Malam hari, Rigel tidak bisa tidur mengingat apa yang terjadi pada pertemuan dengan raja. Rigel sedang berkeliling istana sendiri. Rigel sampai di taman kerajaan. Taman itu di hiasi dengan perkarangan bunga yang indah serta pepohonan yang hijau. Ada beberapa patung air mancur serta tempat untuk beristirahat.
Wosh.
"Hmm?"
Di tengah taman ada seorang gadis muda berambut kuning keemasan yang sedang duduk. Gadis itu menggunakan piyama tidur putih polos, rambut pirang indahnya tertiup angin, matanya yang biru sangatlah jernih sampai sinar bulan terpantul di bola matanya.
Dia adalah Tuan Putri, Tirith Pendragon Vi Britannia. Rigel menghampirinya dan memberikan sapaan ringan.
"Yo, apa yang sedang anda lakukan di malam-malam begini, Tuan Putri?"
"Oh, kalau tidak salah anda adalah Creator Hero, Tuan Amatsumi Rigel, ya?"
Rigel mengangguk sebagai jawaban dan dia duduk di samping Putri Tirith.
"Aku sedang menatap bintang bintang di langit, Tuan Creator Hero."
Rigel sedikit terganggu dengan formalitas Tuan Putri.
"Kau boleh memanggilku Rigel, Putri Tirith. Sebenarnya aku benci dengan formalitas seperti ini. Jadi, bisakah aku berbicara denganmu tanpa formalitas?"
Rigel tidak terbiasa berbicara menggunakan bahasa yang formal. Karena di dunianya dulu, dia hampir tidak pernah menggunakan formalitas kepada siapapun lawan bicaranya, tentu saja orang lansia tidak termasuk. Tirith sedikit terkejut, dia tersenyum kepada Rigel dan mengangguk setuju.
"Kalau begitu, aku akan memanggilmu Tirith, ya?"
"Baiklah, Creator hero—, Rigel."
"Sejujurnya, aku sangat terkejut dengan apa yang kau lakukan di aula kerajaan. Pertama kali aku melihat Ayah semarah itu, sampai sampai aku hampir tidak bisa menahan tawa."
"Tetapi pada akhirnya kamu malah tertawa terbahak-bbahak. Aku pikir awalnya kau gemetar karena marah, namun ternyata sebaliknya."
Mendengar ucapan Rigel, Tirith kembali tertawa, Rigel hanya bisa tersenyum melihat Tuan Putri yang imut ini tertawa. Sebelumnya, saat Rigel hendak pergi ke kamarnya, dia memberikan penghormatan atau lebih tepatnya sebuah penghinaan.
Kilas balik...
"Oh iya. Sebelum aku pergi, sebagai pahlawan aku akan memberikan kalian sebuah penghormatan. Bahkan, para pendahulu kalian mungkin tidak pernah mendapatkan ini."
Rigel mulai membusungkan bokongnya dan mencoba mengeluarkan bunyi serta aroma tertentu. Wajahnya sedikit memerah karena mendorong sesuatu yang luar biasa dari bokongnya, gas mematikan yang memecah bangsa.
Tut.
Suara kentut dari seorang pahlawan bergema di aula.
"Pft!! Ahahahaha! "
Seorang gadis yang entah mengapa sejak tadi gemetar menahan sesuatu, kini mulai mengeluarkan sesuatu itu. Tuan Putri rupanya sudah menahan tawa sejak Rigel mulai mengejek Raja. Hal itu membuat Rigel tersenyum sekaligus malu.
"Terimalah kehormatan dariku dengan penuh suka cita! Hiruplah sepuas kalian seolah gas ini hanya ada satu dari setiap dunia!"
Kehormatan yang dimaksud Rigel adalah Kehormatan untuk mencium aroma suci dari seorang Pahlawan. Rigel tertawa bersama tuan putri dan berjalan menuju kamar.
