"Mas,njenengan wes janji lho.Jare nek aku oleh kontrakan,arep langsung pindah!" (mas...kamu udah janji lho,katanya kalau aku udah dapat kontrakan kita langsung pindah)".
"Salah napa nek kula nagih janjine njenengan.Njenengan wingi-wingi mpun janjeni kula lho.Sakniki ngantos lewat setunggal taun mboten njenengan tepati,nanging kula namung mendel mawon lho mas(Salah apa kalau saya nagih janji kamu.Kamu kemarin sudah menjanjikan lho,sekarang sampai lewat satu tahun ngga kamu tepati,tapi aku hanya diam saja lho mas)".
"Jane sing mjenengan karepke ki nopo to?(sebenarnya apa sih yang kamu inginkan)."dengan berderai air mata Anggi memberanikan diri untuk mengatakan apa yg dia rasakan.
Thor...kok Anggi ngomongnya pake bahasa jawa halus sih,padahal kan dia sedang marah...??
Iya karena bagi Anggi,ketika Anggi dikuasai rasa marah,dia lebih memilih bicara menggunakan bahasa jawa yang halus agar tidak memancing emosi.
Karena dengan bahasa jawa yg halus,nada yang tinggi kemungkinan bisa tersamarkan. (menurut author sih)😁😁😁
Bahkan setelah Anggi berderai air mata pun,Riyan tetap bungkam.Entah apa yang merasukinya sampai Riyan begitu tega melihat Anggi sesenggukan.
"Mas....kenapa diam....kesabaranku ada batasnya mas.Dan ini sudah diambang batas.Kumohon mas....jawab..."walau air mata terus menetes,namun sebisa mungkin Anggi menahan untuk tidak sesengukan
"Terserahlah....terserah kamu mau bagaimana!!"jawab Riyan dengan suara bentakan yang kasar.
"Astaghfirullah....kenapa jadi marah....sebenarnya ada apa denganmu mas...??" batin Anggi yang tak habis pikir dengan perilaku suaminya.
"Berarti mas setuju kita pindah kesana...??",tanya Anggi memastikan.
"Terserah...pindah yo pindah!!",bentaknya lagi dengan nada yang lebih dingin.
Anggi jadi semakin bingung.Sebenarnya ada apa dengan suaminya.
Disatu sisi Anggi senang karena bisa pindah dari situ.Namun disisi lain Anggi merasa kalau Riyan nampak terpaksa dengan semua itu.
"Ya Allah apa aku salah dengan keputusan ini...apa aku salah jika aku ingin suamiku belajar mandiri.Sungguh aku tidak bermaksud menjauhkan anak dari orang tua,aku hanya ingin mengobati luka dihati ini sehingga nanti aku bisa merawat ayah mertua dengan baik.Tapi kalau dengan cara suami yang seperti ini.....aaaaakkkhh...."jerit batin Anggi.
Anggi berfikir keras...sudah ga ada waktu...keputusan harus diambil saat itu juga.Dan tiba tiba Adzan maghrib berkumandang.
Anggi cepat cepat membersihkan tubuhnya,lalu mengambil air wudhu.
Lalu Anggi segera mengambil mukenanya dan menjalankan ibadah sholat maghrib.
"Ya Allah berikanlah hamba petunjuk Mu.Jika memang ini yang terbaik maka lapangkan niat hamba ya Allah.Engkaulah sang Maha Tahu...Engkau pun sudah pasti mengerti niat hamba.Sungguh hamba hanya ingin mengobati luka ini Ya Allah.Hamba mohon kepada Mu Ya Allah..."do'a Anggi diantara lelehan air matanya.
Setelah selesai berdo'a,Anggi tidak segera melepas mukena.Namun dibiarkan nya hati Anggi terus berbicara dengan sang Khalik.
Hingga lebih dari 45 menit Anggi terus bersimpuh memohon ketenangan.
Setelah merasa tenang,Anggi melepas mukenanya sembari berfikir.
"Mungkin ini memang saat yang terbaik.Apapun yang terjadi nanti biarlah urusan nanti.Sekarang yang terpenting adalah ketenangan ku dan juga spikologis anak anak ku"guman Anggi.
Anggi pun segera mengambil kunci motornya lalu pergi ke Rumah pak Dani guna memberi DP kontrak rumah.
Setelah selesai dengan urusan kontrakan,Anggi bergegas pulang.
"Setelah pindah ke kontrakan aku harus cari kerja.Ya ...apapun itu pekerjaannya asal kan halal.Mulai saat ini aku harus belajar mandiri"guman Anggi.
Entah mengapa firasat Anggi tidak enak.Seperti ada yang menganjal.Namun Anggi tak ambil pusing akan hal itu.
Fokus Anggi sekarang adalah bagaimana cara Anggi untuk bisa pindah dari rumah mertuanya.
Sudah cukup rasanya pengorbanan Anggi.
