***
"Benarkah ? Apa anda yakin Nyonya Moolay.?
Bukankah anda tahu sendiri posisi saya saat
ini, saya tidak ingin anda terkena dampaknya."
Sherin tampak ragu mendengar ucapan Agam
barusan. Mayra mengajak Sherin untuk duduk
sambil tak lepas mengulum senyum lembut.
"Jangan khawatir, kami sudah memperhitungkan
semua kemungkinan. Dan kami rasa, tidak ada
orang di dunia ini yang tidak bermasalah."
Ucap Mayra dengan suara yang sangat lembut.
Sherin terdiam, dia masih saja terlihat ragu. Dia
tidak ingin nama baik istri raja bisnis itu ikut
terseret dalam pusaran permasalahan nya.
"Kelihatannya kalian berdua cukup cocok. Akan
sangat mudah membangun chemistry pada
saat pembuatan iklan nanti."
Ucap Agam sambil menatap kedua wanita cantik
itu bergantian. Mereka berdua memiliki kelebihan
masing-masing, tapi yang jelas keduanya sama-
sama istimewa dan memilki senyum yang dapat
menghipnotis setiap mata yang memandang.
"Yes uncle.. Ibu dan aunty sangat cantik."
Si kecil Rein ikut berkomentar sambil senyum-
senyum malu ke arah Sherin yang menatapnya
gemas. Bocah kecil ini sangatlah tampan dengan
aura positif yang begitu kuat hingga membuat
siapa saja yang melihatnya akan langsung jatuh
cinta pada pandangan pertama.
"Rein.. mulai deh genitnya."
Mayra menatap gemas ke arah putranya itu yang
kini menyembunyikan wajahnya di bahu Agam.
"Maaf Bu.. habisnya Tante itu memang cantik."
Gumam Rein yang langsung mendapat kekehan
kecil dari Agam. Dia mengacak halus rambut
bocah itu sambil memeluk nya erat. Selama ini
Agam memang cukup dekat dengan Rein, karena
harapannya untuk segera mendapat momongan
dari istrinya Vanesa belum juga terwujud.
"Terimakasih pria kecil tampan.. bolehkah aku
berkenalan dengan mu.?"
Sherin menggodanya dengan suara yang sangat
merdu hingga membuat Rein semakin terlihat malu-malu. Tapi tidak lama bocah itu turun dari pangkuan Agam, lalu beranjak ke hadapan Sherin. Keduanya kini saling pandang, mengadu kekuatan mata. Sherin semakin merasa gemas melihat
tingkah lucu bocah tampan ini.
"Reinaldo Pranadipta Moolay.."
Ucap bocah tampan itu dengan suara yang di
buat setegas mungkin sambil mengulurkan
tangannya ke hadapan Sherin yang tersenyum
lembut seraya menundukkan kepala penuh keanggunan.
"Sherinda Maheswari Natakusumah.. senang
sekali bisa berkenalan dengan anda Tuan
Muda Rein.."
Sahut Sherin sambil menjabat tangan Rein, dan
tidak lama dia menyambar tubuh mungil bocah tampan itu di bawa keatas pangkuannya.
"Unchh..lucu banget sih kamu..gemess.."
Sherin tidak tahan lagi, dia mengecup lembut
pipi bocah itu lalu mencubitnya gemas hingga
membuat Rein tertawa kegelian. Mayra hanya
bisa tersenyum lembut melihat keakraban yang
tercipta antara Rein dan Sherin. Tidak biasanya
putranya itu bisa langsung menerima kehadiran
orang lain apalagi sampai seakrab itu.
"Baiklah.. kalau begitu kita langsung saja pada
pokok pembahasan dan penandatanganan
kontrak kerjasama !"
Akhirnya Agam kembali serius. Kali ini Vincent
dan para asisten pribadi bergerak mendekat
untuk menyiapkan segala keperluan. Mulai hari
ini, Sherin memang sudah tidak di bantu oleh
seorang manager lagi, karena secara otomatis Margaret berhenti jadi manager nya saat dia di keluarkan dari Starlight management. Jadi saat
ini Vincent lah yang berperan sebagai manager
sekaligus asistennya.
"Tuan Agam, mohon maaf sebelumnya, kapan
kira-kira syuting iklannya akan di laksanakan.?
Soalnya saya sudah terlanjur ikut kompetisi di
Universal Models, dan itu membutuhkan waktu."
Sherin mengemukakan hal yang saat ini menjadi kendala baginya. Agam dan Mayra saling melirik sekilas.
"Tidak masalah, kita akan mengikuti jadwal
yang anda miliki. Lagipula ini tidak terburu-buru.
Anda bisa ikut kompetisi dengan sepenuh hati."