"Kau tahu, pada awalnya kupikir para pahlawan adalah sekumpulan orang sombong dan keren. Tetapi setelah melihatmu di aula tadi... Pft!"
Tirith kembali tertawa. Rigel sedikit malu dengan apa yang dilakukannya tadi. Lalu, dia segera mengganti topik.
"Umm, mari kita simpan cerita itu untuk lain waktu. karena kau mengamati bintang, apakah kau tahu kalau bintang memiliki banyak nama?"
"Ehh? Aku tidak pernah dengar bahwa bintang mempunyai banyak nama? Apakah kau mengetahuinya?! "
Tirith terlihat sangat bersemangat saat Rigel memberitahunya jika bintang memiliki nama. Rigel tersenyum terhadapnya yang bersemangat dan dia wajahnya sedikit memerah.
"Yaa, aku tahu beberapa, lagipula namaku adalah salah satunya. Rigel adalah nama bintang paling terang ke-7 di langit malam. Selain Rigel, ada banyak nama lagi."
Dia tampak sangat bersemangat saat Rigel mulai menjelaskan tentang bintang-bintang. Nampaknya Tirith benar-benar tertarik dengan bintang-bintang di langit. Di dunia ini, nama-nama bintang tampaknya angin segar baginya.
"Tidak kusangka bintang memiliki banyak nama dan hal hal yang tidak kuketahui. Kau benar benar hebat, Rigel! Aku tidak pernah punya orang yang bisa kuajak bicara tentang bintang sebelumnya." Ujar Tirith selagi tersenyum dan tampak sedikit kesepian.
"Hmm, lalu dari siapa kamu mengetahui soal bintang?"
"Aku mengetahuinya dari mendiang ibuku."
Tirith terlihat sedih sesaat menyebutkan fakta bahwa ibunya telah meninggal dunia. Rigel merasa bersalah dan meminta maaf.
"Ahh, maafkan aku, aku tidak mengetahui bahwa ibumu sudah meninggal!"
"Tidak. Aku tidak terlalu memikirkan itu, yang lebih penting tolong lanjutkan ceritamu tentang orang yang terbang menembus angkasa!!"
Dia sangat bersemangat untuk membahas tentang Astronot ya.
"Yah , baiklah. Kau tahu, setelah pergi menembus langit yang tinggi itu, sudah ada manusia di duniaku yang menginjakan kakinya di bulan. yang lebih hebatnya lagi jejak kakinya tidak akan menghilang bahkan setelah jutaan tahun lamanya!!"
Tirith terlihat seperti anak kecil yang sedang mendengarkan cerita dongeng. Dirinya yang seperti itu membuat Rigel gemas dan bersemangat menceritakan lebih jauh lagi.
"Di duniaku, ada sebuah tempat yang bernama observatorium. Tempat itu memiliki alat untuk mengawasi bintang dan planet. Kau bisa melihat bintang dan planet lebih dekat dari yang kau lihat di sini. Di angkasa sana terdapat miliaran bintang yang tak terhitung jumlahnya. Ada banyak hal yang belum diketahui bahkan di duniaku. Jika alam semesta adalah kain putih yang lebar, aku akan merasa sangat-sangat kecil di banding alam semesta bahkan aku tidak akan bisa disebut noda di kain putih itu."
Rigel mengatakan sebuah perumpamaan yang cukup bagus. Di hadapan alam semesta yang bahkan luasnya tidak di ketahui, manusia hanya akan tampak seperti debu di angkasa yang teramat luas ini.
"Kau memiliki perumpamaan yang bagus Rigel. Aku sedikit iri denganmu yang telah bisa melihat bintang lebih dekat dan kupikir jumlah mereka hanya ada ratusan atau bahkan ribuan tapi tidak kusangka jumlahnya ada berkali lipat lebih banyak dari itu."
Tirith membuat ekspresi yang sulit di jelaskan.
"Aku juga ingin melihat bintang lebih dekat dari yang aku lihat di halaman. Dan mungkin aku akan menemukan bintang tempat ibu berada."
