Di hari yang sama Anggara datang ke kediaman sahabat Wiratmaja untuk membahas kelanjutan hubungan cucu-cucu mereka, walaupun tujuan sebenarnya adalah berusaha membujuk Wira agar mau membatalkan perjodohan beda kualitas ini. Bukan kualitas hidup ataupun perbedaan kesenjangan sosial diantara keduanya, tapi perbedaan kualitas dari kedua cucu mereka. Kimy si Lugu yang belum pernah tersentuh oleh pria manapun, harus berhubungan dengan pria yang memiliki dengan jam terbang tinggi di bidang s*ks.
"Aku tau maksudmu datang ke tempatku apa," ujar Wira setelah mendengar basa-basi sahabatnya yang cukup lama.
"Kalau kamu tau kenapa tidak kamu kabulkan permohonanku?" Suara Anggara mulai meninggi. "Kamu tau cucuku itu gadis polos, seperti mata air yang belum pernah terjamah siapapun. Tapi tidak dengan cucumu, ck," Anggara berdecak. "Bukan maksud aku menghinamu, tapi kamu juga pasti tau kelakuan bejadnya di luaran sana."
Wira hanya mendengarkan ocehan sahabatnya tanpa satu katapun yang ia sangkal.
"Ternyata kamu sudah menyelidiki latar belakang kehidupan cucuku." Dengan sedikit tertawa dia berbicara seraya menyodorkan cangkir berisi teh yang belum disentuh.
"Aku harus memastikan kualitas calon suami cucu-cucuku. Aku hanya ingin mereka mendapatkan pria baik yang bisa memberikan kasih sayang yang tulus seperti kasih sayang yang selama ini kami berikan kepada mereka," jawab Anggara, seraya menyeruput teh yang mulai mendingin itu.
"Begitupun aku," jawab Wira dengan suara pelan.
"Kumohon, untuk terakhir kali ini aku meminta, batalkan perjodohan ini."
...🌹Flashback On🌹...
Sudah hampir tiga dia menyelidiki kehidupan pribadi cucu kesayangannya, sebenarnya tadinya dia ingin mengetahui siapa wanita yang sedang dekat dengan cucunya, karena sudah hampir kepala tiga, tapi cucunya masih belum pernah membawa seorang wanita pun yang ia bawa untuk diperkenalkan sebagai calon pendamping hidupnya.
"Bagaimana?" tanyanya pada suruhannya. "Siapa perempuan yang sedang dekat dengan anak itu?" lanjutnya.
Bola mata pria yang menjadi suruhannya itu terlihat langsung mengalihkan pandangannya ke arah lain, seperti bingung harus menjawab apa.
"Kenapa?" Wira khawatir.
"Sejauh ini saya tak pernah melihat dia jalan dengan seorang wanita, tapi—" Dia ragu untuk melanjutkannya.
"Tapi apa? JELASKAN SEMUANYA!" Pria tua yang masih disegani banyak orang itu terlihat murka. Dia langsung curiga ada yang tidak baik-baik saja dengan cucu kebanggaannya itu.
"Maaf Pak!" Dia menundukkan kepalanya. "Sejauh ini saya tidak pernah melihat cucu Anda jalan apalagi berkencan dengan perempuan, tapi saya dia sering terlihat tidur dengan wanita-wanita berbeda yang dia pilih di klub." Dengan sedikit ragu dia menyerahkan amplop berukuran coklat kepada pria tua yang duduk di atas singgasananya.
Perlahan Wira membuka amplop coklat yang ada dihadapannya, menarik perlahan isi yang sepertinya berisi lembaran-lembaran foto yang menunjukkan aktivitas cucunya selama tiga bulan ini.
Benar saja, banyak foto kegiatan-kegiatan cucunya, dari mulai berangkat kerja, makan dengan kliennya, fitnes, sampai kegiatannya berbelanja kebutuhan hidupnya pun ada membuat Wira menyunggingkan senyumnya tanpa ia sadari, karena cucu kesayangan yang ia rawat dari kecil kini sudah tumbuh besar menjadi pria tampan nan rupawan, tapi wajah Wira langsung berubah raut saat melihat kelakuan cucu yang ia didik dengan sepenuh hati sedang duduk di klub malam dikelilingi oleh beberapa orang wanita dari kelas rendahan. Ada sekitar lima wanita berbeda yang terlihat ia bawa ke kamar hotel dan itu semakin membuat Wira geram dibuatnya.
Pria tua itu langsung membuka laci meja, merogoh dengan gerakan kasar benda yang ia cari.
"Anda baik-baik saja Pak?" Pria bertubuh kecil yang menjadi suruhannya itu terlihat khawatir saat melihat pria tua di hadapannya langsung menegak pil dan minum dengan tangan gemetar.
"Jangan pedulikan aku!" Dia mengibas-ngibaskan tangannya melihat suruhannya berdiri dan seperti akan menghampirinya. "Apa B*jingan itu selalu seperti ini tiap malamnya?" Sambil melempar beberapa foto Satria yang sedang masuk ke kamar hotel bersama seorang wanita bayaran.
"Tidak Pak, sepertinya dia hanya bersenang-senang saat pikirannya sedang kacau, karena selama tiga bulan saya mengikutinya dia hanya terlihat lima kali pergi ke klub," jawabnya sungguh hati-hati.
"Kamu boleh pergi," ujar pria tua yang masih terlihat gagah di usia senjanya.
"Aku gagal merawat cucu kesayanganmu. Maafkan aku!" Wira berbicara pada bingkai foto kecil istrinya. "Aku harus bagaimana? Andai kamu masih disini, tak mungkin dia akan seperti itu." Tetes air matanya mengalir tak tertahankan.
