17. Pria Tua Aneh

***

Devan maju, merengkuh bahu Sherin yang kini

mundur sambil menundukkan kepalanya. Dia

menatap tajam wajah Tuan Wiratama yang

terlihat sangat kelam dan dingin.

"Aku punya alasan sendiri memilih nya. Jadi..

sebaiknya kakek hargai pilihanku !"

Devan berucap dengan suara yang sedikit keras

di sertai wajah yang terlihat sangat dingin. Tuan

Wiratama meraih tumpukan koran yang ada di

atas meja kemudian melemparnya ke hadapan

Devan dan Sherin. Mata Sherin tampak menatap

lurus hamparan koran-koran yang kesemuanya memuat tentang kasusnya itu.

"Apa tidak ada wanita lain yang lebih baik lagi

dari model seperti nya.? Aku memberikan waktu

yang cukup luang padamu untuk mencari wanita

sesuai dengan kriteria ku. Tapi sayangnya kau

sangat terburu-buru.!"

Ujar Tuan Wiratama. Terdengar jelas kalau dia

sangat tidak menyukai situasi ini. Sherin semakin

merasa terpuruk, dia menatap nanar koran-koran

yang berserakan di lantai. Tidak, dia harus kuat. Semua sudah terlanjur terjadi, dia tidak mungkin mundur lagi sekarang.

"Aku bisa mendapatkan seribu wanita hanya

dalam satu malam. Tapi belum tentu di antara

mereka mampu memenuhi apa yang aku cari

dan aku butuhkan selama ini.! "

Tegas Devan dengan menegakkan kepalanya

dan tatapan tajam penuh makna tersirat. Raut

wajah Tuan Wiratama bereaksi aneh. Kini dia

melirik ke arah Sherin, menatap seksama dan mengamatinya dalam diam.

"Terlalu banyak kotoran yang berusaha untuk

menempel padanya. Keluarga Kertaradjasa

bisa tercemar oleh kotoran itu.!"

"Aku sedang berusaha membersihkan nya !"

"Lalu kenapa kau belum bertindak ? Buat apa

kekuasaan mu selama ini, kalau membersihkan

cacing-cacing kecil seperti itu saja tidak becus.!"

Sherin terhenyak, dia mencoba mencerna arah pembicaraan cucu dan kakek itu. Apa maksud

mereka sebenarnya.?

"Kakek akan tahu sendiri siapa wanita yang aku

pilih ini sebenarnya !"

Desis Devan sambil tersenyum tipis penuh arti.

Sherin semakin tidak mengerti arah pembicaraan

ini. Dia memberanikan diri mengangkat wajah

dan melihat sebentar ke arah Tuan Wiratama.

"Wanita itu tidak boleh hanya bagus luarnya saja,

dia harus bersih dan kuat dalam menjalani arus

kehidupan yang semakin kejam ini.!"

"Tidak akan jadi sebuah senjata tanpa tempaan

yang kuat dari si empunya barang tersebut."

Devan menimpali dengan bahasa tubuh yang

mulai terlihat rileks. Sherin semakin tidak faham

dengan makna pembicaraan ini. Tuan Wiratama

tampak berdiri, meraih tongkat emasnya dan

berjalan tenang ke hadapan Sherin yang terlihat

semakin menundukkan kepalanya.

"Aku dengar dia cukup tangguh. Ikut aku, kita

akan membuktikan semua itu sekarang.!"

Tegas Tuan Wiratama sambil kemudian berlalu

keluar ruangan bersama asisten pribadinya.

Dev dan Sherin saling menatap.

"Apa yang bisa aku banggakan di depannya

Dev, kenapa kau harus memilih ku.?"

"Jangan banyak bicara. Semua itu tidak akan

membuktikan apapun, ayo kita ikuti.. apa yang

inginkan oleh pria tua itu.!"

Dev menyambar tangan Sherin di bawa keluar

dari dalam ruangan yang menyerupai sebuah

perpustakaan negara itu.

Beberapa saat kemudian...

Mereka bertiga sudah ada di sebuah area khusus

untuk berlatih menembak dan memanah. Sherin

menautkan alisnya melihat dirinya di bawa ke

tempat ini. Di sana juga sudah ada beberapa

wanita berpakaian hitam dan berikat kepala.

"Aku ingin melihat, setangguh apa wanita yang

telah kau pilih itu Dev.!"

