***
Kantor pusat Starlight Management..
Dengan berat hati, hari ini Sherin terpaksa datang
ke kantor Brian. Ada beberapa hal yang harus dia
urus dengan manager nya dan harus di serahkan
pada Brian sebagai CEO. Laporan pekerjaan yang selama satu minggu ini telah di jalankan nya.
Namun ketika tiba di lobby kantor, dia langsung
di serbu oleh para wartawan yang sudah menanti
kedatangannya dari pagi. Setelah keluar dari
tahanan kantor polisi, Sherin memang langsung terbang keluar kota, jadi para wartawan itu
belum bisa mewawancarai nya.
"Mbak Sherin..tolong jelaskan pada kami, ada hubungan apa sebenarnya antara anda dengan
Pak Arnold.! Benarkah anda wanita sampingan beliau.?"
"Iya tolong jelaskan Mbak. Kalau itu benar, jadi
selama ini anda sudah mengkhianati Tuan Brian.?"
"Benar Mbak. Kami dengar-dengar, anda sudah
memeras Pak Arnold selama ini. Apakah benar,
sekarang tarif bookingan anda semakin tinggi.?"
"Tolong beri penjelasan Mbak. Apa prestasi
anda selama ini hasil manipulasi.? Kami dengar
anda sudah mengambil jalan pintas untuk bisa
segera naik level.!"
Deg !
Jantung Sherin seakan berhenti berdetak saat
ini juga. Tuhan..apalagi ini.? Apakah semuanya
masih terus berlanjut.? Semua fitnah keji itu
masih mencoba merajam harga dirinya. Apa
salahnya sebenarnya.? Kenapa ujian itu terus
saja datang merundung nya.!
Sherin mundur dengan wajah yang terlihat pias,
dia tidak kuasa mendengar lontaran pertanyaan
yang terus menyudutkan dirinya dengan segala
fitnahan dan hinaan di luar batas.
Vincent dan Margaret sang manager maju ke
hadapan Sherin. Menghadang para wartawan
yang semakin merangsek maju. Mereka berdua
tampak merentangkan tangan dan mencoba
untuk menenangkan para wartawan.
"Kawan-kawan tolong.. jangan menyudutkan
model kami. Kalian tidak bisa sembarangan
memberikan statement ataupun pemberitaan
yang belum terbukti kebenarannya. Kami bisa
melaporkan kalian atas pasal pencemaran
nama baik .!"
Tegas Margaret dengan wajah yang terlihat
berang. Baru hari ini dia bisa kembali bersama
dengan Sherin, karena satu minggu ke belakang
dirinya sedang sibuk menangani ajang pencarian
model baru.
"Tolong berikan kami pernyataan mbak Sherin.
Diam anda akan semakin memperkuat dugaan
orang tentang kebenaran semua isu yang kini
merebak di masyarakat."
"Benar, anda tidak bisa terus bungkam mbak.
Kami butuh pernyataan langsung dari mulut
anda tentang semua kebenarannya.!"
"Kami juga mendengar keluarga Mcknight lebih memilih Stella untuk menjadi calon menantu di banding anda yang penuh dengan skandal.!"
Bukannya mengerti, para wartawan itu malah
semakin menggila. Mereka kembali mencecar
Sherin dengan berbagai perkataan menyakitkan
hingga membuat mata Sherin mulai memanas.
Para wartawan semakin maju mendekat kearah
Sherin yang kini sudah diamankan oleh para
security menuju ke bagian dalam ruangan.
Tak ingin terus berlanjut meladeni kegilaan
para pencari berita itu, Sherin memilih kabur
dari desakan para wartawan di kawal oleh para security sampai dia berhasil masuk ke dalam
lift. Sherin menjatuhkan dirinya di atas lantai lift
sambil menundukkan kepala dan memejamkan
mata berusaha menguatkan dirinya.
Tuhan.. apa ini.?? Sehina inikah diriku di mata
dunia luar.? Apa salahku sebenarnya.? Tolong..
berilah hamba kekuatan untuk menghadapi
semua kedzaliman ini Tuhan..
