Ku buka mataku pelan-pelan dan ku lihat jam didinding menunjukkan pukul tiga dini hari. Aku melangkahkan kaki ku menuju kamar mandi dan mengambil air wudhu untuk sholat tahajud.
Setelah selesai wudhu aku menggelar sajadah dan ku kenakan mukena ku. Aku melihat MasAli masih tidur nyenyak diatas sofa aku berfikir untuk membangunkannya nanti setelah aku selesai sholat.
Tak berapa lama aku selesai sholat dan ku teruskan kegiatan ku dengan berdoa
"ya Allah Engkau yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, kuatkan hamba mu ini ya Allah dalam menjalani lika liku kehidupan didunia Mu, tuntun hambah ke jalan yang Engkau ridhoi Ya Allah, perbaiki diri hamba agar hamba tidak membuat kesalahan yang sama seperti kemarin ya Allah, hamba juga menginginkan ridho dari suami hamba, ya Allah jika Engkau yang menghendaki pernikahan ini hamba minta jadikan keluarga hamba keluarga yang sakinnah, mawaddah, warrohmah, serta jadikan hamba Mu ini menjadi wanita yang taat pada suaminya aamiin" doa ku panjang lebar yang tak terasa membuatku meneteskan air mata dan sedikit terisak.
Belum sempat aku membangunkan Mas Ali dari tidurnya, dia sudah bangun sendiri aku takut ia terbangun karena mendengar isak tangisku, aku takut jika dia tau kalau aku sedang menangis.
Tanpa sepatah kata pun Mas Ali langsung berlalu ke kamar mandi tak berapa lama kenudian dia keluar dan menggelar sajadahnya kemudian melaksanakan sholat tahajud.
Selagi Mas Ali sholat aku melanjutkan rutinitasku setelah sholat tahajud yaitu membaca surah Ar-Rahman dan Al-Khafi. Sedang mas Ali melanjutkan rutinitasnya dengan berdzikir.
Tidak ada percakapan sepatah kata pun diantara aku dan Mas Ali. Sampai terdengar suara adzan Mas Ali bergegas keluar kamar dan melaksanakan sholat subuh di masjid secara berjama'ah.
Aku berfikir untuk ikut sholat di masjid berhubung itu adalah masjid pesantren jadi tidak terlalu jauh aku keluar dari rumah.
Aku melewati lorong pesanten yang banyak sekali santri berlalu lalang di sana. Aku memasuki masjid dan melaksanakan sholat sunnah kemudian duduk untuk menunggu imam yang akan memimpin sholat subuh ini.
Kemudian terdengar suara qamat yang menadakan sholat subuh hendak dimulai. Aku berdiri dan siap untuk memulai sholat subuh.
Ku dengar suara takbir dimana suara itu suara yang tidak asing untuk ku ya itu suara mas Ali. Subhanallah ya Allah hamba belum pernah sholat berjamaah dengan mas Ali dan ini kali pertamanya aku sholat menjadi makmum bersama Mas Ali. Walau berjamaah bersama santri-santri lain tapi aku bahagia ya Allah.
Setelah selesai sholat subuh aku pergi ke dapaur untuk menyiapkan sarapan, pagi ini aku ingin memasak ayam goreng kesukaan Mas Ali.
Setelah selesai memasak aku memanggil Abah Umi juga Mas Ali untuk sarapan bersama.
"Wah siapa ni yang masak" tanya Mas Ali
"Zahra lah Al, sejak ada Zahra Umi udah nggak pernah masak" jawab Umi
"Udah ayo makan Al" kata Abah
"Wah itu masalahnya Bah l, Ali sedang terburu-buru jadi nggak bisa sarapan dirumah" kata Mas Ali
"Loh bukannya kamu nggak bisa nolak sarapan kalau ada ayam goreng kok sekarang malah mau buru-buru kekantor ? " tanya Umi
"Iya Mi ini tu urgen banget jadi Ali harus cepat-cepat berangkat lagian mulai sekarang Al nggak suka ayam goreng Mi" kata Mas Ali sambil menyalami Abah dan Umi kemudian berlalu
"Loh ini istri mu belum" ucap Umi
"Astaghfirullah iya, maaf ya sayang" katanya sambil mengecup pucuk kepalaku.
..
Ku lihat laju mobil yang dikendarai Mas Ali nampaknya Mas Ali masih marah dengan ku tentang masalah kemarin.
Aku melanjutkan sarapan bersama Umi dan Abah.
