Setelah sarapan Isabella masuk ke dalam kamar. Dia berhenti di depan sebuah cermin sambil menatap pantulan wajahnya.
"Semoga hari ini berjalan dengan lancar." Merenggangkan tubuh sambil tersenyum. Kemudian berjalan ke kasur dan mendudukkan dirinya di sana.
"Tak terasa sekarang sudah 5 tahun lamanya. Keadaan negara ini sudah banyak berubah. Kira-kira bagaimana kabar Justin sekarang, ya?" Isabella menghela nafas panjang lalu menghempaskan tubuhnya ke belakang. Menatap langit-langit kamar minimalis yang dia tempati sekarang.
"Setelah 5 tahun hidup di luar negeri ternyata aku memang merindukan negara ini, ya. Tempat semua kenangan awal ku di mulai ..." Isabella mulai hanyut dalam memori masa lalu seraya menutup mata. Tersenyum sambil membayangkan wajah seorang pria yang sangat di cintai-nya. Dulu.
Alarm di ponsel berbunyi. Ia membuka kelopak matanya. Menolehkan kepala pelan dan meraih ponselnya di ujung kasur. Isabella terperanjat. "Astaga, ini sudah terlambat!" Bergegas turun dari kasur dan masuk ke dalam kamar mandi.
***
Isabella sudah siap dengan setelan baju kerjanya. Terlihat rapih, walaupun itu adalah baju lamanya yang biasa saja. "Semoga masih sempat." Isabella menyemprotkan parfum murah yang dia beli di supermarket. "Ah, rasanya lebih baik." Menghirup aroma wangi yang mulai mendominasi ruangan. Setelah itu melangkah pergi keluar kamar.
"Kak, aku berangkat ke sekolah, ya!" seru Leon dari depan pintu masuk setelah selesai memakai sepatu.
"Kamu berangkat sama siapa?"
"Sama Zen. Tuh, dia sudah menunggu di depan." Leon menunjuk menggunakan bibirnya kemudian berlari setelah menutup pintu.
Isabella masuk ke dalam kamar David. Bocah kecil itu sedang sibuk dengan semua mainannya. Tak sadar kalau Isabella sedang memperhatikan.
"Sayang ... Mama mau pergi melamar pekerjaan. Kamu baik-baik di rumah sama Tante mu, ya?"
"Iya, Ma!"
Isabella tersenyum, berjalan mendekat ke arah putranya. "Anak pintar," pujinya sambil mengacak-acak rambut David dengan gemas dan melangkah keluar rumah.
"Eh, Isabella? Kamu sudah siap saja pagi-pagi begini." Rissa tersenyum ramah.
"Mau bagaimana lagi? Aku harus cari pekerjaan agar tidak mati kelaparan, 'kan? Haha." Tertawa pelan. "Tolong jaga David, ya," berucap lagi sambil tersenyum.
"Tenang ... aku pasti akan menjaga David dengan baik. Lagi pula Frank juga butuh teman bermain, 'kan?"
Isabella memang selalu menitipkan David pada Rissa. Wanita itu bukan hanya sahabatnya namun juga sekarang adalah tetangganya. Walaupun tak memiliki hubungan darah, namun Rissa selalu bersikap baik terhadap David seperti anaknya sendiri.
Rissa juga sama seperti Isabella, memiliki seorang anak tapi tak memiliki suami. Karena itulah mereka harus mencari uang untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka masing-masing.
Rissa bekerja sebagai pengasuh David selama Isabella pergi bekerja. Dia tak lagi khawatir kalau masalah David sudah di serahkan kepada sahabatnya itu. Sejak dulu dia sudah merawat Isabella dengan penuh kasih sayang. Bahkan saat tinggal di luar negeri mereka sama-sama berjuang untuk bertahan hidup.
"Leon sudah pergi?"
"Iya, tadi pergi sama Zen. Sahabat kecilnya dulu."
Rissa mengangguk kemudian masuk ke dalam rumah Isabella. Mereka memang baru 1 bulan terakhir tinggal di tempat itu. Dia pernah membahas soal siapa ayah dari Frank—anaknya Rissa. Tapi wanita itu selalu diam dan tak ingin membahasnya.
"Mbak, Isabella ya?" Seorang driver bertanya menggunakan jaket berlambangkan sebuah perusahaan yang bergerak di bidang jasa antar.
"Iya, Mas. Sesuai lokasi ya." Pria itu menyerahkan sebuah helm dan langsung di sambut oleh Isabella. Mereka mulai beranjak pergi, menuju perusahaan yang akan menjadi tempat Isabella melamar pekerjaan.
-
-
-
-
-
***
BERSAMBUNG...................
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 145 Episodes
Comments
Retrouvailles♕
kenapa aku deg2an yah ngomongin anaknya rissa..udah sakit duluan hatiku..semoga cuma prasangka ku ya..
2022-02-05
1
ʀɪsᴛʏ ࿐
jangan sampai Frank itu anaknya Justin😱
2021-08-03
1
Sarti Patimuan
Mungkinkah Frans anaknya Justin
2021-07-28
1