SION MENGANGGUK. Ini memang ada hubungannya dengan Lafira. Domain berkata jika gadis itu memiliki kesamaan dengannya sehingga Guru Stempson memang cocok untuk memeriksa kondisinya.
Ia percaya pada apa yang dikatakan Avey. Dokter biasa tidak mampu mengetahui masalah yang berkaitan dengan unsur-unsur supernatural. Setelah Kepala Pelayan Qi bercengkerama dengan Sion sejenak, ia segera pergi untuk mengurus hal lain.
Wanita itu menelepon Shena untuk datang dan menemaninya mengobrol. Berbicara dengan sesama dengan wanita dewasa mungkin lebih menyenangkan.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Di kamar Domian ....
Waktu terus berlalu. Domian yang dilanda kantuk akhirnya tertidur di samping gadis itu. Kemejanya belum diganti, belum lagi rambutnya sedikit acak-acakan. Tidak tahu sejak kapan dia begitu tenang saat tertidur di samping seorang wanita. Apalagi Lafira masih di bawah usia dua puluh tahun.
Setelah hari semakin siang, kelopak mata Lafira bergerak sedikit. Lalu ia membuka matanya perlahan. Hal pertama yang gadis itu lihat adalah cahaya yang cukup menyilaukan serta rasa sakit di kepalanya.
Dia menggerakkan kepalanya sedikit seraya mengerutkan kening. Tangan kanannya digenggam seseorang. Ia menoleh ke sisi lain dan melihat seseorang tertidur di sampingnya. Ketika tahu jika itu adalah Domian, ia terkejut dan segera menghindar.
Pria itu telalu dekat dengannya hingga ia bingung apa yang terjadi. Sayangnya, ia sendiri berada terlalu dekat dengan tepian ranjang hingga tangannya yang menopang tubuh segera tergelincir.
"Ahh!!" Dia berteriak refleks. Detik-detik sebelum tubuhnya menghantam lantai dingin, tangan kokoh Domian sudah melingkar pinggangnya.
Pinggangnya sangat ramping dan sedikit kurus. Domian yang baru saja terbangun akibat teriakannya itu segera menghela napas lega. Hampir saja. Terlambat sedikit, gadis itu akan membentur lantai. Setelah menariknya kembali, Domian memperhatikan Lafira dengan mata setengah mengantuk.
"Bagaimana perasaanmu?" tanyanya.
Lafira tidak menjawab dan hanya menatap Domian dengan kebingungan. Ia melepaskan diri dari tangannya dan sedikit menjatuh. Kedua kakinya yang tak bisa digerakkan bebas membuatnya tidak berdaya. Dia menundukkan kepala dan menggeleng pelan.
Memperhatikan seisi ruangan yang dominan dengan kesukaan pria, Lafira berpikir jika ini bukan lagi rumahnya.
"Kamu di rumahku. Seseorang akan datang untuk memeriksamu. Tanpa diduga, kamu sudah bangun." Domian memijat pelipisnya sebentar dan memperhatikan jam dinding.
Pukul sepuluh pagi. Ia tidur cukup lama.
Lafira yang mendengar jika pria itu mengundang seseorang yang memeriksa, wajahnya langsung pucat. Dia tidak butuh siapapun tuk memeriksa. Ia tahu tubuhnya sendiri.
"Aku harus pergi," katanya.
"Pergi ke mana? Asistenmu sudah membawakan semua barang-barangmu ke sini. Mulai sekarang kamu akan tinggal di sini." Domian memberinya senyuman penuh arti.
Namun bagi Lafira, semuanya tidak sesederhana itu. "Aku tidak bisa tinggal denganmu." Ia mencari kursi rodanya, tapi tidak ada.
Kedua kakinya yang tidak berdaya membuat suasana hatinya tidak tenang. Domian tahu jika gadis itu mungkin masih memiliki sisa kemarahan tentang masalah keluarga Dares. Tapi semuanya hanya akan menjadi sia-sia saja. Belum lagi, saat ini mungkin keluarga Dares sedang sibuk.
Namun Domian bukan pria yang baik. Tangannya telah ternoda oleh darah dan membunuh merupakan kesenangannya. Meski dia akan menikah Lafira, bukan berarti ia memanjakannya seperti nyonya rumah yang baik. Domian gerakan mencengkeram rahang gadis itu dan menatapnya dengan dingin.
"Patuhi saja aku dan biasakan dirimu. Ingat, kemampuan supernaturalmu tidak berguna padaku," bisiknya.
Dia dan Lafira saling menatap untuk waktu yang lama. Pada akhirnya, Lafira tersenyum mengejek.
"Aku tidak takut mati," kata gadis itu, sorot matanya tegas.
Domian mengeratkan cengkeramannya di rahang Lafira dan segera melepaskannya dengan kasar. Kelembutan di wajahnya yang sejak awal terllihat telah menghilang. Gadis yang keras kepala ini harus tahu bagaimana cara menghargai diri sendiri.
Sedangkan Lafira merasa jika rahangnya gak kaku. Ia menundukkan kepala dan meremas seprai dengan erat. Hingga bunyi kaca retak terdengar samar-samar. Terutama jendela di kamar tersebut.
Tak berapa lama setelahnya, kaca jendela benar-benar pecah. Tapi suasana hati keduanya tidak berubah. Bahkan Domian sepertinya mulai terbiasa dengan kemampuan Lafira yang bisa menyerang sesuatu dengan aura yang tidak terlihat.
Pria itu memasukan kedua tangan ke dalam saku celana depan dan menyipitkan matanya lagi. "Aku akan membantumu membalas dendam, memperlakukanmu sebagai seorang istri, bahkan meminta dokter terbaik untuk merawat kakimu. Yang harus kamu lakukanlah untukku hanyalah bersikap baik dan jangan menyakiti diri sendiri. Lafira ... Aku bukan pria yang menghargai batu giok. Jika kamu tahu identitas sejatiku, mungkin kamu juga akan berpikir bahwa aku adalah pria yang kejam."
Setelah berkata demikian, Domian segera meninggalkan kamar. Dia pergi tanpa menoleh lagi dan hanya meminta Kepala Pelayan Qi untuk menelepon seseorang. Kaca jendela yang pecah harus segera diperbaiki sebelum malam tiba.
Adapun Lafira yang masih duduk dengan linglung, memikirkan apa yang dikatakan Domian. Menjadi istri yang baik? Dia khawatir pria itu hanya memperlakukannya sebagai orang mati. Yang paling dia benci hanyalah jika seseorang mengkhianati dirinya.
Dengan sosok Domian yang begitu sempurna di mata kaum wanita, Lafira berpikir jika dia pasti memiliki simpanan lain di luar sana. Dia tidak percaya jika pria itu begitu suci.
"Tapi siapa dia sebenarnya?" gumam Lafira sedikit kebingungan.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 195 Episodes
Comments
Aqiyu
dia calon suami
2022-09-09
1
Pecinta Halu
dia adalah jodohmu Lafira hahahaha
2022-07-05
1
Bzaa
😘
2022-03-22
0