Ujar Tuan Wiratama sambil kemudian duduk di

bangku khusus di dalam sebuah gazebo dimana

di atas meja telah tersaji teh hijau dan camilan.

"Apa harus dengan cara seperti ini.? Dia tidak

boleh terluka sedikitpun Kek.!"

"Hahaha.. belum apa-apa sudah mencemaskan

dirinya. Bukankah dia hanya wanita sewaan mu

Dev ? Peduli apa kau padanya.!"

Tuan Wiratama terkekeh geli. Wajah Devan

tampak memerah, dia menatap ke arah Sherin

yang terlihat bingung.

"Kakek tahu sendiri profesi nya seperti apa.

Bukankah cucu kesayangan mu sendiri pun

berprofesi sama dengan nya.?"

"Clara sudah tidak perlu di khawatirkan. Aku

tidak pernah mencemaskan keadaan nya. Ayo

maju kalian semua.!"

Tuan Wiratama memberi perintah pada 4 wanita

berpakaian hitam tadi. Mereka membungkuk

hormat di hadapan Tuan Wiratama kemudian

menundukkan kepala di hadapan Dev dan Sherin

sambil merapatkan kedua telapak tangannya.

"Apa ini Dev.? Kenapa harus begini.?"

Sherin menatap kesal ke arah Devan yang hanya

bisa menggedikan bahunya dan bersikap acuh.

"Dasar aneh, baiklah..sepertinya aku tidak punya

pilihan untuk keluar dari situasi ini.!"

Decak Sherin sambil kemudian menundukkan

kepala di hadapan Tuan Wiratama dan berjalan

ke tengah arena. Belum sempat dia bersiap, ke

4 wanita tadi sudah melompat menyerang nya.

Mau tidak mau akhirnya Sherin harus melayani

serangan mereka berempat. Dan terjadilah satu

pertarungan seru dan sengit yang juga sangat

menarik.

Dalam diamnya, Devan mengamati seluruh

gerakan yang di perlihatkan oleh Sherin. Kenapa

di matanya semua yang terlihat itu sangat indah

dan memukau mata.? Gadis itu tampak sangat

lincah dan gesit dalam menghindar sekaligus

menyerang balik. Dan dalam hitungan menit

saja ke 4 wanita itu sudah terdesak dan mundur.

Sementara Tuan Wiratama sendiri tampak diam

memperhatikan dengan ekspresi wajah datar

dan tenang. Namun ada sorot mata puas yang terpancar dari tatapan tajamnya.

"Cukup..! Masih ada hal lainnya yang harus dia

lakukan. Aku ingin melihat apa dia juga mampu

melakukan nya !"

Tuan Wiratama memberi perintah membuat

gerakan Sherin dan ke 4 wanita itu otomatis

terhenti. Sherin mengibaskan pakaiannya yang

tadi sempat berantakan. Apa-apaan ini, kenapa

kakek Devan harus melakukan ini padanya.?

Dia melihat ke arah Devan yang masih saja

terlihat santai dan hanya tersenyum tipis.

"Bawa dia ke arena menembak.!"

Titah Tuan Wiratama yang membuat mata cantik

Sherin melebar indah. Devan bergerak mendekat

ke arah Sherin yang terdiam mematung. Asisten

Tuan Wiratama dan beberapa pengawal tampak

sibuk menyiapkan segala keperluan.

"Ayo..kita akan lihat, apa kamu bisa melakukan

hal ini juga.!"

Ujar Devan sambil menarik tangan Sherin di bawa

ke arena tembak dan panahan. Masih di tempat

yang sama, hanya bergeser ke sebelah kanan dan lebih dekat ke tempat Tuan Wiratama berada.

"Sebenarnya apa yang kakek mu inginkan Dev?

Kenapa aku harus melakukan semua ini ? Apa

kau pikir ini masuk akal.?"

Sherin protes keras saat Devan memakaikan alat

pelindung diri ke tubuh nya. Kemudian dia juga

memposisikan tubuh Sherin di tempat khusus.

"Jangan banyak membantah, laksanakan saja

apa yang dia perintahkan agar kita bisa cepat

keluar dari rumah ini.!"

Bisik Devan di dekat telinga Sherin saat mereka

berdua berdiri di posisi tembak. Sherin mendelik

kesal setengah berjingkat saat tubuh mereka

saling merapat. Tangan Devan kini memegang

pergelangan tangan Sherin membenarkan letak

posisi senjata.

