XX

Tanpa aba-aba Sya dan Arda berteriak di atas ranjang. Bahkan mungkin teriakannya sampai terdengar keluar.

"Apa yang kau lakukan disini?" tanya Sya.

"Seharusnya aku yang bertanya padamu."

"Tapi ini kamarku," teriak Sya.

Mereka sama-sama bingung dan mencoba mengingat apa yang terjadi semalam. Lalu, mereka saling menoleh dan mengatakan, "Kau yang mengirimkan minuman itu," secara bersamaan.

"Bukan. Aku tidak mengirimkan apapun. Kau yang mengirimkannya," ucap Sya sembari mengambil sebuah kertas di sampingnya.

Arda menatap tulisan itu. Dia memikirkan siapa yang sudah melakukan hal itu. Hal yang tidak dia lakukan kini sudah dia lakukan.

Mereka saling diam. Tidak lama ponsel Sya menyala dan ada sebuah panggilan masuk. Nama Eri yang tertulis di layar ponsel itu.

"Apa kalian tidak ingin pulang. Atau kalian masih ingin berduaan?" teriak Eri.

Sya menjauhkan sedikit ponselnya dari telinga.

"Aku sudah menunggu kalian sejak tadi. Aku kira kalian sudah bersiap, ternyata aku masih harus menunggu."

Arda mengambil ponsel Sya dengan paksa. Lalu dia mengatakan, "Berikan kami waktu untuk bersiap. Setengah jam lagi kami akan turun."

Arda mematikan telfon itu dan memberikan ponsel itu kembali pada Sya. Tubuh mereka masih sama-sama polos di dalam selimut. Tidak ada yang berani keluar dari sana.

"Kau bisa pergi ke kamarmu sekarang," ucap Sya.

Arda menggeleng, "Kau masuk ke kamar mandi saja dulu."

Perdebatan kecil kembali terjadi. Sampai akhirnya Sya mengalah. Jika tidak ada yang mengalah, mereka tidak akan pernah kembali ke rumah.

"Kau jangan menghadap kearahku sebelum aku sampai di kamar mandi," ucap Sya.

"Baiklah."

Arda memposisikan dirinya membelakangi Sya. Dia tidak ingin membuat wanita itu merasa risih dan takut padanya.

"Setelah saat ini. Kau tidak boleh menyentuhku lagi," lirih Sya.

Arda menoleh dan membuat Sya langsung menarik selimut kembali.

"Kenapa kau berbalik?" tanya Sya.

"Aku hanya ingin mengatakan sesuatu padamu."

"Apa?"

"Setidaknya kau akan hamil karena kejadian ini. Jadi, kita tidak perlu melakukannya saat sadar."

Buk. Sya melempar bantal kearah Arda. Arda hanya tersenyum kecil.

"Kau memang pria aneh dan menyebalkan."

Sya mengambil sehelai kain dan menutupi tubuhnya dengan itu. Dia masuk ke dalam kamar mandi dan mulai mengguyurkan air ke tubuhnya.

Bagi Sya memang bukan masalah Arda menyentuhnya. Bagaimanapun Arda sudah menjadi suaminya, hal itu wajar. Yang jadi masalah adalah siapa yang melakukan hal aneh itu. Sya juga merasa dirinya berbeda dari sebelumnya setelah disentuh oleh Arda.

Di sisi lain, Arda merasa bersalah karena sudah menyentuh Sya tanpa izin. Arda mengira Sya akan marah dan tidak ingin dekat dengannya lagi.

"Aku harus apa setelah ini. Jika dia benar hamil, mana mungkin aku bisa membuatnya terluka."

***

Langkah Sya terlihat cukup tenang sampai Eri datang dan langsung memeluknya dengan erat. Tidak lama, Arda keluar dengan koper di tangannya. Dia terlihat tampan dan elegan.

"Kalian sudah siap?" tanya Eri.

Sya mengangguk, tapi tidak dengan Arda.

"Apa kau tidak ingin pulang?" tanya Eri pada Arda.

Arda menoleh dan memberikan koper itu pada Eri. Tangan Eri meraihnya sebelum koper itu terjatuh.