Sahut Agam sambil menatap tenang wajah
Sherin yang terlihat berbinar cerah. Pria tampan
itu kelihatannya cukup terkesan dengan sosok
Sherin yang sangat berbeda dari para model
kebanyakan. Dia tidak berusaha menjaga image
ataupun bersikap seakan di buat-buat.
"Terimakasih atas pengertiannya.. Saya tidak
bisa mengatakan apa-apa lagi, terimakasih."
Ucap Sherin sambil menundukkan kepalanya
dengan tebaran senyum yang mampu memberi
energi positif di sekitarnya.
***
Malam ini Sherin di sibukkan dengan aktivitas
melengkapi data diri yang di minta oleh pihak Universal Models. Dia tidak ingin melewatkan
apapun, agar nanti tidak ada lagi kendala dalam pelaksanaannya.
Waktu sudah menunjukkan pukul 10 malam.
Tapi belum ada tanda-tanda kepulangan Devan.
Ada sesuatu yang membuat hati Sherin merasa
tidak tenang saat tidak ada kabar apapun dari
pria itu. Sebenarnya dia tahu pasti, Dev adalah
orang yang sangat sibuk. Jadi kepulangannya
ke apartemen ini tidak dapat di prediksi.
Namun tidak lama, ponselnya berdering. Mata
Sherin menatap tidak percaya pada nama yang
tertera di layar handphone nya itu..Mr Rich..
"Assalamualaikum..Dev.. kau masih sibuk.?"
"Aku akan pergi ke luar kota sekarang. Jadi
tidak bisa pulang malam ini."
Deg !
Wajah Sherin langsung berubah kaku seketika.
Luar kota, jadi dia tidak akan pulang malam ini.? Kenapa tadi siang tidak mengatakan apa-apa.
"Owhh.. berapa lama kau di sana.?"
"Aku tidak tahu, mungkin sehari atau bisa
juga dua sampai tiga hari.."
"Kau tidak memberitahu ku dari awal Dev."
"Ini mendadak, ada urusan yang harus segera
di selesaikan. Kau tidak ada masalah kan.?"
Hati Sherin mendadak seakan di terbangkan ke awang-awang. Selama ini, selama dia dan Brian menjalin hubungan, tidak pernah sekalipun pria
itu menanyakan masalah yang di hadapinya, tapi
ini.. pria yang baru di kenalnya ini..ahh entahlah..
"Semuanya baik-baik saja. Tadi sore aku sudah menandatangani kontrak kerjasama dengan
pihak Royal Entertainment.."
"Hemm.. bagus kalau begitu. Kau tidak perlu
memikirkan segala sesuatu nya dengan detail.
Jalani saja semuanya dengan kesungguhan."
"Iya aku tahu. Dev..lusa aku akan pergi ke luar
kota, 3 harian di sana !"
Tidak ada sahutan dari sebrang sana. Entah
reaksi apa yang sekarang tergambar dari raut
wajah Devan. Sherin menarik nafas panjang,
ada sesuatu yang membuat hatinya semakin
tidak nyaman.
"Baiklah.. selamat malam Dev, aku harap kau
cepat membereskan semua urusan mu."
"Apa kau sedang memikirkan ku sekarang.?"
Wajah Sherin kembali membeku. Bibirnya kini
tersenyum kecut sambil menggeleng pelan.
"Apa aku punya alasan untuk memikirkan mu.?"
"Aku suami mu Sherin, apa kau lupa itu.?"
Sherin terdiam, dia melangkah tenang ke arah
balkon, menatap hamparan gedung-gedung
megah yang ada di hadapannya. Matanya
terlihat kosong, berusaha menembus batas.
"Aku hanya sedikit merasa hampa. Tempat ini
terlalu besar untuk di huni oleh ku sendiri."
"Biasakan lah mulai sekarang. Aku bukan
tipe orang yang bisa hidup normal seperti
yang lain."
Sherin hanya bisa terdiam. Dia tidak mampu
menemukan kata-kata untuk menjabarkan
apa yang saat ini ada dalam pikirannya.
"Tidurlah. Jangan begadang terlalu malam. Secepatnya akan aku bereskan urusan di sini."
Kembali terdengar suara Devan yang sedikit
berat, dan hal itu malah membuat hati Sherin
semakin gelisah.
"Baiklah..hati-hati di sana, dan selamat malam."
Lirih Sherin sambil menutup ponselnya yang
menyisakan pendaran cahaya di layar. Dia
menarik nafas dalam-dalam, aneh.. kenapa
hatinya terasa kosong dan hampa. Bahkan..
akhir-akhir ini, bayangan wajah Brian sudah
tidak pernah lagi melintas dalam ingatannya.