~ººº~~
Seminggu setelah itu,Anggi pindahan rumah.Anak anak nampak bahagia dengan suasana baru.
Lalu gimana dengan Riyan....jangan tanya lagi,Riyan nampak setengah hati.Dan itu masih menjadi tanda tanya besar buat Anggi.
Anggi berencana setelah semua masalah kontrakan selesai,Anggi ingin mengajak Riyan berbicara dari hati ke hati.
"Aku harus menyiapkan hati dan jiwaku apapun yang terjadi nanti"guman Anggi.
Entah mengapa perasaan tidak enak Anggi semakin menjadi.Anggi merasa seperti akan ada badai yang jauh lebih dahsyat dari masalahnya dengan ayah mertua.
Hari berganti minggu,minggu berganti bulan dan bulan pun berganti tahun.Namun Anggi seolah tidak ada kesempatan untuk membicarakan masalahnya dengan Riyan.
Riyan pun semakin hari semakin dingin.Riyan berangkat pagi pulang larut malam setelah Anggi dan anak anaknya tidur.
Seolah Riyan ngga ada waktu untuk Anggi dan anak anaknya.
Pernah suatu malam,saat larut malam Riyan baru pulang.Anggi sengaja tidak tidur namun Anggi mematikan lampu rumahnya.
Ketika Riyan baru masuk rumah,Anggi langsung menyapa Riyan.
"Udah pulang mas?",sapa Anggi lembut.
Lalu Anggi kedapur membuatkan teh hangat kesukaan suaminya.
"Nih mas teh hangatnya diminum dulu!",kata Anggi sambil meletakkan teh hangat diatas meja.
Riyan pun mendudukkan tubuhnya di kursi ruang tamu.Anggi duduk disebelah suaminya.
"Mas ...akhir akhir ini banyak kerjaan ya...pulangnya larut terus?"tanya Anggi kemudian.
"Heeemmm...." jawab Riyan
"Anggi pijitin ya mas..."tawar Anggi
Lalu Anggi mengambil posisi dan memijit mijit kepala Riyan.Setelah dikepala lalu turun ke bahu Riyan.
Tanpa sengaja mata Anggi menangkap sesuatu di belakang leher suaminya.Sesuatu yang berwarna unggu sudah agak pudar.
Sebagai perempuan dewasa Anggi tahu itu bekas apa.
Hati Anggi berdesir nyeri melihat hal itu karena Anggi merasa seminggu ini tidak melakukan kontak fisik apapun dengan Riyan.
"Dengan siapa mas Riyan melakukan itu?",guman Anggi dalam hati.
Ada rasa nyeri yang teramat perih dalam hati Anggi.Namun sekuat tenaga Anggi menahan itu semua.Selain karna sudah larut malam juga Anggi ngga ada bukti apapun.
Tanpa berkata apapun Riyan bangkit dan berjalan.
"Mas....",panggil Anggi.
"Aku lelah Nggi...aku mau tidur..."hanya kata dingin yang keluar dari mulut Riyan.
Anggi mengekori suaminya masuk kedalam kamar mereka.
Setelah sampai dikamar,Riyan langsung merebahkan tubuhnya ke kasur.
"Mas...ganti bajunya dulu.Setelah itu baru tidur"kata Anggi sambil menyiapkan baju ganti untuk suaminya.
Riyan pun bangun mengambil baju itu dan berjalan ke arah kamar mandi.
Anggi menatap punggung suaminya yang berjalan ke kamar mandi.
"Aneh....sejak kapan mas Riyan ganti baju aja ke kamar mandi.Sepertinya ada yang disembunyikan"kata Anggi dalam hati.
Saat mendengar pintu kamar mandi terbuka,Anggi pura pura memejamkan matanya.
Melihat Anggi yang sudah memejamkan mata,Riyan pun ikut merebahkan tubuhnya dikasur.
"Heemm...untung sudah tidur.Kalau Anggi minta jatah,sudah pasti besok aku tak bisa bangun.Badanku rasanya remuk semua."kata Riyan pelan sambil melihat ke Anggi.
DEG...
Jantung Anggi berdetak dua kali lipat lebih cepat dari biasanya.
"Apa yang kamu lakukan diluar sana mas?"lirih Anggi dalam hati.
Tanpa terasa kristal kristal bening telah meleleh membanjiri pipi halus Anggi.
Anggi menahan sekuat tenaga isakan tangisnya.
Memang sejak Riyan mengingkari janjinya,Anggi merasa ada perubahan dalam sikap Riyan.
Namun Anggi selalu berusaha berpositif thinking.Selalu berusaha mempercayai suaminya....
TBC
Segini dulu ya guys....author tiba tiba ngerasa sesak nich....
Jangan lupa tinggalkan jejak
Like
Koment
Vote nya ya....
Terimakasih semuanya....😘😘😘
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 105 Episodes
Comments
D.R.S
ak paling benci orang slingkuh
2021-02-10
3
D.R.S
45
2021-02-10
1