***
Mungkin ini akan menjadi titik kejatuhan, karir
seorang Sherin di dunia modeling..
Karena tidak lama setelah dia pergi dari gedung
Starlight, pihak manajemen kembali melakukan
konferensi pers. Mereka mengumumkan tentang
pemecatan secara tidak hormat dan pemutusan
kontrak oleh pihak starlight terhadap Sherin di
sertai dengan surat blacklist atas karir modelling seorang Sherinda Maheswari di Starlight.
Dunia maya langsung geger dengan kabar ini.
Para pengamat dunia modeling ramai-ramai
memberi statement dan penilaian atas kabar
yang menghebohkan ini. Nama Sherin kembali
menjadi trending topik di berbagai media massa.
Sementara itu, saat ini Sherin sedang berada di
rumah Vincent. Mereka berdua ikut memantau
perkembangan yang terjadi.
"Ini gila Sher, mereka sudah benar-benar gila.!
Kamu di blacklist Sherin.! Kamu masuk daftar
hitam sekarang.! agensi mana coba yang akan
mau merangkul kamu kalau begini.!"
Vincent terlihat mencak-mencak melihat semua
berita di media online. Sherin terdiam, wajahnya
terlihat datar dan tidak terbaca. Ya..sekarang dia
sudah berakhir. Dia benar-benar tidak menyangka
kalau Brian akan memberikan daftar hitam untuk
dirinya. Pria itu benar-benar ingin menjegal jalan
nya ke depan. Rasa sakit sekaligus kecewa, kian menghantam jiwanya saat ini. Kenapa Brian tega melakukan semua ini..??
Sherin menarik nafas dalam-dalam, dia meraih
ponselnya yang bergetar. Dan Margaret lah yang
kini mencoba menghubungi nya.
"Iya Margaret, apa kau sudah mengurus semua
administrasi nya ? Aku ingin semuanya selesai
hari ini juga."
"Sherin..maaf.. perusahaan telah membekukan
aliran dana yang masuk ke rekening atas namamu
dengan alasan untuk membayar biaya penalti."
"Apa.?? Berapa persen yang mereka ambil.?"
"Me-mereka.. menarik semua dana Sherin.. Jadi
saat ini kamu tidak punya sisa dana sedikit pun."
Deg !
Wajah Sherin langsung saja memucat. Dadanya
saat ini terasa sesak. Air mata tiba-tiba mendesak
ingin tertumpah. Vincent tampak menatap cemas.
"Maafkan aku Sherin, aku tidak bisa membantu
memperjuangkan hak-hak mu.!"
Kembali terdengar suara Margaret dengan nada
yang di penuhi penyesalan dan kesedihan.
"Ya Tuhan.. kedzaliman macam apa ini ? Jadi..
jerih payahku selama ini tidak berarti apa-apa.
Mereka yang menikmati hasilnya.??"
Suara Sherin tercekat di tenggorokan, air mata
sudah tidak mampu lagi di bendung nya. Rasa
sakit yang dirasakannya membuat dia jatuh
dalam keterpurukan. Sherin melempar ponsel
kemudian merebahkan tubuhnya ke sandaran
sofa. Dia membiarkan air mata mengalir untuk
mengurangi rasa sakitnya. Sementara Vincent mencoba menghubungi Margaret kembali
untuk memperjelas semuanya.
Setelah beberapa saat...
"Vint, apa kamu masih menyimpan file yang
waktu itu aku berikan.?"
Akhirnya Sherin bangkit. Dia tidak bisa terus
seperti ini, menyesali keadaan tidak akan bisa
mengubah apapun.
"Semuanya aku simpan Sher. Lalu, sampai kapan
kamu akan berdiam diri seperti ini.?"
"Mereka adalah orang-orang yang terhubung
denganku Vincent. Aku tidak tega kalau harus
menghancurkannya. "
"Jadi kamu akan membiarkan semua ini terus
terjadi.? Sebenarnya hatimu terbuat dari apa sih.?"
Sherin tersenyum getir. Dia beranjak dari tempat
duduknya, kemudian melangkah masuk ke kamar
sebelah yang biasa di pakainya kalau menginap
di rumah Vincent. Dia harus menenangkan diri
dengan sholat Dzuhur dan berdoa. Sementara
Vincent masih sibuk dengan pantauannya.
Beberapa waktu kemudian Vincent di kejutkan
dengan telepon berturut-turut dari beberapa
agen yang mengaku sebagai asisten sutradara,
sekretaris perusahaan, dan beberapa agensi
model yang menawarkan pekerjaan pada Sherin.
Namun semuanya hanya membuat Vincent
naik darah saja, karena jenis pekerjaan yang
di tawarkan tidak jauh dari hal berbau seks.
