Tamara berulang kali menatap dirinya di depan kaca,ada rasa tidak percaya diri di dalam hatinya setelah membayangkan perbedaan dirinya dan juga pria yang melamarnya dan sampai detik ini dia masih bertanya-tanya dalam hati kelebihan apa yang dimilikinya hingga pria itu memutuskan untuk melamar wanita seperti dirinya.
"Ahhh...Sudahlah mungkin saja kisah hidup ku ini sama dengan sinetron Korea yang selalu aku lihat di televisi." Ucapnya dalam hati berusaha menghibur hatinya dan pada saat itu tiba-tiba dia teringat dengan orang tuanya di kampung.
"Aku akan menghubungi orang tua ku kalau nanti semuanya sudah jelas,hari ini dia akan membawa ku menemui orang tuanya,semoga saja semuanya berjalan lancar." Ucapnya lagi dalam hati tepat pada saat itu sebuah mobil mewah berhenti di depan kontrakan miliknya.
Tamara keluar dari dalam kontrakan miliknya,karena tidak ingin membuat orang lain menunggunya dia segera kembali masuk ke dalam kontrakan mengambil tas miliknya tas yang harganya tidak lebih dari lima puluh ribu rupiah.
Alex membuka mobil untuk Tamara lalu mereka segera meninggalkan tempat itu menuju restoran mewah dan ruangan VVIP,ruangan yang belum pernah dimasuki Tamara seumur hidupnya.
Tak henti-hentinya Tamara memuji keindahan restoran itu sejak dia masuk ke dalam gedung sambil mengikuti Alex dari belakang,beberapa pasang mata juga menatapnya dengan tatapan aneh,wajar saja yang datang ke restoran itu orang-orang kelas atas yang memakai pakaian mahal dan bermerek sementara dia hanya mengenakan pakaian serba tiga puluh lima ribu rupiah dan tasnya yang dia kenakan tidak lebih dari harga lima puluh ribu wajar saja orang-orang menatap aneh kepadanya terlebih Alex yang berjalan sangat cepat.
" Tatap lah aku dengan tatapan aneh wahai orang-orang kaya,nanti jika aku menikah dengan pria kaya itu maka aku juga akan membeli pakaian mahal agar aku tidak di remehkan." Ucapnya dalam hati sambil mengabaikan tatapan sinis dari orang-orang yang kebetulan berpapasan dengan mereka.
Sementara itu Doni sudah duduk santai di ruangan yang sudah dia pesan sebelumnya,ibu dan adiknya baru saja sampai di restoran itu.
"Katakan Doni kenapa kamu menyuruh mama kesini,tadi aku sedang ada kegiatan bersama teman-teman arisan mama." Ucap Mamanya sembari meletakkan tas branded harga ratusan juta di atas meja.
"Bukannya mama ingin aku menikah secepatnya? aku ingin mengenalkan mama kepada calon istriku." Jawab Doni dengan santai tanpa menoleh sedikit pun kepada mamanya.
"Apa..!!!? calon istri? sejak kapan kamu punya pacar? bagaimana latar belakang keluarganya?,apa pekerjaannya?" Tanya mamanya panik dengan beberapa pertanyaan.
"Mama akan melihatnya nanti." Jawab Doni dan tepat pada saat itu pintu ruangan terbuka tampak Alex masuk terlebih dahulu Susi dan mamanya sudah tidak sabar menunggu wanita yang di bawa abangnya.
" Apa-apaan ini Doni? maksud mu,kamu menikah dengan orang ini? kamu gila ya Doni kalau wanita yang kamu bawa model beginian lebih baik kamu lajang tua selamanya jangan buat malu mama." Ucap Mamanya dengan nada tinggi dan wajah sinis.
Tamara sangat kaget mendengar ucapan calon mertuanya,dia tidak menyangka hal seperti ini akan dia hadapi,dia berusaha kuat,karena memang dia sudah berharap pria kaya itu segera mengangkat derajatnya.
" Sudahlah mama terima saja,pokoknya dalam waktu dekat ini aku akan menikahinya mama setuju atau tidak." Jawab Doni dengan wajah datar.
