16. Interview

***

Setengah jam kemudian mereka berdua sudah

turun ke lantai bawah. Para pelayan yang sedang

melakukan kegiatannya langsung membungkuk

hormat begitu melihat kemunculan Devan.

"Selamat pagi Tuan Muda, Nyonya Muda."

Sambut Tami, sang kepala pelayan sambil

menggeser kursi untuk kedua majikannya itu.

"Pagi mbak Tami.. tolong bawakan salad sayur

yang sudah saya siapkan tadi."

"Baik Nyonya."

"Kau.. yang menyiapkan semua ini ?"

Devan bertanya sambil menatap hidangan yang

ada di atas meja makan sambil mengernyitkan

alisnya. Jadi wanita ini tidak main-main dengan perkataannya tadi, dia bisa memasak juga.?

"Iya..aku belum tahu makanan apa yang kau

suka ataupun tidak di sukai oleh mu. Jadi kalau

kurang berkenan, Mbak Tami akan menyiapkan

hidangan yang lain."

"Aku bukan tipe orang kaya yang ribet.!"

Sahut Devan sambil kemudian duduk di kursi

yang sudah di siapkan oleh pelayan. Sherin

melirik gerah ke arah Devan, dasar Tuan Narsis.

Dia segera menuangkan makanan yang cukup menggugah selera itu. Dan sebelumnya Devan

meminum air putih terlebih dahulu. Kemudian

dia merapihkan duduknya dengan gaya yang

sangat elegan dan berkelas.

"Jam berapa kita pergi menemui kakek mu.?"

Sherin bertanya setelah selesai menuangkan

makanan untuk Devan yang mulai menikmati

hidangan pertama buatan Sherin tersebut.

"Setelah jam makan siang. Simon akan datang

menjemput mu. Kita bertemu di jalan sebelum

tiba di rumah besar. Aku ada urusan di luar.!"

Devan terdiam, dia mencoba meresapi makanan

yang sedang di nikmatinya. Kemudian melirik ke

arah Sherin yang terlihat menatapnya bingung.

"A-apa kau kesulitan menelan nya.? Kalau begitu

biar Tami menyiapkan makanan yang lain."

"Tidak, ini lumayan enak. Untuk wanita sekelas

model seperti mu..kau cukup cekatan."

Wajah Sherin langsung saja bersemu merah.

Syukurlah.. ternyata masakannya cocok di lidah

pria super tajir itu. Dan..tidak di sangka, pria ini

memang tidak ribet untuk urusan makanan. Dia

juga penganut sistem hidup liberal. Santai dan

tidak kaku seperti dugaannya selama ini.

"Aku akan pergi untuk interview khusus di hotel

Matrix.. Setelah itu baru pergi ke rumah besar."

Devan menghentikan suapannya. Dia menatap

wajah Sherin dengan sorot mata tidak terbaca.

"Kau yakin ingin mencobanya sendiri.? Kalau

tidak, aku akan memerintahkan Steve untuk meloloskan dirimu tanpa interview.!"

"Dev..kumohon jangan.! Biarkan aku mencoba."

Tanpa sadar Sherin memegang tangan Devan .

Keduanya kini saling pandang lekat. Devan balik

memegang tangan Sherin saat dia menariknya, kemudian mengecupnya lembut. Sontak saja,

seluruh tubuh Sherin langsung panas dingin..

pria ini..selalu saja membuatnya salah tingkah

dan tidak karu-karuan.

"Baiklah, cobalah untuk berdiri di atas kakimu

sendiri. Tapi, kalau kau merasa tidak yakin, aku

akan berada di belakang mu, menyokong mu."

Sherin mengangguk sambil tersenyum lembut.

Sungguh, ini seperti mimpi yang sangat manis

dan panjang. Mereka berdua kembali lagi pada

kegiatan sarapan paginya.

Setelah beberapa saat...

"Pakai ini untuk semua keperluan mu. Di bawah

ada banyak kendaraan yang bisa kamu pilih dan

kamu pakai untuk kegiatan sehari-hari mu."

Devan mengulurkan satu kartu hitam di atas

meja sesaat setelah sarapan mereka selesai.

Sherin menatap kartu itu tanpa ekspresi.

