Menjajal ilmu

“Bangun lah, Nay! Aku tahu kau tidak pingsan sungguhan! Jangan-jangan Saat kemarin kami membuang mu ke sungai kau juga hanya pura-pura tidak berdaya, aslinya kau masih kuat kan?” hardik Mayang, membangunkan Kanaya menggunakan kaki nya.

“Oh, jadi kalian mengakui kalau kalian lah yang membuang ku sungai? CK.. salah nya aku tidak membawa polisi!” jawab Kanaya saat membuka mata nya, senyum culas terlihat dari wajah nya. Ia langsung bersedekap dada dan menaikan satu kaki nya ke atas kaki lain nya.

“Kau tidak akan bisa menangkap kami.” tambah Ibra, dan Kanaya langsung menatap nya.

“Memang, aku rasa, jika kalian di tangkap itu terlalu mudah balasan nya!”

Mayang tak suka Kanaya bicara begitu, sikap nya angkuh seperti bisa segala nya. Padahal saat ini dia sendirian di sini, tapi masih saja arogan.

“Kau ingin membalas kami? Hei.. Kau tidak lihat kalau kau sendirian di sini? Suami mu yang kata nya penguasa dunia bisnis itu tidak ada, jadi apa yang kau banggakan? Arogan sekali kau punya niat untuk membalas kami!” kata Ibra memberi peringatan.

“Apa kau yakin suami ku tidak akan datang? CK, lupakan soal itu, apa kalian pikir aku tidak bisa jika hanya membunuh kalian saja di sini?” Mayang tersentak, begitu juga dengan Ibra. Kanaya yang mereka kenal tidak seperti sekarang ini. Kenapa seolah Kanaya berubah jadi orang lain, sikap nya tegas dan sangat berani.

“Membunuh? Kau memegang pisau saja takut, Nay!” ejek Ibra lagi, sontak saja kalimat tersebut membuat Kanaya kesal. Tangan yang semula terikat, berhasil lepas dengan mudah. Kanaya bangun dan langsung memberi tunjangan tepat di daerah vital Ibra, membuat laki-laki itu meringis kesakitan.

“Apa yang kau lakukan brengsek!” Mayang mencoba meraih rambut Kanaya, hal yang biasa perempuan lakukan saat berduel. Namun sasaran Mayang meleset, Kanaya berhasil mengelak. Dan langsung memberi Mayang tamparan maut nya.

Wanita itu meringis kesakitan, sembari memegangi pipi nya yang terasa terbakar bahkan sampai berdengung. Bisa di pastikan kalau tamparan Kanaya sangat kuat.

“Masih kurang?” tanya Kanaya dengan alis yang menyatu.

“May, hubungi pak Jacky.. Wanita lucknut ini seperti nya tidak bisa kita atasi sendirian.” seru Ibra memberi perintah pada istri kedua nya. Wanita itu langsung menurut, sedang Kanaya mengunci nama Jacky dalam memory kepala nya. Jika nanti ia berhasil keluar dari sini hidup-hidup dan Albert tidak datang, maka nama Jacky akan ia laporkan pada Ryu. Bisa jadi orang yang bernama Jacky itu salah satu musuh dalam selimut nya.

“Panggil saja, panggil semua orang yang bisa membantu kalian berdua!” tantang Kanaya. Perempuan itu maju satu langkah, sedang Ibra mundur dua langkah, begitu seterus nya, sampai Kanaya bosan. Entah itu cara Ibra mengukur waktu atau yang lain nya. Tapi Kanaya sudah lelah bermain-main begitu.

Saat Kanaya akan memulai pergerakan, tiba-tiba.. salah satu kaki nya masuk ke dalam jebakan yang mungkin sudah di siap kan untuk nya, tapi untung saja, Kanaya berhasil mencabut kaki nya dengan cepat, hingga jebakan itu gagal mengikat kaki nya.

Kanaya melompat dan langsung menerjang perut Ibra dengan kuat, membuat laki-laki itu langsung terguling. Tak sampai di sana, Kanaya langsung mendekati nya dan memberi Ibra pukulan-pukulan berat hingga wajah tampan nya langsung babak belur.