"Dasar orang-orang tidak beradab.! Mereka
kira bos gue cewek apaan.? Awas saja, minta
di kasih pelajaran rupanya mereka !"
Umpat Vincent dengan wajah kesal setengah
mati. Ponsel nya kembali berdering dengan
nyaring membuat dia mendelik kesal.
"Heh.. mau apalagi kalian ? Mau menawarkan
pekerjaan panas sama bos gue, no.! sorry ya..
dia bukan cewek murahan, selama ini kalian
hanya termakan isu yang menyesatkan. "
"Hallo, ini dengan asisten Mr Steve dari agensi Universal Models.. apa saya bisa bicara dengan
Miss Sherin sekarang.?"
"What.?? Universal Models..??"
Mulut Vincent menganga, dia tampak bengong.
Kemudian menjauhkan ponsel untuk melihat
nomor yang tertera di layar.
"Hallo..apa saya bisa bicara dengan Miss
Sherin sekarang.?"
"Hai.. saya adalah asistennya. Bagaimana..
ada yang bisa saya bantu.?"
"Ohh baiklah. Saya hanya ingin memberi kabar
untuk Miss Sherin, barangkali dia berminat, di
Universal Models sedang di adakan event yang
sangat penting dan menarik. Ada penjaringan
khusus untuk duta model yang akan di kirim ke
Universal Models Competition.. Dan ajang ini
bebas di ikuti oleh model dari agensi manapun
termasuk Miss Sherin yang sudah out dari
agensi sebelumnya.!"
"What.?? Ini adalah event yang sangat penting.
Baiklah.. nanti akan saya sampaikan pada Bos
saya, terimakasih atas informasinya ya.."
Vincent menutup telepon sepihak tanpa sadar.
Dia begitu excited. Universal Models..? Siapa
yang tidak tertarik untuk masuk agensi ini.
"Sheriiinn... aku ada kabar baik untuk mu.."
.
***
.
Malam hari yang hening di dalam apartemen
mewah milik Tuan Muda Kertaradjasa..
Waktu sudah menunjukkan pukul 11 malam
saat Devan tiba di dalam apartemen miliknya
itu. Sesegera mungkin dia membereskan semua
urusan nya di luar negeri agar bisa cepat kembali
ke tempat ini. Hanya dalam waktu satu hari saja, berbagai masalah datang dan menumbangkan
karir seorang Sherin di dunia modeling.
Untuk sesaat dia tampak menarik nafas berat. Matanya menatap tajam ke lantai atas. Aneh,
jantung nya tiba-tiba saja berdebar kencang.
Ada perasaan aneh yang tidak di mengertinya
yang kini menguasai hati serta jiwanya begitu
menyadari di dalam apartemen miliknya ini ada penghuni lain. Seumur-umur, baru kali ini dia memasukkan seorang wanita ke dalam tempat tinggalnya. Bahkan ibu dan adiknya pun belum
pernah di ijinkan untuk datang ke tempat ini.
Begitu masuk ke dalam kamar pribadinya, Dev
tampak mematung sebentar saat melihat sosok
cantik nan menggiurkan yang berhasil membuat harinya di luar negeri kacau itu tengah meringkuk manja di atas sofa, bukan di atas kasur empuk miliknya.
Devan melepas dasi dan jas yang di pakaiannya, kemudian berjalan mendekat kearah keberadaan Sherin. Dia berjongkok rendah di hadapan gadis
itu, lalu menatap tenang wajah cantik itu dengan seksama. Di telusuri nya seluruh keindahan tiada
tara itu di setiap detailnya dengan bibir yang
terangkat manis.
"Kau sangat cantik dan menarik. Sayang sekali..
aku bukanlah laki-laki pertama untukmu Sherin.."
Desis Devan sambil memainkan rambut yang
jatuh di wajah Sherin. Hatinya kian tidak tentu.
Ada getaran aneh yang membuat jiwanya
semakin terasa gelisah hingga mendorong
dirinya untuk mendekat dan mendaratkan satu
kecupan lembut di kening Sherin yang tiba-tiba
saja terbangun dan membuka matanya, lalu mengerjap dan..
"Siapa kamu.. hei.. lepaskan..!!"
Sherin terkejut, kemudian dalam satu gerakan
cepat dia menendangkan kakinya ke perut
Devan yang reflek menahan nya dengan telapak
tangan kirinya. Mata Sherin melebar, wajahnya
kini memucat dengan senyum getir dan merasa
bersalah. Dia mencoba menarik kembali kakinya
yang masih di pegang kuat oleh Devan.
"Dev.. kau rupanya, kapan datang.?"
Ucap nya masih dalam upayanya untuk menarik
kembali kakinya. Sedang mata Devan saat ini
masih menatapnya tajam, dan rasanya seolah
mampu menembus ke dalam tubuh Sherin
hingga dia merasakan panas dingin.