"Aku akan pulang dengan mobil sendiri. Kalian bisa pergi," ucap Arda tanpa menoleh pada Sya atau Eri.

"Kenapa kau tidak bawa istrimu ini," ucap Eri dengan keras.

Sya mencubit lengan Eri cukup keras. Eri menatap pada Sya yang terlihat tidak senang.

"Apa ada masalah dengan kalian. Bukankah kalian sudah berbulan madu."

"Diam," ucap Sya dan Arda bersamaan.

Melihat tingkah yang baru saja Eri lihat. Eri tahu jika apa yang dilakukannya sudah membuahkan hasil. Kini, cepat atau lambat Sya dan Arda akan semakin dekat.

"Baiklah. Aku akan bawa Sya lebih dulu dan mengatakan pada nyonya Ken jika kau tidak mau kembali bersama."

"Aku punya urusan perusahaan. Jadi kau cukup diam dan bawa Sya kembali."

"Baik."

Eri memasukan koper milik Sya dan Arda. Lalu dia masuk ke mobil diikuti Sya. Sementara Arda masuk ke dalam sebuah mobil berwarna merah.

"Apa kau dan Arda sedang ada masalah?" tanya Eri saat mobil perlahan berjalan.

Sya tidak menjawab. Dia memilih menurunkan kaca mobil dan menghirup udara segar. Dia tidak ingin mengingat hal gila itu.

"Apa kalian tidak melakukan bulan madu?"

Kali ini pertanyaan Eri berhasil membuat Sya menoleh. Namun, masih dengan tatapan tidak menyenangkan.

"Kau bisa diam dan tidak menceritakannya padaku," kata Eri dengan senyuman.

Ya, bagaimana bisa Sya menceritakan malam tidak terduga itu. Lagi pula sampai saat ini Sya belum tahu siapa yang sudah melakukan hal itu.

***

Sampai di depan rumah. Mila menyambut kedatangan Sya dengan pelukan hangat. Begitu juga nyonya Ken. Dia memberikan senyuman pada Sya.

Ada rasa curiga yang muncul di hati Sya pada nyonya Ken. Hanya saja, dia tidak mampu mengungkapkannya. Sya diam dan memeluk mertuanya itu.

"Bagaimana bulan madumu?" tanya nyonya Ken.

Sya tertunduk karena pertanyaan itu. Mila yang sadar akan sesuatu langsung mendekat pada Sya.

"Dimana Arda. Kenapa kalian tidak kembali bersama?"

"Dia ada urusan perusahaan," jawab Eri.

Nyonya Ken kembali akan bertanya, namun langsung disela oleh Mila.

"Ma, biarkan Sya istirahat. Ini perjalanan jauh dan melelahkan."

Nyonya Ken mengangguk dan kembali masuk ke dalam diikuti oleh yang lain. Sya masih diam sampai di dalam kamar. Mila terus berada di sampingnya.

"Aku tahu kau dan Arda pasti tidak melakukannya. Mama pasti kecewa jika tahu," ucap Mila.

Sya mendongakkan wajahnya. Ada rasa khawatir di wajah Mila saat ini.

"Memangnya ada apa, Kak?"

"Aku tahu, Arda tidak mau menyentuhmu. Dia tidak suka wanita."

Kali ini Sya tersenyum dan mendekat pada Mila. Dia memegang tangan Mila dengan lembut.

"Apa kakak tahu. Kita sudah melakukannya, walau tanpa kami sadari."

Wajah Mila terlihat bahagia kali ini. Dia langsung memeluk Sya dengan erat. Kali ini, Mila benar-benar percaya jika Arda mencintai Sya dengan hatinya.

"Tunggu. Kau mengatakan kalian melakukannya tanpa sadar?" tanya Mila kemudian.

Sya menganggukkan kepalanya.

"Coba kau ceritakan padaku."

Awalnya, Sya mencoba menutupi masalah itu. Hanya saja, dia juga penasaran dengan siapa yang melakukannya. Sya menceritakan pada Mila dengan harapan Mila akan tahu.

