Melihat Kei

Usai dari acara di kantor Ibra dan merusak nya, emosi Kanaya masih belum stabil. Di dalam mobil ia hanya diam saja ak bersuara sama sekali. Ryu yang duduk di samping nya pun merasa aneh.

“Nay!” panggil Ryu.

“Ya!”

“Setelah ini kita akan ke kantor ku, aku akan mengenalkan kamu pada karyawan ku,” ucap Ryu memancing obrolan di antara mereka, berjuta-juta orang sudah di hadapi nya selama ini, tapi saat berhadapan dengan istri nya sendiri, kenapa ia mendadak jadi orang yang kehabisan akal.

“Iya!” jawab Kanaya acuh, karena pikiran nya sedang mengarah pada Ibra dan Mayang. Andai saja halusinasi benar.. Saat ini, pria gila harta itu sudah mati.

Ryu ketar ketir, harus cara apa lagi yang ia gunakan agar Kanaya mau bicara panjang lebar dengan nya. Akhir nya dengan berat hati, Ryu menghubungi Albert, lewat pesan.

(Bagaimana cara nya mengatasi perempuan yang mogok bicara?) kata Ryu pada isi pesan nya.

(Kau melakukan kesalahan?) bukan nya langsung menjawab, Albert justru melempar pertanyaan ulang, membuat Ryu kesal setengah mati. Dalam hati ia mengumpat, ingin sekali rasanya melihat sahabat nya itu di atas laut dan bawah nya di beri ikan hiu.

(Bodoh! Jawab saja pertanyaan ku!) balas Ryu.

(Cari saja topik yang bisa mengembalikan mood nya, katakan saja.. kalau kalian akan berkunjung ke tempat Kei, aku jamin.. Kanaya akan langsung merespon.)

Balasan Albert barusan memunculkan ide baru bagi Ryu.

“Nay, aku lupa kalau tadi Laura mengatakan, Kei seperti nya rindu pada mu.. Bagaimana kalau hari ini kita datang berkunjung.. Aku juga kangen ingin mencubit pipi nya yang gemas itu.” Kanaya langsung menoleh.

“Iya.. Aku juga rindu pada nya, selepas dari kantor kita ke tempat Kei ya, Tuan!”

”Jangan panggil aku Tuan lagi, sekarang kau istriku.. Panggil saja aku dengan sebutan Ryu. Jangan pake embel-embel Tuan lagi, kurang enak di dengar orang Nay,”

“Sejak kapan seorang Banyu Ryu Anjasmara memikirkan omongan orang?” ejek Kanaya.

“Sejak aku menikahi kamu! Usia kita terpaut jauh.. Apa kau tidak merasa risih dengan semua itu?” tanya Ryu. Kanaya memandang Ryu cukup lama.. Entah sejak kapan, tapi ia merasa kalau papa dari sahabat nya itu berubah jauh dari pertama kali Kanaya mengenal nya. Kini sifat Ryu jauh lebih hangat, tidak acuh seperti biasa nya. Dan tatapan nya itu... Siapapun perempuan yang melihat nya, pasti akan terpesona..

“Seperti tuan, emmm maksud ku seperti kamu yang menerima segala kekurangan ku, maka seperti itu juga aku menerima kamu.. Kelak jika aku siap, aku akan memberi kan kamu hak atas ku sepenuh nya.. ” jawab Kanaya.

“Hak??”

“Iya.. Hak mu sebagai suami, dan tugas ku sebagai istri.. Kelak jika aku sudah berdamai dengan hati ku.. maka akan ku penuhi semua itu.”

Ryu terdiam, entah ia harus bahagia atau semacam nya.. Kanaya akan memberikan hak nya sebagai suami, tapi.. Apa perasaan nya juga bisa ia miliki?

“Aku menikahi mu bukan atas dasar nafsu, Nay! Jika karena itu, mungkin sudah lama aku menikah lagi. Atau menyewa perempuan mana pun, sudahlah.. Kelak kau akan mengerti!” jawab Ryu, entah kenapa mendadak emosi nya naik, mendengar Kanaya hanya menilai nya sebatas itu saja.

“Kau marah? Apa perkataan ku menyinggung mu?”