"Nduk kata Umi kamu sudah selesai ya Al-Qur'annya ? " tanya Abah menbuka percakapan
"Alhamdulillah sudah Bah" jawab ku
"Syukurlah, Abah cuma mau ngomong, Abah sama Umi kan sudah tua Abah minta mulai sekarang bantu Umi dan Abah urusin pesantren, siapa lagi kalau bukan kamu sama Ali yang akan meneruskan pesantren ini, terutama kamu Abah sangat mengandalkan kamu karena kamu cerdas dan mudah merangkul masyarakat jika Abah mengandalkan Ali itu sangat sulit karena Ali sendiri menyibukan diri dengan pekerjaannya .. gimana kamu mau kan Nduk" kata Abah membuat ku terharu
"Tapi bah masih banyak hal yang belum Ra kuasai, Ra takut tidak bisa mengembangkan juga memajukan pesantren" ucapku lirih
"Nduk kamu itu hebat tapi kamu belum mencobanya jadi kamu merasa seperti itu .. dan buat Ali sadar akan kewajibannya pada pesantren, bismillah pasti kamu bisa nduk" kata Abah
Aku menganggukkan kepala tanda setuju.
...
Sejak saat itu aku mulai aktif mengurus pesantren, mulai dari waktu untuk mengaji santri, kitab yang dipelajari, pengajian rutinan pesantren setiap bulan, sampai pengajian ibu-ibu bulanan Umi.
Aku merasa ada kesibukan tersendiri yang membuatku menjadi sedikit melupakan rasa sakit ku.
"Nduk sekarang giliran pengajian ibu-ibu kamu nggak lupa kan ? .. " tanya Umi
"Tidak Umi ini Ra juga lagi siap-siap mau berangkat" jawab ku.
"Materi yang akan kamu jelaskan tentang apa Nduk" tanya Umi
"Ingsyaallah tentang cara Rasulullah memulyakan seorang wanita" kataku
"Subhanallah bagus banget semoga lancar ya sayang" ucap Umi dengan memelukku
...
Tak lama kemudian aku sampai di tempat pengajian ibu-ibu.
Ku berikan salam dan sedikit pembukaan kemudian sedikit ceramah bla bla bla.
Sedikit kutipan ceramahku tadi yang sedikit menampar ku.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Jadi ibu-ibu jamaah pengajian yang di rahmati Allah banyak sekali kemesraan-kemesraan yang dilakukan oleh Rasulullah saw pada istri-istrinya diantaranya yaitu:
Mengusap Air Mata Istri
Diriwayatkan dari Anas Bin Malik RA, ia berkata sebagai berikut:
...« كانت صفية مع رسول الله صلى الله عليه وسلفي سفر وكان ذلك يومها فأبطت في المسير فاستقبلها رسول الله صلى الله عليه وسلم وهي تبكي وتقول حملتني علي بعير بطئ فجعل رسول الله صلى الله عليه وسلم يمسح بيديه عينيها »...
Artinya, “Suatu ketika Shofiyah bersama Rasulullah SAW dalam perjalanan. Sedangkan hari itu adalah bagiannya. Tetapi Shofiyah sangat lambat sekali jalannya, lantas Rasulullah SAW menghadap kepadanya sedangkan ia menangis dan berkata, ‘Engkau membawaku di atas unta yang lamban.’ Kemudian Rasulullah SAW menghapus air mata Shofiyah dengan kedua tangannya.” (HR Nasa’i dalam As-Sunanul Kubra [nomor 9162]).
~Aku sedikit berfikir sungguh akhlak Rasulullah yang sangat indah memuliakan seorang wanita. Aku teringat tak sekali pun Mas Ali menghapus air mata ku malah dia yang mengakibatkan keluarnya air mataku.~
Kemudian Mengantar Istri
Diriwayatkan dari Ali bin Husein RA, ia berkata:
...كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي الْمَسْجِدِ وَعِنْدَهُ أَزْوَاجُهُ فَرُحْنَ فَقَالَ لِصَفِيَّةَ بِنْتِ حُيَيٍّ لَا تَعْجَلِي حَتَّى أَنْصَرِفَ مَعَكِ...
Artinya, “Suatu ketika Nabi SAW berada di masjid (Nabawi), sedangkan istri-istrinya ada di dekatnya kemudian mereka pulang. Rasulullah bersabda kepada Shafiyah binti Huyay: ‘Jangan buru-buru agar aku bisa pulang bersamamu.’ (HR Bukhari [nomor 1897]).