“Dasar biadab kau! Kau datang padaku dengan mulut manis mu ini kan? Kau jebak aku hingga aku jatuh cinta pada mu, padahal sejati nya kau hanya menginginkan harta orang tua ku saja! Untung nya papa ku tidak bodoh.. Dia bisa melindungi harta nya sendiri meskipun dia sudah tidak ada lagi.” ucap Kanaya dengan suara lantang, sembari tangan nya terus menghujani Ibra dengan pukulan-pukulan keras nya.

“Hentikan Kanaya, kau bisa membunuh suami ku!” sergah Mayang. Kanaya langsung menoleh.

“Kau takut suami mu ini mati, tapi kau membiarkan anak dalam perut ku tiada bahkan sebelum di lahirkan?? kau sama brengsek nya dengan suami matre mu ini!!” teriak Kanaya lagi.

Kanaya akan menyerang Mayang, namun para anak buah Jacky keburu menjegal diri nya, hingga ibu satu anak itu tersungkur ke tanah. Ia sedikit meringis kesakitan saat kulit nya menyentuh tanah.

Dua anak buah Jacky langsung menyerang Kanaya, hingga perempuan itu hampir saja kehabisan tenaga. Anak buah Jacky memiliki postur badan yang cukup tinggi dan tegap. Hingga Kanaya lumayan kewalahan.

Untung saja, Albert dan Laura tiba lebih dulu di bandingkan Ryu. Mereka langsung menolong Kanaya dan membabat habis anak buah Jacky.

Kesempatan itu Kanaya ambil untuk menangkap Ibra dan Mayang. Setelah berhasil barulah Kanaya datang dan membantu Albert dan Laura.

“Hanya tikus kecil, Nay! Urus saja dua manusia paling tak beradab itu. Biar aku dan Laura sayang yang membereskan dua jangkrik sialan ini.”

Kanaya mengangguk, lalu kembali beralih ke Ibra dan Mayang, di tatap nya satu persatu wajah dua orang yang hampir saja membuat nya kehilangan nyawa, berikut Kei.

“Aku bisa saja langsung memberi kalian kematian sekarang juga, tapi rasanya gak adil dan terlalu mudah! Penderitaan yang aku alami selama ini, tidak sebanding dengan kalian yang harus meregang nyawa secepat itu.. Begini saja.. Bagaimana kalau aku meminta suami ku, untuk membawa kan darah orang yang mengidap penyakit HIV? Lalu menyuntikan nya ke tubuh kalian berdua?” Ibra dan Mayang kompak membulatkan mata mereka.

“Jangan Nay, aku mohon..” Ibra memelas, mana mungkin ia mau di tularkan HIV dengan sengaja. Ia memang suka jajan di luar, tapi semua perempuan yang ia sewa sudah terbukti aman dan bersih.

“Jangan, Nay! Ampuni aku.. Ak-u.. Masih Kakak nya Laura!” seru Mayang, dengan ia mengatakan semua itu, ia berharap kalau Kanaya akan luluh hati nya. Karena bagaimana pun Laura sahabat baik nya sejak dulu.

“A-pa? Kakak nya Laura?” Kanaya syock, karena memang ia baru tahu kalau Laura ternyata punya kakak. Tapi.. Bukan kah ibu nya Mayang, Asih, sudah merebut papa nya Laura, itu artinya.. Mereka sudah berhubungan lama? Bahkan sejak Laura belum lahir sekalipun. Kanaya langsung menoleh ke Arah Laura, rupanya mereka berdua sudah membuat kedua orang besar itu tak sadarkan diri tergeletak di atas tanah. Laura mengangguk membenarkan ucapan Mayang.

“Iya.. Aku kakak nya Laura, kau tega menyuntikan aku virus menjijikan itu?”

“Kita memang seAyah! Tapi kau jangan lupa.. Kalau kita beda ibu, Mayang! Orang tua mu yang sudah menjalin hubungan saat papa ku sedang terikat pernikahan oleh mama ku.. Kau anak pelakor! Biar aku yang menghubungi papa untuk membawa apa yang kamu mau, Nay!”

Terpopuler

Comments

Nar Sih

Nar Sih

wahhh ...permainan yg seruu kanaya kmu pinter baget semagatt kanaya babat habis dua manusia yg membuat mu menderita ini👍💪

2024-09-24

0

Ira Sulastri

Ira Sulastri

Rencana yg mantap Kanaya 🔥🔥🔥

2024-09-24

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!