12. Bertemu Sahabat Dion

Untuk kencan pertama kami, aku memutuskan memakai gaun putih selutut yang sudah lama aku tidak gunakan. Tampilannya yang sederhana namun tetap berkelas membuat ku tidak bisa tidak menyukainya. Untuk riasan wajah aku cukup menggunakan bedak bayi yang sering aku gunakan dan dipoles dengan perona pipi merah muda yang tidak terlalu terang. Rambut panjang ku hanya di sisir rapi biasa, aku sengaja membiarkannya tergerai bebas agar untuk memberikan kesan gadis sederhana yang lungu dan polos.

Aku juga memilih untuk menggunakan sepatu putih yang terlihat cocok dipadukan dengan gaun ku, well, sebenarnya aku tidak terlalu pandai menggunakan hak tinggi karena sejak mengenal dunia remaja aku selalu menggunakan sepatu jika pergi kemana-mana. Karena simpel saja, jika aku menggunakan sepatu akan lebih mudah berjalan apalagi di jalan yang terjal atau berantakan. Tapi, jika aku menggunakan hak tinggi akan sulit untuk melewati jalan yang tidak rata ataupun terjal. Inilah mengapa aku lebih suka menggunakan sepatu daripada hak tinggi.

Untuk sentuhan terakhir, aku menggunakan kalung Rubi pemberian Nenek kepadaku. Melingkarinya di atas leher, kedua mataku tak bisa menahan takjub ketika melihatnya.

"Sangat indah." Bisik pada hadis yang ada di dalam cermin.

...🌺🌺🌺...

"Dion?" Panggilku gugup pada seseorang yang sedang duduk santai di sofa.

Dion mengalihkan perhatiannya dari buku yang ada di tangannya, mengangkat wajahnya dan menatapku yang kini sedang berdiri di sampingnya.

"Sudah siap?" Tanyanya terlihat biasa-biasa saja.

Mendengar ini kepalaku langsung berdengung tidak bisa memikirkan apa-apa, seolah saraf cerdas ku mengalami korslet diwaktu yang salah.

"Y-ya, aku sudah siap." Jawabku gugup.

"Baiklah, kalau begitu kita bisa jalan." Katanya seraya jalan di depan ku.

Aku tertegun, beberapa detik kemudian menganggukkan kepala cepat sambil mengikuti langkah Dion dibelakangnya. Kedua tangan ku meremat kuat kain gaun yang ku gunakan. Melampiaskan perasaan malu pada entah siapa yang pasti aku sangat malu dengan kepercayaan diri yang aku bangun.

Aku pikir dengan berdandan seperti ini Dion akan takjub melihat penampilan ku ini. Setidaknya inilah yang aku lihat di drama dan inilah yang aku baca di novel. Ya, aku berpikir seperti itu namun nyatanya Dion sama sekali tidak terpengaruh melihat penampilan ku ini. Ia hanya melihat beberapa detik dan tidak ada perubahan pada ekspresinya. Kecewa?

Tentu saja aku kecewa, lagipula gadis mana yang tidak akan kecewa melihat usaha dirinya tidak dihargai sama sekali? Tidak, setiap gadis pasti akan kecewa karena apa yang ia lakukan tidak bisa masuk ke dalam mata sang pujaan hati.

Yah, ada dua hal yang membuat Dion tidak terpengaruh dengan penampilan ku. Pertama, itu karena Dion sudah biasa melihat penampilan seperti ini bahkan sudah biasa bertemu dengan gadis yang lebih baik lagi. Kedua, itu karena Dion tidak tertarik sama sekali denganku.

Aku harap..yah, aku harap aku tidak ada diantara pilihan ini karena biar bagaimanapun aku masih berharap Dion punya rasa yang sama denganku.

"Pakai sabuk pengaman mu dengan benar." Instruksi Dion mengingatkan ku.

"Ya, aku akan memasangnya." Jawabku seraya memasang sabuk pengaman dengan hati-hati.

Tidak bisa dipungkiri bahwa hatiku berdebar kencang sedekat ini dengan Dion. Bahkan, rasanya wajah ku menjadi hangat tidak terkendali.

"Apa kamu baik-baik saja?" Dia bertanya kepadaku

Aku gugup, "Aku baik-baik saja." Tidak ada yang salah dengan badanku.

Keningnya terlihat mengkerut, "Benarkah?" Tanyanya lagi.

"Ya, aku yakin baik-baik saja." Jawabku meyakinkannya.

