Sudah tiga bulan sejak Leonardo pergi ke luar negeri. Selama itu pula, Evelyn menjalani harinya sendirian di rumah besar yang terasa sunyi dan dingin. Ia tak tahu kapan suaminya akan pulang—Leonardo tidak pernah mengabari.
Pagi itu, Evelyn baru saja keluar dari kamar mandi ketika ponselnya berdering. Nama 'Mama' terpampang di layar. Ia buru-buru mengangkatnya.
Evelyn Anastasia L. A
Halo, Ma?📞
Vivienne Isadora Laurent
Evelyn, kamu udah siap-siap belum?📞
(suara ibunya terdengar panik)
Evelyn Anastasia L. A
Siap-siap apa, Ma? 📞
Vivienne Isadora Laurent
Kamu lupa? Hari ini Leonardo pulang! Cepat jemput dia di bandara pribadi keluarga Alvarez. Jangan sampai dia menunggu! 📞
Iya. Ayo cepat, nanti Papa marah kalau kamu lalai! 📞
Tanpa bertanya lebih lanjut, Evelyn segera bersiap. Ia mengenakan dress kasual berwarna biru muda dan menguraikan rambutnya. Meski hatinya masih campur aduk, ia tidak berani menolak perintah orang tuanya.
Perjalanan ke bandara berlangsung dalam diam. Supir keluarga mengantar Evelyn, tapi ia meminta untuk menyetir sendiri. Ada sesuatu dalam dirinya yang tidak ingin terlihat lemah.
Namun, di tengah perjalanan, mobil yang dikendarainya melaju terlalu cepat. Pikiran Evelyn berkecamuk, membayangkan pertemuan dengan suami yang bahkan belum pernah ia akrabi.
Sebuah truk besar muncul dari arah berlawanan. Evelyn menginjak rem, namun terlambat.
BRAK!!!
Suara benturan keras menggema, kaca pecah, dan tubuh Evelyn terhempas ke depan. Semuanya menjadi gelap.
Di rumah sakit, dokter dan perawat sibuk menyelamatkan nyawa Evelyn. Ia mengalami cedera kepala serius dan dinyatakan koma.
Leonardo datang dengan langkah cepat. Wajahnya tegang, sorot matanya gelap. Ia menatap tubuh Evelyn yang terbaring lemah dengan selang infus dan alat bantu pernapasan.
Comments