"Sya, mungkin semua itu terjadi untuk kebaikan kalian. Sebaiknya, kau tidak mengatakannya pada orang selain aku."

Sya mengangguk.

"Sekarang kau istirahat dulu. Aku akan menemani Sima mengerjakan PR nya."

"Ya, Kak."

Kini Sya kembali sendiri. Dia tidak tahu harus apa, berbaring saja tidak akan membuatnya lupa. Tangan Sya meraih sebuah buku yang berada di dekatnya.

Perlahan dia membacanya. Dengan cara itu, Sya ingin melupakan hal itu. Hanya saja, semakin dia ingin melupakan Sya semakin ingat dengan kejadian itu.

"Apa yang harus aku lakukan?" lirih Sya.

Dia akan mengambil air minum di sampingnya. Di sana kosong, mau tidak mau Sya harus mengambil air minum ke dapur.

Brak. Sya kaget saat membuka pintu sudah ada orang di depan kamarnya. Jovi berdiri dengan senyuman disana.

Sya menoleh ke kanan dan ke kiri. Tidak ada orang lain, hal itu bisa menimbulkan fitnah dan masalah nantinya. Sya mencoba menutup pintu itu kembali, namun Jovi menahannya.

"Jangan takut. Aku hanya ingin bertanya tentang sesuatu."

Sya masih bersikeras menutup pintu itu kembali.

"Apa Arda menyentuhmu?" tanya Jovi.

Kali ini Sya dibuat mematung karena pertanyaan yang Jovi lontarkan.

"Pasti dia tidak menyentuhmu bukan. Dia bukan pria normal, dia hanya mencintai ibunya."

"Dia menyentuhku atau tidak menyentuhku. Itu bukan urusanmu."

"Kenapa kau marah. Kau kecewa? bagaimana jika aku saja yang menyentuhmu. Kau tahu aku sangat mencintaimu."

Plak. Dengan keras Sya menampar wajah Jovi. Awalnya, Sya kira Jovi sudah menyerah akan hubungan gila itu. Sifat Jovi memang sangat mengerikan.

"Jangan ganggu aku dan hidupku," ucap Sya dan langsung menutup pintu.

Dia terduduk saat mengingat apa yang dikatakan oleh Jovi. Bagaimana seorang kakak ipar mampu mengatakan hal yang menjijikan seperti itu.

***

Terpopuler

Comments

Chandra Ponsel

Chandra Ponsel

alah kakak ipar,dlu kau sma dia nya

2021-02-25

1

lihat semua
Episodes
1 I
2 II
3 III
4 IV
5 V
6 VI
7 VII
8 VIII
9 IX
10 X
11 XI
12 XII
13 XIII
14 XIV
15 XV
16 XVI
17 XVII
18 XVIII
19 XIX
20 XX
21 XXI
22 XXII
23 XXIII
24 XXIV
25 XXV
26 XXVI
27 XXVII
28 XXVIII
29 XXIX
30 XXX
31 XXXI
32 XXXII
33 XXXIII
34 XXXIV
35 XXXV
36 XXXVI
37 XXXVII
38 XXXVIII
39 XXXIX
40 XL
41 XLI
42 XLII
43 XLIII
44 XLIV
45 XLV
46 XLVI
47 XLVII
48 XLVIII
49 XLIX
50 L
51 LI
52 LII
53 LIII
54 LIV
55 LV
56 LVI
57 LVII
58 LVIII
59 LIX
60 LX
61 LXI
62 LXII
63 LXIII
64 LXIV
65 LXV
66 LXVI
67 LXVII
68 LXVIII
69 LXIX
70 LXX
71 LXXI
72 LXXII
73 LXXIII
74 LXXIV
75 LXXV
76 LXXVI
77 LXXVII
78 LXXVIII
79 LXXIX
80 LXXX
81 LXXXI
82 LXXXII
83 LXXXIII
84 LXXXIV
85 LXXXV
86 LXXXVI
87 LXXXVII
88 LXXXVIII
89 LXXXIX
90 XC
91 XCI
92 XCII
93 XCIII
94 XCIV
95 XCV
96 XCVI
97 XCVII
98 XCVIII
99 XCIX
100 C
101 CI
102 CII
103 CIII
104 CIV
105 CV
106 CVI
107 CVII
108 CVIII
109 CIX
110 Pengumuman
111 CX
112 CXI
113 CXII
114 CXIII
115 CXIV
116 CXV
117 CXVI
118 CXVII
119 CXVIII
120 CXIX
121 CXX
122 CXXI
123 CXXII
124 CXXIII
125 CXXIV
126 CXXV
127 CXXVI
128 CXXVII
129 CXVIII
130 CXXIX
131 CXXX
132 CXXXI
133 CXXXII
134 CXXXIII
135 CXXXIV
136 CXXXV
137 CXXXVI
138 CXXXVII
139 CXXXVIII
140 CXXXIX
141 CXL
142 CXLI
143 CXLII
144 CXLIII
145 CXLIV
146 CXLV
147 CXLVI
148 CXLVII
149 CXLVIII
150 CXLIX
151 CL
152 CLI
153 CLII
154 CLIII
155 CLIV
156 CLV
157 CLVI
158 CLVII
159 CLVIII
160 CLIX
161 CLX
162 CLXI
Episodes

