***
Sherin bersiap menghindar, namun Devan sudah terlebih dahulu menyambar tubuhnya. Semua
orang kini menatap bengong saat melihat Devan mengangkat tubuh Sherin ke dalam pangkuannya sambil merentangkan tangan ke arah tiang lampu yang tiba-tiba tertahan dengan posisi miring. Ini
adalah sesuatu yang terjadi di luar logika.
Mata Sherin tak kalah terkejut melihat apa yang
di lakukan oleh Devan. Pria itu mendorong telapak
tangannya hingga membuat tiang lampu tersebut
kembali ke posisi semula. Dia berdiri tegak masih
dalam posisi menggendong Sherin ala bridal style.
Kedua mata mereka saling menatap kuat, tangan
Sherin berada di leher kokoh Devan.
"Ba-bagaimana kau melakukan nya.?"
Bibir Sherin berucap sedikit gemetar. Mata Devan fokus pada wajah Sherin yang sedikit pucat itu.
"Hanya sedikit tipuan mata saja.!"
Jawab Devan santai sambil melangkah tenang,
lalu dengan hati-hati dia mendudukkan Sherin di
atas properti yang akan menjadi latar berikutnya.
Mata mereka masih saling melihat. Sherin menarik tangannya dari leher Devan.
"Terimakasih.. sudah menyelamatkan ku."
"Aku adalah suami mu Sherin.."
Mata Sherin mengerjap. Pria ini seolah tidak
pernah ragu mengucapkan kalimat itu. Tangan
Devan bergerak merapihkan gaun Sherin yang
sedikit terbuka di bagian bahu nya. Wajahnya
tampak datar dan tenang.
"Tuan Elajar..Miss Sherin.. kalian tidak apa-apa.?"
Kanaya, Aham dan sang potografer mendekat
kearah keduanya. Sherin tersenyum canggung.
Devan kini berdiri, tapi tatapannya masih tertuju
pada wajah Sherin.
"Saya tidak apa-apa.. Terimakasih Tuan Devan.
Anda sudah menyelamatkan saya."
Sahut Sherin sambil menundukkan kepalanya di
hadapan Devan. Kanaya mengecek kondisi fisik
Sherin. Vincent dan Margaret serta para crew
segera mengurungnya dan memastikan semua
baik-baik saja.
"Kau harus pastikan tidak ada lagi kejadian yang
bisa membahayakan keselamatan nya!"
Devan berucap tegas pada sang potografer dan
team produksi yang berdiri sambil menundukkan
kepala di hadapannya.
"Baik Tuan Devan..kami akan lebih berhati-hati."
Sahut sang potografer dengan perasaan terkejut
yang tidak jua sirna dari otaknya. Ada tanda tanya
besar di benak semua orang melihat reaksi tidak
biasa yang di perlihatkan oleh presiden Universal
Media Group itu. Sherin adalah model dari agensi
lain, tapi kenapa Tuan Elajar bereaksi seolah-olah
dia berada di bawah naungannya.?
Sementara Roman dan dua bawahannya kini
mengecek keadaan. Crew yang tadi melakukan kesalahan tampak gemetar. Dia tidak bisa lari
dari tempat ini karena pengawal pribadi Devan
sudah bersiaga. Mau tidak mau orang itu kini di
cokok oleh Roman kemudian di bawa ke ruangan
lain untuk di mintai keterangan.
Akhirnya pemotretan kembali berlanjut setelah
situasi dan kondisi kembali kondusif.
"Dia benar-benar cantik dan berbakat. Sayang
sekali kalau karirnya tidak di kembangkan.! Ada
kans buat dia untuk lebih maju di kancah global."
Kanaya berucap dengan mata berbinar indah.
Aham merengkuh bahu Naya dengan posesif.
"Semua orang punya jalannya sendiri untuk bisa
meraih impian ataupun kesuksesan nya."
Ujar Aham dengan tenang. Naya melirik, dia agak
risih dengan perlakuan suaminya itu yang tidak
pernah melihat situasi apalagi saat ini ada Devan
di sebelah mereka. Namun nampaknya pria yang selalu bersikap datar dan tenang itu saat ini
sedang fokus ke depan.
Devan memperhatikan Sherin dengan seksama.
Setiap gerak geriknya yang memukau, setiap
detail keindahan fisiknya yang membius, dan
semua kelebihan nya yang terlihat begitu menarik
di matanya. Senyuman dan lirikan nya mampu
membuat mata Devan tak bisa teralihkan. Ada
sesuatu yang membuat hatinya gelisah dan tidak tenang saat ini. Tapi sore ini dia harus terbang ke
luar negeri karena akan ada rapat tahunan di
Universal Ambers Studio..