"Coba saja kalau kau melakukan hal seperti
tadi pada semua laki-laki yang ingin mencoba
mendekatimu.!"
Desis Dev sambil kemudian menarik tangan
Sherin hingga tubuh mereka bertubrukan dan
wajah mereka kini saling berhadapan, dekat..
Mata mereka saling menatap kuat di sertai
deru nafas yang tiba-tiba saja tidak beraturan.
"A-apa maksudmu.? Aku.. aku tidak mengerti."
Sherin mencoba menarik tangannya dari
genggaman Devan, tapi pria itu malah semakin
menguncinya, dan kini tangan yang satu lagi
bergerak menarik pinggangnya. Tubuh Sherin
semakin panas dingin, dan mulai menegang
saat Devan mendekatkan wajahnya.
"Kenapa kamu harus membiarkan tubuh mu
ini tersentuh oleh pria yang tidak memiliki hak
untuk menyentuh mu Sherin.? Kenapa kamu
tidak bisa menjaga kesucian dirimu.?"
Deg !
Jantung Sherin rasanya lepas dari tempatnya.
Jadi..pria ini sedang mempertanyakan hal yang
paling berharga dari dirinya.? Mata Sherin kini
mengerjap, ada desakan air mata yang tiba-tiba
memaksa ingin keluar, kenapa rasanya begitu
sakit.? Di ragukan kesuciannya oleh pria ini,
rasanya bahkan lebih sakit daripada di caci
dan di campakan oleh Brian, tapi kenapa ??
Bukankah pernikahan ini juga sejatinya hanya
di atas kertas saja ?!
"Kau.. kau meragukan ku Dev.? Kalau begitu..
buktikan sekarang juga, apakah keraguan mu
itu benar atau tidak."
Lirih Sherin sambil memejamkan matanya. Dia
terpaksa berbicara demikian, seolah menantang Devan untuk membuktikan keraguannya karena desakan perasaan sakit hati yang kini lagi-lagi mengiris bathin nya. Kenapa semua orang harus
selalu meragukannya. Devan tersenyum dalam
diam, walau sebenarnya perasaan nya tiba-tiba
saja berdebar tidak karuan.
"Apa kau menantang ku.? Baiklah.. malam ini
juga kita akan membuktikan semuanya.!"
Desis Devan sambil kemudian mengangkat tubuh
Sherin yang reflek melilitkan tangannya di leher
Devan. Mata mereka tidak lepas saling pandang
dalam pancaran mata yang tidak terbaca. Devan
berjalan perlahan menuju tempat tidur.
Dengan hati-hati Devan merebahkan tubuh Sherin
di atas tempat tidur. Kembali, mata mereka kini
saling menatap, ada ketegangan yang semakin
melanda, bukan hanya Sherin, tapi juga Devan.
Bisakah mereka melakukan semua ini dengan
terpaksa, hanya karena ingin membuktikan satu
hal.? Sherin memejamkan matanya saat Devan
bergerak naik, kemudian mengurung dirinya.
"Kau yakin kita akan melakukannya sekarang.?"
Sherin membuka mata, ada kebimbangan yang
kini tergambar dari raut wajahnya. Keduanya
saling menatap, saling melihat dan mencoba
untuk meyakinkan diri.
"Aku hanya tidak ingin kau meragukan ku terus.
Aku tahu, kau tidak bisa membuktikan apakah
isu itu benar atau tidak, jadi hanya inilah caraku
satu-satunya untuk membela diri.!"
Wajah Devan tampak berubah aneh, ternyata..
wanita ini tahu benar apa yang di lakukan nya
selama ini dan apa yang mengganjal di hatinya.
Devan menarik dirinya, kemudian tanpa kata
dia turun dari atas tempat tidur, dan melangkah..
"Jangan ragu Dev, bukankah kau satu-satunya
pria yang memiliki hak atas diriku.?"
Sherin berbicara lembut dan terdengar seperti
buluh perindu di telinga Dev yang membuatnya
langsung memejamkan matanya. Sebenarnya
saat ini hasrat Devan sudah menggebu, tapi dia
merasa tertohok oleh ucapan Sherin barusan.
Sherin bangkit, lalu berbaring miring di atas
tempat tidur, posisi yang sangat menantang sebenarnya. Tapi Devan sudah terlanjur down,
dia malah memilih melangkah masuk ke dalam
kamar mandi. Huhh..selamat..Sherin mengusap dadanya yang tadi sempat bermarathon hebat.
Sungguh dia tidak sanggup kalau di hadapkan
pada situasi seperti tadi lagi.