“Iya! kau sangat menyinggung perasaan ku,” Setelah itu pandangan Ryu kembali ke depan, sedang Kanaya bertanya-tanya dalam hati, bagian mana yang sudah menyinggung perasaan nya. Tujuan laki-laki menikah pasti karena kebutuhan biologis kan? Lalu kenapa Ryu marah soal itu?

Karena itu juga akhir nya Kanaya juga diam, sampai mereka tiba di tempat Kei dan Laura berada.

“Kei sayang...” Kanaya langsung berhambur memeluk anak nya, sudah lama ia tak bertemu dengan Kei, buah hati yang tinggal jauh dari nya.

Ingin sekali rasanya Kei ikut bersama dengan nya, hingga setiap hari ia bisa memberi nya Asi. Tapi keadaan belum memungkinkan, Jika Ibra sampai tahu.. Maka bisa saja Ibra akan mengambil anak nya, atau laki-laki itu bisa saja membahayakan nyawa Kei, kan?

Karena sebab itulah, Kanaya harus merelakan Kei tinggal terpisah dengan nya untuk sementara waktu.

Melihat Kei semakin gembul, membuat Ryu ikutan gemas. Ia mendekati Kanaya dan berdiri di samping nya, menimang-nimang Kei dengan sepenuh hati. Terlihat mereka seperti keluarga yang harmonis dan bahagia. Momentum itu di manfaatkan Laura untuk mendapat kan hasil yang terbaik. Ia memotret papa sambung nya bersama dengan sahabat nya.

“Manis sekali!” ucap Laura sendirian.

“Manis ya?? Kita kapan bisa seperti itu?” bisik Albert di dekat telinga Laura, membuat gadis itu langsung terlonjak kaget.

“Om Albert!”

“Hiss, berapa kali aku harus katakan pada mu, jangan memanggil ku dengan sebutan om! Aku belum setua itu, Laura!” Rajuk Albert menolak keras panggilan dari Laura yang mengatakan Om, Albert dan Ryu memang usia nya beda tipis. Tapi mereka berdua belum terlihat tua seperti orang kebanyakan, masih awet muda sampai sekarang.

“Memnag om sudah setua itu, kenapa tidak terima dengan kenyataan!”

“Hei, aku menerima nya.. tapi kadang-kadang!”

“Huuu!”

“Diam lah, dan coba perhatian mereka.. Sangat serasi sekali, belum pernah aku melihat Ryu sebahagia itu bersama dengan seorang wanita!”

“Iya om, orang sebaik papa Ryu harus nya mendapatkan kebahagiaan yang sesungguh nya. Aku tahu saat bersama mama, papa tidak seperti itu. Pernikahan mereka hanya aliansi saja untuk menyelamatkan mama dari papa.”

“Saat ini orang tua itu sudah mendapatkan cinta dalam hidup nya! jangan berlebihan Laura. Harusnya saat ini kamu memikirkan tentang masa depan kita saja.”

“Masa depan bagaimana? memang nya aku mau sama om?” sentak Laura, menunjukan wajah ilfeel nya pada Albert uang terus saja mengganggu nya. Terkadang ia merasa senang jika Albert ada di sisi nya kadang juga merasa sangat kesal sekali.

“Jangan galak-galak jadi perempuan, nanti kalau jodoh beneran , malu loh!” ejek Albert lagi, membuat Laura tambah kesal.

“Aku bilangin papa, Nih!”

“Jangan dong! Nanti papa mu bisa pindahin aku ke samudera Atlantik! terus kalau aku kangen kamu gimana?? ”

“Dih makin aneh aja ni om-om bule! Udah ah..” Laura memutuskan untuk pergi dari sana saja, kalau tidak entah Semerah apa nanti pipi nya jika terus di ejek oleh Albert, yang ia kenal sebagai laki-laki playboy kelas dunia.

“Loh kok pergi sih, Laura! Jangan pergi dong..”

“Bodo amat! Dasar om-om mesum!” umpat Laura masih dalam keadaan kesal luar biasa.

Terpopuler

Comments

Nar Sih

Nar Sih

lanjutt kakk ,certita nya tmbh seruu 👍

2024-09-21

0

Wifasha Fasha

Wifasha Fasha

suka,kren thor

2024-09-21

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!