***
Mata Sherin dan Devan bersirobos tatap. Wajah
pria itu tampak datar namun tetap saja terlihat
mempesona dan menggoda. Rombongan mereka
tiba di depan pintu dimana saat ini Sherin tengah berdiri dengan canggung.
"Selamat siang Tuan Devan.. Tuan Abraham.."
Sherin menyapa dengan suara sedikit bergetar
dan tangan yang membelit bagian bahu untuk menahan gaunnya agar tidak terbuka. Namun
mata tajam Devan menangkap adanya gelagat
tidak beres. Wajah gadis itu terlihat kesal dan
muram. Alis Devan mengernyit begitu melihat
sosok Brian muncul di belakang Sherin.
"Selamat siang Nona Sherin. Tuan Brian..apa
yang terjadi dengan model anda.? Kenapa dia
terlihat kacau begini.?"
Aham bertanya dengan tatapan penuh selidik ke
arah Sherin dan Brian. Dia merasa ada yang tidak
beres baru saja terjadi. Sementara Devan masih
dalam posisi menatap tajam wajah Sherin penuh interogasi. Brian tampak menegakkan badannya.
"Selamat siang Tuan Elajar..Tuan Abraham. Tidak
ada apa-apa, hanya ada sedikit masalah saja. Semuanya aman dan terkendali.! Senang sekali
bisa bertemu anda berdua di tempat ini."
Sahut Brian sambil menundukkan kepalanya
di hadapan Devan dan Aham dengan senyum
setenang mungkin. Sherin melirik marah ke arah
Brian. Dia benar-benar benci sandiwara pria itu.
"Owhh saya kira terjadi sesuatu. Kebetulan, kami
sedang ada kunjungan kerja ke tempat ini. Baik,
kalau begitu lanjutkan, kami harus pergi. Mari..
Tuan Elajar , kita lanjutkan survei nya.."
Aham mempersilahkan Devan untuk kembali
berjalan. Dev melirik sekilas kearah Sherin yang
masih menundukkan kepalanya. Kemudian dia
kembali berjalan tenang bersama rombongan itu.
Para crew yang ada di sekitar koridor langsung
heboh membicarakan kehadiran Devan di tempat
itu. Ini sesuatu yang sangat tidak terduga.
"Ya Tuhan.. mimpi apa semalam bisa melihat
Tuan Elajar secara real. Apalagi beliau bersama
dengan Tuan Aham.. bisa-bisa diabetes nih kita
di suguhi pemandangan yang kelewat manis tadi."
"Iya benar, ternyata aslinya Tuan Devan itu lebih
tampan dan gagah dari gambar atau video. Bikin
gak nahan saat melihatnya."
Itulah celotehan para crew yang masih bertahan
dan berdiam diri di sudut ruangan karena melihat
keberadaan Brian di depan ruangan.
Sherin menghela nafas berat mendengar apa
yang di perbincangkan oleh para crew. Pria yang
kini berstatus sebagai suaminya itu, akan selalu
menciptakan kehebohan di manapun dia berada.
Akhirnya Sherin berpaling pada Brian.
"Aku harap, tidak ada lagi kejadian yang sama.
Kau sudah berubah Brian. Aku tidak mengenali
dirimu yang dulu lagi.!"
Desis Sherin sambil kemudian masuk kembali
ke dalam ruangan. Brian menatap kesal ke arah
Sherin, kemudian melangkah pergi dengan hati
yang dongkol. Dia akan memastikan, suatu saat
nanti semua keinginan nya harus terwujud.
Sherin berdiri di depan cermin sambil menatap pantulan dirinya. Wajahnya masih terlihat tidak bergairah. Laki-laki brengsek itu sudah merusak
mood nya. Tidak ada jalan lain, dia harus segera
membereskan sisa kontrak pekerjaan kemudian
keluar dari manejemen Starlight.
Dia mencoba membenahi gaun yang di pakainya. Namun matanya mengerjap ketika tiba-tiba ada
satu bayangan masuk ke dalam ruangan. Sherin
terkejut saat melihat sosok Devan kini sudah
berdiri tegak di belakang nya. Pria itu tampak
mengibaskan tangan membuat pintu ruangan
tertutup rapat dan terkunci.
Mata mereka kini bertemu lewat pantulan cermin.
Devan berjalan tenang ke arah Sherin yang hanya
bisa terdiam, tidak mampu bergerak. Pria itu kini berdiri tepat di belakang Sherin.
"Tuan Devan..kenapa kau kesini.? Bagaimana
kalau ada yang melihatmu masuk.?