"Tapi ini tidak masuk akal Dev, aku datang kesini

bukan untuk daftar masuk ke kesatuan !"

"Anggap saja seperti itu. Kau tahu, dia memang

sedikit aneh dan tidak bisa di tebak.!"

Ucap Devan dengan suara yang berat dan posisi

tubuh yang semakin rapat. Sherin menghela

nafas panjang dan melirik kearah Devan.

"Bisakah kau mundur Tuan Devan.? Bagaimana

aku bisa bergerak kalau posisinya seperti ini.?"

Geram Sherin sambil menatap tajam penuh

intimidasi saat Devan semakin merapatkan

tubuhnya. Mata mereka saling menatap kuat.

"Kau yakin bisa melakukannya sendiri.?"

"Aku akan mencoba nya . Jadi.. mundur lah,

biarkan aku melakukan nya sekarang."

Desis Sherin sambil kemudian memfokuskan

pandangannya pada titik sasaran.

"Kita akan melakukan nya bersama sekarang."

Bisik Devan pelan sambil kemudian menggeser

posisi badannya ke samping. Dia mengambil

tempat di sebelah Sherin. Tuan Wiratama yang

masih pada posisi semula, duduk santai di

gazebo tampak menyeringai tipis. Dia tahu ada

yang aneh dengan cucu kesayangan nya itu.

Sherin mengatur posisi tubuh dan tangan nya,

hingga membuatnya terlihat lebih mempesona

dengan gaya yang sangat apik dan menarik. Bak

seorang jagoan wanita di film-film action. Sherin

mulai bersiap, untuk sesaat dia saling pandang dengan Devan. Tanpa aba-aba, Devan langsung

melesakkan tembakan ke arah sasaran tanpa

harus melihat titik fokus karena matanya saat

ini masih saling pandang dengan Sherin.

Para pengawal dan asisten pribadi Tuan Wiratama

sontak saja bertepuk tangan penuh kekaguman.

Sherin menarik napas gerah saat melihat Devan

tersenyum tipis sambil mengangkat tangannya

memberi isyarat agar Sherin melakukannya juga.

Dengan tenang dan percaya diri, Sherin mulai

melesakkan tembakan beruntun tanpa jeda

ke titik fokus dan semuanya tepat sasaran.

Semua orang tampak terdiam, melongo dan tak percaya. Wanita secantik dan seanggun Sherin

mampu melakukan tembakan itu dalam satu kali gebrakan tanpa menarik nafas. Devan tampak

tersenyum puas. Dia mengacungkan jempol ke

arah Sherin yang terlihat datar saja. Sementara

itu Tuan Wiratama nampaknya cukup terkesan.

Ada senyum tipis yang terlukis di sudut bibirnya.

"Aku rasa itu sudah cukup. Ayo..sekarang kita

masuk. Ada yang ingin aku tanyakan pada istri bayaran mu itu Dev.!"

Ujar Tuan Wiratama sambil kemudian beranjak

dari tempat duduknya dan melangkah masuk ke

dalam bangunan rumah super megah itu. Dev

dan Sherin kembali saling menatap dalam diam.

***

Hari sudah mulai merayap sore...

Pulang dari Mansion Kertaradjasa, Sherin lagi-

lagi di antar oleh Simon karena Dev harus segera kembali ke kantor, ada urusan yang harus dia bereskan secepatnya.

"Tuan Wiratama benar-benar aneh. Kenapa aku

harus di hadapkan pada ujian seperti itu.!"

Bathin Sherin saat dia berada di dalam mobil.

Dia benar-benar tidak habis pikir dengan apa

yang di lakukan oleh pria tua aneh itu.

Tidak lama kemudian, dia tiba di sebuah cafe

untuk bertemu dengan klien yang ingin memakai

jasa nya. Dan ini juga sebenarnya mendadak.

Sedikit aneh memang, setahu dia, perusahaan

Royal Entertainment memilki banyak model yang

bisa di pakai jasa nya, tapi kenapa mereka malah menawarkan pekerjaan ini padanya.

"Kamu darimana dulu Sher, Tuan Agam sudah

menunggu di dalam ruangan tuh.!"

Vincent tampak kesal karena Sherin datang

sedikit terlambat.

