***
Devan tersenyum tipis, ini semakin menantang.
Apakah dugaannya selama ini benar.? Hatinya
tiba-tiba saja terasa hangat. Selama ini dia tidak
pernah meleset dengan feeling ataupun apa
yang di yakini nya tentang sesuatu.
Dia mengeluarkan ponsel dan menghubungi
nomor Roman yang akan selalu siap kapanpun
dirinya membutuhkan laki-laki itu, walau harus
24 jam sekalipun. Asistennya itu bahkan tidak
pernah memikirkan dirinya sendiri, dia sangat
setia dan menghamba pada dirinya.
"Bagaimana..kau sudah mengumpulkan bukti
yang di butuhkan.? "
"Sudah Tuan Muda.. semua bukti sudah kita
dapatkan, besok bisa langsung di proses."
"Baiklah..berikan syok therapy dulu pada wanita
itu, biarkan dia merasa frustasi sendiri.!"
"Baik Tuan.. laksanakan.!"
"Bagaimana dengan agensi itu.? Apa kita bisa
mulai menggoyang nya.?"
"Kita bisa beraksi kapanpun Nyonya Sherin
menginginkan Tuan.."
"Hemm.. baiklah, kita akan lihat dulu apa yang
akan di lakukan oleh istriku itu "
"Siap Tuan, kami menunggu perintah anda."
"Sekarang istirahatlah, kau pasti lelah.!"
"Baik Tuan Muda, terimakasih, selamat malam."
Devan mengakhiri percakapan teleponnya. Dia
memejamkan matanya, menikmati semilir angin
yang berhembus tenang. Tidak lama dia meraih
gelas dari atas meja dan mencicipi madu jahe
yang sudah di buatkan oleh Sherin itu. Alisnya
tampak bertaut, hemm.. minuman ini terasa..
begitu hangat dan nikmat, membuat tubuhnya
terasa lebih rileks dan segar, luar biasa.. ini
adalah doping yang sehat.
Setelah menghabiskan minuman hangat itu,
Devan kembali masuk ke dalam kamar. Lalu
berdiri di pinggir tempat tidur, memandangi
sosok Sherin yang saat ini sudah menggulung tubuhnya di balik selimut bahkan sampai ke
seluruh wajahnya. Rasa malu dan canggung
membuat Sherin tidak sanggup kalau harus
kembali berinteraksi dengan Devan.
"Apa kau sudah tidur.?"
Devan bertanya sambil merebahkan tubuhnya
di sebelah Sherin yang terdiam tidak menjawab.
"Baiklah.. kau memang butuh istirahat."
Devan kembali berucap sambil menyangga
kepalanya dengan kedua tangannya. Sesaat
kemudian dia menoleh ke arah Sherin yang membelakangi dirinya. Ada segaris senyum
tipis yang kini terukir di sudut bibirnya saat
bayangan rasa manis dan lembut dari ciuman
mereka barusan kembali terlintas, ahhh.. itu
sangat mengesankan. Membuat nya ingin
kembali mengulang dan merasakannya.
"Kau tidak boleh memunggungi suamimu
Sherin. Itu sangat tidak di sarankan.!"
Sherin bereaksi, dia membuka selimut yang
menutupi wajahnya. Dengan sedikit enggan
dia berbalik, dan matanya langsung bersitatap
dengan mata Devan yang sedang melihatnya.
"Maaf, ini agak sedikit aneh bagiku. Jadi aku
mohon, berilah waktu padaku untuk dapat
beradaptasi dengan situasi ini."
"Kenapa ciumanmu sangat kaku.?"
Hahh.? Kenapa dia membahas itu lagi..?? Wajah
Sherin langsung merah padam. Dia melempar
pandangannya ke lain arah menyembunyikan
kegugupannya. Raut wajah Devan semakin
terlihat penasaran sekaligus geregetan.
"Bukankah seharusnya kau sangat lihai untuk
urusan yang satu itu.?"
"Aku..aku tidak pandai melakukan nya.!"
Elak Sherin mencoba berdalih, dia tidak mungkin
mengatakan kalau tadi itu merupakan ciuman pertamanya kan.? Itu akan terdengar sedikit menggelikan, Devan juga tidak akan mungkin
mempercayainya.
"Ya.. itu terlihat jelas.! Aku benar-benar tidak
percaya, wanita sekelas dirimu tidak pandai
melakukan hal seperti itu.!"
"Sudah, jangan bahas itu lagi.. Lagipula itu
bukanlah hal yang penting untuk di pelajari.!"
Decak Sherin sebal sambil melempar guling ke
arah Devan yang terkekeh geli melihat istrinya kalangkabut di telan kekesalan. Sherin semakin
kesal dengan reaksi tawa Devan. Dia kembali
melempar bantal ke tubuh Devan yang terlihat
menangkap nya.