" Sampai kapan pun aku tidak akan menerima dia jadi menantu ku,begitu banyak nya wanita yang menyukai mu,tapi kamu malah ingin menikah dengan orang tidak jelas begini,pokoknya mama tidak mau." Jawab mamanya lagi sembari beranjak dari tempat duduknya.
Tubuh Tamara terasa gemetaran,jantungnya seakan berhenti berdetak,keringat dingin bercucuran di wajahnya,dia berdiri di antara mereka dan sadisnya satu pun tidak ada yang menyuruhnya duduk.
" Kamu gila ya bang? dapat dari mana kamu wanita model begini? kamu nga malu punya pasangan seperti dia? lihat dari ujung rambut sampai ujung kaki satupun tidak ada yang menarik." Ucap Susi lagi membuat Tamara semakin salah tingkah.
Kalau tidak karena mengingat pahitnya hidup yang dijalaninya sejak lahir Tamara ingin meninggalkan ruangan itu,hatinya cukup terluka di remehkan mereka semua belum lagi Doni yang terlihat tidak peduli dengan keberadaannya.
Dia sudah tidak sabar lagi dengan kehidupan miskinnya selama ini makanya dia bertahan di ruangan itu menerima hinaan demi hinaan dari mereka.
"Pokoknya mama tidak ingin melihat dia di rumah cukup hari ini kamu membawa pengemis ini menemui mama.Susi ayo kita pulang mama alergi satu ruangan dengan orang status sosial rendah." Ucap Mamanya lalu keduanya segera meninggalkan ruangan itu.
Doni menarik napas berat,Alex yang ada di ruangan itu hanya sebagai penonton,dia jarang ikut nimbrung jika mengenai urusan keluarga bos nya apalagi jika mamanya bosnya ada dia sangat tidak suka.
"Alex..!!! kapan kita laksanakan pernikahan ini?"
"Tapi pak bukannya mamanya bapak tidak setuju dengan pernikahan ini? kasihan nanti nona Tamara menjadi pelampiasan amarah mereka setelah kalian menikah." Jawab Alex sembari menatap Tamara yang sedari tadi terus menunduk.
" Dia setuju atau tidak itu bukan urusan ku.Dan kamu apa kamu masih mau menikah dengan ku?" Tanya Doni setelah beberapa saat akhirnya dia berbicara kepada Tamara.
Untuk beberapa saat Tamara terdiam hingga akhirnya dia mengangguk,dia tidak berani mengangkat wajahnya dan Doni hanya tersenyum kecil mendengar jawaban Tamara.
" Ya...!! Begitulah orang miskin,jika prianya kaya apa pun resikonya dia akan tetap menerimanya cuihhh..!!! wanita matre." Maki Doni dalam hati yang semakin membuatnya jijik kepada wanita.
" Apa kamu sudah resign dari tempat kamu bekerja?" Tanya Doni lagi dengan nada penuh penekanan tidak ada sedikit pun menunjukkan rasa suka kepada Tamara.
"Su_sudah pak,mulai besok aku tidak bekerja lagi."Jawab Tamara dengan nada gugup.
" Tunggu keputusan ku beberapa hari lagi." Ucap Doni,dia beranjak dari tempat duduknya setelah menoleh ke arah Tamara sebentar setelah itu dia keluar dari tempat duduknya.
"Silahkan kamu makan semua ini setelah itu kamu pulang,jangan terlalu lama di ruangan ini,karena fashion mu tidak pantas di ruangan." Ucapnya lagi dengan sinis setelah itu dia membuka pintu lalu keluar dari ruangan itu.
Tamara yang sudah tegang sejak tadi langsung menarik napas lega,lalu dia duduk di kursi dan menatap satu persatu hidangan yang ada di meja.
"Persetan dengan mamanya yang tidak mau menerimaku yang penting anaknya mau menikahi ku." Ucapnya lagi,dia mulai menyantap makanan yang menurutnya paling enak.
"Tunggu!!! kenapa ya sikap pria itu aneh?" Tamara mulai berpikir keras untuk sejenak dia berhenti menikmati hidangan itu.
❤️❤️❤️ bersambung, ❤️❤️❤️
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 41 Episodes
Comments