Lirih batin Sherin sambil mencoba untuk berdiri
kembali walaupun sedikit limbung. Sekuat dan
setegar apapun dia, ada saatnya dia jatuh dan
tidak mampu menahan tekanan. Selama ini,
walau faktanya dia masih memiliki keluarga,
namun dirinya seolah hidup sebatang kara.
Sherin menarik nafas berat saat keluar dari lift.
Baru saja terbebas dari para pemburu berita,
kini dia harus kembali berhadapan dengan
seseorang yang sebenarnya sangat ingin di
jauhi dan di hindari nya. Dia mulai melangkah
menuju ruangan Brian di ujung koridor.
Namun, belum sempat dia mengetuk pintu,
tangannya tiba-tiba saja di tarik oleh Brian yang
datang dari arah lain dan langsung di seret paksa menuju ke dalam ruangan yang lebih privat.
"Brian, lepaskan tangan ku ! Kenapa kamu membawaku kesini.?"
Sherin menghempaskan pegangan tangan Brian
hingga terlepas. Namun belum sempat dia sadar
atas apa yang terjadi, Brian sudah mendorong
tubuhnya dan menjatuhkannya keatas sofa besar
yang ada di belakangnya. Kemudian dengan cepat
dia menindih dan mengurung tubuh Sherin serta memaksa mencium bibirnya. Sherin terkesiap
dan terkejut dengan serangan dadakan itu.
"Emmhh.. Brian..lepaskan aku..apa yang kau
lakukan.? Lepaskan.! Brian..!!"
Teriak Sherin sambil mencoba mendorong dada
Brian yang terlihat malah semakin ganas. Dia
kembali menyergap bibir Sherin yang selama ini
ingin sekali di cicipi nya. Namun Sherin meronta
dan mendorong tubuh Brian yang langsung
terjerembab ke belakang.
"Kau sudah gila Brian.! Sebenarnya apa yang
ada di pikiranmu saat ini.? Kau sudah berniat
melecehkan ku.!"
Seru Sherin sambil bangkit. Namun dalam satu
gerakan cepat, tiba-tiba Brian memeluk erat
tubuh Sherin dan mengunci gerakan tangannya
kemudian merebahkan kembali tubuh Sherin
di atas sofa dengan menghimpit kedua kakinya
hingga kini Sherin tak bisa berkutik.
"Aku adalah pemilik tubuh mu ini Sherin. Aku
yang sudah membuat mu ada di mata dunia.
Tapi kenapa kamu tidak pernah membiarkan
aku menyentuh mu.! "
Sherin mencoba berontak dengan menggerakkan
tangannya yang dikunci oleh tangan Brian. Mata
mereka saling menatap kuat. Ada kabut gairah
yang kini mendesak, memaksa Brian melakukan
semua tindakan kekerasan ini. Dia benar-benar
kalap, gejolak perasaan yang sangat kompleks
membuat dia tidak bisa mengendalikan dirinya
begitu melihat kemunculan Sherin.
"Kau tahu benar prinsip hidupku Brian.!"
"Aku tidak percaya lagi padamu Sherin! Kamu
berani mengkhianati kepercayaan ku. Kau menjual
dirimu tanpa sepengetahuan ku. Apa kurangnya
aku di matamu.? Tahukah kamu kalau aku sangat memujamu? Kau adalah obsesi ku selama ini.!"
Sherin terhenyak. Ternyata laki-laki ini masih
belum percaya sepenuhnya padanya. Padahal
dia tahu sendiri, semua isu itu tidak benar sama
sekali, semuanya adalah ulah seseorang.
"Brian..! Aku tidak percaya kamu masih saja
termakan isu itu. Kau tidak percaya padaku.!"
"Aku lelah dengan sikap angkuh mu ini Sherin.!
Aku baru akan percaya dengan membuktikannya
sendiri. Jadi..berikan dirimu padaku sekarang..!"
Desis Brian yang semakin terlihat kesetanan.
Dia merobek pakaian bagian atas Sherin yang langsung memekik seraya membulatkan mata
melihat kegilaan yang diperlihatkan oleh pria
yang sampai saat ini masih di cintanya itu.
"Brian hentikan.! Jangan gila kamu.! Lepaskan
aku..ahhh.. Brian..!!"
Sherin berteriak sambil mengerahkan seluruh
tenaganya untuk keluar dari kebrutalan Brian
yang sudah berhasil menarik atasannya sampai terbuka setengahnya.