"Jangan membantah, mau kau pakai atau tidak

itu adalah urusan mu. Yang jelas, itu merupakan

fasilitas yang kau dapatkan sebagai istriku.!"

Devan seolah tahu isi hati Sherin yang mau tidak

mau harus menerimanya. Sherin menghela nafas berat sambil merapihkan tampilan jas Devan.

"Baiklah suami ku, terimakasih.."

Cup !

Sherin memejamkan mata saat satu kecupan

manis dan lembut mendarat mulus di keningnya.

Semburat merah seketika terpendar dari wajah

cantik nya yang tersipu malu. Devaan..ihhh..!

"Itu terdengar sangat manis.."

Bisik Devan di telinga Sherin sambil kemudian menggandeng tangan gadis itu, melangkah

tenang menuju ruang depan. Sebelum keluar,

Sherin mencium punggung tangan Devan. Ada

kehangatan dan ketenangan yang kini di rasakan

keduanya. Sherin menatap kepergian Devan

sampai pria itu menghilang ke dalam lift.

***

Ruangan khusus interview Matrix Hotel..

Ada banyak mata yang kini menatap aneh dan

sinis ke arah Sherin. Mungkin.. mereka merasa

tidak habis pikir, model yang sedang meroket

namanya dengan image buruk itu masih berani

ikut interview di Universal Models. Agensi ini

bukanlah agensi biasa, tempat ini merupakan

sarana yang paling ideal untuk go internasional.

Sang Direktur utama Universal Models, Steve

Hudson tampak menatap tenang wajah Sherin.

Ada sorot berbeda yang terlihat dari tatapan

pria tampan blasteran Indo-USA itu.

"Miss Sherin..kami akan memberikan satu kali

kesempatan pada anda untuk ikut dalam ajang

kompetisi ini. Tapi seperti yang anda tahu, ini

tidak akan mudah. Kami butuh model yang siap

dalam situasi dan kondisi medan serta cuaca

seperti apapun."

Steve berbicara setelah melihat CV milik Sherin

dan melakukan wawancara singkat. Matanya

tidak pernah lepas menatap seksama wajah

Sherin yang tidak pernah membosankan untuk

di pandang dan di nikmati keindahannya itu.

"Terimakasih atas kesempatan yang telah di

berikan Mr Steve. Dan, saya mengerti tentang

semua proses kompetisi ini. Seperti yang lain,

saya akan berusaha sebaik mungkin."

Sahut Sherin sambil menundukkan kepalanya.

Steve kembali menatap lekat wajah Sherin. Dia

tersenyum tipis kemudian merebahkan tubuh

ke sandaran kursi tempat duduknya sambil

menautkan kedua jemari tangannya.

"Kita akan melakukan kompetisi di alam terbuka.

Dan ini mungkin sedikit menyulitkan. Ada banyak

tantangan yang akan di hadapi oleh setiap model

di tempat itu. Kami memutuskan mengambil

tempat di sekitaran gunung di daerah Bogor."

Sherin mengangkat wajahnya sedikit terkejut.

Gunung, alam terbuka.? kini matanya bertemu

dengan mata Steve yang memiliki manik abu itu.

Untuk sesaat keduanya tampak saling menatap.

"Baik, itu tidak masalah bagi saya Mr Steve.."

"Bagus, kalau begitu anda boleh keluar. Sampai

jumpa besok lusa di tempat pemberangkatan."

Sherin berdiri, keduanya saling berjabat tangan.

Steve seolah sulit untuk melepaskan tangan

Sherin dari genggaman nya. Namun akhirnya

dia menghela nafas panjang saat Sherin pergi

meninggalkan ruangan itu.

"Sherinda Maheswari.. Kau sangat cantik dan

mempesona.. You are a**mazing woman.."

Gumam pria itu sambil tersenyum tipis. Dia

kembali memerintahkan asistennya untuk

memanggil peserta audisi berikutnya.

Sementara itu, para model lain yang saat ini

masih menunggu giliran tampak menatap gerah

ke arah Sherin yang baru keluar dari ruangan.

Gadis itu memilih bersikap acuh dan tak peduli.

Dia kini berjalan tenang menyusuri koridor hotel bersama dengan Vincent menuju lobby utama.