Tidak berselang lama Devan sudah keluar dari
kamar mandi. Dia tampak mengenakkan piyama
tidur warna putih, sangat mempesona dengan
rambut setengah basahnya. Mata Dev mencari
keberadaan Sherin yang menghilang dari atas
tempat tidur. Kemana wanita itu.??
Akhirnya dia memutuskan untuk mencari angin
dan berdiri di pinggir balkon. Menatap hamparan
kota yang di hiasi gemerlapnya lampu malam.
"Minumlah.. agar kau lebih tenang."
Dev melirik, memandang Sherin yang tengah
berdiri di sampingnya sambil menyodorkan
segelas madu jahe merah.
"Apa itu.? Aku tidak terbiasa minum minuman
aneh atau jamu-jamuan.!"
"Ini bisa meredakan segala rasa lelahmu."
"Yang bisa meredakan rasa lelahku bukanlah
itu, tapi ada yang lain.."
Sherin menautkan alis bingung sambil mundur
saat Devan maju mendekat. Devan meraih gelas
berisi madu jahe itu lalu menghirup nya sesaat. Namun tidak lama dia meletakkan gelas itu di
atas meja bulat di belakang mereka.
"Devan.. apa yang kau inginkan.?"
Tubuh Sherin membentur dinding balkon saat
Devan semakin mendekat. Matanya menatap
tajam wajah tampan suaminya itu yang kini
menarik tubuhnya ke dalam rengkuhan nya
kemudian mendekapnya erat. Tubuh Sherin
membeku, irama detak jantungnya tiba-tiba
saja tidak beraturan. Tuhan.. pria ini memeluk
dirinya.? Devan memeluknya.?
Sherin masih terdiam tanpa membalas pelukan
itu, dia benar-benar syok di telan ketegangan.
Sampai akhirnya Devan melepaskan pelukannya.
Kini tangannya perlahan meraup wajah Sherin, menatap nya lekat dengan sorot mata yang
sangat kompleks dan tidak terjabarkan.
"Mulai saat ini, jagalah kehormatan mu hanya
untuk ku.! Dan aku tidak akan membiarkan mu berjalan sendirian.!"
Desis Devan berat sambil kemudian mengecup
lembut kening Sherin yang memejamkan mata.
Tidak lama keduanya saling pandang lekat, dan
seolah ada tarikan khusus, bibir mereka mulai
mendekat, semakin dekat..dan..akhirnya saling memagut lembut sedikit ragu dan gemetar.
Pyarr..!!
Seolah ada seribu bintang yang pecah dalam
otak mereka. Keduanya terhenyak sesaat, apa
ini, semanis dan selembut inikah ciuman ini.?
Sungguh, ini adalah kenikmatan nyata yang tak terbantahkan. Devan menggila, ciumannya kini
lebih intens dan bermain, namun dia mencoba
untuk tetap lembut dengan menikmati cecapan
per cecapan yang sangat memabukkan itu. Ini
benar-benar gila, bibir Sherin sangat manis dan selembut kapas, membuatnya tidak rela untuk
melepaskannya barang sedetikpun.
Lama-kelamaan permainannya semakin liar dan panas. Dia semakin menekan dan menjelajah.
Sherin yang belum berpengalaman sedikit kaget.
Dia tidak bisa mengatur nafasnya, dan mulai
megap-megap. Hal itu membuat otak Devan
berputar selagi dia melancarkan aksinya. Ini
sedikit aneh, kenapa permainan Sherin terkesan
kaku dan sangat awam. Dirinya juga memang
tidak berpengalaman, tapi setidaknya dia tahu
teknik berciuman yang menyenangkan.
Akhirnya Devan melepaskan pagutannya saat
Sherin sudah benar-benar kehabisan nafas.
Gadis itu tampak menghirup udara sebanyak-
banyaknya untuk mengisi paru-parunya. Devan
menatap kuat wajah Sherin yang memerah,
terlihat semakin cantik dan menggemaskan..
"Kenapa permainan mu sangat kaku.?"
Sherin mendongak, mata mereka kini bertemu.
Dengan wajah yang semakin memerah Sherin
melepaskan diri dari rengkuhan Devan, lalu
berlari ke dalam kamar..
***
Bersambung...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 105 Episodes
Comments
Khoerun Nisa
seharusnya jgn trus mengungkit ttng kesucian devbiar dlm hati aja nnti pas wktunya akn jdi supries buatnya
2024-12-10
0
Ummu Inani
tau ah, aneh, katanya serba tahu, tapi ko ga diselidiki ya?
2024-10-27
0
ANNTIE
sekelas Devan g tau klo itu cmn rumor. pdhl dia bisa dg mudah menyelidikinya. tapi y ketidaktahuan devan menjadi hal yg menarik
2024-10-02
0