***
Sherin menegakkan badan, tatapannya tampak
mengawasi pergerakan ke 4 pria jalanan itu. Dia
terlihat tenang, tak gentar sedikitpun.
"Apa mau kalian.? Aku tidak membawa uang
cash saat ini. Jadi kalian salah alamat kalau
mau mencoba merampok ku !"
Gertak Sherin sambil kemudian mundur dengan
tatapan tetap waspada. Ke 4 pria berpenampilan
kacau itu tampak saling pandang dan tidak lama
tertawa terbahak-bahak mendengar gertakkan
Sherin yang terdengar menggelikan itu. Menarik,
gadis ini tak terlihat takut pada mereka.
"Santai saja Nona, kami hanya ingin sedikit
bersenang-senang dengan mu.!"
Ucap salah seorang sambil menjilat lidahnya
dengan tampang memuakkan yang membuat
Sherin sedikit bergidik jijik.
"Kalau kalian ingin semuanya baik-baik saja,
biarkan aku pergi dari tempat ini sekarang juga."
Ujar Sherin sambil mundur perlahan mencari
lahan yang cukup luas. Ke 4 pria itu kini kembali terdengar tertawa keras seolah-olah sedang
menemukan kesenangan.
"Tentu saja kami akan melepaskan mu kalau
sudah puas. Jadi sekarang ayo ikut dengan
kami secara sukarela, jangan coba-coba untuk
melawan atau berteriak Nona, percuma.!"
Ujar seorang lagi dengan tampang wajah yang semakin terlihat bergairah. Mata ke 4 pria itu
tampak berkilat panas, saat melihat dengan
jelas bagaimana rupa gadis yang sedang
mereka kurung itu, ketika ada lampu kendaraan
yang lewat dan menerangi tempat itu sekilas.
"Luar biasa, kita mendapatkan hadiah yang
tidak terduga malam ini. Gadis ini sepertinya
bidadari yang turun dari langit."
Decak salah seorang yang merupakan pimpinan
dari para berandalan itu sambil maju dan kini
tatapan nya terlihat semakin membara melahap
sosok Sherin yang mundur ke pinggir trotoar.
"Mundur kalian ! Jangan memaksaku untuk
melakukan sesuatu. Sudah aku katakan, aku
tidak membawa uang saat ini.!"
Sentak Sherin dengan tatapan yang kini terlihat
semakin tajam sambil menyingsingkan lengan bajunya. Dan sialnya dengan dia melakukan hal
itu, malah semakin memicu gairah di tubuh para
pria berandalan itu saat melihat kilau bening dari
kulit lengan gadis itu yang tersorot lampu jalan.
"Kami tidak menginginkan uang mu Nona, yang
kami inginkan adalah kehangatan tubuhmu
yang sangat indah itu.!"
Wajah Sherin kini berubah keras dan memerah. Kemarahan langsung saja menyeruak di dalam
dadanya.Kegusaran akibat kejadian di restauran
tadi seakan tersulut dan membangkitkan emosi
yang kini bangkit serta perlu pelampiasan. Dia
tidak bisa menangis, jadi mereka adalah objek
yang tepat untuk melepaskan segala emosinya
saat ini.
"Ayo, tangkap dia ! kita bawa ke rumah kosong.
Malam ini kita akan berpesta, kita mendapatkan
bidadari dari langit, dia benar-benar cantik.!"
Teriak sang pimpinan memberi perintah pada
anak buahnya yang langsung maju merangsek
ingin menangkap Sherin. Namun hal yang tidak
terduga terjadi. Dengan gerakan lincah dan apik,
Sherin membagi tendangan dan pukulan kearah
ketiga pria berandalan itu yang langsung mundur
terhuyung sambil memegangi beberapa bagian
tubuh mereka yang terkena tendangan Sherin.
Mereka semua tampak terkejut, karena pukulan
tangan lemah gemulai itu ternyata sekeras palu.
Woww..gadis ini cukup menantang juga. Ini akan terasa semakin menyenangkan saat mereka melampiaskan segala keinginannya.
"Aku peringatkan pada kalian, sebaiknya pergi
dari tempat ini. Atau kalian tidak akan bisa
berjalan lagi esok hari.!"