Decak kekaguman kini meluncur dari mulut para
crew saat proses pengambilan gambar selesai,
lalu mereka melihat keindahan gambar-gambar
yang di hasilkan. Dalam setiap take nya, sosok
Sherin seolah hidup dan menyatu dengan barang
yang ingin di presentasikan nya pada konsumen.
Penjiwaannya dapat, dia seolah mampu berbicara lewat gerak dan bahasa tubuhnya..
Sherin menatap kosong ke arah tempat Devan
berdiri tadi, karena pria itu kini sudah tidak ada.
.
***
.
Akhirnya kerjaan hari ini kelar juga. Setelah itu
Sherin bersama Vincent dan Margaret meluncur
ke sebuah mall terbesar di pusat kota karena
malam ini Sherin harus tampil di acara fashion
show produk aksesoris ternama dari beberapa
brand perhiasan besar. Dan selama dua tahun
ini Sherin menjadi brand ambassador dari salah
satu perusahaan perhiasan ternama yang malam
ini akan menampilkan produk baru.
Tiba di dalam mall, lagi-lagi Sherin di buru oleh
para wartawan. Tak ketinggalan, para fans juga
ikut menyerbu nya. Margaret dan Vincent tampak
kewalahan meladeni para fans yang membludak,
bahkan saling dorong dengan sesamanya hanya
karena ingin memotret wajah cantik sang model.
Sherin mundur mepet ke dekat lift. Beberapa
security datang dan berusaha mengamankan
situasi. Para wartawan tampak semakin maju
dan beringas membuat Sherin merasa gerah.
"Owhh..masih berani berkeliaran di tempat
umum seperti ini kau rupanya model 2 milyar..!!"
Tiba-tiba saja dari arah berlawanan, datang satu
orang perempuan muda berpakaian seksi dan
glamor bersama beberapa orang wanita lainnya
yang tidak kalah mentereng nya.
Orang-orang langsung menyingkir begitu melihat
kedatangan wanita itu yang kini berjalan cepat menyerbu kearah Sherin yang terlihat bengong
dan bingung. Bukankah wanita ini..
"Hei..j*l*ng.! sudah merasa lebih cantik ya kamu
dariku hingga berani menggoda suamiku.! Ngaca dong, kamu itu hanyalah wanita dengan predikat model bookingan, dasar menjijikkan..!!"
Plak !
Tanpa aba-aba wanita dengan bibir merah darah
itu langsung saja melayangkan tamparan keras
ke wajah Sherin sampai dia berpaling kencang.
Mata Vincent dan Margaret membulat sempurna
dan seketika terbakar emosi. Sementara Sherin
masih memegangi wajahnya yang kini memerah
dan terasa panas. Orang-orang menutup mulut
dengan wajah yang terlihat bengong.
"Hei.. Nyonya, tolong jaga ya sikap anda .! Kita
ini sedang berada di area umum. Anda tidak
bisa bersikap dan berbicara seenaknya saja.!"
Margaret maju dengan tatapan nyalang di penuhi
oleh kemarahan dan rasa tidak terima. Namun
wanita itu ternyata lebih garang lagi, dia tampak
mendorong Margaret dan menyingkirkannya.
"Minggir kamu, model mu ini yang m*r*han.!
Dia sudah memeras harta suami ku.! Cihh, dasar
model menjijikkan.! Cari uang tuh yang halal
dong, jangan menjual tubuh hanya demi uang.!"
Gertak wanita itu sambil kembali mengangkat
tangannya. Namun kali ini Sherin tidak tinggal
diam, dia segera mencengkeram tangan wanita
itu dengan kuat kemudian maju ke hadapannya.
"Kau sudah salah besar dengan menuduhku
sebagai wanita penggoda suami mu Nyonya.
Aku bahkan tidak mengenal suami mu itu !"
Desis Sherin sambil mengunci tangan wanita
itu yang kini berjingkat karena merasakan
kalau pergelangan tangannya semakin sakit.
"Kau tidak bisa mengelak wanita murahan.! Aku
punya bukti transaksi pembelian tubuhmu yang
sangat menjijikkan itu.! Lepaskan tanganku.!"
Wajah Sherin tampak bereaksi sedikit keras.
Dengan sedikit kencang, dia mendorong tangan wanita itu hingga tubuhnya hampir terjerembab
ke belakang kalau tidak di tahan oleh teman- temannya.