Tidak di sangka, dia berpapasan dengan Pamela

yang datang untuk memastikan keikutsertaan

dirinya dalam kompetisi ini tepat di depan lift.

"Woww.. Miss Sherin.. tidak di sangka, ternyata

anda masih memiliki nyali ya untuk ikut kompetisi

ini. Benar-benar salut, apa kau yakin bisa lolos.?

Bagaimana orang-orang akan mendukung mu

kalau nama baik mu saja sudah hancur.!"

Cecar Pamela sambil berdiri angkuh seraya

bersidekap di depan Sherin yang terlihat

tenang dan santai, bahkan tanpa ekspresi.

"Aku rasa siapapun bebas mengikuti kompetisi

ini Miss Pamela. Dan ya.. mengenai hasilnya

nanti, kita akan lihat setelah semuanya selesai."

"Okay.. kalau begitu kita lihat saja nanti. Apa

kau yakin akan kuat menjalani proses karantina

ala-ala universal yang sangat ekstrim itu.? Yang

aku tahu, kalian kan model kacangan yang tidak

punya nyali untuk menantang alam liar..!"

"Baiklah.. kita akan buktikan sendiri nanti. Aku

rasa kau sendiri yang akan menyerah duluan

Miss Pamela. Mari..saya permisi duluan ya."

Ucap Sherin sambil kemudian menundukkan

kepala sedikit setelah itu dia berlalu pergi di

ikuti oleh Vincent yang tersenyum puas.

Lagi dan lagi.. ketika sampai di lobby utama,

ternyata di sana sudah ada para wartawan yang menunggunya. Kali ini, Sherin sudah siap, dia

tidak akan lari lagi. Dia melambaikan tangan

memberi isyarat pada para wartawan agar lebih

tertib dan menghormati pihak hotel.

"Okay teman-teman..saya minta kerjasamanya

dari kalian semua. Jangan membuat kegaduhan.

Kita hormati orang lain yang ada di tempat ini."

Sherin memberi pengarahan membuat semua

pencari berita itu langsung mengerti dan kini

lebih tertib. Maka di mulailah wawancara itu

dengan berbagai pertanyaan yang di jawab

lugas dan tegas oleh Sherin tanpa keraguan.

"Mbak Sherin.. kami dengar anda akan ikut

kompetisi Universal Models high Competition..

Apa itu benar Mbak ?"

"Iya benar..dan saya yakin untuk ikut kompetisi

ini. Semua orang punya peluang yang sama.!"

Jawab Sherin sambil berdiri tenang dan santai

serta mencoba mengatur jarak. Untungnya para

wartawan itu mengerti, mereka kini berbaris

rapi mengelilingi sosok Sherin.

"Bagaimana dengan kasus anda yang saat ini

sedang jadi sorotan mbak.? Apakah anda tidak

ingin memberikan klarifikasi.?"

Sherin tersenyum tenang, dia mengangkat tangan

memberi isyarat agar para wartawan mengerti

dan mendengarkan apa yang ingin di sampaikan

oleh nya.

"Saya hanya akan memberikan satu statement

saja. Kalau kalian ingin tahu kebenaran nya, coba

deh pertemukan saya dengan orang-orang yang

telah di katakan sebagai pembeli jasa saya itu.

Ayo..kita bertemu secara langsung.!"

Semua orang terperangah dalam keterkejutan.

Mereka saling pandang satu sama lain. Sherin

tersenyum tenang ke arah para wartawan.

"Saya tidak akan meladeni omongan orang yang

hanya berbicara tanpa fakta. Dan soal bukti-bukti kemarin, kalian bisa cek sendiri kebenarannya

pada para pakar yang ahli di bidangnya..Baiklah,

saya kira itu saja. Terimakasih teman-teman,

saya permisi.."

Tegas Sherin sambil kemudian menyambar

tangan Vincent dan berlalu pergi meninggalkan

para wartawan yang masih terdiam di tempat.

***

Siang harinya Sherin di jemput oleh Simon ke

restauran tempat dirinya berada saat ini untuk

menuju ke kediaman keluarga Kertaradjasa.

Tidak lama dia berpindah ke dalam mobil lain

yang membawa Devan di persimpangan jalan.

"Bagaimana interview nya, tidak ada kendala.?"

