Flashback On
Mansion kediaman Justin.
"Mobil sudah siap, Tuan." Zay bicara pelan sambil membuka pintu mobil bagian belakang.
"Hmm." Justin melangkahkan kakinya masuk kemudian menghempaskan tubuh ke kursi.
"Zay," ucapnya pelan.
"Iya, Tuan."
"Apa bensin mobil--"
"Sudah penuh, Tuan." Zay berkata cepat.
"Apa kau sudah--"
"Sudah, Tuan." Lagi-lagi Zay memotong kata-kata Justin.
"Sudah apa? Aku bahkan belum menyelesaikan kalimat ku!"
"Ma-maafkan saya, Tuan."
"Jalan 'kan mobilnya, aku ingin kau membeli minuman dingin di pinggir jalan untuk ku."
"Baik, Tuan."
Mobil mulai melaju meninggalkan mansion kediaman Justin. Kendaraan itu membelah kemacetan ibu kota yang padat, hingga berhenti di depan sebuah cafe yang memang tak sengaja di jumpai mobil mereka.
"Anda ingin minum apa, Tuan?" Zay sudah memberhentikan mobil. Melirik pantulan wajah Justin dari balik spion kaca yang ada di dekat kepalanya.
Justin menyeringai. "Orange juice," katanya penuh rencana licik.
Ah, sial! Kenapa harus muncul senyuman itu. Sudah dapat di pastikan bahwa hari ini Zay akan di timpa kesialan. "Segera saya belikan, tuan." Zay mulai melangkah pergi. Pasrah, mau menolak pun tak mungkin.
Selang beberapa menit kemudian, Zay terlihat berjalan ke arah mobil sambil membawa sebuah cup berisi minuman yang di pesan oleh Justin.
"Ini minuman yang Anda ingin 'kan, tuan."
Justin menyambut minuman itu, dia segera menyeruputnya hingga tinggal setengah. Sedangkan Zay hanya menatap tanpa berkomentar.
"Rasanya tidak terlalu enak. Ini pasti karena wajah mu, cepat belikan yang lain." Dengan wajah tak tahu diri Justin menyodorkan minumannya.
Tunggu, dia bilang apa? Karena wajah Zay? Memangnya dia sedang melihat apa coba sampai minumannya jadi tidak enak.
"Ya, yang lain, tuan?" Zay masih tak percaya. Dia melihatnya dengan sangat jelas kalau Justin meminumnya sampai habis setengah.
"Iya, beli minuman yang lain." Justin memperjelas kembali kata-katanya.
Waktu sudah berlalu hampir setengah jam. Kini mobil baru bisa melanjutkan perjalanan setelah menuruti permintaan orang gila yang entah sengaja mengerjainya atau memang kehausan itu.
"Apa Anda baik-baik saja, tuan? Anda sudah minum-minuman dingin terlalu banyak pagi ini." Zay terlihat khawatir.
"Kau pikir aku ini siapa? Hanya minuman seperti itu saja tidak akan mempengaruhi kondisi tubuh ku," kata Justin begitu bangganya.
"Zay." Bicara lagi.
"Iya, tuan."
"Kau suka pria atau wanita?" Justin berhasil membuat Zay terlonjak saat mendengarnya.
Apa lagi ini?
"Tentu saja saya menyukai wanita, tuan."
Gila ya, siapa juga yang mau main pedang-pedangan.
"Oh. Aku tidak pernah melihat kau dekat dengan seorang wanita, ku pikir kau memang tidak tertarik."
Sialan! Aku juga masih pria normal.
"Bukan tidak tertarik, tuan. Saya hanya belum bisa menentukan pilihan."
Justin menutup matanya. Zay melirik sambil menghela nafas pelan. Akhirnya pria itu berhenti bertindak aneh, terlalu kesal di pagi hari juga tidak terlalu baik untuk kondisi tubuhnya.
"Beberapa hari yang lalu saya mengirim undangan perekrutan karyawan baru, tuan." Justin tak merespon. Masih diam tapi kupingnya tengah fokus mendengarkan. "Saya pernah bertemu dengannya saat mewakili Anda untuk menghadiri acara amal di luar negeri."
"Pria atau wanita?" Justin berucap membuat Zay melirik ke arah Justin sekali lagi lewat pantulan kaca spion mobil. Ini bukan semacam pertanyaan tipuan, 'kan?
-
-
-
-
-
***
BERSAMBUNG...................
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 145 Episodes
Comments
Retrouvailles♕
hhmmm kirain justin yang nyuruh nyelidikin issabella
2022-02-05
1
Minah Cho
main pedang pedangan kan 🤣🤣🤣🤣
2021-10-14
1
Sarti Patimuan
Justin pertanyaannya aneh aneh
2021-07-28
1