Segera setelah ia selesai meracik obat itu, Irara menelan salah satu pil berwarna putih susu dengan corak emas itu. Setelah meminumnya, Irara duduk dengan posisi kaki bersila di atas kasur nya. Ia berusaha menahan sakit dari obat karena sedang berusaha mengeluarkan racun dari dalam tubuhnya. Sungguh rasa sakit itu terlalu mengerikan. Sepertinya racun dalam tubuh gadis berusia 14 tahun ini sudah tertanam sejak lama sehingga satu pil kelas 5 tidak cukup untuk menyembuhkan nya. Perlahan lahan keluar cairan hitam pekat yang sangat berbau dari pori pori gadis itu. Yah sepertinya hanya tersisa sedikit racun dalam tubuh nya itu. Itu lebih baik. Irara dapat melatih kekuatan fisiknya sekarang. Besok ia harus mengalami sakit yang sama lagi. Setidaknya masih ada waktu untuk beristirahat dari sakit itu.
"Wei, masuklah," panggil Irara.
"Ya, nona?" jawab Weiwei sambil memasuki ruangan. Ada bau tidak sedap sedang mengetuk hidungnya. Weiwei merasa aneh. Ia melihat ke arah junjungan nya. Matanya terbelalak.
"Astaga nona! apa yang terjadi pada anda? Lalu cairan hitam apa itu nona? Sangat berbau," ucap Weiwei sedikit keras.
"Haih kecilkan suara mu Wei orang orang pasti akan mendengarnya kalau kau masih berteriak seperti itu," ucap Irara.
"Ma-maaf nona," ucap Weiwei.
"Lupakanlah, lalu jangan panggil aku nona, tidakkah kau ingat aku menyuruhmu memanggil ku dengan sebutan apa?" kata Irara.
"Ya, maaf Rara" kata Weiwei.
"Hmmm. Tolong siapkan air untukku mandi Wei. Aku benar-benar terganggu dengan bau tidak sedap ini," ucap Irara.
"Rara, kau ingin menggunakan aroma apa?" tanya Weiwei.
"Mawar saja" ucap Irara.
"Baiklah, aku akan menyiapkan nya segera," Weiwei melangkahkan kakinya keluar dan memilih menyiapkan air mandi untuk nona nya.
Irara berjalan menuju meja rias dan mengambil cermin kecil disana.
"Waaaah, sudah kuduga wajah ini sangat cantik. Bahkan lebih cantik daripada wajah ku di zaman modern," ucap Irara girang. Wajah nya sangat cantik. Bahkan dengan kecantikannya itu, ia dapat dipanggil Dewi yang turun dari kahyangan.
"Kurasa aku harus menyembunyikan nya dulu. Malam ini aku harus pergi ke tempat lelang tentunya untuk menjual obat obatku yang luar biasa ini hahaha," Irara saat ini persis seperti merak yang bangga.
"Rara, air nya telap si-" ucapan Weiwei terhenti ketika ia melihat wajah nona nya itu.
"Astaga Rara, kau sangat cantik. Bahkan Dewi pun akan iri pada kecantikan mu itu. Bagaimana bisa tadi aku tidak melihat wajahmu yang cantik itu," ucap Weiwei sambil melebarkan kedua bibirnya. Ia saat ini sangat syok.
"Ya ya aku tau aku cantik," ucap Irara enteng.
"Aku menyesal memuji nya," gumam Weiwei kecil walaupun begitu Irara tetap dapat mendengarnya.
"Itu kenyataan," ucap Irara memilih pergi dan menuju ke tempat mandinya.
Weiwei hanya diam dan mengikuti Irara dari belakang.
"Aku akan memanggil mu jika sudah selesai," ucap Irara lalu masuk ke dalam pemandian. Ia melepaskan hantu putih yang saat ini sudah menjadi hitam karena racun lalu masuk ke dalam kolam.
"Hah benar benar nyaman. Aku merindukan rasa nyaman ini. Besok aku akan segera melihat drama. Sejujurnya itu terlalu merepotkan. Tapi mau bagaimanapun kalau dalam drama tokoh antagonis nya menjadi malu itu bagus untuk ditonton bahkan tidak buruk untuk bergabung dalam kesenangan," gumam Irara seraya menyandarkan kepalanya dan memejamkan matanya.
Tanpa terasa, Irara malah tertidur di kamar mandi nya. Weiwei merasa bingung dengan nona nya yang tidak kunjung keluar. Ia memutuskan untuk sedikit berteriak.
"Raraaaaa, kenapa kau lama sekali mandinya?"
...
Tidak ada jawaban.
"Raraaaaa, apa kau tertidur?" ucap Weiwei sekali lagi.
...
Sekali lagi hening.
"Raraaaa!!!" kali ini Weiwei melontarkan teriakan keras membuat Irara terkejut.
"Haa?! Oh aku tertidur ya hehe. Maaf Weiwei aku tadi ketiduran," ucap Irara pada Weiwei sambil cengengesan.