"Baiklah..sekarang tidurlah.. aku tidak akan
mengganggu mu malam ini. Besok kita akan
memulai semuanya sesuai keinginan mu."
Ujar Devan sambil memejamkan matanya.
Sherin terdiam, posisi tubuh mereka berjarak
dan terhalang oleh guling. Memulai semuanya.?
Apakah dia akan di pertemukan dengan Tuan
Kertaradjasa, atau adakah yang lain.?
"Selamat malam.. semoga mimpi indah."
Lirih Sherin sambil kemudian dia mulai berdoa
dan memejamkan matanya. Berharap esok hari
semuanya akan lebih baik. Walau apapun yang
akan terjadi nanti, setidaknya saat ini dia sudah bersama dengan seseorang yang berjanji akan
selalu membantunya.
Sherin tersentak ketika tubuhnya di tarik oleh
tangan kokoh Devan kemudian di dekapnya
erat dan kuat. Untuk sesaat dia tampak kaget
dan membeku. Tubuh mereka kini merapat satu
sama lain, tangan Sherin menekan dada bidang
Devan, mata mereka saling pandang lekat.
"Apa yang akan kau lakukan pada orang-orang
yang sudah memperlakukan dirimu dengan
sangat buruk itu.?"
Deg !
Wajah Sherin tampak terkejut, dia yakin pria ini
mengetahui semua yang terjadi padanya. Wajah
Devan terlihat keras dan dingin saat ini. Ada
bara api yang menyala dalam sorot matanya.
"Akan ada saatnya untuk itu, tapi untuk saat ini
aku harus membangun kembali karirku. Akan
sedikit sulit, tapi aku yakin pasti ada jalannya."
"Aku akan memerintahkan orang-orang dari
Universal untuk menarik mu masuk.!"
"Jangan Dev, jangan libatkan dirimu untuk satu
hal ini. Aku ingin berusaha sendiri untuk karirku."
"Lalu apa gunanya peranku di sisimu.? Aku bisa
melakukan apapun untuk membuatmu segera
mencapai posisi yang kau inginkan.!"
"Tentu saja, aku sangat percaya itu. Tapi aku
tidak ingin ada campur tangan orang lain untuk
satu hal ini. Biarkan aku berusaha sendiri."
Keduanya kembali saling pandang, tangan Devan
bergerak mengelus wajah bening Sherin yang
mulai tegang dan kaku. Mata mereka semakin
terpaut dalam, menembus masuk ke kedalaman
jiwa masing-masing. Ada sesuatu yang membuat
mereka tidak mampu melepas tatapan ini.
"Kau memiliki peluang yang sangat besar untuk
naik dan mencapai posisi tertinggi. Dan aku akan
selalu ada di belakang mu, mendukungmu.!"
Jantung Sherin tiba-tiba saja bergelombang.
Apakah dirinya sedang bermimpi, ada orang
yang baru saja di kenalnya tapi sudah mampu
memberinya rasa aman serta menyatakan diri
akan selalu mendukung nya. Matanya tampak
berkaca-kaca, dia tak kuasa menahan rasa haru.
"Terimakasih Dev..walau semua ini tidak akan
bertahan lama, tapi setidaknya untuk saat ini
aku cukup bahagia karena ada orang yang
akan mendukung ku."
Lirih Sherin sambil kemudian memeluk tubuh
Devan yang membeku seketika. Pria itu tampak tegang dan sedikit gugup. Ada perasaan aneh
yang kini melingkupi jiwanya. Perasaan ingin melindungi dan memastikan bahwa wanita ini
harus selalu baik-baik saja.
Keduanya kini saling berpelukkan dalam diam.
Namun lama-lama mereka mulai merasakan
ada hawa panas yang menyeruak dan mulai membakar aliran darah keduanya. Dengan
menahan rasa malu, Sherin segera melepaskan pelukannya. Keduanya kembali saling pandang
sesaat dengan wajah yang bersemu merah.
"Tidurlah.. ini sudah malam, tubuh mu butuh
istirahat cukup."
Ucap Devan akhirnya sambil merentangkan
tangannya untuk di jadikan sebagai bantal.Tak
ingin berdebat lagi, Sherin segera merebahkan
kepalanya berbantal lengan Devan dan mencoba
memejamkan matanya. Devan tersenyum dalam
diam. Dia kembali menarik tubuh Sherin hingga
wajah gadis itu kini bersandar di dadanya.
