Bab 17: Keputusan di Ambang Kematian

Semuanya terjadi begitu cepat, lebih cepat dari yang bisa mereka bayangkan. Meskipun mereka sudah keluar dari markas utama Marco, rasa aman yang mereka harapkan hanyalah ilusi semata. Mereka terjebak di lapangan terbuka, terkurung dalam pagar tembok yang tinggi dengan pasukan Marco yang bergerak semakin mendekat. Jeritan komando musuh terdengar jelas, dan Quenn tahu bahwa sekarang adalah saat penentuan.

“Jangan berhenti! Terus maju!” teriak Quenn, dengan suara serak yang sudah hampir hilang akibat kelelahan. Keringat bercucuran di pelipisnya, tubuhnya terasa lemas, namun tekadnya tidak pernah goyah.

Vincent, yang berada di sampingnya, melangkah lebih cepat, menembakkan senjata dengan presisi yang mematikan. Tembakan mereka membuat pasukan Marco yang berada di depan mundur sejenak, namun Quenn tahu itu tidak akan bertahan lama. Mereka hanya punya waktu beberapa menit untuk mencapai tempat aman, sebelum pasukan Marco memotong jalan mereka dan mengepung mereka tanpa ampun.

Erik bergerak cepat, memberi tanda agar mereka berbelok ke kanan, menuju sebuah terowongan bawah tanah yang mereka ketahui sudah lama tak terpakai. Namun, begitu mereka mulai berlari menuju terowongan itu, suara ledakan keras mengguncang tanah di bawah kaki mereka.

“Pintu masuk tertutup! Mereka telah menutup jalan itu!” teriak Erik, matanya menyipit saat melihat reruntuhan di depan mereka. Asap tebal membubung tinggi, dan debu menutupi pandangan mereka.

“Damn it!” Quenn mengumpat keras, berusaha mencerna situasi yang semakin terjepit. “Apa kita harus berputar ke belakang?”

Rina, yang sudah tampak kelelahan, memandang Quenn dengan wajah penuh kecemasan. “Quenn... kita terjebak. Mereka sudah tahu kita ada di sini. Kita tidak punya banyak pilihan.”

Dia benar. Tidak ada jalan keluar yang jelas. Pasukan Marco sudah mendekat dari segala arah, dan kini mereka terjebak di tengah lapangan terbuka tanpa perlindungan. Quenn merasa panik merayap di hatinya, tetapi dia menepisnya. Tidak sekarang. Tidak di saat seperti ini.

“Erik, Vincent, kita harus berpencar! Lari ke arah yang berbeda dan buat mereka bingung!” seru Quenn dengan suara tegas.

Vincent tidak membantah. Tanpa berkata sepatah kata pun, dia bergerak cepat ke sisi kanan, melompati tumpukan reruntuhan dan berlari menuju sudut lapangan. Erik bergerak ke kiri, sementara Quenn memimpin Rina, mencoba mengalihkan perhatian pasukan Marco yang sudah mulai mengepung.

Ledakan terus mengguncang tanah. Rina berlari di belakang Quenn, namun matanya tampak cemas. “Quenn, kita tidak bisa bertahan lebih lama lagi. Kita harus menemukan jalan keluar yang aman!”

Quenn menggigit bibir bawahnya. Dia bisa merasakan setiap detik yang berlalu semakin mempersulit keadaan. Setiap langkah terasa lebih berat. Mereka sudah terjebak. Mereka sudah terlambat. Jika mereka tidak menemukan cara untuk keluar, mereka akan terkunci dalam pertempuran yang tak akan ada habisnya.

"Ke depan!" teriak Quenn, mencoba untuk mengalihkan perhatian pasukan Marco dengan pergerakan mereka. “Rina, gunakan peledak di bagian kiri! Buka jalan!”

Rina dengan cepat mengeluarkan bahan peledak dari tasnya, memasang detonator dengan tangan gemetar. “Ini dia, Quenn,” katanya, suaranya bergetar. “Aku berharap ini berhasil.”

Quenn berdiri di sisi Rina, menatap reruntuhan yang semakin mendekat, perasaan tegang menguasai dirinya. Dia tahu ini adalah saat terakhir mereka. Jika ini gagal, mereka akan terjebak dan mati di sini. Tidak ada pilihan lain.

"Detonator siap?" tanya Quenn dengan suara datar.

Rina mengangguk, namun wajahnya semakin pucat. “Semoga berhasil.”

Dengan sekali dorongan tombol, suara ledakan mengguncang seluruh lapangan. Suara gemuruh itu memecah keheningan, dan tanah di sekitar mereka berguncang hebat. Sebuah celah terbuka di tembok yang menghalangi mereka, memberi mereka sedikit harapan untuk melarikan diri. Namun, ledakan itu juga mengundang perhatian pasukan Marco yang semakin banyak.

“Cepat! Masuk ke celah itu!” teriak Quenn.