Ini gila, secepat inikah dirinya move on.? Apa
karena terlalu sakit hati, ataukah karena ada
sosok lain yang mampu membiaskan segala
kesakitan nya atas pengkhianatan yang telah
di lakukan oleh Brian dan Stella.
***
Akhirnya waktu keberangkatan tiba..
Pagi ini Sherin tampak sudah bersiap dengan
koper dan tas ransel yang cukup memuat segala
keperluannya. Hari ini.. dia akan berangkat ke pegunungan di daerah Bogor untuk menjalankan karantina pertama sekaligus kompetisi dasar
yang akan di laksanakan oleh semua peserta
Universal Models High Competition..
Sekitar pukul 8 pagi Sherin sudah tiba di parkiran
depan gedung megah Universal Models. Untuk
sesaat dia masih terdiam di dalam mobil, mata
nya menatap datar sedikit ragu ke arah sebuah
bus elite yang sudah terparkir di halaman. Jadi,
mereka akan berangkat menggunakan moda transportasi umum tersebut. Ini memang sudah merupakan ketentuan. Semua peserta tidak
boleh pergi menggunakan kendaraan pribadi.
"Miss Sherinda Maheswari.. apa sudah hadir.?"
Seorang wanita bertubuh tinggi proporsional,
dengan garis wajah yang sangat tegas tampak
mulai mengabsen para peserta yang sudah hadir.
"Saya di sini Miss Manola.."
Sherin menyahut saat dia datang mendekat
ke arah Bis. Wanita itu menatap tajam ke arah
Sherin dengan sorot mata yang sangat dingin.
Dia terkenal sebagai killer mentor yang cukup
di takuti di universal models..
"Rapihkan barangnya di bagasi. Dan ingat, tidak
boleh meminta bantuan orang lain.! Kalian harus
melakukan segala sesuatunya sendiri.!"
Perintah wanita berwajah tegas itu yang tadi di
panggil Miss Manola oleh Sherin. Dengan tenang
dan santai, Sherin memasukkan koper ke dalam bagasi dan merapihkan nya. Ada beberapa model
pria yang terlihat ingin sekali membantu nya, tapi
tidak berani mendekat begitu melihat tatapan
penuh ancaman di hunuskan oleh Miss Manola.
"Okay.. semuanya 20 orang ya. 15 peserta wanita
dan 5 orang peserta pria. Tinggal menunggu Miss Pamela dan Miss Stella dari Starlight.!"
Tegas Miss Manola sambil memutar matanya
menatap ke arah kedatangan dua mobil mewah
yang baru saja tiba di tempat itu. Tidak lama dari dalam mobil, keluar dua model cantik dan seksi
yang terlihat melenggang santai tanpa merasa bersalah sedikitpun karena telah membuat orang
lain menunggu lama. Keduanya menyerahkan
koper bawaan mereka pada kernet bus yang
sedang berdiri di dekat bagasi.
"Miss Pamela, Miss Stella..kalian sendiri yang
harus merapihkan barang-barang itu !"
Tegur Miss Manola dengan tatapan tajam penuh intimidasi. Tapi Pamela tampak acuh saja, dia
melengoskan wajahnya di hadapan wanita itu.
"Lalu, untuk apa ada kernet di sini.? Sorry ya..aku
tidak terbiasa melakukan hal-hal receh seperti
itu, apa kau mau bertanggungjawab kalau nanti
kulit tangan ku lecet.?"
"Miss Pamela.. ini adalah ketentuan yang sudah
di tetapkan oleh management.!"
"Berhenti memerintah ku Miss Manola.! Atau..
aku akan melaporkan mu pada Steve ! Aku
yakin, dia bisa menggantimu kapan saja.!"
Gertak Pamela sambil melotot kesal di hadapan
Miss Manola yang hanya bisa terdiam menahan geram. Kedua model itu kini masuk ke dalam bus kemudian mencari tempat duduk bagiannya yang sudah di tentukan. Ketika melewati jok yang di
tempati oleh Sherin, keduanya berhenti sebentar.
"Owhh Miss 2 milyar.. benar-benar ikut rupanya. Sungguh, tidak tahu malu ya..!"
Decak Stella sambil menggidikkan badannya
seolah sangat jijik. Para peserta lain saling lirik
dengan temannya.
"Ini justru akan lebih menarik nantinya. Tapi yang harus kalian ingat, di Universal Models.. tidak ada
istilah merangkul perhatian para juri dengan cara menawarkan tubuh sebagai imbalan.!"
Sambung Pamela yang membuat para peserta
semakin merasa tidak nyaman dengan ucapan
kedua model senior itu. Namun lain lagi dengan
Sherin, dia memilih acuh dan tidak peduli pada
aksi kedua model cantik itu dengan memasang headset di telinganya hingga kedua gadis itu
merasa kesal sendiri.
