pasti berpikir begitu terhadap saya."
Bainah hening, kali ini dia kembali kikuk.
"Saya tidak berbaur karena saya tidak suka dengan mereka. Mereka semua orang munafik, sukanya hanya mencampuri urusan orang lain, dan paling suka membicarakan kekurangan orang lain. Mereka adalah sekumpulan orang yang layak dimusnahkan."
Deg!
Jantung Bainah berdegub mendengarnya, penuturan Mbah Darto lebih mengarah pada psycopath, membuatnya sedikit merinding.
"Saya tahu, bagaimana rasanya berada di posisimu," ujar Darto yang berhasil membuat mata Bainah terbelalak.
"Mbah, tahu?"
"Ya, saya tahu. Kamu terlilit hutang oleh karena ulah suami barumu yang kabur setelah mengambil banyak pinjaman dengan para kolektor."
"Ba-ba-bagimana Mbah bisa tahu?" Mata Bainah menyalak antara heran dan takjub. Selain mengira dia psyco, sepertinya Mbah Darto juga punya ilmu telepati yang kuat.
"Kalau kamu mau, saya bisa membantumu membalas perbuatan mereka. Saya bisa membuatmu menjadi orang terkaya di dusun Rongge ini," ujarnya, dengan nada bicara yang kini terlihat serius.
"Mbah, serius? Saya bisa jadi kaya?"
"Ya!" jawabnya mantap.
"Saya mau, Mbah! Saya mau!"
"Tapi syaratnya tidak mudah!"
"Syarat?"
"Ya, tentu saja ada syaratnya. Tidak ada yang gratis di dunia ini, jadi bagaimana, kamu setuju?"
Bainah diam sejenak, terlihat dia berat sekali untuk sekadar menelan saliva.
"Bagaimana, Bainah, kamu tertarik?"
"Sa-saya sambil pikirkan dulu, Mbah."
"Ya sudah, sambil kita menuju rumahku dulu, bicara dalam rumah lebih nyaman daripada di jalan bagini."
"Nggeh, Mbah." Bainah dan Darto kembali melanjutkan perjalanan menuju kediaman Darto.
Bersambung ....
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 50 Episodes
Comments
Ketty Kristiawan
sepertinya menarik ...
2021-07-23
0
Sentia Arza Radita
q mampir thor
2021-04-22
0
Nawan Damanik
Mbah gak garuk bainah
2021-04-16
0