"Aku akan membayar tubuh mu ini berapapun
yang kamu minta. Kamu mau rumah, mobil
atau apapun akan aku berikan Sherin.!"
Sherin semakin terhenyak.. ternyata selama ini
Brian hanya terobsesi saja padanya. Dia tidak
memiliki perasaan apapun. Hatinya kian terasa
berdenyut nyeri, sakit bukan main.
"Aku benar-benar tidak menyangka kalau kamu
hanya mempermainkan ku selama ini Brian.!"
Tanpa pikir panjang lagi, Sherin menggerakkan
kakinya menendang dan mengirimkan hantaman
kuat ke ulu hati Brian hingga membuat tubuh pria
itu terjungkal jatuh dari atas sofa. Dia tampak
meringis memegangi perutnya yang kini terasa
sakit dan membuat tenaganya hilang .
"Aku pernah mencintaimu..Tapi kamu tidak bisa memberikan kenyamanan padaku seperti yang
di berikan oleh Stella ku.!"
"Owhh ya.. tentu saja. Dia memang lebih lihai
dariku. Dia akan memberikan apapun yang kau
minta. Mulai saat ini, diantara kita sudah tidak
ada hubungan apa-apa lagi.! Kau bisa bebas
melakukan apapun di belakangku.!"
Ucap Sherin dengan sedikit gemetar menahan
serbuan air mata. Dia menarik atasannya yang
sudah sobek itu.
"Apa Kau pikir bisa semudah itu lepas dariku.!
Tidak Sherin sayang..Kau tidak akan pernah bisa
lepas dariku. Karena aku tidak akan pernah melepaskan mu.!"
Desis Brian sambil mencoba bangkit dengan
sempoyongan. Mata mereka saling menatap.
"Kau benar-benar sudah tidak waras Tuan
Mcknight..! Aku menyesal mengenalmu.!"
Geram Sherin sambil meraih tas nya, di pakai
untuk menutupi tubuh bagian atasnya yang
terbuka. Untuk sesaat dia kembali menatap
tajam kearah Brian yang juga sedang menatap
dirinya sambil menyandarkan tubuhnya ke
ujung meja kerja yang ada di ruangan itu.
"Margaret akan mengurus laporan kerjaku
sekaligus surat resign ku dari tempat mu ini.!"
Ujar Sherin tegas yang membuat Brian tampak
menyeringai tipis. Dia mencoba menegakkan
badannya sambil tersenyum miring.
"Kau tidak akan bisa keluar dari perusahaan ini
begitu saja Sherin. Kamu masih terikat kontrak
untuk beberapa tahun ke depan.!"
Ujarnya dengan tatapan tajam dan sinis. Wajah
Sherin tampak memerah. Dasar pria licik.!
"Kau benar-benar licik dan kejam Brian. Selama
ini aku sudah mengalah. Memberikan semua
kontrak eksklusif pada Stella, wanita pilihanmu
itu. Dan aku rela tersisih, hanya untuk kebaikan
perusahaan mu..!"
Decak Sherin sambil mengusap kasar air mata
yang masih tersisa. Cukup, hanya kali ini saja
dia menjatuhkan air mata, tidak ada lain kali.
"Akan aku berikan apapun untuk Stella ku.."
Ujar Brian dengan kekehan kecil yang datang
bagai siraman air garam pada luka hati Sherin
dan semakin mengiris lubuk hatinya.
"Baiklah.. Silahkan kalian nikmati kebahagiaan
yang semu ini. Aku memang tidak berdaya saat
ini. Tapi ingat, Tuhan tidak pernah tidur.."
Ucap Sherin sambil kemudian melangkah pergi
dari ruangan itu seraya membanting pintu cukup keras. Brian menatap kepergian Sherin dengan
raut wajah berubah dingin dan membesi.
"Kau masih sangat mencintai ku Sherin sayang.
Dan aku pastikan kau akan kembali padaku.!"
Desis nya dengan seringai tipis penuh arti. Dia menggerakkan badannya yang kini terasa remuk.
Sial.! inilah salah satu benteng kokoh yang di
miliki Sherin dan tidak bisa di tembus nya. Dia
tidak akan pernah bisa memiliki Sherin dengan
cara kasar seperti ini.
