Ruangan rumah sakit masih dipenuhi keheningan, hanya disela suara mesin detak jantung yang monoton. Evelyn duduk lemah bersandar di ranjang, memandang kosong ke luar jendela. Kepalanya berat, hatinya lebih kacau. Ia bahkan tak tahu siapa dirinya, apalagi orang-orang yang mengaku sebagai keluarganya.
Pintu terbuka pelan. Masuklah tiga orang: seorang wanita elegan dengan mata bengkak karena menangis, seorang pria gagah berwibawa, dan seorang lelaki muda dengan aura protektif dan sorot mata tajam penuh kekhawatiran.
Vivienne Isadora Laurent
Evelyn
(suara lirih perempuan)
Evelyn Anastasia L. A
Siapa kalian?
(menoleh)
Vivienne Isadora Laurent
Aku ibumu, sayang. Aku Vivienne, dan ini ayahmu, Nathaniel. Dan dia
(Melangkah mendekat)
Damien Sebastian Laurent
Aku Damien, kakakmu. Evelyn… kamu benar-benar nggak ingat aku?
(Ia meraih tangan adiknya dengan pelan)
Evelyn menggeleng pelan, dan sorot matanya membuat dada Damien terasa sesak.
Damien Sebastian Laurent
Dulu kamu sering sembunyi di kamarku tiap habis dimarahi Ibu karena jatuhin vas bunga Kamu selalu bilang aku adalah tempat ternyamanmu di dunia
(Ujar liriknya mencoba tersenyum.)
Air mata menetes di sudut mata Damien. Ia menunduk, mengelus punggung tangan Evelyn.
Nathaniel akhirnya bersuara, suaranya dalam dan tegas, tapi kali ini terdengar rapuh
Nathaniel Alexander Laurent
Kamu mengalami kecelakaan, Evelyn. Kami tahu ini membingungkan. Tapi kamu nggak sendiri
(suaranya dalam dan tegas, tapi kali ini terdengar rapuh)
Vivienne Isadora Laurent
Kamu akan pelan-pelan mengingat segalanya, sayang. Kami akan bantu kamu… semuanya
(menggenggam tangan Evelyn)
Evelyn menatap mereka satu per satu
Damien Sebastian Laurent
Karena kamu belum ingat… Tapi aku percaya, Evelyn-ku yang dulu masih ada di dalam dirimu. Dan aku akan tetap jadi tempat ternyamanmu, sampai kapan pun.
(Tersenyum pahit)
Evelyn tersenyum samar—pertama kalinya sejak sadar dari koma.
Comments