Devan bertanya masih dalam keadaan duduk

tumpang kaki sambil berkutat dengan laptop

di pangkuannya.

"Alhamdulillah.. semuanya berjalan lancar.!"

"Kau menemui wartawan-wartawan itu.?"

"Iya, aku tidak mungkin bungkam terus. Setelah

ini biar masyarakat yang menilai sendiri."

"Kau yakin siap bertemu dengan orang-orang

itu.? Apa yang akan kau lakukan seandainya

mereka semua datang !"

"Aku tidak pernah melakukan kontak fisik apapun

dengan mereka. Dan kalau mereka bersandiwara,

aku siap memberikan bukti-bukti yang ku punya."

Devan terhenyak dalam diam. Secara tidak

langsung, Sherin sudah menyatakan diri tidak

pernah terlibat dalam skandal ini. Tapi tetap saja, semuanya butuh bukti akurat. Kini, raut wajah

Devan terlihat datar dan dingin. Dia semakin

tertarik dengan situasi ini.

Roman baru saja berhasil menelusuri siapa saja

orang yang pernah membeli jasa istrinya itu.

Namun dia akan menunggu, apa yang akan di

lakukan oleh Sherin untuk mengatasi masalah

yang sedang membelitnya.

"Baiklah.. lakukan semua sesuai skenario mu."

Desis Devan sambil kembali fokus pada laptop

dan sisa pekerjaannya. Sherin melirik ke arah

Devan yang masih saja terlihat sibuk itu. Pria paripurna itu terlihat gagah dan menawan dalam posisinya sekarang. Kenapa juga dia harus selalu tampil mempesona seperti ini.? Bahkan dalam

kondisi apapun.

Astaghfirullah.. Sherin mengusap dadanya pelan.

Tanpa sadar dia baru saja mengagumi pria yang

kini berstatus sebagai suaminya itu.

"Aku memang sangat tampan dan menawan

Nona Sherin..Dan kau sangat beruntung bisa terhubung denganku.!"

Sherin mendelik gerah mendengar perkataan

Devan yang sangat percaya diri itu. Aneh, pria

ini selalu saja tahu apa yang ada dalam otaknya.

Apa dia seorang cenayang juga ? Haha lucu..!!

Beberapa saat kemudian mereka sudah masuk

ke dalam kawasan rumah besar Kertaradjasa.

"Ayo kita turun, berdoalah agar kita bisa keluar

dari rumah ini dalam keadaan selamat.!"

Wajah Sherin langsung saja pias, matanya

menatap lurus kearah depan. Di hadapan nya

kini berdiri megah sebuah rumah berukuran

kelewat besar dengan arsitektur khas Eropa.

Kemegahannya bahkan mampu mengimbangi

istana-istana terkenal di negara Eropa. Mansion mewah milik keluarga Kertaradjasa ini sangat

tertutup, tidak pernah di izinkan untuk di ekspos

oleh media massa. Tak di sangka, kemegahannya

bisa sampai seperti ini.

"Apa yang kau tunggu, ayo turun.!"

Devan menggenggam tangan Sherin yang kini

terasa sedingin salju. Dengan ragu, akhirnya

Sherin turun dari mobil. Dia merapihkan sedikit

pakaiannya. Saat ini dia mengenakkan setelah

cantik yang membalut manis tubuh indahnya.

Tidak lama Devan sudah berjalan tenang masuk

ke dalam bangunan rumah super megah itu

sambil menggandeng erat tangan Sherin. Aura

kehadiran mereka mampu menyilaukan mata

para pelayan yang datang menyapa dan hanya

bisa bengong di tempat melihat kemunculan

Sherin di rumah itu. Tuan Muda Dev membawa

seorang wanita ke rumah ini, apakah mereka

sedang bermimpi sekarang.?

"Ada dimana kakek sekarang ?"

Devan bertanya pada kepala pelayan yang baru

saja datang menyambutnya di dalam ruangan

tengah. Para pelayan yang bertebaran di setiap

sudut ruangan tampak terkesima melihat Devan

dan Sherin.. terutama saat melihat Sherin.

"Tuan Sepuh ada di ruang baca Tuan Muda.

Mari saya antar menemuinya."

Sahut kepala pelayan sambil kemudian berjalan

membimbing Devan menuju bangunan lain yang

ada di sayap kanan Mansion.