Sherin menegakkan badannya sambil menepis
pakaiannya yang tersingkap sedikit. Untuk sesaat
sang pimpinan berandalan tampak terkesima. Dia masih tidak percaya pada apa yang di lihatnya,
namun akhirnya..
"Ayo maju, tangkap wanita itu..!!"
Orang itu kembali memberi perintah sambil maju menyerang Sherin dengan gerakan brutal tidak
terarah. Yang ada di otak mereka saat ini adalah bagaimana caranya bisa segera menangkap dan melumpuhkan gadis ini secepatnya. Dan hal itu memudahkan Sherin untuk menangani pria-pria
kalap yang sudah kehilangan kendali itu.
Gadis itu melakukan gerakan lincah, menghindar
dan melompat. kemudian melakukan serangan
balik dengan membagi pukulan dan tendangan
ke tubuh para berandalan itu dengan kelihaian
dan ketepatan sasaran.
Sherin tidak menyadari sama sekali, saat ini dari kejauhan, dari dalam sebuah mobil sport mewah,
ada dua pasang mata yang sedang mengamati
perkelahian antara dirinya dengan para pria
berandalan itu. Kedua pasang mata itu tampak
terkesima melihat bagaimana lincah dan lihainya gerakan ilmu bela diri yang di perlihatkan oleh
Sherin tanpa meninggalkan kesan gemulai dan feminim dari sosoknya yang mempesona.
"Tuan Muda, apa perlu saya turun tangan.?"
Akhirnya sang sopir mengeluarkan suara. Dan
ternyata mereka berdua adalah Devan beserta
asistennya yang kebetulan lewat ke tempat itu.
Semula mereka berniat membantu Sherin yang
sedang di ganggu oleh para berandalan itu.
Namun yang kini terjadi..
"Untuk apa turun tangan, kau lihat sendiri kan.?"
Devan menyeringai tipis saat melihat Sherin
sudah bisa melumpuhkan ke 4 berandalan itu
dalam waktu singkat hingga mereka semua
kini terkapar di atas trotoar sambil memohon
agar di lepaskan.
"Pergi dari sini.! Aku harap, kalian tidak pernah
lagi mengganggu orang lain. Kalian masih sehat
dan kuat untuk mencari pekerjaan yang lebih
baik dan lebih layak daripada memalak orang !"
Tegas Sherin sambil menatap tajam ke 4 pria itu.
Mereka mencoba bangkit seraya meringis dan mengusap darah di bibir serta hidung. Tubuh
mereka seakan remuk redam saat ini. Tidak di
sangka, wanita yang terlihat lemah itu ternyata memiliki kemampuan yang tidak terduga.
"Te-terimakasih Nona..ka-kami mohon maaf
karena telah bersikap lancang tadi.."
Pimpinan berandalan itu berucap gemetar.
Terlihat sekali kalau mereka ketakutan saat ini.
Sherin menepiskan tangannya, tidak lama para
pria berandalan itu pergi dari hadapan Sherin
dengan menyeret langkah yang tertatih. Sherin
menarik nafas gerah dan lelah, ada-ada saja.!!
"Dia bukan gadis biasa Tuan.!"
Roman berucap dengan tatapan tidak lepas dari
sosok Sherin. Dia benar-benar tidak menduga
kalau sosok Sherin yang terlihat sangat lemah
gemulai di luar itu ternyata kokoh di dalam.
"Roman, kau perintahkan Simon untuk mencari identitas wanita itu ! Bukankah dia model yang terkenal dengan berbagai rumor itu.?"
Hahh.?? Roman tampak terkejut bukan main.
Dia terdiam dengan raut wajah tidak percaya.
"Tu-Tuan Muda..apa anda serius ingin.."
Ucapan Roman terhenti saat tiba-tiba pelipisnya
di tekan oleh senjata kecil canggih yang di kini
di todongkan oleh Dev. Tapi mata elang pria itu
masih menatap lurus kearah Sherin yang saat
ini sudah kembali melangkah tenang menyusuri trotoar. Entah apa sebenarnya yang di cari gadis
itu malam-malam begini.
