"Kopi hitam, Bi. Dua gelas. Nggak usah diaduk yah." Pinta si Gendut Ireng ketika sudah masuk ke sebuah kedai kopi, kemudian mendekati kursi panjang yang sudah tersedia di kedai itu, diikuti oleh si Codet.
"Kalau Saya mah diaduk ya Bi." Si Codet ikut bersuara.
"Baik, Mas. Tunggu sebentar yah." Ucap si Bibi Warung sambil menghidupkan kompor gas nya kemudian menuangkan air ke dalam teko kecil.
Si Gendut Ireng dan Si Codet duduk bersisian. Sambil menunggu pesenan kopinya, keduanya menikmati jajanan tempe mendoan, dan pisang goreng yang ada di atas meja.
Tak berselang lama, Si Bibi Warung datang dengan membawa dua gelas air kopi panas masih ngebul.
"Silahkan, Mas. Ini yang nggak diaduk, dan ini yang diaduk" Kata si Bibi Warung sambil meletakkan dua gelas dengan hati-hati.
"Makasih, Bi." Ucap si Codet, dengan sopan.
"Sama-sama, Mas. Selamat menikmati jajanan nya. Mumpung masih anget." Kata si Bibi warung lagi, sambil mencelos ke dalam kedainya. Beberapa saat, suasana di dalam kedai hening. Hanya terdengar suara minyak panas yang memasakkan pisang goreng serta mendoan. Tak berselang lama, si Bibi muncul kembali sambil menenteng serok yang penuh dengan tempe mendoan, kemudian menaruhnya ke nampan yang ada tempe mendoannya.
"Wah enak nih, Bi. Siang-siang makan tempe mendoan panas dengan menggigit cabe rawit. Bikin seuhah." Ucap si Codet sambil mengambil satu tempe mendoan yang masih panas. Sontak saja, si Codet merasa kaget karena kepanasan memegang tempe mendoan yang masih panas. Spontan ia melemparnya pas ke lengan si Gendut Ireng yang sedang menikmati hisapan asap dari sigaret kreteknya.
"Wadaw..sialan Luh..panas tauuu...!" Si Gendut Ireng kaget dengan menggerakkan tangannya yang terkena tempe mendoan yang masih panas.
"Hehehe. Maaf Bos. Tak sengaja. " Si Codet terkekeh.
"Hati-hati masih panas, Mas." Si Bibi Warung menimpali sambil terkekeh juga.
Beberapa detik kemudian, ada seorang wanita paruh baya masuk ke dalam warung.
"Bi, Pisang goreng lima ribu. Mendoannya sepuluh ribu, dibungkus yah."
Tiba-tiba terdengar suara wanita paruh baya tepat di samping si Gendut Ireng.
"Eeee.. Bu Imas. Bikin kaget saja, pulang dari mana, kok sendiri, biasanya dengan Kang Inon."
"Saya pulang dari Kampung Cihaur Bi, nganterin si Bungsu katanya pengen main dan nginep di rumah neneknya." Jawab wanita yang dipanggil Imas.
"Kang Inon nya baru bangun, tadi tidur setelah pulang dari rumah Juragan Basri, Semalem kebagian jadwal ronda. Nggak kebetulan sekali, semalem ada kawanan maling yang menggasak rumah Juragan Basri. Bahkan Kata Kang Inon, ia ikut mengejar dan bahkan ikut bertarung dengan para pencuri. Sayangnya pencurinya kabur. Tapi ketangkap satu orang." Kata Bu Imas lagi.
"Deg..deg.." Tiba-tiba hati si Gendut Ireng mendadak berdegup ketika mendengar pembicaraan dari wanita paruh baya itu.
"Uhuk...Uhuk.. " Si Codet juga mendadak tersedak.
"Bbo..boleh minta air putih. Bi." Pinta si Codet pada si Bibi Warung.
"Owh. Boleh Mas... Ini Mas. Pelan-pelan saja makannya, Mas hehehe. Tawari juga pacarnya apa isterinya." Goda si Bibi Warung, sambil memberikan segelas air putih ke si Codet. Si Codet pun pura-pura tersipu malu, yang padahal sedang menyembunyikan rasa kagetnya setelah mendengar jelas pembicaraan wanita paruh baya itu yang bernama Bu Imas.
Sementara Si Bibi warung dan Bu Imas tampak biasa saja, malahan melanjutkan pembicaraannya.
"Bibi juga mendengar tadi pagi, dari cerita beberapa Warga Kampung Lemburasri yang mau pergi ke Sawah, mampir dan ngopi dulu di warung Bibi. Wah.. Kang Inon berani juga yah dan bisa membuat para pencuri itu kabur. O iya, itu maling yang ketangkap sekarang posisinya di mana?"
"Menurut informasi dari Kang Inon, maling yang ketangkap itu kini sudah di bawa ke pihak yang berwajib. Dan yang keduanya masih dalam pencarian lagi, semoga saja cepat ketangkap yah, Bi. Dan Saya yakin, pihak yang berwajib akan mudah menangkapnya. Karena sudah dapat info, nama kedua maling yang sekarang buron itu Si Gendut Ireng dan Si Codet, katanya." Jawab Bu Imas, sedikit panjang lebar menceritakan kejadian semalam sesuai yang Ia dengar dari Kang Inon, suaminya Bu Imas.
