Rahasia Memaulakan Suamiku
Tamara baru saja sampai di kamar kontrakannya,dia langsung menjatuhkan tubuhnya yang ramping di atas ranjang lalu melempar tas kecilnya ke lantai sembari menghela napas berat.
" Aahh capek sekali jadi orang miskin,tiap hari capek-capek kerja tapi sampai sekarang aku tidak punya tabungan sama sekali." Ucapnya sembari menghela napas berat untuk yang kedua kalinya.
Tamara menatap langit-langit kamarnya,terkadang dia merasa putus asa dengan kehidupan yang dia jalani saat ini,sesekali dia ingin seperti teman-temannya menikmati uang hasil kerja kerasnya tapi apa dayanya dia tulang punggung keluarganya di kampung setiap bulan dia harus membiayai keluarganya ayahnya yang sakit-sakitan dan adiknya yang masih sekolah.
" Sampai kapan? Sampai kapan aku menjadi tulang punggung keluargaku,aku capek Tuhan!! andai saja ada pria kaya yang mau menikahi ku,mungkin aku akan sangat bahagia." Ucapnya dalam hati dan tanpa terasa setetes air bening jatuh dari pelupuk matanya yang indah.
" Tamara!!! Tamara buka pintunya aku tau kamu sudah di dalam cepat buka pintunya!!! " Tiba-tiba teriakan keras mengangetkan dirinya,Tamara langsung terbangun lalu menyeka wajahnya dan membuka pintu kamarnya.
" Mana uang kontrakan mu,kemarin kan aku sudah bilang jangan aku lagi yang datang menemui mu,kenapa kamu tidak mengantarnya kalau sudah bosan di kontrakan ini keluar saja!! Diluar sana banyak yang mau menempati rumah ini." Bentak pemilik kontrakannya membuat Tamara jadi kesal dan emosi.
Tamara kembali ke dalam kamarnya lalu mengambil uang yang sebelumnya sudah dia tarik dari atmnya lalu dia menemui pemilik kontrakannya.
" Bu....Jangan terlalu kasar begitu,aku juga selalu bayar tiap bulan jarang telat tapi sikap ibu langsung seperti ini." Ucap Tamara sembari menahan marah di dalam hatinya karena tidak ingin menambah masalah dalam hidupnya.
"Makanya jangan telat bayar aku tidak suka,kalau kamu tersinggung silahkan pindah kontrakan." Jawab wanita itu sembari meninggalkan Tamara di depan pintu kontrakannya.
" Cih....!! Sombong sekali pantas saja suami mu selalu main dibelakang mu itu karena sikap mu yang arogan." Maki Tamara sembari masuk ke dalam kontrakannya.
Tamara adalah seorang gadis berumur dua puluh dua tahun yang merantau ke kota ini untuk merubah nasib,dia sudah lelah dengan kehidupan yang miskin di kampungnya dan dia juga sudah tidak tahan melihat keluarganya yang selalu di remehkan tetangga-tetangganya saking miskin nya mereka.
Tamara sudan bekerja di resto hampir setahun,selama itu juga dia bekerja dengan giat dan selalu mengirim uang ke kampungnya untuk membantu perekonomian keluarganya.
Setelah makan malam Tamara langsung tertidur pulas karena sudah lelah bekerja seharian di resto dia sengaja ambil jam kerja yang full agar dia bisa mendapat gaji yang tinggi.
*****
Sementara itu di sebuah rumah mewah seorang ibu sedang marah besar kepada putranya yang tidak kunjung menikah padahal umurnya sudah semakin tua.
" Doni apa yang kurang dari Lusi,dia gadis yang cantik,kaya dan berpendidikan,kenapa lagi-lagi kamu menolak pilihan mama,umur kamu sudah berapa sekarang apa kamu lupa hah? Mama pusing!! mama capek-capek merayu mereka agar mau menikah dengan mu tapi kamu seenaknya menolak mereka semua."Sungut mama Sintia dengan wajah yang penuh amarah.