Ini merupakan cerita klise yang ada dalam cerita manapun. Saat seorang ibu yang tidak memiliki waktu lagi, dia akan menceritakan sesuatu seperti menjadi bintang dan akan terus mengawasi dari jauh.
"Kau tahu Rigel, saat usiaku berumur delapan tahun, di saat terakhir hidupnya sebelum ibuku meninggal, dia bilang kepadaku bahwa aku harus terus melangkah maju apapun yang terjadi, aku tidak boleh menyerah. Dia bilang kalau dia akan menjadi bintang dan tetap mengawasiku dari jauh. dia menyuruhku untuk melihat ke langit jika aku merindukannya dan aku ingin mencari bintang dimana ibuku berada bahkan terkadang ayahku ikut menemaniku mencari lokasi dimana bintang ibu berada."
"Tetapi, setelah mendengar ceritamu tentang fakta bahwa ada miliyaran bintang di angkasa, mungkin mustahil ya mencari bintang tempat dimana ibuku berada. Aku tahu mungkin ibu berbohong padaku agar aku tidak terlarut dalam kesedihan. Tetapi, aku ingin tetap mempercayainya. Ahh, maaf ya aku malah menceritakan kisah sedih padahal kita baru saja bertemu." Tirith tersenyum sambil mengusap air matanya.
Jadi Tirith telah melalui banyak hal berat ya. Itu seperti cerita umum di bumi yang bisa kau temukan di manapun. Tetapi untuk mengalami hal itu di umur semuda ini, cukup menyakitkan.
"kau memiliki orang tua yang penyayang ya?"
Tirith hanya mengangguk sebagai jawaban dari pertanyaan Rigel.
"Yah, meskipun aku bilang begitu, aku tidak mengerti bagaimana rasanya di cintai oleh orang tua."
Tirith menatap diam Rigel. Seolah tidak dapat memahami makna dari kata katanya. Rigel tidak memiliki orang tua.
"Aku bahkan tidak tahu seperti apa wajah orang tuaku, aku di tinggalkan di sebuah panti asuhan kecil. Meskipun itu panti asuhan, rumah bagi anak anak yang tidak memiliki orang tua. Bagiku dan anak anak lain, tempat itu seperti neraka. Kami tidak mendapatkan kasih sayang dari para perawat dan dipaksa bekerja. Jika tidak bekerja, kami tidak akan mendapat jatah makan. Makanannya sangatlah buruk. Aku bahkan pernah memakan nasi yang sudah mulai berjamur. Kebaikan mereka hanyalah satu, mereka masih mengizinkan kami untuk bersekolah dan pergi dari panti asuhan saat sudah cukup umur."
Rigel terus menceritakan kisahnya. Dia tidak memperhatikan sekitar. Meskipun dia merasa ada tatapan lain yang menatapnya, namun dia mengabaikannya dan lanjut bercerita.
"Tapi, terkadang saat aku melihat anak anak yang bergandengan tangan dengan orang tua mereka. Kupikir, orang tua akan melakukan hal apapun demi anak yang mereka sayangi. Yah, hal yang ingin kusampaikan adalah sejauh apapun mereka pergi, mereka pasti akan tetap memperhatikanmu dari suatu tempat. Mungkin saja, ibumu sedang memperhatikanmu di sisi lain dunia ini."
Saat Rigel hendak melihat Tirith yang berkaca kaca, Rigel melihat satu sosok gadis di belakang air mancur. Rigel menghampiri gadis itu. Gadis itu sedang duduk menekuk kedua kakinya sambil menangis.
"Y-yuri?! Apa yang kau lakukan? Kau menguping pembicaraan orang?! Hobimu sungguh jelek!
Rigel merasa sangat malu dan menyesal karena telah menceritakan masa lalunya.
"UuuUuu, pada awalnya, aku, aku berfikir untuk mengganggu kencan kalian. Saat aku hendak mengejutkan kalian, aku mendengar kau mulai bercerita dan aku mendengarkannya. Setelah kau bercerita-aku mulai teringat akan orang tuaku. Pada awalnya aku berfikir hidup seorang diri tanpa orang tua mungkin akan menyenangkan."
