Di tempat lain, Ibra dan Jacky sedang duduk berdua saja di bar. Sengaja mereka memilih tempat itu agar tak tercium oleh orang-orang nya Ryu. Bisa saja kan, Laki-laki itu menyuruh orang untuk menguntit mereka berdua.
“Jadi apa menurut mu cara itu akan berhasil?” tanya Ibra dengan gelas alkohol di tangan nya. Ia memandang Jacky dengan penuh harapan, kalau kali ini laki-laki itu akan membantu nya menyingkirkan Kanaya, sekaligus menyingkirkan Ryu dari sebutan Raja bisnis.
“Aku yakin seratus persen akan berhasil! mantan istri mu wanita lemah bukan, juga tak selama nya Ryu menjaga nya 24 jam! Saat kondisi nya lengah, maka culik dan bawa dia ke markas ku! akan kita eksekusi dia di sana. Setelah Kanaya tiada.. Aku jamin Ryu akan hilang kendali. Konsentrasi nya akan terganggu.” jawab Jacky meyakinkan Ibra, ia mengajak Ibra kerja sama karena ingin menghancurkan Ryu, tapi bukan dengan tangan nya sendiri, melainkan Ibra. Jika suatu saat ada kendala saat pengerjaan, yang akan di salah kan justru Ibra Wicaksana, bukan diri nya.
“Baiklah.. Aku terima tawaran kerjasama mu, tapi ingat, kau harus menjadi investor terbesar dalam perusahaan ku, dan janji mu untuk membawa teman-teman mu masuk ke dalam perusahaan harus kau penuhi!”
“Jangan khawatir soal itu, aku tidak pernah ingkar janji pada siapa pun, Ibra!”
“Baiklah, jika nanti orang-orang mu memberi kabar tentang Kanaya yang sendiri tanpa pengawasan dari suaminya, kabari aku. Akan aku lakukan saat itu juga!”
“Oke! Mari Kita bersulang untuk awal kerjasama Kita.”
*
*
Dua hari setelah kejadian insiden saat Kanaya dan Ryu datang berkunjung ke peresmian perusahaan baru Ibra, tiba-tiba saja Ryu mendadak harus keluar kota. Tapi saat itu perasaan Ryu kurang enak, ia yang harusnya berangkat pagi itu bersama dengan Albert, mendadak ia batalkan dan ia meminta pada sahabatnya itu untuk tetap di rumah menjaga anak dan juga istrinya.
Pekerjaannya kali ini tidak bisa Ia cancel atau mundurkan karena ada satu masalah yang harus ia tangani sendiri di sana.
Kanaya sudah menyiapkan baju-baju yang akan dibawa oleh suaminya, meskipun sampai saat ini mereka masih belum menjadi suami istri yang sepenuhnya, tapi Kanaya tetap mengurus Ryu dengan sepenuh hati selayaknya istri pada suaminya.
Saat Ryu akan berangkat, mendadak ya merasa gampang meninggalkan tanahnya sendirian bersama dengan Laura dan juga Albert.
“Kenapa? Sepertinya ada yang mengganggu pikiran mu?” tanya Kanaya, ia memperhatikan Ryu sejak tadi kenapa sikap nya seolah berat meninggalkan mereka.
“Entah lah, saat aku pergi lebih baik kau di rumah saja, Nay! Jangan melihat Kei juga saat aku tak ada! Firasat ku mengatakan akan ada bahaya setelah kepergian ku.” kata Ryu dengan jujur.
Kanaya mengerutkan kening nya, sikap Ryu yang seperti itu seolah menjelaskan betapa laki-laki itu sangat mencintai nya, ia takut jika wanita nya dalam bahaya saat ia sedang ada tugas di luar kota.
“Tidak akan ada apapun, Kamu konsentrasi saja menyelesaikan masalah di sana!” jawab Kanaya.
“Baiklah.. Tapi aku meninggalkan Albert disini! Jika ada sesuatu maka hubungi saja dia!” ucap Ryu lagi, setelah itu laki-laki itu langsung naik kedalam mobil. Perlahan mobil nya menjauh dan hilang dari pandangan Kanaya.