"Lalu mengapa wajahmu terlihat begitu merah sekarang?"

Ya Tuhan!

Kenapa laki-laki ini tidak peka sama sekali? Sudah jelas-jelas bukan aku seperti ini karena gugup dekat dengannya. Tinggal di mobil yang sama dan duduk sedekat ini dengannya, gadis mana yang tidak akan gugup?

"Ini.. karena aku agak kepanasan." Jawabku berbohong.

"Maka aku akan menyalakan AC jadi lebih sejuk sekarang." Katanya tidak peka. Setelah itu aku merasakan udara yang ada di dalam mobil terasa sejuk dan melegakan.

Yah, setidaknya ini jauh lebih baik daripada tidak menggunakan AC.

"Terimakasih, Dion." Ucapku berterima kasih, melirik wajah tampannya yang terlihat fokus melihat jalan yang ada di depan.

"Tidak masalah." Responnya terlihat santai.

Setelah itu tidak ada yang berbicara lagi karena aku juga bingung ingin membicarakan apa. Aku lebih senang memandangi wajah tampannya untuk menghilangkan kegugupan yang aku rasakan. Sejujurnya itu tidak berubah sama sekali karena jantungku semakin berdetak kencang tidak bisa menahan perasaan kagum melihat sisi santainya yang seperti ini.

Apa yang sedang dipikirkan Dion sekarang? Mungkinkah dia sedang berpikir hal apa yang harus kami lakukan saat berkencan?

Aku..aku juga memikirkannya. Hari ini kami pergi kencan untuk yang pertama kali jadi kegugupan yang aku rasakan bertambah 2 kali lipat. Aku bingung dan sedang berpikir keras apa yang dilakukan ketika orang pergi kencan. Haruskah aku mengikuti hal-hal yang ada di drama? Melakukan dialog romantis dan berakhir melakukan ciuman panas yang menggairahkan?

Atau apa kami harus mengikuti hal-hal yang ditulis di dalam novel? Melakukan kegiatan yang menyenangkan di beberapa tempat dan berakhir terjebak di kamar hotel untuk melakukan sesuatu yang liar.

Oh, no! Aku tidak bisa melakukannya. Aku tidak yakin bisa melakukan semuanya karena..yah, ini adalah pertama kalinya aku berkencan dengan seorang laki-laki dan ini juga pertama kalinya aku sedekat ini dengan laki-laki. Sudah jelas jika ciumanku belum ada yang mengambilnya dan segel harga diriku juga belum ada yang mengambilnya.

Jadi untuk Dion, aku ingin memberikan semuanya kepada Dion. Semua yang pertama akan aku berikan kepada Dion, laki-laki yang sudah menjadi mimpi terlarang untuk ku.

...🌺🌺🌺...

"Kita sudah sampai." Dion menghentikan mobilnya di sebuah parkiran kafetaria yang sebenarnya menurut Sina tidak terlalu cocok untuk tempat kencan.

Sina malah berpikir jika tempat ini lebih cocok untuk menjadi tempat tongkrongan dibandingkan melakukan hal yang romantis.

"Tempat ini cukup bagus.." Ucap Sina bermaksud menyindir.

Namun, orang yang disindir justru tidak menyadari maksud Sina mengatakan itu.

"Ini adalah tempat biasanya aku dan teman-temanku berkumpul jika ada waktu luang." Dion menjelaskan dengan santai.

Ia tidak menyadari jika ada sesuatu yang salah dengan ekspresi Sina.

Mereka kemudian masuk ke dalam kafetaria, melihat sekeliling Dion kemudian menemukan seseorang melambaikan tangan kepadanya. Setelah mengenali siapa pemilik tangan itu, Dion kemudian mengajak Sina untuk menemui orang tersebut.

"Ridwan, dimana Kira?" Tanya Dion malas pada laki-laki berkacamata yang duduk di samping jendelanya.

Dari penampilannya yang rapi dan jas putih yang laki-laki itu gunakan Sina bisa tahu laki-laki ini bekerja sebagai dokter. Hem, benar-benar sesuai dengan penampilannya yang pekerja keras.

"Dia pergi ke toilet, duduklah." Jawab Ridwan seraya meregangkan tangannya.

"Siapa dia?" Mata tajam Ridwan melirik Sina yang baru saja mendudukkan dirinya di samping Dion.

"Namanya Sina, gadis yang aku ceritakan kepada mu semalam." Jawab Dion terus terang.

"Pacar mu datang ke sini dengan pakaian yang tidak biasa, apa dia sakit?" Suara judes seorang wanita mengalihkan perhatian semua orang.

