Hari-hari berikutnya berlalu dengan sunyi yang sama. Leonardo semakin sibuk dengan urusan perusahaan, pulang larut malam, dan lebih sering menghabiskan waktu di ruang kerjanya. Sementara itu, Evelyn mulai berkenalan dengan para pelayan rumah, mencoba mencari kesibukan agar tidak merasa seperti penghuni asing.
Suatu malam, Evelyn sedang berdiri di balkon kamarnya, memandangi langit yang penuh bintang. Angin malam meniup rambut panjangnya perlahan. Di tangannya, secangkir teh hangat yang tak pernah disentuh. Pikirannya melayang pada kehidupan yang sedang ia jalani.
Evelyn Anastasia L. A
Kenapa hidupku berubah secepat ini? Dulu aku hanya gadis biasa, dan sekarang... aku istri dari pria yang bahkan tak mengenalku sepenuhnya
(gumamnya dalam hati)
Langkah kaki dari dalam kamar membuat Evelyn menoleh. Leonardo baru saja masuk. Dia baru pulang, terlihat lelah. Tanpa menyapanya, lelaki itu langsung membuka dasi dan duduk di sofa
Evelyn Anastasia L. A
Kamu sudah makan malam?
(bertanya pelan)
Leonardo Maximus Alvarez
Di kantor
(mengangguk singkat)
Evelyn Anastasia L. A
Baik
(jawab Evelyn pelan, lalu kembali memandangi langi
Beberapa detik hening, sebelum suara berat Leonardo memecah keheningan.
Leonardo Maximus Alvarez
Aku tahu kamu tidak nyaman. Tapi pernikahan ini sudah terjadi. Kita harus menjalaninya
Evelyn Anastasia L. A
Aku tidak pernah berharap cinta. Aku hanya ingin dihargai, Leo
(Evelyn menunduk)
Leonardo terdiam. Kata-kata itu, sesederhana apapun, menyentuh sisi hatinya yang selama ini ia pendam. Tapi ia terlalu takut, terlalu terikat dengan masa lalu untuk membiarkan dirinya peduli.
Malam itu, mereka tidur dalam diam. Namun dalam hati Evelyn, luka kecil mulai tumbuh menjadi luka yang lebih besar. Sebab dicintai mungkin terlalu mewah, tetapi dicueki dan dilupakan, lebih menyakitkan daripada yang ia kira
Comments