"Apa aku perlu melobangi otakmu dulu Roman.?"
"Tidak Tuan, baik, Saya akan memerintahkan
Simon sekarang juga untuk melacaknya."
Sahut Roman dengan suara sedikit bergetar
karena tegang. Dia segera menyalakan mesin
mobilnya.
"Besok pagi laporannya sudah harus kalian
dapatkan.!"
"Siap Tuan, laksanakan !"
"Kita pulang ke apartemen sekarang . Aku
butuh istirahat malam ini.!"
Tanpa kata lagi Roman langsung meluncurkan
mobil canggih nya, hingga dalam sekejap sudah
bisa melewati sosok Sherin yang terlihat sedang
berdiri di halte bis. Mata tajam Devan tiada lepas mengamati sosok Sherin dari kaca spion hingga akhirnya menghilang..
***
Pagi hari yang cerah di kediaman keluarga
besar Kertaradjasa...
Devan keluar dari kamar pribadi Tuan Wiratama
dengan wajah yang sangat dingin. Dia langsung mengambil langkah seribu, tidak peduli sapaan
para pelayan yang antusias melihat kedatangan
Tuan Muda keluarga Kertaradjasa tersebut.
"Pantau terus kondisi Kakek, berikan aku laporan
setiap hari nya. Aku tidak ingin kalian teledor
lagi dalam menjaga kesehatannya !"
Tegas Devan pada kepala pelayan sebelum dia
masuk ke dalam mobilnya.
"Baik Tuan Muda, sesuai perintah anda."
Sahut kepala pelayan sambil menunduk hormat
di hadapan Devan. Tidak lama pria muda penuh kharisma itu pergi dari kediaman keluarga besar Kertaradjasa, Mansion megah yang memiliki
arsitektur Eropa Modern yang sangat mewah itu.
"Tuan Muda, kita langsung ke kantor sekarang.?"
Roman mencoba bertanya dengan hati-hati,
karena melihat sekarang ini sepertinya mood
sang majikan sedang terganggu.
"Hemm.. tidak usah bertanya lagi Roman.!"
"Baik Tuan, maafkan saya."
Roman langsung memberi isyarat pada supir
pribadi Devan yang mengangguk faham dan
meluncurkan mobilnya menunju perusahaan
Devan yang ada di negara ini.
Devan merebahkan tubuhnya ke sandaran jok
mobil berharap segala kegalauan dan keresahan hatinya bisa sedikit berkurang. Dia memejamkan matanya mencoba untuk membuang segala
ganjalan yang memenuhi dadanya.
"Dev..kakek sudah semakin tua sekarang. Tidak
lama lagi Tuhan akan segera memanggil untuk menghadapNya. Dan sebelum masa itu tiba,
kakek sangat berharap bisa melihatmu hidup
bahagia bersama keluarga kecilmu. Kau harus
segera menikah Dev, demi kakek."
Masih terngiang ucapan Tuan Wiratama yang memohon padanya agar segera mencari jodoh.
Hal inilah yang saat ini menjadi beban pikiran
Devan hingga jiwanya gelisah. Devan sadar
betul, sang kakek adalah segalanya bagi dia
dan kehidupannya selama ini.
Devan Kanigara Elajar..
Dia adalah cucu kesayangan dari bangsawan terhormat klan Kertaradjasa yang sudah sangat
kesohor di negara ini. Namun selama ini Devan
lebih banyak menghabiskan waktu di luar negeri
karena usahanya berpusat di negara lain. Yang
ada di negara ini hanyalah sebagian bidang
usaha yang bergerak di bidang informasi.
Devan memiliki fisik yang sangat mumpuni dan
usianya sekarang ini sudah sangat matang untuk segera mengakhiri masa lajangnya. Tahun ini dia genap berusia 30 tahun. Sangat wajar kalau sang kakek dan kedua orang tuanya terus menuntut
dirinya untuk segera memikirkan kehidupan pribadinya.