Dari belakang Ridwan, ada seorang wanita yang berpenampilan anggun nan cantik berjalan ke arah mereka dengan tatapan tidak suka yang jelas. Mata lentiknya yang dirias indah menatap sinis pada Sina yang hanya bisa melongo.

Sina memang terkejut dengan ucapan tidak suka yang diarahkan wanita itu kepadanya namun ia lebih terkejut melihat betapa cantiknya wanita itu. Di dalam hati kecilnya, ia tiba-tiba merasa malu dengan kepercayaan diri yang ia punya.

"Kira, belajarlah untuk menutup mulut mu." Ridwan menarik Kira ke sampingnya.

Mengingatkannya untuk tidak banyak bicara lagi.

Kira tidak senang dan tentu saja masih memandang Sina dengan tatapan permusuhan. Sina yang ditatap juga menyadari hal itu akan tetapi ia bingung mengapa Kira menatapnya dengan tatapan permusuhan. Padahal mereka baru saja bertemu dan akan aneh rasanya jika Kira langsung tidak menyukainya.

Apa karena aku dekat dengan Dion?. Batinnya bertanya.

Bersambung..

Terpopuler

Comments

sahabat syurga

sahabat syurga

sabar ya sina...psti bnyak gadis yg gk sk sm km krn km dkt sm dion

2021-06-29

0

dinanyachery🍒

dinanyachery🍒

Masih sabar

2021-02-14

0

lihat semua
Episodes
1 1. Namaku Sina
2 2. Mereka Pulang
3 3. Kalian Bertunangan, Jika Beruntung
4 4. Rumah Tuan Muda
5 5. Bertemu Dion
6 6. Dion Pria yang Lembut
7 7. Paviliun Dingin
8 8. Dion Begitu Hangat
9 9. Bertemu Calista
10 10. Mimisan
11 11. Mimpi Itu Lagi
12 12. Bertemu Sahabat Dion
13 13. Hati-hati, Jangan Terlalu Percaya Diri
14 14. Berkunjung ke Perusahaan
15 15. Kencan Unik
16 16. Risa Tidak Menyukai Ku
17 17. Belajar Memasak
18 18. Peringatan Risa
19 19. Jangan Ikut Campur
20 Di Ranjang yang Sama
21 21. Ciuman Pertama
22 22. Makan Malam
23 23. Akses Masuk
24 24. Membersihkan Kamar Dion
25 25. Gadis Tidak Tahu Malu
26 26. 15 Tahun Lalu
27 27. Dion Mabuk
28 28. Keanehan Calista
29 29. Tanpa Kabar
30 30. Calon Mertua
31 31. Cinta Masa Kecil
32 32. Dion Pulang
33 33. Kesibukan Dion
34 34. Tangisan Calista
35 35. Ada Bayi
36 36. Pergi dari Rumah Ini
37 37. Asam Lambung
38 38. Cincin Berlian
39 39. Ingatan yang Hilang
40 40. Bertemu Bela
41 41. Berubah
42 42. Ilusi
43 43. Ini Karena Sina!
44 44. Terlalu Sempurna
45 45. Kacau
46 46. Tidak Ikut Campur
47 47. Cemburu
48 48. Kebenaran
49 49. Aku Ingin Pulang
50 50. Liburan
51 51. Tunda
52 52. Berangkat
53 53. Kemah
54 54. Kebetulan
55 55. Bertengkar
56 56. Dia Berbohong
57 57. Kerja Keras Dion
58 58. Pulang
59 59. Mereka Pulang (2)
60 60. Muntah-muntah
61 61. Rumah Sakit
62 62. Hamil
63 63. Luka Bakar
64 64. Tuduhan
65 65. Marah
66 66. Hukuman
67 67. Paviliun Dingin (2)
68 68. Undangan
69 69. Berubah-ubah
70 70. Pesta
71 71. Dimas
72 72. Ngidam
73 73. Mengigau
74 74. Bukan Musuh
75 75. Jangan Bersembunyi Dariku
76 76. Sebuah Pengakuan
77 77. Tahap Serius
78 78. Tentang Risa
79 79. Sina Manja
80 80. Siapa Korban
81 81. Kesepakatan
82 82. Pulangkan Saja
83 83. Keseleo
84 84. Tamu Tak Diundang
85 85. Berharap Lagi
86 86. Mood
87 87. Ingatan Sina
88 88. Dugaan Sina
89 89. Ngidam (2)
90 90. Pinternya Anak Mama
91 91. Dion?
92 92. Apa Kamu Layak?
93 93. Aku Mencintaimu, Sungguh
94 94. Dia Satu-Satunya Alasan Ku
95 95. Balas Dendam
96 96. Aku Menemukanmu
97 97. Dion Demam
98 98. Suami-istri?
99 99. Istriku
100 Aku Bukan Perawan Tua
101 100. Menuju Akhir
102 101. Berakhirkah?
103 102. Pada Akhirnya
104 103. Diantara Dua Pilihan
105 104. Dia Monster
106 105. Papa Tahu
107 106. E
108 107. N
109 108. D
110 Calon Adikku Menjadi Suamiku
111 Hallo?
Episodes

