Dendam Kanaya

Satu jam dua jam...Kanaya belum juga sadar. Rasanya ingin sekali Ryu mengobrak Abrik seluruh rumah sakit karena sudah tak sabar melihat perkembangan Kanaya yang hanya stuck di sana.

Albert yang tertahan di sana karena tak di perbolehkan pulang oleh Ryu merasa gelisah. Seperti nya Sahabat nya itu sudah habis kesabaran menunggu kabar Kanaya.

“Apa-apaan rumah sakit ini, kalau memang mereka tidak sanggup tinggal katakan saja! kenapa harus menunggu selama ini?” oceh nya kesal. Ryu tidak duduk dengan tenang, sebentar berdiri, sebentar bangun. Albert hanya memandang nya saja. Apalagi yang bisa dia lakukan.. Pergi dari sana salah, apalagi bergerak. Dan menegur Ryu.

“Daripada kau mondar mandir begitu, lebih baik kau beri pelajaran pada Ibra,.tangan ku sudah gatal ingin bermain-main dengan nya, Ryu!” ucap Albert bermaksud ingin mencairkan suasana tegang di sekitar nya.

“Kanaya lebih penting, daripada tikus sialan itu!” dengus nya. Setelah itu ia langsung mendatangi ruangan dokter yang menangani Kanaya. Albert juga turut ikut, takut kalau Ryu akan kehilangan kesabaran di sana.

“Bagaimana perkembangan Kanaya, Dok!” tanya Ryu tanpa basa basi lagi.

“Harus nya saat ini, Nona Kanaya sudah sadar.. Mungkin benturan di kepala nya yang menyebabkan dia belum sadar, Tuan.” Ryu maju selangkah lebih dekat dengan sang dokter. Mata nya tajam menatap dokter yang menangani Kanaya.

“Sebetulnya anda ini bisa bekerja atau tidak? Jika tidak sanggup, katakan saja.. Akan ku bawa dia keluarga negeri!”

“Bukan begitu, Tuan! Maaf jika cara kerja saya belum maksimal. Tapi semua kembali pada sang pencipta.. Kita Tidka bisa mengatur kehidupan seseorang!” ucap sang dokter , memberi pengertian pada Ryu. Namun bukan Ryu nama nya jika tidak marah untuk hal sekecil apapun.

“Shit!!” Ryu sudah menarik kerah sang dokter dengan amarah yang menggebu. Kulit tangan nya yang putih menjadi merah karena emosi yang meluap.

“Jangan begitu, Pa!” Laura muncul dari koridor menghentikan ulah papa nya yang hendak memukul rekan dokter nya. Benar saja.. Ryu langsung mengentikan kepalan tangan nya yang beberapa centimeter lagi mengenai wajah dokter Tama.

“Sabar, pa! dokter Tama benar.. Kanaya sudah sadar, ayo!” Laura menarik lengan papa nya dengan paksa. Kebiasaan Ryu yang selalu mengajarkan ilmu bela diri pada anak sambung nya, membuat Laura juga menjadi sebelas dua belas dengan nya.

Mereka tiba di kamar Kanaya, wanita malang itu sudah membuka mata nya, namun sepertinya ia masih mencoba menstabilkan cara kerja tubuh nya yang baru saja bangun dari tidur lelap nya.

“Nay..” panggil Laura pelan.. Sedang Ryu berdiri di samping kanan dekat kepala Kanaya. Jika saja Ryu bisa langsung memeluk nya, seperti yang Laura lakukan. Mungkin saat ini ia akan langsung memeluk wanita kecil nya.

Kanaya menoleh ke arah Laura. Ia mengedipkan mata nya beberapa kali untuk merespon ucapan Laura.

“Laura.. ” Kanaya mulai terisak.. Pilu sekali tangisan nya membuat hati Ryu bagai teriris belati yang begitu tajam.

“Anak ku, Lau... Anak ku sudah tidak ada disini, bajingan itu sudah mengambil anakku kan?” Kanaya terisak lagi, Laura langsung memeluk nya, dengan tangis yang sama mereka tenggelam untuk beberapa detik.

