Tidak sepasrah itu

“Maaf Laura, bukan aku tidak dengar nasehat kamu! Tapi izinkan aku bicara dulu pada mas Ibra, untuk mencari jalan terbaik nya.”

“Jadi kau akan kembali pulang kesana? Bagaimana kalau dia menyakitimu, Nay?”

Kanaya diam.. Hati nya bergelut dengan kenyataan dan logika. Jika dia bertahan dan memilih untuk tetap berada disisi Ibra, laki-laki itu sudah pasti akan semakin menjadi-jadi membuat nya sakit setiap hari. Apalagi Mayang, wanita itu sudah merebut hati suami nya. Bagaimana mungkin dia masih bisa berada di antara mereka?

Di saat seperti ini saja, Ibra sudah tidak peduli.. bagaimana jika kelak, anak nya yang akan dia sia-siakan. Kanaya berpikir keras untuk mengambil keputusan. Saat ini mental dan anak nya adalah hal yang utama. Persetan dengan cinta yang masih tumbuh di dalam sana tanpa perasaan.

“Baiklah.. Aku akan mengikuti saran mu, untuk berpisah dari mas Ibra. Tapi besok aku akan kembali pulang untuk menyelesaikan semua nya, Lau.. Perusahaan ku masih di kendalikan oleh nya. Meskipun seluruh aset aku yang pegang..” Ucap Kanaya pada akhir nya. Setelah itu Kanaya bangkit dan duduk, ia mencoba meraih tas ransel yang cukup besar yang berada di atas nakas.

“Tolong ambil dan bawa semua ini, Laura. Aku percayakan semua nya pada mu.. besok saat aku kembali, surat-surat ini sudah tidak ada lagi bersama ku. Jadi mas Ibra tidak akan bisa mendapatkan nya lagi.

Laura terdiam untuk beberapa saat, tak sangka kalau Kanaya justru sudah mempersiapkan semua nya sendiri. Ia pikir Kanaya akan sama seperti perempuan pada umum nya, yang akan bertahan dan melupakan kesalahan suami dengan alasan anak dan cinta nya. Rupanya perkiraan nya meleset jauh.

“Kapan kau mempersiapkan semua ini?”

“Aku sudah curiga saat pengeluaran perusahaan di luar dari biasa nya. Pihak Accounting menghubungi aku, kalau ada penarikan dana besar beberapa bulan terakhir ini, dan setelah aku telusuri.. rupanya dana itu di transfer ke rekening Mayang. Sejak itu.. Aku langsung mengamankan seluruh aset perusahaan pada tas ini. Dan aku letakan di ruangan.. Untung nya mas Ibra tidak pernah curiga sedikitpun.”

Laura geleng-geleng kepala, ternyata Kanaya masih realistis dalam berpikir. Tidak lembek sesuai dugaan nya.

“Lalu kenapa tadi kau menolak untuk berpisah?"

“JuJur aku masih memikirkan anak ku, Laura! hidup tanpa figur ayah itu berat sekali..”

“Tapi akan lebih berat kalau ada papa nya, tapi dia seperti anak yatim! pikiran mu tak salah.. tapi kalau berada dalam kubangan lumpur setiap hari nya, bukan tidak mungkin kau akan tenggelam juga kan?”

“Ya.. Kau benar!”

“Jadi madumu itu Mayang? Teman kita sewaktu SMA kan?”

”Iya!”

“Dasar pelacur!”

”Kau masih ingat dengan nya?”

“Jelas aku ingat, karena dia anak dari wanita yang merebut papa ku! Buah memang jatuh tak jauh dari pohonnya kan, mama nya pelakor anak nya juga sama.” geram Laura. Jika diingat lagi.. Ingin sekali saat ini ia mendatangi papa dan juga pelakor itu lalu mencakar habis wajah nya biar mereka tahu rasa. Tapi Ryu, papa tiri nya melarang Laura berbuat itu.

“Jadi Mayang itu anak nya..”

“Iya!! Sudah lah.. lupakan saja soal masalah ku, aku bawa amanah kamu keruangan ku ya.. Sebentar lagi akan ada perawat untuk memindah kan kamu keruang rawat.. Aku ada jadwal sebentar lagi.. Jadi aku pergi dulu.” ucap Laura.

“Ok.. Makasih banyak untuk bantuan nya, Laura!”