Tidak lama kemudian...

Devan dan Sherin berdiri tegak dengan kepala

tertunduk di hadapan Tuan Wiratama yang

terlihat sedang duduk santai di kursi khusus

yang ada di dekat jendela ruangan. Pria tua

yang masih sangat berkharisma itu tampak

acuh tak acuh, fokus pada sebuah kitab yang

sedang di tekurinya.

"Kakek, aku datang bersamanya. Aku sudah memenuhi semua keinginan kakek sekarang.

Menikahi seorang wanita lokal sesuai dengan

kriteria yang kakek tetapkan."

Devan berbicara dengan suara rendah. Sherin

kini maju sedikit ke hadapan Tuan Wiratama.

"Assalamualaikum..selamat siang Tuan Sepuh.

Perkenalkan.. saya..."

"Kau hanyalah wanita yang penuh dengan caci

maki dan hinaan dengan segala masalah dan

skandal serta kontroversi yang tiada henti.!!"

Deg !

Jantung Sherin serasa berhenti berdetak saat

ini. Perkataan Tuan Wiratama sangat menusuk

hingga dia langsung kehilangan tenaganya.

Tubuh Sherin mematung, dia memegang dada

sambil memejamkan mata menahan hantaman perasaan sakit yang kini seakan melahap habis seluruh jiwanya..

***

Bersambung...

Terpopuler

Comments

@𝕳𝖆𝖜𝖆

@𝕳𝖆𝖜𝖆

mulutnya si aki aki

2024-09-22

0

andi hastutty

andi hastutty

kakek terlalu sadis apakah tidak bisa mencari informasi detail

2023-10-18

0

Yus Warkop

Yus Warkop

bukanya kakek wiratama kakek sherin, kalo kakek devan kertarajasa , maaf apa saya salah baca atau lupa

2022-12-02

0

lihat semua
Episodes
1 1. Terjebak
2 2. Terkejut
3 3. Hancur
4 4. Tak Terduga
5 5. Sakit Tak Berdarah
6 6. Tawaran Menarik
7 7. Sah
8 8. Tamu Kehormatan
9 9. Mengawasi
10 10. Gangguan Kecil
11 11. Pria Penguntit
12 12. Bertubi-tubi
13 13. Titik Nadir
14 14. first Kiss
15 15. Candu
16 16. Interview
17 17. Pria Tua Aneh
18 18. Trouble
19 19. Almost
20 20. Hari Pertama
21 21. Behind The Scene
22 22. Serangan Balik
23 23. Mengunjungi Villa
24 24. Jalan Malam
25 25. Hot Couple
26 26. Perih
27 27. Kau Datang Dev
28 28. Mengguncang
29 29. Babak Belur
30 30. Izinkan Aku...
31 31. Memilikimu
32 32. Gempar
33 33. Mati Kutu
34 34. Langkah Awal
35 35. Gebrakan Pertama
36 36. Syok Berat
37 37. Manis Dan Pahit
38 38. Syuting Perdana
39 39. Langit Runtuh
40 40. Intimidasi
41 41. Mimpi Yang Nyata
42 42. Romantic Morning
43 43. Jalan Sore
44 44. Serangan Pagi
45 45. Couple Session
46 46. Pukulan Telak
47 47. Tak Akan Aku Lepas
48 48. Pertemuan Tak Terduga
49 49. Jatuh Dan Kalah
50 50. The Winner Is..
51 51. Gelisah
52 52. Kehebohan Di Tempat Syuting
53 53. Kemelut Bersambut
54 54. Aksi Jalanan
55 55. Merajuk
56 56. New Season
57 57. The First Moment
58 58. Shocking News
59 59. Funeral
60 60. King Sadat
61 61. Ambers Palace
62 62. Tamu Tak Di Undang
63 63. Tangguh Luar Dalam
64 64. Tampil Gemilang
65 65. Sister In Law
66 66. Kesibukan Baru
67 67. Underpass Attack
68 68. Injured
69 69. Terlalu Manis
70 70. Intimidasi Tak Berarti
71 71. Kerusuhan Pagi Hari
72 72. Apa Yang Terjadi ?
73 73. Angin Segar
74 74. Ibu Mertua Tersayang
75 75. Surprise The Star
76 76. Duel Maut
77 77. Meradang
78 78. Cooling Down
79 79. Mrs Owner
80 80. Sweet Morning
81 81. Beginning To End
82 82. Quarantine Area
83 83. Spesial Guest
84 84. High Class Dinner
85 85. Dark Eye
86 86. The Second Day
87 87. Finally
88 88. Declaration Of Love
89 89. Ripe Attack
90 90. Hypnotized
91 91. The Final Battle
92 92. End Of Game
93 93. Miss Supermodel
94 94. Kedatangan Little Prince
95 95. Dia, Istriku
96 96. Mrs Commisioner
97 97. Back To The Family
98 98. Pada Akhirnya
99 99. Wedding Party
100 100. Monopoli Duo Cilik
101 101. Semua Akan Indah
102 102. Matt & Clara
103 103. Little Queen
104 104. Happy Ending part 1
105 105. Happy Ending Part 2
Episodes