Sherin bertanya, sambil menggeser posisi tubuh
agak ke depan sedikit. Devan mengikutinya, maju mendekat, hingga kini tubuh mereka sedikit rapat.
"Apa yang baru saja kalian lakukan barusan.? Apa
pria itu mengganggu mu.? Atau mungkin, kalian
baru saja mengenang masa lalu.?"
Wajah Sherin tampak bereaksi tidak suka. Mata
nya yang cantik mendelik kesal. Mata mereka
saat ini masih saling menatap lewat cermin.
Tangan Devan bergerak menarik rensleting
gaun yang di kenakkan oleh Sherin yang belum terpasang sempurna.
"Aku hanya melakukan, apa yang seharusnya
di lakukan Tuan.! Lalu, kenapa kau bisa tiba-tiba
ada di tempat ini.?
"Jangan mengalihkan perhatian Nona Sherin.
Dan jangan memanggilku dengan sebutan Tuan.!"
Tubuh Sherin berjingkat begitu Devan menarik
rensleting itu perlahan. Jari-jarinya menyentuh
kulit tubuh Sherin membuat matanya terpejam.
Ada ketegangan yang kini melandanya, namun
anehnya dia tidak juga mampu bergerak.
"Ada urusan apa kau datang ke sini Dev.?"
Bibir Devan terangkat sedikit mendengar apa
yang baru saja di ucapkan oleh Sherin. Dev..?
Lumayan.. itu terdengar manis dan..menggigit.
"Aku mengikuti mu.! Masalahnya, kau sedikit
liar, jadi harus terus di awasi.!"
Wajah Sherin langsung saja bersemu merah.
Dia membiarkan Devan melakukan apa yang
di inginkan nya. Dan yang lebih anehnya lagi,
dirinya tidak bisa menolak perlakuan pria ini.
"Aku bukan anak kecil lagi Tuan, kau tidak perlu
mengawasi ku.! Aku juga tahu posisi ku."
"Kau tidak bisa di biarkan lengah sedikit saja.
Akan selalu ada nyamuk yang mengganggu
di sekitarmu.!"
"Aku bisa menjaga diriku sendiri. Jadi kau tidak
perlu repot-repot mengirimkan penguntit untuk
mengikuti setiap kegiatan ku Tuan Devan."
Devan menyeringai tipis..Owhh..ternyata wanita
ini tidak bisa di kelabui rupanya, lumayan.!
"Baiklah. Kita akan lihat, sampai dimana kau
bisa mengatasi semuanya sendirian.! Apa aku
perlu melakukan sesuatu pada mantan mu itu.?"
Sherin mengerjap, mata mereka saling menatap
untuk mengirimkan sinyal. Tatapan keduanya
saling menjerat satu sama lain.
"Aku akan melihat dulu, sampai dimana orang
itu akan terus mempersulit jalanku.!"
Devan tersenyum miring. Wanita ini benar-benar
menarik. Dia segera mengakhiri kegiatannya. Kini gaun cantik itu sudah melekat sempurna di tubuh Sherin. Tangan Devan meraih rambut Sherin yang
tergerai indah di bawah pundaknya, kemudian di
sampirkan ke sebelah kiri hingga lehernya yang
jenjang terekspos di depan matanya.
"Aku akan pergi ke luar untuk urusan pekerjaan.
Mulai malam ini, kau akan tinggal di tempatku.
Jadi, nanti malam kau langsung pulang kesana."
Sherin tampak sedikit bereaksi. Dia memutar
badannya, dan kini mereka saling berhadapan.
"Kau akan pergi, berapa lama.?"
"Kenapa, kau akan merindukan ku.?"
Hahh..rindu..?? Lelucon macam apa itu. Mereka
baru saja saling mengenal. Tidak mungkin lah
ada bahasa itu diantara mereka.
"Dasar konyol, kita ini baru saja saling mengenal.
Bagaimana mungkin aku merindukan mu Tuan."
"Tapi faktanya kita adalah suami istri Nona."
Kembali, wajah Sherin tampak memerah. Dia
memalingkan wajahnya ke arah lain. Tiba-tiba
tangan Devan menarik pinggang Sherin hingga
tubuh mereka merapat. Sherin kembali di landa
ketegangan saat Devan mendekatkan wajahnya.
Wajah tampan dengan daya tarik luar biasa itu
kini ada di hadapannya. Tidak di sangka, dirinya
akan menjadi orang yang terhubung langsung
dengan pria yang sangat mempesona ini.