Ada kenyamanan dan kehangatan yang tidak
terjabarkan yang membuat mata Sherin lebih
cepat terpejam, dia mulai tertidur. Sementara
Devan masih menatap dan mengamati wajah
cantik yang terlihat tenang itu.Dia memastikan
akan selalu ada di belakang wanita ini, walau
entah sampai kapan itu berlangsung.
"Sherinda.. sangat menarik. Jiwamu tercabik
oleh berbagai hinaan dan hujatan di luar sana.
Tapi kau masih bisa tertidur pulas seperti ini.."
Gumam Devan sambil mempererat pelukannya
dan perlahan mengecup lembut kening Sherin.
Dia meringis, tubuh bagian bawahnya sudah
berontak dari tadi. Tapi, dia butuh keteguhan
hati untuk melakukan semua itu. Sekuat tenaga
Devan mencoba menahan hasratnya.
***
Pagi hari yang hangat dan cerah...
Hari ini Sherin tidak memiliki kegiatan apapun.
Dia akan beristirahat di apartemen dan mencoba melihat peluang yang bisa di ambilnya. Dia sudah
memutuskan, akan mengikuti ajang kompetisi
yang di adakan oleh Universal Models..
Kalau dilihat, sudah ada sekitar 20 top model
yang ikut dalam ajang bergengsi ini. Dengan
memenangkan kompetisi ini, para model akan
mendapatkan peluang besar untuk berkarir di
pentas dunia dan salah satunya akan di kontrak
oleh Universal Ambers Studio untuk menjadi
salah satu pemeran dalam sebuah film garapan
sutradara ternama dunia.
Setelah menjalankan ibadah sholat subuh, Sherin
turun ke lantai bawah. Karena waktunya kosong,
hari ini dia bisa meluangkan waktu sepuasnya
dengan berada di dapur. Sherin membuat menu
sarapan pagi yang di rasa akan di sukai oleh
Devan. Dia memang belum mengetahui semua
hal yang berhubungan dengan suaminya itu.
Setelah selesai, dia kembali naik ke lantai atas
dengan membawa secangkir kopi racikannya
sendiri. Selama ini Sherin sudah biasa berkutat
dengan urusan dapur walau sebenarnya itu agak
sedikit beresiko bagi dirinya yang berprofesi
sebagai model, karena tubuh nya tidak boleh
terkena luka sekecil apapun.
Sherin mematung di tengah ruangan begitu dia
masuk ke dalam kamar. Bagaimana tidak, saat
ini dia berpapasan dengan Devan baru saja keluar
dari kamar mandi dengan hanya mengenakkan handuk sebatas pinggang saja. Karuan saja tubuh
nya yang gagah dan sempurna dengan barisan
roti sobek di bagian depannya kini terpampang
nyata di depan matanya.
Untuk sesaat keduanya tampak terkejut dan
hanya bisa saling menatap canggung.
"Ke-kenapa tidak berganti pakaian di dalam.?"
Gerutu Sherin, kemudian berjalan cepat sambil
menunduk menuju ke arah balkon. Bibir Devan
menyeringai tipis, dengan santai dia duduk di
pinggir tempat tidur sambil mengecek ponselnya karena ada beberapa laporan yang masuk. Tidak
lama Sherin sudah kembali, tanpa melihat ke
arah Devan, dia langsung masuk ke ruang walk
in closet untuk menyiapkan pakaian yang akan
di kenakkan oleh Devan hari ini.
"Apa yang kau lakukan di bawah.?"
Sherin melirik ke arah Devan yang baru saja
masuk ke dalam ruangan itu.
"Aku membuat sarapan untuk kita."
"Kau memasak.? Bukankah kau tahu benar
hal itu tidak boleh di lakukan."
"Aku tetaplah seorang wanita Tuan. Jadi sudah sepantasnya bagiku untuk melakukan semua
itu. Lagipula aku tidak akan selamanya berada
di atas runway. Suatu saat nanti, harus kembali
juga ke dapur.."
Bibir Devan terangkat sedikit, ada kehangatan
yang kembali merayapi hatinya. Sherin mundur
ke dekat lemari saat Devan mendekat.
"Tapi kau tahu sendiri bukan, tubuh mu adalah
aset yang sangat berharga. Dan kau tidak boleh terluka sedikitpun Nyonya Elajar."
Desis Devan sambil mencondongkan tubuhnya
hingga kini merapat ke hadapan Sherin yang
langsung memalingkan wajahnya. Namun dia
jadi malu sendiri saat menyadari laki-laki itu
ternyata meraih kemeja yang ada di tangannya.
Sherin menarik nafas pelan sambil menegakkan
badannya.
"Bantu aku memakainya.!"
Hahh..?! matilah aku.. seketika wajah Sherin
memerah, dia menggelengkan kepalanya kuat.
