"Haih aku tidak menyangka kalau di taman yang indah ini terdapat kecoak yang dapat berbicara," ucap Irara membalas sindiran yang ditujukan pada nya.
Tanpa perlu membalikkan badannya saja ia sudah dapat menebak siapa orang yang berbicara.
"KAU! Beraninya kau menyebutku kecoak," ucap Su Qing Yu marah.
"Oh, adik kau disini. Adik, kakak tidak pernah menyebut adik kecoak. Apakah adik memiliki suatu masalah pada telinga mu?" ucap Irara dengan senyuman di wajahnya. Bukan senyum ramah tapi senyum sinis
"Kau! Dasar j*l*ng. Lihat bagaimana aku akan memberikan mu pelajaran" ucap Su Qing Yu lalu segera mengangkat tangan nya berniat untuk menampar Irara.
Plak
Irara tak menghindar. Pipi nya saat ini sangat perih tetapi dia masih dapat menahannya. Dari kejauhan ia sudah melihat ayahnya yang sedang menuju kearah nya dan adik tirinya itu. Untuk menambah bumbu drama, Irara menggigit sudut bibirnya sehingga mengeluarkan darah. Darah itu seolah olah disebabkan karena tamparan Su Qing Yu. Heh padahal pukulan itu tidak seberapa.
"APA YANG KALIAN LAKUKAN?!" ucap Jendral Su marah.
Ayahnya Su Lin Lin atau Jendral Su sebenarnya adalah orang yang tegas dalam mendidik anak. Ia tak pernah pilih kasih. Hanya saja selama ini, ia merasa kecewa pada Lin Lin karena tidak mempunyai bakat. Jangankan bakat, gadis itu sangat penakut dan pemalu. Berbeda dengan putri kedua nya.
Su Lin Lin mempunyai seorang kakak laki laki. Kakak laki-lakinya saat ini berada di perbatasan bertugas sebagai seorang Jendral muda.
"A-ayah," ucap Su Qing Yu gemetar.
"Salam kepada ayah," ucap Irara.
"Ah, salam kepada ayah," ucap Su Qing Yu.
"Hm, sekarang bisa kau jelaskan Yu'er kenapa kau menampar kakakmu sendiri? Kau tau kakak mu itu lemah," tanya Jendral Su.
Sudut bibir Irara sedikit berkedut mendengar ucapan ayahnya. Memang saat ini dia sedang dibela ayahnya tapi kenapa ada sindiran juga? Gadis ini juga mengecewakan ayahnya sendiri karena terlalu lemah dan penakut.
"I-itu ayah tidak seperti yang ayah lihat," ucap Qing Yu.
"Lalu bagaimana?! Wajah kakakmu sekarang ini lebam karena tamparan mu. Apalagi yang ingin kau jelaskan Yu'er?" ucap Jendral Su.
"Ayah sudahlah, Lin'er baik baik saja," ucap Lin Lin dengan lemah.
'Wah, bila aku di zaman modern saat ini pasti aku akan dicap sebagai ratu drama hahahaha. Ini menyenangkan,' ucap Lin Lin dalam hati.
*mulai saat ini Irara dipanggil Lin Lin yaa
"Lin'er..." Jendral Su menatap Lin Lin dengan tatapan sendu. Ia jarang memperhatikan putrinya ini.
"Yu'er karena kau telah melukai kakakmu maka kau dihukum tidak boleh keluar dari paviliun selama satu bulan dan uang bulanan mu akan dipotong setengahnya serta kau harus menyalin peraturan keluarga sebanyak 10 buku," putus Jendral Su.
'Wow, hukuman itu keren,' ucap Irara senang dalam hati.
"Lin'er, istirahatlah dikamarmu. Ayah akan memanggilkan tabib untuk merawat lukamu," ucap Jendral Su.
"Ayah, Lin'er ingin mengunjungi ibu," ucap Lin Lin.
"Baiklah, ayah tidak bisa menemani mu. Ayah punya beberapa urusan," ucap Jendral Su.
"Tidak apa apa ayah," ucap Lin Lin.
🍃🍃🍃
Paviliun mawar
"Ibu, bangunlah Lin'er datang berkunjung," ucap Lin Lin sedih.
'Wajah ini, kau adalah ibuku, ibuku di masa depan dan ibuku saat ini. Bagaimana mungkin bisa sama,' ucap Lin Lin dalam hati.
"Ibu... Huhuuu... Ibu, Lin'er sangat merindukan ibu. Bangunlah ibu... Lin'er mohon" ucap Lin Lin sambil menangis. Sejujurnya ia bukan tipe orang yang cengeng dan sensitif akan perasaan. Tapi ia tak kuat menahan gejolak kerinduan dari dalam hatinya.