Sejak saat itu Wira terus memikirkan cucu kebanggaannya tersebut, pria muda yang terkenal sangat handal di bidang bisnis itu ternyata menyimpan kehidupan yang kelam. Pikir Wira.
Hingga akhirnya dia teringat pada perbincangannya dengan sahabatnya dulu yang akan menjodohkan cucu-cucu mereka, saat dia bertemu dengan Kimy di rumah Anggara.
Gadis ceria dan manja itu mengingatkannya pada kelakuan Satria saat kecil dulu. Dan ide untuk menagih janji itu pun datang saat itu juga, ia pun tahu, Amora gadis yang ia jodohkan dengan cucunya dulu pasti menolak permintaannya, hingga ia pun meminta ditukar dengan Kimy, karena memang itulah keinginannya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Gery menyemburkan kopinya saat melihat perempuan berwajah seperti boneka itu duduk tanpa permisi bersama mereka, dia pun langsung menyadari kekeliruannya.
"Kenapa lu?" Satria langsung memberikan botol air mineral kepada Gery yang masih terbatuk-batuk.
"Barbie Idup ini calon lu?" ucapnya sambil terbatuk-batuk.
"Kan tadi udah gue kasih tau ke elu." Satria mengingatkan Gery.
Gery berusaha mengatur nafasnya dan kembali melirik ke arah perempuan yang terlihat kesal saat menatapnya. Dan kemudian terbahak-bahak entah karena apa.
"Ada yang aneh sama muka aku?" Kimy bingung, tapi pertanyaan itu membuat Gery semakin terbatuk-batuk. "Apa salahnya sih punya muka cantik kayak aku?" Kali ini Kimy geram.
"Kagak ada yang salah Neng, cuma lucu aja kalo diajak bobo, berasa ngelonin Barbie." Gery kembali tertawa, bahkan kali ini Satria ikut tersenyum menahan tawanya.
"Diem lu, entar dia mewek gimana?" Satria pura-pura meninju lengan Gery yang tak kalah berotot dengannya.
"Kalian pada nyebelin tau." Kimy langsung menyambar tasnya agar bisa segera pergi dari para pria mesum itu.
"Mau kemana Cil?" Satria menahan lengan kecil Kimy.
"Lepasin! Aku mau pulang!" Kimy berusaha melepaskan cengkraman tangan Satria.
"Kamu gak mau pamit sama Bos kamu?" Gery menggerak-gerakan alisnya.
"Maksudnya?" Kimy masih meronta.
"Dia ini pemilik kafe tempat elu sama temen-temen ngamen Cil. Masa lu kagak tau?" ucap Satria.
Kimy mendelik ke arah pria yang tak kalah menyebalkan dengan calon suaminya itu. "Bodo amat." Kimy tak peduli. "Awas Kak, aku mau pulang!"
"Elu datang sama gue, balik juga kudu sama gue!" Satria menarik tangan Kimy dan memaksanya duduk.
"Aku mau pulang sendiri, emang aku anak kecil apa?" ucap Kimy dengan mata melotot ke arah Satria.
"Emang elu masih kecil, buktinya, noh!" Mata Satria tertuju ke bagian dada gadis bergaun merah muda itu. "Tapi sabar dulu! Kita kan belum foto-foto."
Kimy mengernyit mendengar ucapan Satria. "Ogah!"
"Fotoin kita Nyet!" Dia menyerahkan ponselnya pada Gery, tanpa memperdulikan wajah protes Kimy.
"Siapa juga yang mau foto bareng sama orang mesum kayak kamu?" Kimy meronta saat Satria merangkulnya.
"Ini tuh sebagai bukti kalau hari ini gue beneran ketemuan sama Lu Cil." Satria memasang senyumnya ke arah kamera. "Bisa diem gak sih lu? Apa lu minta gue c*pok biar sekalian lebih bagus hasilnya?"
"Iya, iya, tapi jangan pegang-pegang aku gini napa, bulu-bulu aku merinding nih jadinya." Kimy memperlihatkan tangannya yang dengan bulu-bulu halus yang berdiri.
"Badan dia emang penuh setannya!" sambung Gery.
"****** lu Monyet!" Satria melemparkan sedotan ke arah pria yang sedang memegang ponselnya.
"Kaaak!" rengek Kimy. "Jangan pegang-pegang!" Dia yang tak biasa disentuh pria menjadi tak nyaman saat Satria dengan santainya menyentuh kulitnya.
"Elah nih Bocil kayak pajangan musium aja, kagak boleh disentuh." Seraya melepaskan tangannya dari Kimy.
"Senyum dong! Kayak lagi bikin KTP aja," sindir Gery.
"Siapa juga yang bisa senyum deket sama orang yang nyebelin gini," jawab Kimy.
"Wah beneran nantangin gue cip*k nih bocah!" Kembali merangkul tubuh Kimy agar mendekat ke arahnya.
"IBUUUUU!" Teriak Kimy yang terkejut dengan kelakuan Satria.
Dan akhirnya senyum keterpaksaan pun terbit dari wajah si cantik Kimy saat Satria memaksanya untuk berfoto dengannya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 123 Episodes
Comments
Zi❤Cakra❤Rendra❤️Dean❤Zico
ntar klo dah nikah si jubaedah yg ngebet mulu bang Sat🤣🤣
2025-01-15
0
putri
bang sat dapet maenan baru s kikim yang memiliki wajah Barbie
2024-10-23
1
Siti solikah
ibuuu
2024-09-19
0