Mereka semua berlari menuju celah yang terbuka, namun sebelum mereka bisa mencapai tempat aman, suara tembakan terdengar kencang. Pasukan Marco yang sudah bersiap di dekat reruntuhan segera membalas tembakan, dan Quenn merasakan peluru melesat begitu dekat. Tubuhnya berguncang, hampir terjatuh, namun dia berhasil melompat ke celah yang terbuka.

“Quenn!” Rina berteriak, hampir terjatuh karena peluru melesat terlalu dekat. Quenn meraih tangannya dengan cepat, menariknya ke dalam.

Mereka bergegas masuk ke terowongan sempit yang terbuka di bawah reruntuhan. Quenn mengedarkan pandangan cepat, memastikan semua orang selamat. “Tidak ada yang tertinggal, kan?” tanyanya dengan nada tegas.

Vincent dan Erik sudah berada di depan, menunggu mereka. Semua berlari menuju lorong gelap yang memimpin mereka lebih dalam, jauh dari pertempuran yang sedang terjadi di luar sana. Tapi, meskipun mereka berhasil lolos dari serangan, Quenn tahu bahwa mereka belum aman. Mereka hanya punya sedikit waktu sebelum pasukan Marco mengejar mereka lagi.

"Ke mana kita sekarang?" tanya Erik dengan wajah tegang, nafasnya memburu.

“Terus ke depan,” jawab Quenn. "Kita harus menuju ke markas cadangan. Itu satu-satunya tempat yang aman."

Namun, seiring berjalannya waktu, Quenn merasakan sebuah perasaan yang tak bisa dia hindari—sebuah perasaan bahwa mereka sedang menuju perangkap lain. Sesuatu yang jauh lebih besar dari yang mereka hadapi sebelumnya. Ada sesuatu yang salah.

Tiba-tiba, suara langkah-langkah berat terdengar dari arah belakang. Pasukan Marco sudah mengejar mereka, lebih cepat dari yang mereka bayangkan. Sumber cahaya dari senter mereka semakin mendekat.

“Lari!” teriak Quenn, dengan suara yang hampir tidak bisa terdengar karena riuhnya langkah-langkah mengejar. Dia memimpin mereka berlari lebih cepat, melintasi terowongan yang semakin sempit dan gelap.

Tapi langkah kaki mereka mulai terdengar lebih banyak, lebih cepat. Mereka semakin dekat. Pasukan Marco benar-benar berada di belakang mereka, dan waktu mereka sudah hampir habis.

“Ke kanan!” teriak Quenn. “Ikuti aku!”

Mereka berbelok, memasuki sebuah lorong kecil yang lebih sempit, berharap bisa menghindari kejaran musuh. Tapi ketika mereka tiba di ujung terowongan, sebuah ledakan dahsyat mengguncang seluruh sistem terowongan. Jeritan keras terdengar, dan tanah di bawah mereka mulai bergetar hebat.

“Terjebak…” Rina berbisik dengan suara gemetar, tampak ketakutan.

Quenn menatap ke depan, terengah-engah, matanya memandang lorong yang tertutup di hadapan mereka. Tidak ada jalan keluar lagi.

"Jangan takut," kata Quenn, suaranya serak namun penuh keyakinan. "Kita tidak akan mati di sini. Kita masih punya satu kesempatan."

Dengan penuh tekad, Quenn melangkah maju, siap untuk menghadapi apa pun yang datang di depan mereka.

