MENDENGAR pertanyaan Guru Stempson, semuanya menjadi diam, termasuk Domian yang selalu dingin pada hari kerja. Kemampuan gurunya tidak bisa diremehkan. Namun ia terkejut ketika tahu bahwa Guru Stempson sendiri lebih rendah dari Lafira.
Domian tidak tahu apakah ia telah mengambil harta karun atau memelihara sesuatu yang membahayakan dirinya di masa depan. Tapi yang pasti, ia tidak bisa melepaskan Lafira. Gadis itu begitu unik baginya. Kemampuannya juga membuat dia tertarik.
Saat ini, Lafira menatap Guru Stempson sedikit lebih dingin dari sebelumnya. Kedua tangannya yang bertumpu pada lengan kursi pun sedikit berkeringat dingin.
"Jadi bagaimana dengan itu? Bahkan jika aku memiliki aura iblis atau malaikat yang saling bertentangan, aku tidak akan membiarkan orang lain mengusikku!" katanya sedikit penekanan.
Lafira berpikir jika Guru Stempson ini terlalu membuka dirinya. Ia tahu seperti dirinya. Tapi tanpa diduga, pria berjubah abu-abu gelap itu memiliki banyak rahasia di tangannya. Tidak mungkin menjadi seorang ahli supernatural bukan.
Di hari biasa, Lafira yang sering terdiam dan murung tanpa alasan. Mungkin sejak ibunya meninggal, dia memiliki kesan yang buruk pada segala hal di sekitarnya.
Memandang Guru Stempson, gadis itu sudah cukup tahu jika auranya lebih besar darinya. Hanya saja dia tidak mau menekan orang lain terlalu banyak. Apalagi ketika tahu jika Guru Stempson adalah tuan dari Domian.
"Jadi, bisakah aku memeriksa denyut nadimu?" tanya pria itu seraya menyipitkan mata.
Tiga orang yang tersisa di ruangan hanya memperhatikan tanpa bicara. Shena ingin mengatakan sesuatu tentang ini. Bagaimana jika pria itu juga menganggap Lafira sebagai momok di keluarga Morachel? Sama seperti ketika tinggal di keluarga Dares.
Mengetahui jika Shena sedikit kurang setuju, Sion akhirnya berkata, "Guru Stempson bukan peramal. Apa yang kamu takutkan?"
"..." Shena tahu dia terlalu khawatir. Ia pun duduk di samping Sion setelah mendapatkan izin.
Adapun Lafira, kini masih sedikit ragu-ragu. Ia tidak tahu apakah harus membiarkan Guru Stempson mengetahui tentang dirinya lebih jauh atau tidak. Lagi pula, dia tidak mau terlihat dalam hal-hal di dunia luar.
Akhirnya ia mengangguk. "Untuk kali ini. Tapi tidak lain kali," katanya.
"Jangan khawatir. Cukup satu kali saja bagiku untuk mengetahui apakah ada yang salah dengan tubuhmu atau tidak." Guru Stempson mengangguk seraya tersenyum.
Lafira akhirnya mengulurkan tangan kanannya. Pria berjubah abu-abu gelap itu segera memeriksa dengan nadi dengan sedikit mengerutkan kening. Lalu menatap Lafira dengan kebingungan. Apakah dia tidak salah? Denyut nada Lafira agak berbeda.
Lalu dia memeriksa denyut nada pergelangan tangan kiri. Masih sama. Ini tidak salah. Ia menatap Lafira seperti harta karun yang langka. Di Negara A seperti ini, sulit untuk menemukan ahli spiritual langka. Belum lagi kekuatannya besar. Seorang ahli supranatural saja mungkin tidak akan mampu menandinginya.
"Sejak kapan kamu memiliki kemampuan ini?" tanyanya agak antusias.
Domian sendiri yang duduk santai di seberang segera mengerutkan kening, memikirkan sesuatu. Sangat jarang bagi gurunya untuk bersikap seperti ini. Apakah pada lawan jenis.
Lafira yang ditanyai seperti itu pun segera mengingat-ingat. "Mungkin sejak kecil. Dulu aku tidak terlalu memperhatikan. Tapi sejak ibuku meninggal, aku mendalaminya." Ia menundukkan kepalanya sebentar karena tidak ingin kesedihannya terlihat.
"Bagaimana jika kamu menjadi muridku saja?" Guru Stempson akhirnya tidak sabar dan ingin segera memanggil gadis ini dengan sebutan murid.
"Kamu bahkan memiliki kemampuan lebih rendah dariku. Tidak pantas berguru padamu," jawab Lafira segera mencibir. Akhirnya dia berbalik dan meminta Shena untuk membawanya jalan-jalan di halaman.
"..." Guru Stempson merasakan tusukan tak terlihat di hatinya. Gadis itu cukup berkata langsung. Namun dia tidak marah.
Setelah gadis itu pergi, Guru Stempson akhirnya pulih dari rasa antusiasnya dan menatap Domian. Satu-satunya murid yang dia miliki saat ini. Ia ingin meminta bantuan pria itu. Bukankah akan menjadi istrinya. Jika begitu, suami istri berguru saja padanya.
Hanya saja ketika Guru Stempson ingin memintanya membujuk Lafira sebagai murid, Domian sudah melontarkan sebaris kata-kata.
"Jangan memohon padaku tanpa jaminan," katanya seraya menyembunyikan senyum.
"..." Sejak kapan muridnya ini menjadi seorang pemeras? Pikir Guru Stempson ingin memuntahkan darah tuanya.
Sion melihat tuan dan murid itu saling bertentangan, hanya bisa menggelengkan kepala. Domian membaca semua dokumen yang diberikan Sion sebelumnya. Semuanya merupakan informasi penting perusahaan Mora Enterprise. Walaupun Domian tidak menjadi CEO secara langsung, dia adalah pemilik sah.
Mora Enterprise sudah lama berdiri. Merupakan warisan keluarga. Ayah Domian adalah seorang pengusaha sukses yang juga menurun dari kakeknya. Saat ini, ayah Domian masih memegang penuh keluarga utama dan menjadi owner Mora Enterprise. Adapun kakeknya yang kini masih hidup, kini masih menjadi komisaris utama.
Kakek Domian juga merupakan founder yang telah sukses di berbagai bidang jasa. Mungkin karena darah keluarga Morachel di masa lalu. Kini, Domian yang siap untuk menjadi CEO pun hanya suam-suam kuku. Pria itu adalah raja dunia bawah yang ditakuti banyak organisasi gelap. Sebagai seorang mafia, kurang pantas baginya menjabat di perusahaan.
Oleh karena itu, selama ini Domian selalu menyerahkan semua urusan perusahaan pada sepupunya atau adik tirinya yang dibuat sibuk sepanjang waktu.
Setelah memeriksa dan menandatangi dokumen, Domian menyerahkan semuanya pada Sion. "Katakan pada adik tiriku untuk berangkat ke Negara C untuk rapat selanjutnya."
Sion menerima semua berkata itu dan hendak pergi. "Apakah kali ini Tuan tidak akan pergi secara pribadi?" tanyanya karena merasa jika Domian adalah orang seharusnya hadir.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 195 Episodes
Comments
Tsuraya Jasmine
cerita bagus ...2 jempol buatmu thor
2022-08-20
0
Abet Wirawan
kerennn
2022-04-03
0
ponakan Bang Tigor
wahh guru stempson aja pengen akrab ama lafira
2022-02-14
1