Di depan pintu, terlihat Weiwei hanya bisa menutup wajah nya dengan tangan nya. Menghela nafas pelan.
"Biarkan saya menata rambut anda," ucap Weiwei.
"Ya," Irara membalas dengan singkat. Tidak peduli dan memilih acuh. Lagi pula ia akan tetap cantik dengan hiasan rambut apapun.
Jika Weiwei mendengar isi hati nona nya saat ini maka ia akan memuntahkan darah segar dari mulutnya itu. Nona nya terlalu narsis.
"Istirahat lah Wei. Hari sudah mulai sore aku ingin berdiam diri di kamarku," ucap Irara.
"Baiklah Rara, saya mohon pamit," ucap Weiwei sambil menunduk kepala nya sedikit lalu melangkah keluar kamar.
"Yah saatnya memanen uangku," ucap Irara sambil bersenandung kecil.
Irara memilih jubah berwarna hitam lalu memakai sebuah cadar. Lalu keluar dari jendela kamarnya menuju pelelangan.
🍃🍃🍃
Di sebuah paviliun kediaman Jendral Su,
Prang!!
Brakk!!
Brukk!!
Suara barang-barang berjatuhan dan berserakan di lantai. Seorang gadis dengan wajah 'cukup' cantik melempar barang-barang ke lantai. Para pelayannya hanya bisa menunduk gemetaran.
"Sial*n bagaimana bisa si j*l*ng itu mengusirku begitu saja?!! Memangnya dia pikir dia itu siapa?!! Lihat saja bagaimana aku akan mempermalukan j*l*ng itu besok. Nikmatilah hari hari mu yang tenang sebelum besok ku buat kau malu" ucapnya seraya tersenyum sinis.
Tidak salah, gadis itu adalah nona muda kedua keluarga Su, Su Qing Yu. Su Qing Yu merupakan gadis angkuh,sombong, dan arogan karena ayahnya merupakan seorang jenderal besar yang banyak berpatisipasi dalam kekaisaran ini. Dia iri pada Su Lin Lin karena lebih cantik daripada dirinya. Maka dari itu dia meminta bantuan ibunya selir pertama yang juga sangat membenci Su Lin Lin dengan cara meracuni gadis malang itu.
Kebenciannya meningkat saat pangeran ketiga,pria yang ia cintai, malah dijodohkan dengan Su Lin Lin. Ia marah dan makin sering membully Su Lin Lin.
🍃🍃🍃
Di rumah lelang Lu,
"Ada yang bisa saya bantu nona?" ucap salah seorang pegawai dengan ramah.
"Ya, aku ingin melelang pil ini," ucap Irara menunjukkan 3 pil berwarna putih susu bercorak emas.
Si pelayan tidak tahu pil apa yang dibawa orang bercadar tersebut. Tapi dari suaranya ia tahu bahwa orang dihadapannya ini merupakan seorang perempuan.
"Noona mohon tunggu sebentar. Saya akan menemui guru Liang untuk menilai pil ini," ucap si pelayan mempersilahkan Irara duduk lalu pergi untuk menanyakan kualitas pil itu.
"Guru Liang!!" teriak si pelayan dengan tergesa gesa berlari menuju seorang pria tua yang sedang berkutat dengan tungku dan herbal-herbal lain.
"Kau membuatku terkejut. Apa salahnya kau mengetuk pintu terlebih dahulu," oceh guru Liang.
"Maaf guru Liang," ucap si pelayan sambil menunduk.
"Sudahlah. Katakan ada apa sampai kau terburu buru seperti itu?" tanya guru Liang.
"Anda harus melihat pil ini guru Liang," si pelayang memberikan botol yang berisi tiga pil itu.
"Ba-bagaimana bisa?! Ini pil tingkat 5?!" guru Liang tak bisa untuk tidak terkejut.
"A-apa?! Bukannya itu berarti pil ini adalah tingkat tertinggi dari suatu pil?"tanya si pelayan sangat terkejut.
"Haih tentu saja bukan. Di kerajaan tengah tingkatan tertinggi pil berada pada tingkat 8. Sedangkan di benua Kanan pil tertinggi berada di tingkat 10. Namun pil tingkat 5 ini sangat langka disini. Cepat bawa aku pada orang yang menjualnya," jelas guru Liang.
"Eh ba-baik guru Liang," ucap si pelayan.
_-----------------------------------------------------------------------_
halooo semuaa😊
jadi aku up lagi karena like nya nambah
aku senang banget pas lihat like nya nambah
*maklum ini pertama kali aku ngepost cerita*
pengen nya sih bikin 2 chapter tapi ternyata cuma bisa bikin satu chapter soalnya ada tugas:(
makasih udah mau baca ceritaku yang kurang ini
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 454 Episodes
Comments
auL
waaah tiba" jd pinter ya,bisa tw cara n buat pil pake tungku,pakai elemen api lg,pdhl ktanya td blm bs kultivasi..
,ttp semangaaaaat nulisx ya thooooor👏
2023-05-23
1
fatma
.
2022-10-23
0
zip;
hantu=hanfu😘
2022-07-06
0