"Uhukk apa nona ini yang menjual pil obat tingkat 5 ini?" tanya guru Liang berhati-hati. Oh tentu saja dia tidak boleh menyinggung orang orang dengan kemampuan yang hebat. Dia masih ingin kepalanya berada di tempat seharusnya.
"Hm? Ya itu aku, ada masalah?"jawab Irara datar.
"Ti-tidak tentu saja tidak haha. Nona ini ingin melelang obat ini tentu saya senang. Pelelangannya akan dimulai besok pagi. Ini kartu untuk tamu VIP dan token khusus pelelangan ini. Nona dapat menggunakan ini di pelelangan ini," jelas guru Liang.
"Aku hanya akan datang siang hari untuk mengambil uangku. Aku tidak tertarik pada pelelangan ini," ucap Irara datar.
"Umm saya mengerti. Kalau boleh tau saya harus memanggil nona ini apa?" tanya guru Liang sopan.
"Lin. Kalian dapat memanggil ku dengan sebutan Lin" ucap Irara.
Jika kalian bertanya kenapa tidak menggunakan panggilan Rara? Alasannya adalah karena panggilan Rara itu hanya untuk orang-orang yang dekat dengannya.
"Baiklah aku serahkan urusan pil ini pada kalian. Aku akan pergi," tanpa menunggu balasan guru Liang, ia langsung melenggang pergi.
"Master Lin sangat misterius," ucap guru Liang.
"Tapi kenapa saya tidak bisa melihat tingkat kultivasi nya?" tanya si pelayan.
"Kau benar. Itu aneh," ucap guru Liang lalu meninggalkan si pelayan sendirian. Dia akan melanjutkan aktivitas nya yang tadi sempat terhenti.
🍃🍃🍃
Setelah dari rumah lelang, Irara langsung pulang dan memasuki kamar lewat jendela (kayak maling😂😂).
"Huft bosan sekali, hmm lebih baik aku mencoba untuk berkultivasi" gumam Irara.
Irara duduk di atas tempat tidur dengan posisi bersila (bersemedi). Irara mulai menarik nafas pelan lalu mengeluarkan nya lagi. Berusaha untuk rileks.
Beberapa jam kemudian,
"hah pemula tingkat 7 ini jelas terlalu lemah. Kupikir aku akan naik tingkat lebih tinggi lagi nyatanya hanya segini," ucap Irara sedih.
Jika orang mendengarnya mungkin sekarang orang itu akan marah sampai memuntahkan seteguk darah segar. Untuk mencapai tingkat Irara sekarang saja orang lain perlu waktu bertahun-tahun.
"Haih sepertinya besok aku perlu pergi ke hutan malam lagi," ucap Irara lalu memilih tidur karena besok drama akan dimulai.
🍃🍃🍃
Pagi hari,
Krekk..
"Rara ayo bangun ini sudah pagi," ucap Weiwei berusaha membangunkan nona nya itu.
"Hmm lima menit lagi," ucap Irara malas.
"Rara bangun kita harus ke istana," ucap Weiwei.
"Hmm iya iya ni bangun," ucap Irara.
"Air mandi nya sudah ku siapkan. Dengan aroma lavender seperti biasa," ucap Weiwei.
"Kau benar-benar rajin Wei," ucap Irara.
🍃🍃🍃
"Tunggu kenapa harus menggunakan hanfu berat seperti ini?" tanya Irara.
"Lalu kenapa hiasan kepala ini sangat banyak? Juga riasan wajah ini seperti badut," bahkan Weiwei belum menjawab satu pertanyaan Irara sudah bertanya lebih banyak lagi.
"Rara kita ke istana karena yang mulia kaisar sedang berulang tahun," ucap Weiwei.
"Ha?" Irara sedang mencerna kata-kata yang diucapkan oleh Weiwei.
"LAH? KENAPA TIDAK BERITAHU DARI KEMARIN WEI!!" teriak Irara.
Weiwei yang mendengar teriakan Irara langsung terperanjat kaget.
"Ma-maafkan kecerobohan saya nona," ucap Weiwei gemetar ketakutan. Ia pikir ia akan dihukum oleh Irara.
"Hei apa yang kau lakukan? Kenapa harus takut? Aku minta maaf karena berteriak padamu. Aku hanya terkejut Wei," ucap Irara lembut.
Irara menatap Weiwei yang sedang bersujud dengan tatapan lembut dan bersalah karena sempat membentaknya. Irara menjadi merasa bersalah melihat ketulusan Weiwei.