Episodes
1 Bab 1: Pengkhianatan yang Membekas
2 Bab 2: Perang Dimulai
3 Bab 3: Labirin Pengkhianatan
4 Bab 4: Dalam Cengkeraman Musuh
5 Bab 5: Kebenaran yang Tersembunyi
6 Bab 6: Labirin Kegelapan
7 Bab 7: Jaringan Rahasia
8 Bab 8: Kegelapan yang Menunggu
9 9: Ujian Terakhir
10 Bab 10: Masuk ke Perang
11 Bab 11: Perang yang Tak Terelakkan
12 Bab 12: Kejaran Tak Terhindarkan
13 Bab 13: Pencarian yang Mematikan
14 Bab 14: Tersudutkan
15 Bab 15: Pertempuran Terakhir
16 Bab 16: Pelarian Terakhir
17 Bab 17: Keputusan di Ambang Kematian
18 Bab 18: Titik Balik
19 Bab 19: Perangkap Terakhir
20 Bab 20: Permainan yang Lebih Besar
21 Bab 21: Langkah Terakhir
22 Bab 22: Jalan Tanpa Kembali
23 Bab 23: Jebakan Tak Terduga
24 Bab 24: Titik Balik
25 Bab 25: Perang Terakhir
26 Bab 26: Waktu yang Terbatas
27 Bab 27: Lari dari Kematian
28 Bab 28: Kejaran di Malam yang Mencekam
29 Bab 29: Perang Dimulai
30 Bab 30: Perang Baru Dimulai
31 Bab 31: Duel di Tengah Kegelapan
32 Bab 32: Strategi Darah dan Dendam
33 Bab 33: Api yang Tak Terpadamkan
34 Bab 34: Kemenangan yang Terlalu Mahal
35 Bab 35: Pelarian dalam Kegelapan
36 Bab 36: Titik Balik
37 Bab 37: Api yang Menyala Kembali
38 Bab 38: Bayangan Baru
39 Bab 39: Jejak di Pegunungan
40 Bab 40: Serangan Ke Gudang Senjata
41 Bab 41: “Nggak Ada Kata Menyerah!”
42 Bab 42: "Permainan Baru Dimulai"
43 Bab 43: "Badai Belum Reda"
44 Bab 44: "Perang Tanpa Ampun"
45 Bab 45: "Perang Tipuan"
46 Bab 46: "Bayangan yang Tak Pernah Pergi"
47 Bab 47: "Jalan Tanpa Kepastian"
48 Bab 48: "Langkah di Antara Bayangan"
49 Bab 49: "Rantai Pengkhianatan"
50 Bab 50: “Darah dan Janji”
51 Bab 51: "Bayang-Bayang Pengkhianatan"
52 Bab 52: "Perang Tanpa Akhir"
53 Bab 53: “Darah dan Api”
54 Bab 54: "Bayangan Baru"
55 Bab 55: "Jejak yang Terhapus"
56 Bab 56: "Pengepungan di Sarang Musuh"
57 Bab 57: Neraka di Langit Malam
58 Bab 58: Duel di Bawah Langit Kelam
59 Bab 59: Darah di Atas Tahta
Episodes

Updated 59 Episodes

1
Bab 1: Pengkhianatan yang Membekas
2
Bab 2: Perang Dimulai
3
Bab 3: Labirin Pengkhianatan
4
Bab 4: Dalam Cengkeraman Musuh
5
Bab 5: Kebenaran yang Tersembunyi
6
Bab 6: Labirin Kegelapan
7
Bab 7: Jaringan Rahasia
8
Bab 8: Kegelapan yang Menunggu
9
9: Ujian Terakhir
10
Bab 10: Masuk ke Perang
11
Bab 11: Perang yang Tak Terelakkan
12
Bab 12: Kejaran Tak Terhindarkan
13
Bab 13: Pencarian yang Mematikan
14
Bab 14: Tersudutkan
15
Bab 15: Pertempuran Terakhir
16
Bab 16: Pelarian Terakhir
17
Bab 17: Keputusan di Ambang Kematian
18
Bab 18: Titik Balik
19
Bab 19: Perangkap Terakhir
20
Bab 20: Permainan yang Lebih Besar
21
Bab 21: Langkah Terakhir
22
Bab 22: Jalan Tanpa Kembali
23
Bab 23: Jebakan Tak Terduga
24
Bab 24: Titik Balik
25
Bab 25: Perang Terakhir
26
Bab 26: Waktu yang Terbatas
27
Bab 27: Lari dari Kematian
28
Bab 28: Kejaran di Malam yang Mencekam
29
Bab 29: Perang Dimulai
30
Bab 30: Perang Baru Dimulai
31
Bab 31: Duel di Tengah Kegelapan
32
Bab 32: Strategi Darah dan Dendam
33
Bab 33: Api yang Tak Terpadamkan
34
Bab 34: Kemenangan yang Terlalu Mahal
35
Bab 35: Pelarian dalam Kegelapan
36
Bab 36: Titik Balik
37
Bab 37: Api yang Menyala Kembali
38
Bab 38: Bayangan Baru
39
Bab 39: Jejak di Pegunungan
40
Bab 40: Serangan Ke Gudang Senjata
41
Bab 41: “Nggak Ada Kata Menyerah!”
42
Bab 42: "Permainan Baru Dimulai"
43
Bab 43: "Badai Belum Reda"
44
Bab 44: "Perang Tanpa Ampun"
45
Bab 45: "Perang Tipuan"
46
Bab 46: "Bayangan yang Tak Pernah Pergi"
47
Bab 47: "Jalan Tanpa Kepastian"
48
Bab 48: "Langkah di Antara Bayangan"
49
Bab 49: "Rantai Pengkhianatan"
50
Bab 50: “Darah dan Janji”
51
Bab 51: "Bayang-Bayang Pengkhianatan"
52
Bab 52: "Perang Tanpa Akhir"
53
Bab 53: “Darah dan Api”
54
Bab 54: "Bayangan Baru"
55
Bab 55: "Jejak yang Terhapus"
56
Bab 56: "Pengepungan di Sarang Musuh"
57
Bab 57: Neraka di Langit Malam
58
Bab 58: Duel di Bawah Langit Kelam
59
Bab 59: Darah di Atas Tahta

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!