"Ini Uangnya Bi. Dua puluh ribu yah. Makasih ya Bi.. Mari Mas." Lanjut Bu Imas lagi, sambil menyerahkan uang lembaran dua puluh ribu, dan langsung menerima pesanannya yang sudah si Bibi Warung masukkan kedalam kantong kresek putih. Dan kemudian meninggalkan warung si Bibi. Bu Imas terus berjalan ke arah Timur, menuju kampung Lemburasri.
"Ma..mari.. mari.. silahkan, Bu.!" Si Gendut Ireng dan si Codet hampir bersamaan ketika Bu Imas pamitan.
Tak berselang lama, Si Gendut Ireng memberikan kode pada Si Codet, agar segera meninggalkan tempat itu. Si Codet pun mengangguk, lalu keduanya berdiri.
Setelah si Gendut Ireng membayar jajanannya, dengan sedikit buru-buru Si Gendut Ireng dan Si Codet berjalan ke arah Utara, yang mana jalan ke arah Utara itu menuju ke kota yang menjadi tujuan Ki Gendut Ireng dan Si Codet.
Dan ketika sudah berada jauh dari Warung si Bibi kira-kira ada seratus meteran, Si Gendut Ireng menghentikan langkahnya dan berhenti di bawah pohon Kormis pinggir jalan sambil mengatur nafasnya yang mendadak terasa sesak di dadanya.
"Kita harus segera meninggalkan wilayah sini, Det. Jangan sampai terlambat dan jangan sampai pihak yang berwajib mengetahui keberadaan kita." Ucap Ki Gendut Ireng. Nampak dari wajah nya yang sedikit pucat pasi penuh rasa khawatir dan takut.
"Iya Bos, kita harus segera agar bisa selamat." Si Codet mengiyakan.
"Terus bagaimana nih, tentunya akan memakan waktu lama juga perjalanan kita. Kalau menunggu Angkudes, kayaknya akan lebih lama, Bos." lanjut Si Codet.
"Iya Det, terpaksa Kita harus nebeng naik mobil bak yang menuju arah ke kota. Biasanya jam segini masih banyak mobil bak yang membawa sayuran ke pasar induk atau mobil bak yang akan membawa belanjaan dari kota atau mobil bak yang habis nganterin barang. " Kata Ki Gendut Ireng kemudian.
"Ya udah, Kita nunggu mobil bak kosong saja di sini, Bos. Sambil istirahat." Ucap Si Codet sepakat.
"Naaah tuh lihat, Bos, kayaknya ada mobil bak yang bawa sayur." Si Codet nunjuk ke arah mobil yang sedang meluncur lambat ke arahnya.
Dengan sangat kebetulan, tak lama kemudian, datanglah sebuah mobil bak yang membawa sayuran tapi tidak penuh. Hanya setengah bak saja. Mobil itu melintas di hadapan Si Gendut Ireng dan Si Codet. Tak menunggu lama, si Gendut Ireng melambaikan tangannya.
"Maaaas, tunggu..!" Teriak Si Codet.
Mobil pun berhenti kurang lebih tiga meteran dari tempat Ki Gendut Ireng dan Si Codet berdiri. Nampak kepala seseorang nongol dari dalam kepala mobil, tak menunggu lama, Si Codet segera menghampirinya. Sementara
Sii Gendut Ireng menunggu di tempat semula.
"Mau kemana, Bang?" Tanya lelaki itu pada Si Codet.
"Maaf, begini Mas. Kami ada kepentingan mendadak, salah satu sodara Kami sedang dirawat di rumah sakit kami harus menjenguknya sekarang" Jawab Si Codet berbohong.
"Kalau Kami ikut numpang, kira-kira bisa nggak.?" Tanya Si Codet kemudian.
"Hmmm. Nanti saya tanya sama Kakak Saya dulu." Jawab lelaki itu, sambil memasukkan kepalanya. Mau nanyain ke kakaknya yang sedang pegang stir. Tak lama kemudian, lelaki tersebut nongol lagi.
"Bang. Silahkan Bang. Tapi kata kakak Saya, hati-hati jangan sampai nginjek sayurannya." kata lelaki itu lagi.
"Owh. Iya. Terimakasih banyak sebelumnya, Mas." Si Codet riang. Dan mengucapkan terima kasih dengan sopannya. Kemudian, Si Codet ngasih kode pada Ki Gendut Ireng yang masih berdiri mematung. Ki Gendut Ireng pun menghampirinya.
Setelah Si Codet dan Ki Gendut Ireng naik.
Mobil pun perlahan maju, dan meluncur ke arah Timur dengan cepat menuju ke kota.
"Hahaha. Akhirnya kita bebaaaasss.." Si Codet nampak kegirangan. Ki Gendut Ireng pun tertawa terbahak. Tanpa terdengar oleh Sopir dan temanya di depan, karena suara tawa Si Codet dan Ki Gendut Ireng kalah dengan suara deru mesin mobil, dan juga kencangnya angin saat mobil belari agak cepat.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩ...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 81 Episodes
Comments
dede rohimah
seru nih. lanjut ah
2024-09-19
0
Aji Wandi
lanjut thooor
nambah penasaran ajah nih cerita nya.
2024-09-12
0