"Maafkan saya," ucap Weiwei bersalah.
"Sudahlah tidak apa apa," ucap Irara.
Irara sungguh tidak mempermasalahkan hal-hal ringan seperti itu, Tadinya ia berteriak hanya karena terkejut dengan berita itu.
"Kapan kita akan berangkat?" tanya Irara lagi.
"Ehm saya akan pergi untuk melihatnya," ucap Weiwei menundukkan badannya lalu melenggang pergi untuk melihat kereta.
'Hahh hadiah apa yang harus aku berikan pada kaisar? Ya kali aku gak kasih hadiah. Mati yang ada aku. hmmm seingatku, aku masih punya herbal langka yang aku dapat dari hutan malam. Yasudah den kasih itu aja.' fikir Irara.
"Rara mari berangkat sekarang kereta sudah siap," ucap Weiwei baru saja datang dan menyampaikan kabar yang tadi dia lihat.
"Hmm," Irara hanya membalas dengan deheman kecil.
Mereka berdua berjalan menuju gerbang yang di depannya terdapat kereta kuda yang cukup luas dengan lambang keluarga Jendral Su.
"Nona silahkan naik," ucap Weiwei sambil membantu Irara naik ke kereta kuda. Weiwei tidak memanggil Irara dengan panggilan Rara karena takut di dengar oleh yang lain.
Irara masuk kedalam kereta dengan muka merajuk. Lalu diikuti Weiwei masuk ke kereta
"Wei," panggil Irara sambil melihat kereta kuda untuknya duduk.
"Ya nona?" kata Weiwei.
"Katakan padaku bahwa kereta reyot ini adalah kereta kiriman si tua bangka itu," ucap Irara.
"Tu-tua bangka?" ulang Weiwei tak mengerti.
"Maksudku tentunya Jendral Su," ucap Irara membetulkan ucapannya.
"Setahu saya kereta kuda ini diberikan oleh selir pertama," ucap Weiwei.
"Lalu Jendral Su tidak berkata apa-apa?" tanya Irara.
"Anda juga tau nona. Tuan tidak pernah memperdulikan anda," ucap Weiwei semakin pelan.
"Ck," Irara berdecak pelan.
🍃🍃🍃
Istana
Saat memasuki banyak orang-orang yang menatap rombongan Jendral Su. Tentunya karena kehebatan nya saat berperang dan membawa kemenangan bagi kerajaan.
"Bukankah itu si sampah? Buat apa dia hadir di acara ini?" ucap pemuda 1.
"Kau benar, si sampah buruk rupa itu hanya akan mengganggu pemandangan," ucap pemuda 2.
"Bukankah sampah itu dirumorkan pemalu dan penakut? Lalu bagaimana bisa tatapan nya terlihat berbeda?" ucap pemuda 3.
"Huh mungkin saja dia hanya berpura-pura berani," ucap pemuda 1.
"Heh sudah sudah, kalian ingin Jendral Su mendengar ucapan kalian?" ucap pemuda 4 yang dari tadi hanya diam.
"Yang Mulia Kaisar, Yang Mulia Permaisuri, para selir serta para pangeran dan putri memasuki ruangan!!" teriak seorang Kasim.
'Gila sih tu Kasim teriakannya kayak toa masjid,' batin Irara.
"SALAM HORMAT KEPADA YANG MULIA KAISAR DAN PERMAISURI. SEMOGA HIDUP 1000 TAHUN LAGI," ucap semua orang.
"Duduklah" ucap Kaisar.
Terlihat semua orang mulai duduk pada kursi masing-masing. Irara melihat selir xiao (selir pertama) duduk di kursi istri sah dan Su Qing Yu duduk di kursi putri sah. Irara memilih diam dan tidak mengatakan apapun.
"ACARA DIMULAI," teriak Kasim.
_-----------------------------------------------------------------------_
halo para readers
huhuu😭 maaf nih aku cuma update sedikit kali ini
padahal kalian udah nungguin *dasar aku kepedean*
aku janji di chapter selanjutnya bakal update lebih banyak serius deh
oh iya jadi aku bakal usahain update 2 hari sekali tapi tergantung situasi juga ya:)
sekian terima kasih😊😊
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 454 Episodes
Comments
🤣🤣🤣 othornya kacau
2023-12-04
1
maliiiing maliiing....
2023-12-04
1
나의 햇살
udah tua dong 🤣🤣🤣
2022-06-11
0