Mata wanita itu melotot penuh angkara murka.
Dengan cepat dia mengeluarkan sesuatu dari
dalam tasnya. Sebuah cek senilai 2 milyar serta
surat perjanjian aneh di atas materai yang di tandatangani langsung oleh kedua belah pihak,
yaitu Sherinda dan Arnold Poernomo.
"Kalian bisa lihat sendiri kan buktinya..?? Model
ini sudah menjual dirinya pada suamiku.! Ini
adalah bukti akurat.! Dia sudah memeras suami
ku.! Dan sekarang hubunganku dengan suamiku
jadi kacau gara-gara wanita j*l*ng ini.!!"
Teriak wanita itu sambil menenteng kertas cek
dan surat perjanjian kontrak es*k-es*k.! Para
wartawan langsung heboh dengan mengambil
gambar bukti-bukti itu. Dan semua orang tampak
semakin menutup mulutnya tidak percaya.
Sherin mundur, apa-apaan ini, darimana datang
nya kertas-kertas tidak jelas itu.? Wajahnya kini
berubah memucat. Vincent dan Margaret ikut
mundur, merangkul Sherin yang sedikit goyah.
"Mbak Sherin.. semua bukti sudah ada. Kami rasa
sebaiknya anda bicara jujur saja sekarang. Siapa
sebenarnya orang yang sudah menjadi mucikari
anda, agar bisa segera di proses hukum.!"
Para wartawan kembali mendesak maju sambil
melontarkan pertanyaan menohok dan semakin
menyudutkan. Wajah Sherin kini semakin tidak terbaca. Dia benar-benar tidak menduga hal ini.
"Aku pastikan..Kamu akan merasakan ganjaran
yang setimpal atas apa yang telah kamu lakukan
selama ini pada kehidupan rumah tanggaku.
Dasar wanita murahan.. !"
Teriak wanita tadi yang di aamiini oleh teman-
temannya sambil menatap jijik ke arah Sherin.
Tidak bisa berbuat apa-apa lagi, Sherin segera melangkah pergi setengah berlari dari tempat itu.
.
***
.
Sherin berusaha menguatkan dirinya. Dia duduk
lemas di kursi meja rias. Vincent tampak ikut
duduk di sampingnya. Orang-orang yang ada di
ruangan make up itu kini terlihat kasak-kusuk.
Mereka semua sedang mengecek ponselnya
masing-masing sambil sesekali melirik ke arah
Sherin yang sedang menundukkan kepalanya.
Wajah-wajah mereka tampak terkejut. Jadi..
gosip yang beredar itu benar adanya.?
"Owhh.. tidak di sangka, tinggi juga ya tarif mu
Miss Sherinda.!"
Sherin tersentak, dia mendongakkan kepalanya.
Di sebelahnya kini berdiri Pamela Duff bersama
beberapa model top lainnya. Mereka sedang
tersenyum aneh ke arahnya. Antara mengejek,
merendahkan, takjub atau entah apalagi..
"Kalian hanya tinggal memilih, mau percaya..
atau anggap berita itu sebagai pansos dari
seseorang yang ingin eksis di dunia maya.!"
Ujar Sherin sambil menarik napas dalam-dalam
dan mulai menegakkan badannya. Dia tidak boleh terus larut dalam masalah ini. Pamela mendekat, kemudian mencondongkan tubuhnya.
"Sayang nya..bukti itu cukup akurat Miss Sherin.
Owhh..hiks..ini sebenarnya berita buruk untukku.
Karena kau adalah saingan terberat ku yang paling
ideal, dan sekarang namamu perlahan akan jatuh
lalu meredup. Kau bahkan belum merasakan gemerlapnya dunia persaingan internasional.!"
Desis Pamela dengan raut wajah yang terlihat
sangat menyesal dan mengasihani Sherin. Tapi
Sherin masih tampak tenang tak terpengaruh.
"Jangan khawatir Miss Pamela. Hidupku ada
dalam ketentuan Tuhan.. apapun yang terjadi,
semua terjadi atas kehendak Nya."
"Owhh..Sherin, aku sarankan, sebaiknya kau
jangan membawa dan menyebut nama Tuhan..
selagi dirimu dalam keadaan kotor, bagiku itu terdengar sedikit menggelikan.!"
Decak Pamela sambil mengibaskan tangannya,
lalu tertawa renyah kemudian berlalu keluar dari
ruangan itu. Sherin memejamkan matanya kuat.