"Namun setelah mendengar ceritamu, aku menyesal pernah berfikir untuk tidak memiliki orang tua. Dan- dan HUAAAAAAAAAA!!"
Yuri mulai menangis dengan kencang.
"Kau tahu, pada awalnya kupikir kau wanita yang cantik dan feminim. Namun, setelah mendengar kau mengendap ngendap dan menguping, kau menghancurkan kesanku."
Tirith tersenyum dan memeluk Yuri yang menangis. Malam itu, Rigel dan Tirith berusaha menghibur bayi— Yuri yang menangis.
***
Di belakang layar, ada sosok pria muda yang memperhatikan Rigel dari jauh.
Tch!
Dia mendecakan lidahnya karena kesal melihat Tuan putri tampak akrab dengan Rigel.
"Sialan kau, Rigel!"
Tiba tiba, suara seorang pria tua terdengar.
"Sepertinya kau memiliki dendam dengan pahlawan Creator ya?"
Pria muda itu mencari sumber suara tersebut dan menemukan seorang pria tua menggunakan piyama.
"Bukankah sangat tidak terhormat untuk seorang Raja mengendap-endap seperti ini?"
Pria itu tersenyum mengejek.
"Tidak-tidak~, aku hanya kebetulan lewat dan sedang mencari putriku. Nampaknya dia terlihat akrab dengan bajingan itu."
Mereka secara serempak melihat Rigel dan Tirith yang sedang menghibur Yuri.
"Tuan pahlawan, maukah anda bekerja sama denganku?"
"Kerja sama?"
"Bagaimana kalau kita bekerja sama untuk membunuh pahlawan Creator?" Raja tersenyum.
Pria muda itu terkejut mendengar proposal yang diajukan Raja.
"Apa untungnya bagiku bekerja sama denganmu?"
Tanya pria muda itu. Raja tersenyum lebar seolah menunggu pertanyaan itu.
"Aku akan memberitahu semua cara untuk menjadi kuat dan aku bersedia menikahkanmu dengan putriku."
Mata pria muda itu terbuka lebar karena terkejut. Menjadi kuat dan menikahi putri yang cantik, itu bukanlah hal yang buruk.
"Hehe, sepertinya kau sudah mempersiapkan hal ini ya? Tetapi, keuntungan apa yang akan kau dapatkan?"
"Sebagai gantinya, aku ingin anda menghasut pahlawan lain untuk mendukungku dalam pemilihan kaisar surgawi yang akan datang."
"Kaisar surgawi?"
Itu adalah informasi yang belum diketahui oleh pria muda itu. Raja mengulurkan tangannya dan menatap pria muda itu.
"Aku akan menjelaskannya saat kita sepakat. Bagaimana? Bukankah ini sangat menguntungkan anda? Anda dapat menikahi putriku yang cantik dan menjadi kuat dengan dukungan penuh dariku. Apakah anda akan menerima kerja sama ini? Pahlawan pedang, Haneda Takatsumi."
Rambut biru kehitamannya berayun ayun tertiup angin, wajahnya menampilkan wajah yang penuh ambisi dan keserakahan. Dia tersenyum lebar dan menerima proposal yang diajukan Raja.
"Aku menerima kerja samamu, yang mulia. Mari kita mulai menyusun rencana—
Untuk membunuh Rigel!"
***
📌Memberikan Like tidak akan membuatmu Rugi.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 269 Episodes
Comments
𝙍𝙮𝙪𝙪 𝘼𝙯𝙖𝙩𝙝𝙤𝙩𝙝
... Seperti yang ku duga, Kedua bajinga* ini bekerja sama!
2023-02-20
2
Griffin black
ngerti nya
2022-12-25
0
Ilham
Gua kira namanya Titi-t Deragon :v
2022-06-16
0