Malam itu, Evelyn duduk di tepi ranjang, jari-jarinya menggenggam ujung gaun tidurnya dengan gelisah. Kamar pengantin yang mewah terasa begitu dingin. Di hadapannya, Leonardo berdiri dengan kemeja putih yang lengannya digulung hingga siku. Tatapannya tetap sama dingin dan tak terbaca.
Leonardo Maximus Alvarez
Kau tidak perlu takut. Aku tidak akan menyentuhm
Suara lelaki itu terdengar tenang, tapi justru membuat jantung Evelyn semakin berdebar. Ia mendongak, menatap suaminya yang kini menyandarkan tubuhnya ke dinding
Evelyn Anastasia L. A
Aku tidak takut
(sahut Evelyn lirih. Ia ingin terdengar tegas)
Leonardo Maximus Alvarez
Bagus. Karena pernikahan ini hanyalah formalitas. Kita hanya perlu menjalani peran masing-masing di depan keluarga dan publik. Jangan mengharapkan lebih
(menyeringai kecil)
Hati Evelyn mencelos. Ia sudah tahu bahwa pria ini tidak mencintainya, tapi mendengar kata-kata itu langsung dari mulutnya terasa menyakitkan. Evelyn menunduk, menahan napas sejenak sebelum beranjak ke sisi ranjang dan merebahkan tubuhnya.
Tanpa sepatah kata lagi, Leonardo mengambil bantal cadangan lalu berjalan menuju sofa di sudut ruangan. Ia membaringkan dirinya di sana, menutup mata seakan tak peduli dengan keberadaan Evelyn.
Di dalam kesunyian malam, Evelyn menggigit bibirnya, menahan perasaan yang berkecamuk di dadanya. Matanya mulai terasa panas, tetapi ia menolak untuk menangis
Evelyn Anastasia L. A
Apa aku memang seburuk itu baginya? Sampai ia bahkan tak ingin melihatku? Aku tahu pernikahan ini bukan atas dasar cinta, tapi... mengapa rasanya begitu menyakitkan?
(gumamnya dalam hati)
Comments