Updated 111 Episodes

1
1. Namaku Sina
2
2. Mereka Pulang
3
3. Kalian Bertunangan, Jika Beruntung
4
4. Rumah Tuan Muda
5
5. Bertemu Dion
6
6. Dion Pria yang Lembut
7
7. Paviliun Dingin
8
8. Dion Begitu Hangat
9
9. Bertemu Calista
10
10. Mimisan
11
11. Mimpi Itu Lagi
12
12. Bertemu Sahabat Dion
13
13. Hati-hati, Jangan Terlalu Percaya Diri
14
14. Berkunjung ke Perusahaan
15
15. Kencan Unik
16
16. Risa Tidak Menyukai Ku
17
17. Belajar Memasak
18
18. Peringatan Risa
19
19. Jangan Ikut Campur
20
Di Ranjang yang Sama
21
21. Ciuman Pertama
22
22. Makan Malam
23
23. Akses Masuk
24
24. Membersihkan Kamar Dion
25
25. Gadis Tidak Tahu Malu
26
26. 15 Tahun Lalu
27
27. Dion Mabuk
28
28. Keanehan Calista
29
29. Tanpa Kabar
30
30. Calon Mertua
31
31. Cinta Masa Kecil
32
32. Dion Pulang
33
33. Kesibukan Dion
34
34. Tangisan Calista
35
35. Ada Bayi
36
36. Pergi dari Rumah Ini
37
37. Asam Lambung
38
38. Cincin Berlian
39
39. Ingatan yang Hilang
40
40. Bertemu Bela
41
41. Berubah
42
42. Ilusi
43
43. Ini Karena Sina!
44
44. Terlalu Sempurna
45
45. Kacau
46
46. Tidak Ikut Campur
47
47. Cemburu
48
48. Kebenaran
49
49. Aku Ingin Pulang
50
50. Liburan
51
51. Tunda
52
52. Berangkat
53
53. Kemah
54
54. Kebetulan
55
55. Bertengkar
56
56. Dia Berbohong
57
57. Kerja Keras Dion
58
58. Pulang
59
59. Mereka Pulang (2)
60
60. Muntah-muntah
61
61. Rumah Sakit
62
62. Hamil
63
63. Luka Bakar
64
64. Tuduhan
65
65. Marah
66
66. Hukuman
67
67. Paviliun Dingin (2)
68
68. Undangan
69
69. Berubah-ubah
70
70. Pesta
71
71. Dimas
72
72. Ngidam
73
73. Mengigau
74
74. Bukan Musuh
75
75. Jangan Bersembunyi Dariku
76
76. Sebuah Pengakuan
77
77. Tahap Serius
78
78. Tentang Risa
79
79. Sina Manja
80
80. Siapa Korban
81
81. Kesepakatan
82
82. Pulangkan Saja
83
83. Keseleo
84
84. Tamu Tak Diundang
85
85. Berharap Lagi
86
86. Mood
87
87. Ingatan Sina
88
88. Dugaan Sina
89
89. Ngidam (2)
90
90. Pinternya Anak Mama
91
91. Dion?
92
92. Apa Kamu Layak?
93
93. Aku Mencintaimu, Sungguh
94
94. Dia Satu-Satunya Alasan Ku
95
95. Balas Dendam
96
96. Aku Menemukanmu
97
97. Dion Demam
98
98. Suami-istri?
99
99. Istriku
100
Aku Bukan Perawan Tua
101
100. Menuju Akhir
102
101. Berakhirkah?
103
102. Pada Akhirnya
104
103. Diantara Dua Pilihan
105
104. Dia Monster
106
105. Papa Tahu
107
106. E
108
107. N
109
108. D
110
Calon Adikku Menjadi Suamiku
111
Hallo?

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!