Isabella duduk termenung di atas ranjangnya. Melamun, sambil menatap alas tidurnya seolah menjadi teman bicara dalam diam.
"Kenapa aku bisa begitu bodoh sampai menyia-nyiakan kebahagiaan yang selama ini berada di depan mata ku? Aku bahkan telah mengecewakan Justin padahal dia selalu baik dan menyayangi ku dengan sepenuh hatinya." Isabella merasa sungguh sangat bodoh.
"Wajar saja kalau dia ingin bercerai dari ku, istrinya ini memang tidak membalas kehangatan yang telah dia berikan. Wanita macam apa aku ini? Sampai lupa dengan orang yang bahkan sangat penting bagi diri ku. Sekarang yang tersisa hanyalah sebuah akhir. Akhir yang tidak pernah sedikitpun ku inginkan."
Isabella menghela nafas panjang. Perasaannya bercampur aduk seolah mengganjal dada. Mencoba untuk tetap tegar juga butuh banyak energi.
Isabella memainkan jarinya di atas seprai. Menikmati kehangatan yang sebentar lagi akan sirna dari kehidupannya. Entah kapan tempat tidur seperti itu bisa kembali menjadi milikinya. Kasur yang di jahit langsung dengan benang-benang wol kualitas terbaik dunia.
Semua barang-barang impor terkenal dan ternama. Memikirkannya saja sudah membuat Isabella frustasi apalagi kalau membayangkan seisi rumah itu akan kembali menjadinya. Seperti mimpi di siang bolong.
Isabella bangkit dari tempat tidur, berjalan mengelilingi ruangan itu sambil menatap dan menyentuh satu persatu benda-benda yang ada di sana. "Kalian harus jaga diri kalian baik-baik, ya ..." Isabella kenapa? Apa otaknya jadi gila dan mulai berbicara dengan benda mati?
Isabella berhenti di sebuah foto. Berada tepat di samping kasurnya. Menampilkan 5 wajah orang dengan raut wajah bahagia.
"Melihat senyuman kalian seperti membawa ku kembali ke masa lalu." Isabella menyentuh wajah orang-orang yang ada di foto. Bibirnya mulai bergetar. Tatapan matanya mulai teduh. "Mama... Papa, Kakak, Adik ... maafkan aku." Air mata bening mulai mengalir. Sepertinya kata maaf saja tidak cukup. Satu kata itu tidak akan membuat keluarganya kembali.
"Maafkan aku ... maafkan atas semua kesalahan ku ..." lirihnya dengan air mata penyesalan. "Aku memang wanita yang buruk dan tidak tahu terima kasih ..." Rasanya sakit. Dadanya seperti akan hancur bertaburan.
"Aku memang bodoh! Hiks, tidak berguna dan hanya bisa menyusahkan kalian. Tapi tolong kembalilah ... aku sangat menyayangi kalian ... tolong kembalilah ..." Derai air matanya sudah pecah membasahi pipi. Sakit yang teramat sakit hingga kata menyesal pun sudah tidak berguna.
"Terima kasih karena telah menjaga ku selama ini ... terima kasih karena telah merawat anak mu yang tidak berguna ini. Aku ... aku tahu mungkin anak mu ini memang tidaklah berbakti."
"Tapi, aku akan berusaha sekuat tenaga untuk menemukan kalian hidup atau pun mati. Aku akan bekerja untuk mengumpulkan dana agar bisa mencari tahu tentang keberadaan kalian, jadi ... ku mohon jangan menangis di sana ..."
Isabella menangis sesenggukan, memeluk bingkai foto dengan sepenuh jiwa. Sakit. Dadanya benar-benar terasa sakit hingga tempat terdalam.
"Mama ... Papa ... Isabella di sini. Menunggu kalian untuk makan bersama lagi seperti dulu. Tolong ... tolong kembalilah ..." Bibirnya bergetar, tubuhnya seolah lemas tak berdaya.
"Kenapa Tuhan!! Kenapa engkau membuat ku merasakan hal ini ... kalau aku memang bersalah hukumlah aku! Tapi jangan kau hukum keluarga ku ..." Isabella memandang langit-langit kamarnya. "Mama, Papa ... tolong maafkan aku ... maafkan kesalahan putri mu yang tidak tahu terima kasih ini ..." Menyeka air matanya. "Semoga, kalian baik-baik saja di sana..."
.
.
.
Terkadang, penyesalan lah yang membuka mata kita tentang kesalahan yang sejak awal tak sedikitpun kita sadari. — Zero Antoni.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 145 Episodes
Comments
Retrouvailles♕
memang pergi kemana yah..kok bisa sekeluarga semuanya..
2022-02-05
1
Kᵝ⃟ᴸ 𝙰𝚛𝚘𝚑𝚊🔹𝑒𝐿𝑒_𝒞𝓎𝑒
jarum jam akan tetap menunggu jikalau hbis batre,ingat itu🤪🤪
komen ku telat...tp bomat soale gak bisa ditahan buat komen🙈
2021-09-15
2
CR⃟7Naikenz *🎯Hs
Penyeslan selalau datang terlambat 😔😔
2021-08-19
2