"Iya maaf Vint, aku ada urusan penting tadi."

Ujar Sherin sambil berjalan cepat menuju ke

dalam cafe. Namun langkah mereka terhenti

ketika tiba-tiba dari arah koridor lain muncul

rombongan yang membuat Sherin memicingkan

matanya. Ada beberapa wartawan yang mengejar

satu sosok wanita berpenampilan glamor yang

cukup di kenal oleh Sherin. Wanita itu adalah

wanita yang pernah melabrak dan menampar

dirinya di mall.

"Nyonya Arnold.. kami dengar anda telah menipu

dan menggelapkan dana arisan teman-teman

sosialita anda, apakah itu benar.?"

Terdengar selentingan pertanyaan yang datang

dari salah satu wartawan. Wanita tersebut tampak

mencoba menghindar dengan raut wajah yang

terlihat ketakutan dan tidak tenang.

"Iya Nyonya, kami dengar teman-teman anda

sudah melaporkan anda pada polisi untuk kasus

penipuan barang-barang mewah dan juga kasus

penggelapan dana arisan tersebut.! Apa yang

akan anda katakan untuk semua itu Nyonya.?"

Kembali terdengar pertanyaan yang di lontarkan

oleh para wartawan. Sementara wanita itu kini

semakin kalangkabut. Dia berjalan cepat mencoba

menghindari serbuan para wartawan. Dan tanpa

sengaja berpapasan dengan Sherin. Keduanya

saling melihat. Sherin terlihat tenang dan santai,

sedang wanita itu tampak terkejut dan ketakutan.

"Aku rasa..karma itu akan berlaku tidak lama lagi.

Siapa yang menanam, dia yang menuai hasilnya."

Sindir Vincent sambil menatap sinis wanita

berpenampilan glamor itu. Tak mampu membela

diri, wanita itu berlari sambil menyembunyikan

wajahnya di balik tas yang di bawa nya menuju

ke keluar dari cafe tersebut. Para wartawan kini mendekat ke arah Sherin, namun dengan sopan

Sherin meminta maaf tidak bisa meladeni mereka.

Masalahnya dia harus segera menemui kliennya.

Tidak lama Sherin tiba di dalam ruangan yang

sudah di janjikan sebelumnya..

"Selamat sore Tuan Agam, maaf saya datang

terlambat."

Sherin menundukkan kepalanya di hadapan

seorang pria tampan bertubuh tinggi tegap.

Pria itu membuka kacamata hitamnya, untuk

sesaat mereka tampak saling menatap. Tapi

Sherin segera memutus pandangannya.

"Selamat sore Miss Sherin.. Silahkan duduk,

kita tidak boleh membuang waktu lagi."

Sahut nya sambil merapihkan duduknya. Sherin

tersenyum canggung kemudian duduk di depan

pria yang cukup terkenal di dunia hiburan itu.

"Kami ada projek iklan untuk perusahaan yang

cukup ternama, dan ada kolaborasi yang akan

di lakukan untuk penggarapan iklan ini."

Pria tampan yang tadi di panggil Agam itu kini

membuka pembicaraan. Sherin menautkan alis,

sedikit kurang faham dengan maksud Agam.

"Maaf Tuan Agam, jadi anda ingin memakai jasa

saya untuk membintangi iklan perusahaan dan berkolaborasi dengan orang lain begitu.?"

"Betul sekali, orang nya sedang menuju ke sini.

Jadi kalian bisa berinteraksi secara langsung."

Sahut Agam sambil tersenyum tenang. Sherin

melirik kearah Vincent yang mengacungkan

jempol tanda setuju.

"Tuan Agam, anda tahu sendiri image saya saat

ini sedang sangat buruk. Rasa-rasanya kurang

bijak kalau jasa saya di pakai untuk iklan sebuah

perusahaan ternama. Bukankah itu bisa merusak

citra dan nama baik perusahaan itu nantinya.?"

"CEO dari perusahaan itu sendiri yang memilih

anda untuk menjadi bintang iklannya.!"

"Oya, memangnya perusahaan apa ya.?"

"Hello uncle Agam..good afternoon.."

Tiba-tiba saja ke dalam ruangan muncul sosok

mungil bocah laki-laki yang sangat tampan.

Bocah itu berlari cepat ke arah Agam yang kini

berdiri menyongsong kedatangannya.