Updated 162 Episodes

1
I
2
II
3
III
4
IV
5
V
6
VI
7
VII
8
VIII
9
IX
10
X
11
XI
12
XII
13
XIII
14
XIV
15
XV
16
XVI
17
XVII
18
XVIII
19
XIX
20
XX
21
XXI
22
XXII
23
XXIII
24
XXIV
25
XXV
26
XXVI
27
XXVII
28
XXVIII
29
XXIX
30
XXX
31
XXXI
32
XXXII
33
XXXIII
34
XXXIV
35
XXXV
36
XXXVI
37
XXXVII
38
XXXVIII
39
XXXIX
40
XL
41
XLI
42
XLII
43
XLIII
44
XLIV
45
XLV
46
XLVI
47
XLVII
48
XLVIII
49
XLIX
50
L
51
LI
52
LII
53
LIII
54
LIV
55
LV
56
LVI
57
LVII
58
LVIII
59
LIX
60
LX
61
LXI
62
LXII
63
LXIII
64
LXIV
65
LXV
66
LXVI
67
LXVII
68
LXVIII
69
LXIX
70
LXX
71
LXXI
72
LXXII
73
LXXIII
74
LXXIV
75
LXXV
76
LXXVI
77
LXXVII
78
LXXVIII
79
LXXIX
80
LXXX
81
LXXXI
82
LXXXII
83
LXXXIII
84
LXXXIV
85
LXXXV
86
LXXXVI
87
LXXXVII
88
LXXXVIII
89
LXXXIX
90
XC
91
XCI
92
XCII
93
XCIII
94
XCIV
95
XCV
96
XCVI
97
XCVII
98
XCVIII
99
XCIX
100
C
101
CI
102
CII
103
CIII
104
CIV
105
CV
106
CVI
107
CVII
108
CVIII
109
CIX
110
Pengumuman
111
CX
112
CXI
113
CXII
114
CXIII
115
CXIV
116
CXV
117
CXVI
118
CXVII
119
CXVIII
120
CXIX
121
CXX
122
CXXI
123
CXXII
124
CXXIII
125
CXXIV
126
CXXV
127
CXXVI
128
CXXVII
129
CXVIII
130
CXXIX
131
CXXX
132
CXXXI
133
CXXXII
134
CXXXIII
135
CXXXIV
136
CXXXV
137
CXXXVI
138
CXXXVII
139
CXXXVIII
140
CXXXIX
141
CXL
142
CXLI
143
CXLII
144
CXLIII
145
CXLIV
146
CXLV
147
CXLVI
148
CXLVII
149
CXLVIII
150
CXLIX
151
CL
152
CLI
153
CLII
154
CLIII
155
CLIV
156
CLV
157
CLVI
158
CLVII
159
CLVIII
160
CLIX
161
CLX
162
CLXI

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!