“Anak kamu selamat, Nay! Meskipun dia lahir prematur.. Tapi jagoan mu selalu kuat, sama seperti mama nya yang berhasil bertahan saat kondisinya tidak memungkinkan.. Dia persis seperti mu!” kata Laura, di sontak saja Kanaya langsung menghentikan tangis nya. Ia menatap Ryu dan Laura bergantian, Kanaya menghapus air mata nya dengan kasar.

“Anak ku masih hidup?? Dia masih hidup, Laura?” Kanaya menatap Laura dengan harapan baru. Ada amarah di mata nya.. Namun juga ada kebahagiaan di sana.

“Iya.. Dia masih hidup.. Keponakan ku masih hidup, Nay!” Kanaya kembali memeluk sahabat nya dengan erat. Bersamaan dengan itu, Ryu mendapatkan kabar kalau Ibra membuat berita kehilangan untuk Kanaya, dan kecil kemungkinan kalau istri nya bisa selamat.

Jelas seluruh karyawan Royale bersimpati dengan kabar itu. Bahkan pengacara keluarga Kanaya juga turut hadir dalam acara jumpa pers dengan seluruh karyawan di Royale.

Tangan Ryu kembali mengepal, dan Albert bisa merasakan nya.

“Ada apa?” bisik Albert di telinga Ryu, agar suasana haru dan bahagia itu tidak terganggu dengan pertanyaan nya.

“Bajingan itu sudah membuat kabar kehilangan Kanaya.”

“Secepat itu? padahal belum 24 jam!”

“Dia pikir Kanaya tidak selamat, tapi tikus itu lupa.. Orang yang hampir mati dan masih diberikan kesempatan kedua oleh Tuhan, amarah nya lebih besar dari Auman singa betina!” tambah Ryu pelan.

“Apa yang harus kita lakukan sekarang?”

“Kita lihat saja sejauh apa dia bertindak! Jika sudah saat nya maka Kanaya sendiri yang akan membalas nya.” ucap Ryu meyakinkan Albert, dua orang yang terkenal bengis itu jika sudah beraksi maka lawan nya sudah pasti akan cacat jika dibiarkan hidup, jika tidak, maka jasad nya pun akan sulit di temukan, mendengar namanya di sebut, Kanaya pun menoleh pada Ryu.

“Ada apa, Om?” tanya Kanaya.

“Suami mu, dia merilis berita kalau kau hilang pada karyawan Royale. Dan kecil kemungkinan nya kalau kau akan selamat, semua orang turut prihatin pada nya.. Termasuk pengacara keluarga mu juga..”

“Jadi dia sudah merilis berita kematian ku?? Dasar bajingan sialan! Rugi sekali aku pernah cinta mati pada nya!”

“Hati nya terbuat dari iblis, Nay! rugi sekali dia sudah menyia-nyiakan kamu! Kelak jika suatu hari nanti kau akan bertemu dengan orang yang sangat mencintai mu, melebihi diri nya sendiri.. Aku pastikan Durjana Itu akan menyesal!” sahut Laura. Ryu hanya memandang Kanaya dengan tatapan lain. Setiap tahun harapan nya selalu sama, yaitu bisa melihat Kanaya bahagia hidup bersama nya, namun semua harapan itu sepertinya jauh sekali dari hidup nya,, apalah arti diri nya untuk Kanaya yang cantik mempesona di mata nya. Meskipun dalam keadaan hamil kemarin, pesona Kanaya tetap masih ada..Tidak kurang sedikit pun. Dalam hati ia berjanji akan membuat hidup Kanaya dan anak nya bahagia dan nyaman.

“Kau tidak tertarik untuk membalas nya, Kanaya?” Albert bersuara, karena sejak tadi ia merasa penasaran, apa Kanaya akan jadi seperti yang Ryu ucapkan, atau akan menjelma menjadi singa betina yang menakutkan?

“Tentu saja om! Ibra Wicaksana.. Meskipun dia ayah dari Anak ku, tapi aku tidak akan memberi nya ampun kali ini.. ”

“Kau yakin tidak akan memberi nya ampun?” kini gantian Ryu yang bertanya.

“Tentu saja, dia sudah membuat nyawa ku dan nyawa anak ku dalam bahaya, apalagi yang bisa dilakukan seorang ibu, selain membalas kan dendam untuk anak nya??”

Terpopuler

Comments

Nar Sih

Nar Sih

siipp kanaya ayoo lanjut bls demdam mu semagatt👍💪

2024-09-07

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!