Ibunya, Liu Mei, saat ini terbaring tak sadarkan diri. Wajah nya pucat pasi. Tubuh nya yang dulu bak malaikat sekarang terlihat kurus.
Lin Lin mengecek nadi ibunya. Lagi lagi terdapat racun di tubuh ibunya. Selain racun, Lin Lin menemukan sesuatu yang aneh. Sayangnya ia belum terlalu memasuki ilmu kedokteran. Ia belum selesai membaca buku di perpustakaan ruang dimensinya.
"Tuan, meridian nyonya tertutup. Kemungkinan ada orang yang sengaja menutup meridian nyonya agar tidak dapat bangun dan berkultivasi. Lalu soal racun itu, racun yang sama dengan racun di tubuh tuan sebelumnya," suara Min Xiang muncul di fikiran Lin Lin.
Lin Lin menghapus air matanya dan mengangguk kecil. Sudah jelas sekarang penyebab ibu nya tak bisa bangun saat ini.
"Ibu, tunggulah Lin'er akan menyembuhkan ibu," ucap Lin Lin.
Lin Lin keluar dari paviliun ibunya dan kembali ke paviliunnya. Ia harus segera membaca banyak buku tentang ilmu pengobatan di zaman ini. HARUS.
Wei yang sedari tadi memang diam dan memilih untuk tidak bersuara. Sejak awalnya Weiwei tau nona nya sedang bermain drama. Ia hanya mengikuti drama junjungannya.
"Wei, aku ingin sendirian. Jangan ganggu aku sampai makan malam tiba," ucap Lin Lin.
"Aku mengerti Rara," ucap Weiwei.
Lin Lin segera masuk ke kamar nya. Ia menghela nafas pelan. Pikirannya saat ini hanya satu. Menyembuhkan ibunya.
Lin Lin akhirnya memutuskan untuk masuk ke kalung dimensi nya.
"Tuan, anda datang," ucap Min Xiang antusias.
"Gm, aku ingin ke perpustakaan sekarang. Jangan ganggu aku," ucap Lin Lin. Tanpa menunggu balasan Min Xiang, kaki nya. melangkah pergi ke arah perpustakaan
"Tuan, anda ingin mencari tahu tentang cara menyembuhkan nyonya bukan?" ucap Min Xiang menghentikan langkah kaki Lin Lin.
"Ya, apa kau tahu bagaimana caranya?" tanya Lin Lin.
"Tuan, memang untuk mengobati racun di tubuh nyonya tuan hanya perlu membuat penawar racun. Tapi tuan harus tahu bahwa racun dari tubuh nona ada sejak lahir. Racun itu ada di tubuh tuan karena nyonya memiliki racun yang sama. Namun karena racun nya mengalir ke tubuh tuan, racun di tubuh nyonya tidak akan terlalu membahayakan. Hanya saja yang membahayakan adalah meridian nya yang tertutup," jelas Min Xiang.
"Lalu bagaimana cara membuka meridian itu Min Xiang?" tanya Lin Lin.
"Tuan sudah yakin?" tanya Min Xiang.
"Apapun akan kulakukan demi ibuku Min Xiang. Cukup sekali aku kehilangan ibuku tidak untuk kedua kalinya," ucap Lin Lin tegas.
"Untuk menyembuhkan nyonya sepenuhnya, tuan harus memiliki tingkat kultivasi yang sama atau lebih tinggi daripada nyonya. Namun untuk sekarang tuan belum bisa," jelas Min Xiang.
"Sesulit itukah?" tanya Lin Lin.
"Ya tuan," ucap Min Xiang.
"Apakah air roh yinyang tidak dapat menyembuhkan ibuku?" tanya Lin Lin berharap.
"Untuk itu, tidak tuan. Tetapi mungkin bisa meringankan rasa sakit yang dirasakan nyonya," ucap Min Xiang.
"Aku mengerti, aku akan berkultivasi dulu," ucap Lin Lin.
Lin Lin pergi ke danau merah dan mulai masuk ke sana. Awalnya ia ingin langsung pergi ke danau jingga. Tapi Min Xiang mengatakan kalau lebih baik berkultivasi di danau merah. Tidak baik untuk terlalu terburu-buru.
---------------------------------------------------------------------------
halo para readers
akhirnya chapter ini selesai juga
cuman ngasih tau ya
besok aku gak bakal update
padahal besok hari Minggu, aku nya gak bisa update karena jadwal mendesak
jadi ditunggu hari Senin yaaaa😁😄
author minta jangan bosan sama cerita ini yaaaa
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 454 Episodes
Comments
Putra Scorpion
ok
2022-08-31
1
Frando Kanan
td kta Lin Lin muka ibu Lin Lin sama kek zaman modern? apakh ibu Lin Lin ini reinkarnasi?
2022-03-22
0
pengelana komik
berlebihan gak baik
2021-07-28
1