***
Sherin melajukan mobilnya dengan kecepatan
tinggi di dera rasa hancur dan tidak terima atas
apa yang terjadi dengan dirinya. Setelah cukup
jauh, dia menepikan mobilnya di pinggir jalan
yang cukup sepi, kemudian merebahkan kepala
ke sandaran jok sambil memejamkan matanya
rapat mencoba menenangkan diri.
Namun baru beberapa saat dia memejamkan
mata, tiba-tiba saja pintu mobilnya di ketuk dari
luar dengan keras membuat Sherin tersentak
kaget. Dan matanya semakin melebar begitu
menyadari mobilnya sudah di kelilingi oleh
beberapa pria bertubuh besar dan berpakaian hitam-hitam.
"Keluar..! Atau kami akan menghancurkan
mobil ini sekarang juga.!!"
Salah seorang yang tadi mengetuk pintu kini
berbicara lantang dengan tampang sangar dan
nada suara yang terdengar emosi. Dengan sedikit ragu, akhirnya Sherin keluar dari dalam mobil.
"Siapa kalian.? Ada urusan apa denganku.?"
Tanya Sherin yang langsung waspada karena
para pria bertubuh besar itu kini merapat dan
mendekat kearahnya.
"Jangan banyak bicara, sebaiknya anda ikut
kami sekarang juga.!"
"Ikut dengan kalian, kemana.? Aku tidak punya
urusan dengan kalian.!"
"Kami memang tidak punya urusan, tapi klien
kami yang punya urusan dengan anda..!"
Geram sang pimpinan sambil mengeluarkan
pisau lipat dari balik pakaiannya membuat
Sherin terkesiap. Dia mundur hingga merapat
ke badan mobil.
"Siapa yang menyuruh kalian.? Di bayar berapa
kalian untuk menculik ku.?"
"Ini adalah bisnis Nona. Kau akan tahu sendiri
nanti. Ayo bawa dia sekarang juga.!"
Titah si pimpinan pada bawahannya. Namun
sebelum mereka bergerak, Sherin sudah lebih
dulu mengirimkan tendangan pada beberapa
pria yang mencoba merangsek maju hingga
tubuh mereka kini mundur sambil meringis
kesakitan.
Sherin mundur sambil memasang kuda-kuda
dan menatap tajam kearah para pria itu yang
terlihat terkejut sesaat.
"Ayo lumpuhkan gadis itu, cepat.!!"
Teriak pimpinan penjahat yang terlihat geram.
Bawahannya kini maju menyerang Sherin yang
berlari ke tempat yang lebih leluasa. Dan tidak
bisa di hindari, akhirnya terjadilah pertarungan
yang cukup sengit antara Sherin melawan 6 pria
tinggi kekar itu. Sebuah pemandangan yang
cukup menggelikan sebenarnya.
Dalam keadaan itu, dari arah belakang, tiba-tiba
muncul sebuah mobil mewah warna hitam. Dan
tidak lama, ada seorang pria tinggi tegap yang
keluar dari arah kursi penumpang.
Dalam gerakan cepat tak terlihat, pria tinggi itu
melesat kearah Sherin yang mulai terdesak.
Tepat di saat Sherin terkena tendangan di bagian
perutnya. Tubuh Sherin terdorong ke belakang
dan terjatuh dalam rangkulan pria tinggi tegap
tadi yang setengah wajahnya tertutup masker.
Kini, tubuh Sherin ada dalam rangkulan kuat
pria itu. Untuk sesaat keduanya malah saling
melihat dan menatap kuat, terbius oleh jeratan
ketajaman mata masing-masing..
***
Bersambung...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 105 Episodes
Comments
Amilawati
sherinn bisa apa cuman wanita lemah,kenapa waktu mereka begituan TDK kamu vidio baru sebarin,cuman bisa diam dn menahus Cemen mati ajh sonoh
2024-08-21
0
andi hastutty
brian keterlaluan dengan wanita pengen cekik deh.
untung ada Devan yg nolong pasti suruhan Brian tu penjahat
2023-10-18
0
ren_iren
lagi lagi....
terpesona...
2023-08-14
0