DI LUAR rumah, Sion yang berjalan anggun dan penuh ekspresi kemenangan pun segera mencibir. Waktunya begitu tepat sehingga mudah baginya untuk membuat pihak lain marah.
Shena yang menunggu di dekat mobil salah satu dari pengawal itu pun mengerutkan kening. "Apa yang kamu serahkan pada Tuan Lexan?" tanyanya.
"Sebuah informasi rahasia yang akan membuat Tuan Lexan sadar."
"..." Shena tidak mengerti. Saat ini dia lebih mengkhawatirkan Lafira.
Seolah tahu apa yang dipikirkan wanita itu, Sion segera menawarinya tumpangan. "Ayo, bukankah kamu ingin tahu di mana gadis itu berada?"
Shena tidak ragu dan segera memasuki mobilnya. Dia hampir lupa jika datang ke sini tadi, ia membawa mobil juga. Tapi saat ini, Sion sudah memasuki mobil Shena. Sehingga mungkin asisten Lafira yang terkesan seperti tamu.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Mobil sport yang dibawa Domian telah memasuki sebuah halaman rumah bergaya Eropa. Air mancur tiga tingkat menghiasi tengah-tengah halaman. Serta penjaga gerbang saja begitu hormat ketika pria itu muncul sambil membopong Lafira.
Ada pelayan paruh baya yang juga bekerja di rumah besar itu. Ketika Domian datang, mereka terkejut dan segera membungkuk untuk menghormati tuannya. Kepala Pelayan Qi segera datang dan menunggu perintah tuannya.
"Tuan Morachel, apakah itu nyonya rumah?" tanya Kepala Pelayan Qi sangat sopan.
Dia berusia empat puluh tahunan, berkumis tipis dan rambut yang sedikit memutih. Perawakannya cukup baik. Memaia pakaian pelayan sesuai jabatannya, sarung tangan putih serta lap khusus yang selalu dibawa untuk hal-hal penting.
Kepala Pelayan Qi memiliki sorot mata yang cukup dingin dan tidak bersahabat. Tapi setelah bicara dan berinteraksi, sebenarnya penampilan tidak sesuai dengan kenyataan.
Domian menaiki anak tangga menuju lantai dua. Dia melirik kepala pelayan itu dengan ekspresi serius. "Hubungi Avey. Suruh dia datang ke sini kurang dari setempat jam!"
"Ya, Tuanku," kata Kepala Pelayan Qi seraya membungkuk hormat dan segera menuju salah satu telepon rumah.
Dia menekan beberapa angka dan menunggu pihak lain mengangkat telepon. Setelah bercakap-cakap dengan sedikit perdebatan, pihak lain menyerah dan mengiyakan.
Kepala Pelayan Qi tersenyum datar dan mengucapakan terima kasih. Dengan begitu, tugasnya sudah selesai. Salah satu pelayan senior wanita menghampirinya dengan ekspresi penasaran.
"Kepala Pelayan Qi, siapa gadis yang dibawa tuan?" tanyanya sedikit berbisik.
"Nyonya rumah," jawabnya.
"..." Bisakah para pelayan lain bergosip di belakang? Pikir pelayan senior wanita itu dengan ekspresi yang berubah-ubah.
Di kamar Domian ....
Pria itu membaringkan Lafira dengan hati-hati di ranjang king size. Lalu menatap pakaiannya yang memiliki noda darah akibat mimisan Lafira. Ia melepaskan jas dan kemejanya, lalu lempar ke keranjang pakaian kotor.
Setelah memanggil pelayan untuk menyiapkan pakaian bersih untuk gadis itu, ia mengambil kemeja bersih dari lemari.
Setelah lima belas menit berlalu, seorang pria yang kemungkinan sudah berusia kepala tiga itu keluar dari mobil yang dikendarainya. Lalu buru-buru masuk tanpa menghiraukan sapaan para pelayan.
Di dekat anak tangga, Kepala Pelayan Qi sudah menunggu dengan sikap tegak, lalu tersenyum pada pria bejas dokter itu.
"Selamat datang Dokter Avey. Tuan sudah menunggu di dalam," sapanya.
Pria berjas dokter itu kesal dengan kepala pelayan yang satu ini. Dia hanya mendengar dan menaiki anak tangga sambil membawa tas medisnya.
Ketika tiba di depan pintu kamar Domian, dia mengetuk pintu dengan sopan. Setelah mendapatkan izin masuk, Avey segera menghela napas dan membuka pintu.
"Domian, apakah kamu terluka lagi kali ini? Baru saja seminggu kamu mengalami patah tulang, sekarang apa lagi?" tanyanya tiba-tiba.
Hanya saja ketika Avey masuk, Domian sudah duduk di samping tempatnya tidur dan mengelap darah yang keluar dari salah satu lubang hidung Lafira. Domian tidak memperhatikan ekspresi pria itu dan fokus membersihkan darah.
Sebelum Avey datang tadi, pelayan sudah menyiapkan pakaian bersih untuk Lafira dan menggantinya. Jika Avey tahu gadis itu sudah mengalami pendarahan yang cukup banyak, mungkin akan panik lebih awal.
"Siapa dia?" tanya Avey lagi.
"Calon istriku," jawab Domian dengan nada malas.
"Sejak kapan kamu jatuh cinta? Dengan gadis ini? Bukankah dia terlalu kecil?" Avey mengerutkan kening dan meletakkan tas medisnya di meja.
"Kamu berpikir aku sudah tua?" Domian menatapnya dengan ekspresi dingin.
"Tentu saja ... tidak. Aku jelas lebih tua darimu, oke?" Avey hanya bisa mengalah pada pria yang lima tahun lebih muda darinya.
"Ya, kamu bahkan belum menikah."
"..." Jangan mengungkit itu. Pikir Avey merasa ditusuk oleh kenyataan yang pahit.
Dia bukannya tidak ingin menikah. Hanya saja pernah bukan masalah sepele. Wanita mana yang mau dengannya?
Pekerjaan dokter pribadi, kadang harus dituntut menyimpan rahasia. Wanita yang menjadi istrinya nanti mungkin berpikir jika dia selingkuh dengan banyak gadis muda.
"Jadi, kamu memanggilku karena gadis itu?" Avey membuka tas medisnya dan mengeluarkan stetoskop.
"Iya."
Namun saat Domian melihat pria itu berniat untuk memeriksa Lafira, keningnya segera mengkerut. "Periksa denyut nadi pergelangan tangan saja."
"Aku tidak terlalu mahir dalam pengobatan tradisional," kata Avey dengan sedikit helaan napas.
Domian tidak mengatakan apa-apa lagi dan menunggu hasilnya. Tapi hal itu justru membuat Avey merasa tidak ada yang salah dengan gadis itu. Bahkan jika Domian berkata Lafira mimisan sebelumnya, dia masih menggelengkan kepala.
"Jangan bercanda denganku. Domian, aku katakan padamu, gadis ini tidak sakit sama sekali. Dia hanya lumpuh di kakinya. Apakah dia memiliki riwayat penyakit lain?"
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 195 Episodes
Comments
Bibirnya Kyung-soo🐧🍉
wkwkwkwk, terlalu kecil😭😭😭
2023-08-22
1
Meiny Gunawan
bahasa nya gk ngerti...🙃
2022-01-27
0
@crazier14
cerita nya bagus tapi bahasa agak aneh ... mudah 2 an bisa dibagusin lg tata bahasa nya ... semangat ya Thor 👍👍👍
2022-01-22
0