Evelyn Anastasia Laurent berdiri di depan cermin besar, menatap pantulan dirinya dalam gaun pengantin putih yang terasa lebih seperti belenggu daripada lambang kebahagiaan. Matanya yang biasanya berbinar kini tampak kosong. Hatinya terhimpit, seolah-olah kebahagiaan telah direnggut darinya.
Alvarez menyesap anggur merahnya dengan ekspresi datar. Bagi pria itu, pernikahan ini tak lebih dari formalitas yang terpaksa dijalani. Dia tidak mencintai Evelyn, dan Evelyn pun tahu itu. Tapi karena satu kesalahan yang mereka lakukan, kedua keluarga mereka memaksa ikatan ini terbentuk.
Ketika musik mulai mengalun, Evelyn melangkah ke altar dengan langkah berat. Di sana, Leonardo sudah berdiri dengan jas hitam yang sempurna, ekspresinya tetap dingin. Seolah pernikahan ini tak lebih dari transaksi bisnis.
Pendeta membuka buku sucinya, suaranya bergema di dalam ruangan,
pendeta
Evelyn Anastasia Laurent, apakah kau bersedia menerima Leonardo Maximus Alvarez sebagai suamimu, dalam suka maupun duka?
Evelyn menelan ludah, melirik sekilas ke arah orang tuanya yang duduk di deretan depan. Tatapan tajam ayahnya cukup untuk mengingatkan bahwa ia tidak memiliki pilihan lain.
Evelyn Anastasia L. A
Saya... bersedia
(ucapnya lirih, hampir tanpa suara)
Pendeta mengalihkan pertanyaan yang sama kepada Leonardo. Pria itu diam beberapa detik, lalu akhirnya menjawab
Comments