" Kenapa tidak mama saja yang menikah dengan mereka? Aku malas,sudahlah ma kalau nanti aku sudah menemukan wanita yang cocok aku pasti akan menikah jadi stop mama menjodohkan aku dengan wanita-wanita pilihan mama oke." Jawab Doni sembari beranjak dari tempat duduknya meninggalkan mamanya yang masih marah.
" Doni!!! Mama masih mau bicara Doni!! Sampai kapan mama menunggu ingat mama tidak mau kamu membawa wanita sembarangan ke rumah ini." Teriak Sintia semakin emosi karena melihat Doni pergi begitu saja.
" Dasar anak nakal,entah kenapa dia belum juga mau menikah padahal umurnya sudah tiga puluh dua tahun,kapan lagi aku menimang cucu kalau begini." Sungut Sintia kembali lalu dia mulai menatap layar televisi.
" Sudahlah ma jangan paksakan lagi kalau sudah tiba waktunya dia pasti menikah kok." Jawab Susi anak keduanya adik dari Doni.
Doni hannya bisa menarik napas berat,sudah tidak bisa dihitung berapa puluh kali mamanya membawa wanita kepadanya untuk di jodohkan tapi satupun tidak ada yang bisa membuat Doni tertarik.
" Menikah..!! Menikah kenapa harus menikah kenapa di dunia ini harus ada pernikahan, aku sangat muak dengan pernikahan." Ucapnya sembari mengepalkan tangannya seakan dia begitu jijik mendengar kata pernikahan.
Doni mengambil satu botol anggur dan juga rokok lalu dia menyibak gorden yang menutupi jendela kaca di kamarnya dari dalam kamarnya terlihat pemandangan dari luar yang di terangi lampu dan terlihat juga kolam renang yang indah.
Doni mulai membuka botol anggurnya dan menghidupkan rokoknya dengan perlahan dia menikmati malam itu dengan caranya sendiri.Setelah kepalanya mulai pusing Doni menyingkirkan minumannya lalu menutup jendela setelah itu dia mulai merebahkan tubuhnya di ranjang miliknya.
*****
Keesokan paginya Doni bergabung dengan keluarganya yang sudah menunggunya di meja makan.
" Kamu minum lagi semalam Doni? Sampai kapan Doni kamu seperti ini,andai saja kamu menikah mungkin kamu sudah memiliki tanggung jawab jadi kamu tidak akan merusak tubuhmu dengan minuman itu_
"Cukup ma...Jangan terlalu ikut campur masalah pribadiku,aku mau apa pun mama jangan terlalu ikut campur." Jawab Doni menyela ucapan mamanya dan saat itu juga mamanya langsung terdiam mendengar ucapan Doni.
" Tuan ini kopinya."
"Bawa saja ke belakang aku sudah tidak mood." Jawab Doni lalu dia segera keluar dari tempat duduknya meninggalkan mama dan adiknya di meja makan.
" Apa aku bilang ma...Lihat kak Doni jadi marah kan." Ucap Susi ikutan kesal dengan sikap mamanya yang terlalu dalam ikut campur dengan urusan kakak lelakinya.
" Aku hannya ingin yang terbaik untuknya,lagian aku malu teman-teman ku selalu saja bilang kalau Doni itu bukan pria normal makanya nga menikah." Jawab Sintia mengutarakan kekhawatirannya.
" Gila..!!! Siapa yang bilang dia bukan pria normal ada-ada saja,Doni tidak menikah bukan berarti nga normal ma..Hannya saja dia belum menemukan jodoh yang pas ya ampun teman macam apa sih teman-teman mama itu?" Ucap Susi,dia sangat kaget mendengar apa yang di katakan mamanya,dia tidak menyangka teman-teman mamanya berpikiran terlalu jauh seperti itu.
Sintia hannya terdiam mendengar ucapan Susi,dia sendiri merasa bingung dengan Doni,karena sampai umurnya kepala tiga lebih dia belum pernah melihat Doni pacaran sama sekali dan hal itu yang kadang membuatnya sedikit takut.
❤️❤️❤️ bersambung ❤️❤️❤️
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 41 Episodes
Comments