Sherin bertahan untuk tidak merespon apa yang
di lakukan oleh pria itu. Kedua tangannya kini
terkepal kaku sambil berusaha menjauh. Namun matanya kembali terpejam saat aroma wangi membuai yang menguar dari tubuh gagah Devan menerpa indra penciumannya.
"Mulai sekarang, belajarlah menjadi seorang istri
yang baik dan benar Nyonya Elajar.."
Bisik Devan berat sambil menyentuhkan bibirnya
di daun telinga Sherin dengan seringan laba-laba
yang membuat mata Sherin semakin terpejam
rapat. Tubuhnya terserang panas dingin. Tuhan..
pria ini sungguh sangat berbahaya..!
Namun tidak lama Sherin membuka matanya
saat merasakan suhu hangat dari tubuh Devan menghilang begitu saja. Dia tertegun, matanya
kini menatap bingung. Hufft.. dasar pria aneh.!
Lagi-lagi suaminya itu telah menghilang tanpa
jejak. Sepertinya dia memang pesulap.!
***
Sesi pemotretan untuk Stella berakhir. Gadis itu
tampak mendumel karena dia harus mengulang
pengambilan gambar sampai berkali-kali. Tidak
tahu apa, kalau dirinya ini adalah model paling di
incar oleh beberapa potografer.?
Mata Stella menatap tidak suka saat melihat
kemunculan Sherin ke tempat itu. Kakaknya itu
tampil dengan sangat elegan dan good looking
di setiap detail penampakannya. Benar-benar
sangat memukau. Orang-orang dari perusahaan
Az Zahwa tampak terkesima melihat penampilan super model itu.
"Kau pikir bisa mengalahkan ku di sini.? Jangan
mimpi Kakakku sayang. Aku akan memastikan
bahwa kau akan segera tersingkir dari dunia modeling.!"
Stella berbisik di telinga Sherin saat dia mendekat
dengan memasang wajah ramah dan bersahaja.
Tidak banyak yang tahu memang, kalau kedua
model cantik itu sebenarnya kakak beradik.
"Lakukan apapun yang ingin kau lakukan Stella.
Tapi ingat, hasil tidak akan pernah mengkhianati
usaha. Aku akan menyerahkan segalanya pada
yang Maha Mengatur."
"Jangan sok suci kamu, semua orang tahu siapa
Sherinda Maheswari.. model++ 2 milyar. Pantas
bagi Mama enggan mengakui mu sebagai anak.
Karena kau memang sangat memalukan.! "
Wajah Sherin memerah, mendengar nama ibunya
di sebut, hatinya bagai teriris. Namun Sherin tetap
bersikap tenang dan santai. Mereka berdua kini
saling menatap, Sherin tersenyum lembut.
"Adikku Stella Muller.. kau boleh mendapatkan
seluruh kasih sayang Mama. Tapi aku yakin, cinta
di hati seorang ibu tidak akan pernah terhapus
oleh apapun untuk anak-anak nya."
Giliran wajah Stella yang kini terlihat kesal,
tangannya melayang di udara, namun Sherin
sudah lebih dulu meraih dan memegangnya
kuat hingga membuat Stella meringis kesakitan.
"Jangan kamu kira aku tidak tahu apa yang telah
kalian lakukan padaku. Kau dan ayahmu telah melakukan segala cara untuk menyingkirkan ku."
Desis Sherin dengan tatapan tajam yang mampu merontokkan keangkuhan jiwa Stella, wajahnya
tampak semakin memerah.
"Kau..!! jangan asal bicara ya kamu.!"
"Miss Sherin.. apa anda sudah siap.?"
Terdengar teriakan sang fotografer, semua orang
saat ini sedang memperhatikan interaksi antara
kedua model yang sedang bersitegang itu. Sherin
mengacungkan jempol nya sambil tersenyum.Dia melepas cengkeraman nya, setelah itu menepuk
halus pipi kanan Stella yang kini menahan ledakan emosi dengan mengetatkan rahangnya.
Sherin berjalan meninggalkan Stella yang hanya
bisa mengepalkan tangannya. Gadis itu segera
melangkah keluar dari ruangan itu dengan wajah
yang terlihat sangat kesal.
"Okay kita ready semua ya.."
Sang potografer memberi aba-aba. Dan semua
orang kembali bersiap di posisi. Termasuk Sherin
yang sudah siap, duduk di atas bangku properti
yang telah di sulap sedemikian indah menjadi
tempat yang terlihat etnik nan eksotis.
"Tunggu sebentar Bang Edwin.!"
Semua orang melirik kearah kemunculan Naya
dan Monica yang baru saja masuk ke dalam
ruangan tersebut.