Setelah Laura pergi, Kanaya kembali berbaring.. Tepat setelah itu ada dua orang perawat yang membawa nya pindah dari ruangan dokter Annie keruang rawat VIP. Malam itu, Kanaya benar-benar menghabiskan malam di rumah sakit, sesak rasanya jika kembali teringat akan des*Han Suami dan istri kedua nya dari kamar tamu sebelum ia berangkat ke rumah sakit. Ia sudah memutuskan untuk mengakhiri pernikahan nya saja.

*

Keesokan hari nya, Ibra sudah rapi pagi-pagi sekali.. sedang Mayang masih terlelap karena kelelahan bertempur semalaman.

Setelah selesai membersihkan diri, Ibra langsung datang ke meja makan, biasa nya di jam segini sudah ada makanan di meja makan. Namun saat ia tiba di sana, ART dirumah itu masih sibuk di dapur dan belum menyelesaikan ritual masak nya.

“Bi, kenapa hari ini lambat sekali menyiapkan sarapan? Naya belum bangun?” tanya Ibra pada Bibik yang bekerja di rumah nya dengan Kanaya.

“Iya pak.. Bu Naya belum turun.. Apa beliau sakit pak?? biasa nya setiap hari dia akan meminta saya memasak sesuatu untuk hari ini.. Tapi sudah jam segini beliau belum ada."

“Naya belum turun?”

“Belum pak!”

Ibra bergegas menuju kamar utama yang ia tempati bersama dengan Kanaya. Saat pintu di buka, kamar tersebut masih dalam kondisi rapi, dan belum tersentuh.

“Nay! kamu di mana?” panggil Ibra, namun tidak ada jawaban apapun dari dalam kamar sana. Hati nya semakin resah. Jika Kanaya yang pergi hanya membawa badan tak apa, tapi sertifikat dan surat-surat penting perusahaan ada pada nya. Bisa bangkrut mendadak Ibra jika semua fasilitas itu di cabut oleh Kanaya.

Semua ruangan tak luput dari pandangan nya, namun Kanaya tidak ada di sana. Karena merasa Kanaya tidak ada di kamar, Ibra kembali turun...dan saat itu, rupanya Mayang sudah duduk di meja makan masih dalam keadaan memakai lingerie panas nya tadi malam. Ia tidak merasa malu sama sekali padahal saat ini ada Bibik yang sedang memasak di dapur, dan bisa melihat nya dengan jelas dari sana.

“Kamu cari apa sayang!” sapa Mayang lembut. Dalam keadaan bangun tidur saja menurut Ibra Mayang masih begitu menggoda. Dulu, Kanaya juga cantik.. bahkan sangat cantik di bandingkan dengan Mayang saat ini. Namun semua berubah saat ia mulai hamil, Ibra mendadak jadi haus wanita cantik dan dia merasa tidak mendapatkan nya lagi dari Kanaya.

Seiring berjalan nya waktu, Ibra yang dulu nya memang mencintai Kanaya apa ada nya, jadi haus akan kekuasaan dan menginginkan lebih, termasuk harta peninggalan orang tua Kanaya. Ia lebih membutuhkan uang saat ini, jika punya uang.. Pasti gampang mendapatkan wanita manapun, begitulah pikir nya.

“Kanaya tidak ada dirumah.. Aku khawatir dia kabur!"

“Kabur?? Serius?” Mayang membulatkan mata nya saat tahu kalau Kanaya lebih memilih pergi dari rumah ini. Rencananya sudah berhasil.. Tinggal rencana selanjut nya saja.

“Iya, tidak ada siapapun di kamar, aku sudah memeriksa nya dan Kanaya memang tidak ada di sana!”

“Bagus kan kalau dia tidak ada.. Aku bisa memuaskan mu setiap hari, sayang.. Jadi lupakan saja Kanaya!”

“Masalah nya seluruh surat-surat penting perusahaan ada pada nya, Mayang!”

Terpopuler

Comments

Ira Sulastri

Ira Sulastri

Kanaya sebelum kembali kerumah lebih baik cari pengacara yg handal terlebih dahulu, babat habis suami sampahmu itu beserta pelakor. Ambil alih perusahaan secara tenang jangan gusrah gursuh, lebih berhati-hati LG dg semua makanan dan minuman yg kamu konsumsi

2024-09-01

0

Saadah Rangkuti

Saadah Rangkuti

rasain kalian....dasar benalu!!

2024-09-01

0

Yuliana Tunru

Yuliana Tunru

lhq iya lah surat2 semua harta milik kanaya ..suamimu cn numpang hidup p3ncuri jgsiap2 jd gembel yaaa..hati2 kanayq

2024-09-01

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!