Updated 105 Episodes

1
1. Terjebak
2
2. Terkejut
3
3. Hancur
4
4. Tak Terduga
5
5. Sakit Tak Berdarah
6
6. Tawaran Menarik
7
7. Sah
8
8. Tamu Kehormatan
9
9. Mengawasi
10
10. Gangguan Kecil
11
11. Pria Penguntit
12
12. Bertubi-tubi
13
13. Titik Nadir
14
14. first Kiss
15
15. Candu
16
16. Interview
17
17. Pria Tua Aneh
18
18. Trouble
19
19. Almost
20
20. Hari Pertama
21
21. Behind The Scene
22
22. Serangan Balik
23
23. Mengunjungi Villa
24
24. Jalan Malam
25
25. Hot Couple
26
26. Perih
27
27. Kau Datang Dev
28
28. Mengguncang
29
29. Babak Belur
30
30. Izinkan Aku...
31
31. Memilikimu
32
32. Gempar
33
33. Mati Kutu
34
34. Langkah Awal
35
35. Gebrakan Pertama
36
36. Syok Berat
37
37. Manis Dan Pahit
38
38. Syuting Perdana
39
39. Langit Runtuh
40
40. Intimidasi
41
41. Mimpi Yang Nyata
42
42. Romantic Morning
43
43. Jalan Sore
44
44. Serangan Pagi
45
45. Couple Session
46
46. Pukulan Telak
47
47. Tak Akan Aku Lepas
48
48. Pertemuan Tak Terduga
49
49. Jatuh Dan Kalah
50
50. The Winner Is..
51
51. Gelisah
52
52. Kehebohan Di Tempat Syuting
53
53. Kemelut Bersambut
54
54. Aksi Jalanan
55
55. Merajuk
56
56. New Season
57
57. The First Moment
58
58. Shocking News
59
59. Funeral
60
60. King Sadat
61
61. Ambers Palace
62
62. Tamu Tak Di Undang
63
63. Tangguh Luar Dalam
64
64. Tampil Gemilang
65
65. Sister In Law
66
66. Kesibukan Baru
67
67. Underpass Attack
68
68. Injured
69
69. Terlalu Manis
70
70. Intimidasi Tak Berarti
71
71. Kerusuhan Pagi Hari
72
72. Apa Yang Terjadi ?
73
73. Angin Segar
74
74. Ibu Mertua Tersayang
75
75. Surprise The Star
76
76. Duel Maut
77
77. Meradang
78
78. Cooling Down
79
79. Mrs Owner
80
80. Sweet Morning
81
81. Beginning To End
82
82. Quarantine Area
83
83. Spesial Guest
84
84. High Class Dinner
85
85. Dark Eye
86
86. The Second Day
87
87. Finally
88
88. Declaration Of Love
89
89. Ripe Attack
90
90. Hypnotized
91
91. The Final Battle
92
92. End Of Game
93
93. Miss Supermodel
94
94. Kedatangan Little Prince
95
95. Dia, Istriku
96
96. Mrs Commisioner
97
97. Back To The Family
98
98. Pada Akhirnya
99
99. Wedding Party
100
100. Monopoli Duo Cilik
101
101. Semua Akan Indah
102
102. Matt & Clara
103
103. Little Queen
104
104. Happy Ending part 1
105
105. Happy Ending Part 2

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!