Tidak, dia tidak boleh menangis.! Semua gosip
itu tidak benar adanya, jadi untuk apa dia harus
menangisi keadaan.
"Mbak Sherin, anda di panggil Mr Nom. Ada
yang harus di bahas sebelum acara di mulai.!"
Tiba-tiba saja ada seorang staf dari perusahan
perhiasan yang telah mengontraknya. Sherin dan
Vincent tampak saling pandang. Sementara itu,
Margaret saat ini sedang berkoordinasi dengan
pihak manajemen Starlight yang tadi langsung
menghubungi begitu berita besar itu meledak.
Beberapa saat kemudian...
"Maaf Miss Sherin..dengan berat hati kami harus
memutus kontrak kerjasama kita mulai saat ini
juga. Ini demi nama baik perusahaan kami.!"
Wajah Sherin langsung saja memucat. Matanya
menatap tidak percaya pada berkas pemutusan
kontrak yang ada di depannya.
"Apa anda yakin Mr Nom.? Hanya karena berita
yang beredar di luaran yang belum tentu benar,
anda langsung memutuskan semua ini ?"
Sherin menatap tajam wajah pria oriental itu
yang sebenarnya terlihat ragu dan berat.
"Para direksi yang memutuskan semua ini. Saya
tidak bisa mempertahankan ada secara sepihak.
Miss Stella akan menjadi pengganti anda.!"
Tegas pria itu, bersamaan ke dalam ruangan
muncul Stella dengan managernya. Wajah
gadis itu tampak berbinar senang. Matanya
langsung menatap Sherin penuh ejekan.
"Hallo Miss 2 milyar..Uuhh..maaf banget ya, kau terpaksa harus menyerahkan kontrak eksklusif
ini padaku.! Lagipula, kau memang sudah tidak
layak lagi, kau sudah kadaluwarsa.!"
Decak Stella sambil menyudutkan bibirnya. Hati
Sherin benar-benar sakit, perih dan teriris. Dia memejamkan mata lalu menghela nafas berat. Kemudian berdiri tegak di hadapan Mr Nom
yang menatapnya dalam kebimbangan.
"Baiklah..saya terima keputusan kalian. Dan,
terimakasih atas kerjasamanya selama ini.!"
Sherin berjabat tangan dengan pria itu kemudian
berlalu keluar dari ruangan tanpa ada keinginan
untuk melayani kegilaan Stella. Vincent terdiam,
mengekori langkah Sherin yang terlihat sedikit
limbung dan tak bertenaga. Hatinya ikut sakit,
kenapa kepahitan terus saja datang menimpa
majikannya ini. Apa yang harus dia lakukan ?
Sherin memutuskan untuk segera pulang ke
rumah kontrakan nya. Dia butuh waktu untuk
menenangkan dirinya. Namun begitu sampai,
dia tertegun saat rumah itu tergembok dan ada
tulisan di kontrakan..Ya Tuhan..apalagi ini.?
Sherin mendudukkan dirinya di atas pilar jalan
yang ada di depan rumah kontrakan nya itu.
Waktu sudah semakin merayap malam. Dia
menunduk dan meremas kepalanya yang kini
terasa sedikit berat.
Namun tidak lama dia mengangkat wajahnya
ketika tiba-tiba datang beberapa mobil hitam
ke hadapannya. Dia berdiri, menatap waspada
pada kedatangan mobil-mobil ber plat aneh itu.
Dari dalam mobil keluar beberapa bayangan
yang langsung mengurungnya. Sherin mundur,
tatapan nya kian tajam. Namun belum sempat
dia menguasai keadaan, dua orang diantaranya
kini bergerak cepat menyergap Sherin yang
langsung mundur menghindar. Sherin berjibaku meladeni permainan mereka, yang kelihatannya orang-orang cukup terlatih. Dua orang lagi maju membantu yang lain, lalu yang satu lagi bergerak cepat membekap mulut Sherin dari arah belakang.
Sherin berusaha untuk tetap sadar dan tidak
terjatuh, namun akhirnya dia tak kuasa, tubuhnya terhuyung, lalu jatuh terkulai dalam rengkuhan seseorang yang baru saja keluar dari dalam mobil..
***
Bersambung...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 105 Episodes
Comments
Inooy
koq y sejauh ini wanita tangguh nya g keliatan2 jg, malah kesan nya pasrahan begitu..🤦♀️
2025-03-24
0
Nuryati Yati
pasti kerjaan Stella
2025-03-29
0
Ummu Inani
kemana sih pengawal urusan suaminy@
2024-10-27
0