"Miss Pamela, Miss Stella, silahkan menempati
tempat duduk masing-masing, kita akan mulai
melakukan perjalanan.!"
Perintah Miss Manola yang berdiri tegak di bagian depan bus sambil membagi tatapan tajam pada seluruh peserta. Akhirnya kedua gadis itu duduk
di tempatnya masing-masing. Tidak lama ada
seorang staf perusahaan yang memimpin doa
untuk keselamatan dan kelancaran sebelum keberangkatan. Dan kini, bus mewah itu mulai
keluar dari area gedung Universal Models..
Setengah perjalanan.. rombongan itu berhenti
di sebuah rest area untuk beristirahat sejenak.
Sherin bersama beberapa model, memilih untuk
masuk ke sebuah restauran. Kebanyakan dari
para peserta tidak peduli pada masalah yang
saat ini sedang menimpa Sherin. Karena bagi
mereka, itu ibarat kerikil tajam yang datang
menghalangi kesuksesan karir seorang Sherin.
Saat sedang menikmati teh hijau, mata Sherin
menangkap adanya gelagat tidak beres yang
terjadi di sekitar bus. Tapi dia tidak begitu yakin.
"Okay..kita akan melanjutkan perjalanan.. Dan
sekitar satu setengah jam lagi, kita akan tiba
di tempat tujuan."
Ucap Miss Manola saat semua orang sudah ada
di dalam bus. Hawa di sekitar tempat itu mulai
terasa dingin hingga memaksa para model untuk mengenakkan baju hangat. Bus kembali melaju
menyusuri jalan tol menuju ke luar kota.
Setengah jam kemudian..
"Ada apa ini.? Apa ada masalah.?"
Para model tampak bingung sedikit panik saat
laju bus mulai tidak normal. Melaju zig zag dan
seperti kehilangan kontrol. Sherin bangkit dari duduknya, dia merasakan sesuatu yang tidak
di inginkan akan terjadi. Para model kini mulai berteriak panik dan ketakutan.
"Apa yang terjadi pak supir.? Apa ada masalah
dengan mesin bus ini, kita berhenti saja.!"
Miss Manola dan beberapa panitia mencoba
mendekat ke arah sopir, sementara yang lain
berusaha menenangkan para penumpang
yang kini semakin tidak terkendali.
"Se-sepertinya..rem nya bermasalah Miss..Kita
harus mengevakusi para penumpang sekarang
juga. Kami sudah memanggil bantuan !"
"Apa.?? bagaimana ini bisa terjadi.? Bukankah
kalian sudah mengecek semuanya sebelum
berangkat tadi.?"
Wajah Miss Manola tampak kelam di liputi oleh
kemarahan dan kekhawatiran. Para model kini
semakin panik dan menjerit ketakutan saat laju
bus semakin oleng. Mereka berusaha memegang
apapun yang bisa di jadikan pegangan. Sedang
sang sopir berusaha sekuat tenaga untuk tetap menyeimbangkan laju kendaraan besar itu. Tapi
rem nya benar-benar sudah terganggu hingga
laju bus tidak bisa di kendalikan.
"Tenang semuanya.. tidak akan terjadi apa-apa.
Akan ada team penyelamat yang datang.!"
Miss Manola berusaha menenangkan sambil
melakukan panggilan darurat ke bagian kantor.
"Bapak tenang..tetap seimbangkan dan berada
di jalur pinggir. Jangan panik, dan tetap berpikir
positif. Okay..kita akan mencari lokasi yang pas
untuk menghentikan bus ini.!"
Tiba-tiba Sherin sudah berada di dekat pak sopir
dan mencoba memberi pengarahan. Tapi saat ini
pak sopir sudah terlanjur kehilangan ketenangan.
Dia malah terlihat semakin panik saat bus masuk
ke area jalan yang di padati kendaraan lain. Tidak
lama, pria berusia 50 tahunan itu memegangi
dadanya dengan posisi tubuh jatuh di atas kemudi. Sepertinya dia terkena serangan jantung.
"Cepat berikan dia pertolongan pertama..!!"
Sherin memberi perintah sambil memindahkan
tubuh Pak sopir ke jok samping, kemudian dia
mengambil alih kemudi dan sebisa mungkin
mencoba menyeimbangkan laju bus tersebut..
***
Bersambung...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 105 Episodes
Comments
Nazwaputri Salmani
Ada ya model nyupurin bus
2024-06-03
0
Ayuna Kamelia
astaga sherin nyupirin bus dong🤣
2024-03-05
0
andi hastutty
Sherin wanita serba bisa
2023-10-18
0