"Miss Sherin akan membawakan produk yang
ini. Kebetulan, produksi nya baru saja selesai.
Jadi, dia hanya akan melakukan pemotretan
untuk produk ekslusif ini saja."
Semua orang terperangah begitu melihat satu
set berlian kuning dengan desain yang sangat
mewah dan menakjubkan.
"Nyonya Kanaya..ini berlian yang sangat indah
dan berharga.. apa saya pantas untuk menjadi
model iklannya.?"
Sherin tampak terpaku melihat berlian indah itu.
Kanaya tersenyum lembut sambil menatap
tenang wajah cantik Sherin.
"Tentu saja kau sangat pantas. Sudah, jangan
ragu. Ayo team..ganti barangnya.!"
"Baik Bu Kanaya."
Team produksi langsung bergerak mengganti
perhiasan yang sudah di kenakkan Sherin dengan
yang baru saja di bawakan oleh Kanaya. Semua
orang semakin terpesona melihat penampilan
Sherin saat ini dengan objek baru nya.
"Benar-benar cantik dan memukau..Luar biasa.!"
Decak sang potografer sambil menggelengkan
kepala saat mengintip titik fokus. Setelah ready,
Sherin kembali pada posisi semula. Dan akhirnya proses pengambilan gambar pun di lakukan.
Seperti biasa, potografer mengambil gambar
Sherin dalam berbagai pose serta posisi secara
detail. Untuk menonjolkan keindahan barang
yang menjadi objek promosi.
Namun, suasana tiba-tiba gaduh saat ke dalam ruangan muncul Devan dan Aham. Untuk sesaat orang-orang tampak mematung dan menganga.
Merasa tidak percaya, kenapa tiba-tiba saja bisa melihat sosok Tuan Elajar di tempat ini.? Kanaya menyambut kedatangan mereka berdua dengan ramah dan senyum penuh kebahagiaan.
"Sayang.. apa kalian sudah selesai.?"
Naya bertanya pada Aham sambil menunduk
sedikit di hadapan Devan yang membalasnya
dengan sopan. Naya mempersilahkan mereka
untuk duduk, tapi kedua pria itu memilih berdiri.
"Kita sudah selesai, tapi entah kenapa.. Tuan
Devan meminta untuk mengintip ke tempat ini.."
Jawab Aham dengan senyum miring penuh arti.
Sepertinya dia sudah bisa membaca situasi. Naya
mengernyitkan alisnya, dia melirik kearah Devan
dan Sherin, bibirnya kini tersenyum mengerti.
Sementara Sherin sendiri tampak terkejut melihat kemunculan Devan. Suaminya itu masih ada di
tempat ini.? Devan tampak berdiri tegak bersama Aham di salah satu sudut ruangan. Matanya kini
saling melihat dengan Sherin yang masih tidak
bisa fokus. Hingga akhirnya Devan mengedipkan matanya pada Sherin memberi isyarat agar dia kembali pada kegiatannya.
Sontak saja Sherin tersipu, wajahnya langsung bersemu merah. Dia menarik nafas pelan, entah kenapa, tiba-tiba saja ada dorongan energi baru
yang membuatnya kian bersemangat. Dan proses pengambilan gambar pun di lanjutkan kembali.
Devan berdiri tenang, melipat kedua tangannya
di dada. Gaya nya terlihat begitu menawan dan
mempesona, membuat fokus para crew terpecah.
"Okay..kita ganti latar sekarang.!"
Teriak sang potografer sambil mengacuhkan
jempol. Sherin bergerak ke lokasi sebelahnya.
Namun tiba-tiba saja tiang lampu yang berada
di sudut lokasi mendadak oleng karena tertarik
oleh kabel listrik yang di bentangkan seorang
crew produksi.
"Mbak Sherin awass..!"
Beberapa crew berteriak histeris sambil
membelalakkan mata saat melihat tiang yang
cukup besar dan tinggi itu akan menimpa tubuh
Sherin yang sedang berjalan dan berpindah ke
lokasi sebelahnya.
Devan terkesiap, jantung nya serasa jatuh saat
ini juga. Dengan gerakan cepat dia melesat ke
arah keberadaan Sherin..
***
Bersambung...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 105 Episodes
Comments
Nuryati Yati
aahhh so sweet😍
2025-03-29
0
Rohayani Faisal
udh baca ke 3x nya...ngga bosen bosen
d tunggu karya selanjutnya author kesayanganku😍😍😍
2025-01-23
3
Ar Fana
selalu bikin candu baca novel kakak
2024-03-25
2