Dalam riwayat lain disebutkan:
...أَنَّ صَفِيَّةَ زَوْجَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَخْبَرَتْهُ أَنَّهَا جَاءَتْ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تَزُورُهُ فِي اعْتِكَافِهِ فِي الْمَسْجِدِ فِي الْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ فَتَحَدَّثَتْ عِنْدَهُ سَاعَةً ثُمَّ قَامَتْ تَنْقَلِبُ فَقَامَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَعَهَا يَقْلِبُهَا...
Artinya, “Sungguh Shafiyah istri Nabi SAW mengabarkannya (Husein bin Ali) bahwa ia mendatangi Rasulullah SAW yang sedang i’tikaf di masjid (Nabawi) pada 10 hari terakhir Ramadhan. Kemudian ia berbincang dengan Nabi beberapa waktu lantas berdiri untuk pulang. Kemudian Nabi SAW berdiri dan pulang bersamanya.” (HR Bukhari [nomor 1894]).
~Aku teringat tak sekali pun Mas Ali mengantarku setiap aku hendak pergi kemana saja~
Kemudian yang terakhir Panggilan Khusus
Rasulullah SAW suka memanggil Sayyidah Aisyah dengan panggilan kecil:
...« يَا عَائِشَ » « يَا عُوَيْش »...
“Ya Aisy” (HR Bukhari [nomor 3768] dan Muslim [nomor 4480]).
“Ya Uwaisy” (HR Ibnus Sunni [nomor 454]).
Panggilan yang pertama merupakan pemenggalan huruf akhir. Sedangkan yang kedua adalah pemenggalan huruf akhir sekaligus panggilan kecil. Dalam kultur Arab pemenggalan huruf akhir dan panggilan kecil menunjukkan panggilan manja/tanda sayang.
Bukan hanya memenggal huruf akhir atau panggilan kecil, Rasulullah SAW juga mempunyai panggilan khusus untuk Sayyidah Aisyah RA sebagaimana dalam banyak riwayat hadits (Ibn Majah [nomor 2465], An-Nasa’i dalam As-Sunanul Kubra [nomor 8951], At-Thabrani dalam Al-Mu’jamul Kabir [nomor 18433], Baihaqi dalam Syu’abul Iman [nomor 3675], Al-Hakim [nomor 4587] dan lain-lain. Rasulullah SAW memanggil Sayyidah Aisyah dengan Humaira’ (حميراء) yang artinya adalah putih kemerah-merahan.
Ibnul Atsir menyebutkan dalam An-Nihayah (1/1044):
...كان يقول لها أحيانا يا حُمَيْراء تَصْغير الحَمْراء يريد البَيْضاء...
Artinya, “Beliau (Rasulullah SAW) sering memanggilnya (Aisyah) ‘Ya Humaira’ yang merupakan bentuk tasghir (panggilan kecil) dari ‘Hamra’ (merah) sedangkan yang dimaksud adalah putih.”
Ibnul Jauzi menyebutkan dalam Kasyful Musyukil (juz I, halaman 1202):
...والعرب تقول امرأة حمراء أي بيضاء...
Artinya, “Orang Arab berkata, ‘Wanita yang merah,’ artinya putih.”
Qadhi Iyadh menyebutkan dalam Masyariqul Anwar (juz I, halaman 702):
...قوله لعائشة يا حميراء تصغير إشفاق ورحمة ومحبة...
Artinya, “Perkataan beliau kepada Aisyah ‘Ya Humaira’ adalah bentuk tasghir (panggilan kecil) kasih sayang dan cinta.”
~Bagaimana panggilan sayang yang diberikan Mas Ali padaku hanya sandiwara belaka~
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Bagaimana ibu-ibu apa suami-suami ibu sudah seromantis Rasulullah saw? " tanyaku pada jamaah
"Belum ustadzah " serentak jawab ibu-ibu pengajian
"Semoga suami-suami kita bisa mencontoh kemesraan-kemesraan yang di ajarkan Rasulullah juga cara Rasulullah menghormati wanita Aamiin aamiin ya Rabb.. sekian pengajian pada hari ini mari kita tutup dengan doa dan hamdalah .......... mungkin sekian dari saya kurang lebihnya mohon maaf Wassalamu'allaikum. wr. wb" menutup kegiatan pengajian.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 94 Episodes
Comments