“Baru di tinggal pergi, tapi rasanya perasaan ku juga aneh! Berasa sepi sekali kalau Ryu gak ada!” ucap Kanaya sendirian. Setelah itu ia memutar badan dan tiba-tiba saja ada seseorang yang membekap mulut nya dari belakang. Para anak buah Ryu sedang ikut dengan nya ke luar kota, sedang Albert pun masih berada di rumah nya saat jam segini.
Berulang kali Kanaya meronta, tapi dia penasaran siapa yang menculik nya seperti ini. Berani sekali dia beraksi di kediaman seorang Ryu.
Kanaya pura-pura lemas, agar orang itu bisa segera melepas kan bius di tangan nya. Benar saja, setelah Kanaya pura-pura tak sadarkan diri, orang yang menculik nya langsung melepaskan bius nya, dengan segera ia membopong Kanaya untuk masuk ke dalam mobil yang menunggu di luar pagar.
Saat itulah, Kanaya berhasil mengirimkan pesan pada Albert untuk mengikuti GPS pada ponsel nya. Dalam hati Kanaya berucap 'Bodoh, kau pikir kau sudah berhasil menculik ku? Dasar bajingan.. Aku yakin ini ada sangkut paut nya dengan Ibra dan Mayang sialan itu! Baiklah.. Kalian sendiri yang membangun singa betina ini dadi tidur nya, untung saja Ryu pergi, kalau tidak aku tidak bisa mencoba ilmu bela diri ku.'
Albert syok mendapat kan pesan yang dikirim Kanaya, baru juga Ryu pergi, tapi sudah ada kejadian seperti ini. Albert langsung menghubungi Ryu, dan suami Kanaya itu langsung memerintahkan supir nya untuk putar balik.
“Berani sekali bandit sialan itu menculik istri ku, bahkan di rumah ku sendiri! Baiklah Kanaya.. Aku yakin kau tidak sepolos dulu.. Akan ku beri kau kesempatan untuk membabat habis bandit-bandit kelas rendah seperti mereka!”
“Apa gak apa-apa Bu Kanaya sendirian, pak bos? bagaimana kalau mereka menyakiti istri bapak!?” ucap salah satu anak buah nya.
“Kalian meragukan kemampuan istri ku?”
“Enggak pak, tapi kamu takut Buu Kanaya kenapa-napa!"
Ryu terdiam untuk beberapa saat, setelah itu ia mengirimkan pesan pada Laura untuk mengikuti kemana Albert pergi. Atau GPS yang ponsel Kanaya. Laura langsung mengiyakan pesan papa nya dan segera pergi menyusul Albert.
Sedang Kanaya sendiri, masih dalam mode pura-pura pingsan. Bau bius yang melekat di sapu tangan tadi memang agak kuat bau nya dan membuat nya sedikit pusing, tapi segera mungkin Kanaya tahan nafas agar gak menghirup bau bius nya.
Ia dibawa pergi jauh sekali, saat pelan-pelan Kanaya membuka mata nya.. Ia melihat salah satu bandit sialan itu sedang ingin menelepon seseorang.
“Aku sudah berhasil membawa nya ,pak! akan ku bawa dia ketempat yang sudah kita sepakati.” kata nya. Sayang nya, Kanaya tidak melihat dan mendengar mereka akan membawa Kanaya ke mana.
Di perkirakan perjalanan mereka memakan waktu setengah jam juga, setelah sampai...Kanaya mendengar ada salah satu bandit mereka yang mengatakan kalau dia sudah bekerja selama beberapa tahun dengan Ibra.
'Ibra? Jadi mas Ibra dalang di balik penculikan ku? Sialan kalian!' umpat Kanaya dalam hati..ingin sekali ia langsung memberi pelajaran pada Ibra. Namun sepertinya ia harus lebih sabar sedikit lagi, sampai Ibra dan Mayang datang ke sana.
Cukup lama Kanaya harus pura-pura tertidur..
“Bangunlah...aku tahu kau tidak sungguh-sungguh tertidur disini!”
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 22 Episodes
Comments