"Cepatlah.. titah ku adalah mutlak.!"
Devan tampak tidak sabar, dia merentangkan
kedua tangannya. Dan tubuh gagah yang sangat
menggoda iman itu kini menantang Sherin untuk
di sentuh dan di puja nya. Sherin gelagapan, dia
benar-benar tidak sanggup di hadapkan pada
situasi ini. Kenapa harus begini sih.?
"Tapi..Dev.. aku.. aku tidak bisa.."
"Sherinda.. apa yang kau ragukan.? Kita adalah
suami istri, bukankah sudah terbiasa bagimu
menyentuh tubuh sembarang laki-laki.?"
Apa ?? wajah Sherin tiba-tiba berubah keras dan
kesal. Kenapa laki-laki ini masih saja menyimpan keyakinan itu. Ya..baiklah, kalau itu maunya, dia
akan meladeni kegilaannya.
"Baiklah..perintahmu adalah segalanya bagiku.
Dan aku memang sudah biasa dengan ini.!"
Decak Sherin sambil kemudian mulai bergerak
mendekat. Keduanya saling pandang sesaat.
Ada ketegangan dan kegugupan yang tergambar
jelas di wajah mereka, namun keduanya sudah
kepalang basah. Akhirnya Sherin memakaikan
kemeja itu ke tubuh Devan. Dia mencoba kuat
dan bersikap tenang di hadapan Devan yang
kini malah sebaliknya, pria itu tampak mulai
panas. Pikirannya berkelana kemana-mana.
Keraguan kembali menghinggapi kepalanya.
Suasana semakin memanas ketika sentuhan
tangan lembut Sherin membuat tubuh bagian
bawah Devan kembali mengamuk. Dia sudah
tidak mampu mengendalikan dirinya lagi..
Dalam satu gerakan cepat, Devan menarik
tubuh Sherin hingga kini keduanya merapat.
Mata cantik Sherin melebar ketika tiba-tiba
Devan menyergap bibirnya dan **********
rakus..
Sherin mencoba menolak, tangannya menekan
dada Devan untuk melepas serangannya. Tapi
aksi Devan semakin ganas, dia menekan masuk
dan menguasai permainan seluruh nya. Ini luar
biasa, bibir istrinya ini memang mengandung
candu yang sangat memabukkan. Akhirnya..
perlahan-lahan, Sherin mulai menerima ciuman
itu dan mencoba membalasnya.
Sherin terkesiap saat dia mulai merasakan ada sesuatu yang menekan bagian inti tubuhnya,
sesuatu yang sangat keras dan kuat. Tubuhnya tiba-tiba menegang, dia sadar suaminya saat ini
sudah sangat berhasrat. Keduanya kini semakin
panas saat Sherin mulai menikmati ciumannya
itu. Namun tidak lama terdengar suara telepon
yang membuyarkan segala kenikmatan yang
tengah di reguk keduanya.
"Ohh shit.! Apa-apaan si Roman ini..berani
sekali dia mengganggu waktu ku.!"
Geram Devan dengan wajah merah padam. Dia
meraih ponsel dari atas lemari. Raut wajahnya
tiba-tiba melemah saat melihat nama yang kini
tertera di layar ponselnya.
"Kakek.. apa yang terjadi dengan nya.."
Desis Devan sambil melirik sekilas ke arah Sherin
yang terdiam menatapnya. Devan memilih keluar
dari ruangan sambil berbicara dengan sang kakek
di seberang sana. Sedang Sherin masih terdiam,
ada perasaan tidak nyaman yang kini merayapi
hatinya saat mengetahui yang menghubungi
Devan saat ini adalah Tuan Kertaradjasa..
Akhirnya Sherin keluar dari ruang ganti pakaian
sambil membawa jas dan dasi yang akan di
kenakan oleh Devan. Dia juga menyiapkan tas
kecil yang biasa di tenteng oleh suaminya itu.
"Nanti siang kita di panggil ke rumah besar.!
Kita akan menemui kakek.!"
Deg !
Jantung Sherin berdebar kencang dan keras.
Dia akan bertemu dengan Tuan Wiratama.?
Sang konglomerat yang terkenal sangat keras
dan berdarah dingin itu. Sherin membalikkan
badan, saling berhadapan dengan Devan yang
sedang menatapnya tajam..
***
Bersambung...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 105 Episodes
Comments
Nuryati Yati
Sherin di terima gk yah sama klg Devan
2025-03-29
0
andi hastutty
heem Sherin kasian ketakutan
2023-10-18
0
H A R U K A ~C H A N
roman agaknya kepengen dikirim ke sungai amazon buat nemenin ikan piranha😂
2023-06-06
0