Namun sampai saat ini, Devan belum juga di pertemukan dengan seseorang yang mampu menggeser posisi wanita yang masih mengisi
hatinya selama 2 tahun terakhir ini. Cinta yang
dia rasa sulit sekali di abaikan. Padahal jelas-
jelas wanita itu adalah sepupunya sendiri. Dan
sekarang ini, wanita itu sudah hidup bahagia
bersama suami yang sangat mencintainya, di
tambah dengan kehadiran putra mereka yang
saat ini sudah berusia 2 tahun.
Bukannya dia tidak mampu mencari wanita lain
untuk di jadikan sebagai pendamping hidupnya,
bahkan di luaran sana, ribuan wanita rela antri
untuk dapat mendekat padanya. Hanya saja
sampai saat ini dia belum siap berumah tangga.
"Kalau kau tidak mampu mencari sendiri, maka
kakek akan mengadakan sayembara untuk bisa menemukan wanita yang cocok untukmu. Dan
ingat, Kakek menginginkan menantu lokal,
bukan produk luar negeri.!"
Kembali ultimatum Tuan Wiratama terngiang
di telinga Dev membuat nya semakin frustasi.
Dia mengacak kasar rambutnya sembari
menghela nafas berat.
"Roman..kau kirim pesan pada asisten Kakek,
berikan aku waktu untuk mencari wanita
dengan caraku sendiri.!"
Akhirnya Dev mengeluarkan suara setelah dia
berpikir ulang tentang semua permintaan sang
kakek. Tidak ada jalan lain lagi bagi Devan
selain menuruti permintaan kakeknya itu.
"Baik Tuan Muda, laksanakan.!"
"Apa informasi tentang wanita semalam telah
di dapatkan oleh Simon.?"
"Sudah Tuan, semuanya ada disini."
Kembali Roman menyahut sambil mengulurkan
tablet tipis ke hadapan Devan yang langsung
membukanya. Dia melihat dan mengamati
semua informasi lengkap tentang Sherin.
"Sherinda Maheswari Natakusumah. Jadi, dia
model nomor satu Starlight Management..?"
"Benar Tuan, dia adalah model dengan grade-
A milik Starlight Management dengan segala
skandal dan kontroversi nya."
Alis Devan tampak bertaut. Dia menelusuri
seluruh detail informasi yang ada di email-nya.
"Hemm..dia adalah model bookingan dengan
harga yang sangat fantastis ! 2 sampai 3 milyar
per kencan.! Sangat mencengangkan.!"
Roman terdiam, tapi dia mencoba mencuri
pandang kearah spion tengah, dimana saat ini
Tuan nya itu tampak serius mengamati setiap
fhoto Sherin yang ada di tabletnya. Semua fhoto
itu terlihat sangat menarik dan mempesona.
Dan tidak ada satupun fhoto yang terlihat di
luar batas.
"Tidak di sangka, cucu dari keluarga kaya raya
tapi harus masuk ke dalam bisnis perdagangan
manusia. Sangat miris. Tidak ada wanita yang
murni sekarang ini. Mungkin aku tidak akan
pernah menemukan pengganti nya.."
Desis Devan sambil membanting tablet kearah
jok samping. Dia melempar tatapannya ke luar
jendela. Ada ekspresi berbeda yang kini terlukis
di wajah high class nya. Model bookingan.??
Cihh.! ternyata wanita itu sama saja dengan wanita-wanita lainnya.
"Pantau terus perkembangan model itu.! Cari
tahu kebenaran rumor yang beredar.!"
"Baik Tuan muda."
Sahut Roman dengan alis sedikit terangkat. Ini
sesuatu yang cukup janggal, tidak biasanya sang
Tuan Muda tertarik pada kehidupan seseorang.
Apalagi ini seorang wanita dengan segala image
negatif yang sedang di sandang oleh nya.
***
Bersambung...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 105 Episodes
Comments
Nazwaputri Salmani
Baca ulang lagi kangen sheren sama devan
2024-06-02
3
Dwi Handayani
iaku baca novel ini sdh ke tiga kalinya.aku suka dg ceritanya.aku mencari lanjutan dri cerita ini tpi ternyata tdk ada.thor tdk melanjutlan cerita.tentang anak serin.raya dan almayra
2024-05-18
1
vidhy01
aku cari lagi akhirnya bisa baca ulang lagi di tahun 2024☺️😀
2024-05-02
2