"Selamat sore Rein tampan.. kau ikut datang

juga rupanya."

Agam menggendong bocah tampan itu sambil

mengecup lembut pipinya dan mencubiti nya

gemas. Tidak berselang lama, muncul seorang

wanita yang datang menyusul bocah tampan

tadi dengan raut wajah sedikit khawatir.

Sherin tampak terkejut melihat kemunculan

wanita cantik nan elok yang menyembunyikan

wajahnya di balik kerudung biru itu.

"Nyonya Moolay..? Apakah anda ini.."

"Assalamualaikum Miss Sherin..senang sekali

bisa bekerjasama dengan anda."

Wanita itu mengulurkan tangannya ke hadapan

Sherin yang langsung berdiri dan berjabat tangan.

"Waalaikumsalam.. saya juga sangat senang

bisa bertemu anda di sini. Benar-benar tidak

menduganya sama sekali."

Sahut Sherin dengan raut wajah memerah karena

tersipu. Dia benar-benar tidak menduga akan

bertemu dengan seorang mantan bintang iklan

yang sangat terkenal beberapa tahun lalu dan

saat ini sudah menyandang status sebagai istri

Raymond Dirgantara Moolay, sang raja bisnis.

"Nah.. Miss Sherin.. anda akan berkolaborasi

dengan Nyonya Mayra untuk iklan ini.!"

Hahh.? Wajah Sherin kembali terkejut bukan main.

Dia melirik ke arah wanita cantik bermata sendu

itu yang sedang tersenyum lembut ke arahnya..

***

Bersambung...

Terpopuler

Comments

andi hastutty

andi hastutty

Mayra bekerja sama dengan ka2k sepupunya kayanya hahahha

2023-10-18

1

Fatim Ummu Ayes

Fatim Ummu Ayes

tadinya mo baca karya othor dari kisah mayra... tapi q gak kuat... jadi loncat ke depan nih lgsg ke sherin dulu🤭🤭🤭

2023-09-10

0

Joempa

Joempa

masih satu keluarga semuanya 🤭

2023-06-03

0

lihat semua
Episodes
1 1. Terjebak
2 2. Terkejut
3 3. Hancur
4 4. Tak Terduga
5 5. Sakit Tak Berdarah
6 6. Tawaran Menarik
7 7. Sah
8 8. Tamu Kehormatan
9 9. Mengawasi
10 10. Gangguan Kecil
11 11. Pria Penguntit
12 12. Bertubi-tubi
13 13. Titik Nadir
14 14. first Kiss
15 15. Candu
16 16. Interview
17 17. Pria Tua Aneh
18 18. Trouble
19 19. Almost
20 20. Hari Pertama
21 21. Behind The Scene
22 22. Serangan Balik
23 23. Mengunjungi Villa
24 24. Jalan Malam
25 25. Hot Couple
26 26. Perih
27 27. Kau Datang Dev
28 28. Mengguncang
29 29. Babak Belur
30 30. Izinkan Aku...
31 31. Memilikimu
32 32. Gempar
33 33. Mati Kutu
34 34. Langkah Awal
35 35. Gebrakan Pertama
36 36. Syok Berat
37 37. Manis Dan Pahit
38 38. Syuting Perdana
39 39. Langit Runtuh
40 40. Intimidasi
41 41. Mimpi Yang Nyata
42 42. Romantic Morning
43 43. Jalan Sore
44 44. Serangan Pagi
45 45. Couple Session
46 46. Pukulan Telak
47 47. Tak Akan Aku Lepas
48 48. Pertemuan Tak Terduga
49 49. Jatuh Dan Kalah
50 50. The Winner Is..
51 51. Gelisah
52 52. Kehebohan Di Tempat Syuting
53 53. Kemelut Bersambut
54 54. Aksi Jalanan
55 55. Merajuk
56 56. New Season
57 57. The First Moment
58 58. Shocking News
59 59. Funeral
60 60. King Sadat
61 61. Ambers Palace
62 62. Tamu Tak Di Undang
63 63. Tangguh Luar Dalam
64 64. Tampil Gemilang
65 65. Sister In Law
66 66. Kesibukan Baru
67 67. Underpass Attack
68 68. Injured
69 69. Terlalu Manis
70 70. Intimidasi Tak Berarti
71 71. Kerusuhan Pagi Hari
72 72. Apa Yang Terjadi ?
73 73. Angin Segar
74 74. Ibu Mertua Tersayang
75 75. Surprise The Star
76 76. Duel Maut
77 77. Meradang
78 78. Cooling Down
79 79. Mrs Owner
80 80. Sweet Morning
81 81. Beginning To End
82 82. Quarantine Area
83 83. Spesial Guest
84 84. High Class Dinner
85 85. Dark Eye
86 86. The Second Day
87 87. Finally
88 88. Declaration Of Love
89 89. Ripe Attack
90 90. Hypnotized
91 91. The Final Battle
92 92. End Of Game
93 93. Miss Supermodel
94 94. Kedatangan Little Prince
95 95. Dia, Istriku
96 96. Mrs Commisioner
97 97. Back To The Family
98 98. Pada Akhirnya
99 99. Wedding Party
100 100. Monopoli Duo Cilik
101 101. Semua Akan Indah
102 102. Matt & Clara
103 103. Little Queen
104 104. Happy Ending part 1
105 105. Happy Ending Part 2
Episodes

Updated 105 Episodes

1
1. Terjebak
2
2. Terkejut
3
3. Hancur
4
4. Tak Terduga
5
5. Sakit Tak Berdarah
6
6. Tawaran Menarik
7
7. Sah
8
8. Tamu Kehormatan
9
9. Mengawasi
10
10. Gangguan Kecil
11
11. Pria Penguntit
12
12. Bertubi-tubi
13
13. Titik Nadir
14
14. first Kiss
15
15. Candu
16
16. Interview
17
17. Pria Tua Aneh
18
18. Trouble
19
19. Almost
20
20. Hari Pertama
21
21. Behind The Scene
22
22. Serangan Balik
23
23. Mengunjungi Villa
24
24. Jalan Malam
25
25. Hot Couple
26
26. Perih
27
27. Kau Datang Dev
28
28. Mengguncang
29
29. Babak Belur
30
30. Izinkan Aku...
31
31. Memilikimu
32
32. Gempar
33
33. Mati Kutu
34
34. Langkah Awal
35
35. Gebrakan Pertama
36
36. Syok Berat
37
37. Manis Dan Pahit
38
38. Syuting Perdana
39
39. Langit Runtuh
40
40. Intimidasi
41
41. Mimpi Yang Nyata
42
42. Romantic Morning
43
43. Jalan Sore
44
44. Serangan Pagi
45
45. Couple Session
46
46. Pukulan Telak
47
47. Tak Akan Aku Lepas
48
48. Pertemuan Tak Terduga
49
49. Jatuh Dan Kalah
50
50. The Winner Is..
51
51. Gelisah
52
52. Kehebohan Di Tempat Syuting
53
53. Kemelut Bersambut
54
54. Aksi Jalanan
55
55. Merajuk
56
56. New Season
57
57. The First Moment
58
58. Shocking News
59
59. Funeral
60
60. King Sadat
61
61. Ambers Palace
62
62. Tamu Tak Di Undang
63
63. Tangguh Luar Dalam
64
64. Tampil Gemilang
65
65. Sister In Law
66
66. Kesibukan Baru
67
67. Underpass Attack
68
68. Injured
69
69. Terlalu Manis
70
70. Intimidasi Tak Berarti
71
71. Kerusuhan Pagi Hari
72
72. Apa Yang Terjadi ?
73
73. Angin Segar
74
74. Ibu Mertua Tersayang
75
75. Surprise The Star
76
76. Duel Maut
77
77. Meradang
78
78. Cooling Down
79
79. Mrs Owner
80
80. Sweet Morning
81
81. Beginning To End
82
82. Quarantine Area
83
83. Spesial Guest
84
84. High Class Dinner
85
85. Dark Eye
86
86. The Second Day
87
87. Finally
88
88. Declaration Of Love
89
89. Ripe Attack
90
90. Hypnotized
91
91. The Final Battle
92
92. End Of Game
93
93. Miss Supermodel
94
94. Kedatangan Little Prince
95
95. Dia, Istriku
96
96. Mrs Commisioner
97
97. Back To The Family
98
98. Pada Akhirnya
99
99. Wedding Party
100
100. Monopoli Duo Cilik
101
101. Semua Akan Indah
102
102. Matt & Clara
103
103. Little Queen
104
104. Happy Ending part 1
105
105. Happy Ending Part 2

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!