Ki Gendut Ireng, Si Codet dan Anan, sudah berhasil memanjat pagar belakang rumah Juragan Basri.
Tampak Ki Gendut Ireng mulai mengatur siasat, untuk memantapkan langkah kedepan agar berjalan lancar.
"Anan...persiapkan alat-alatmu. Nanti, setelah kamu masuk ke kamar Juragan Basri, langsung sekap saja. Dan jangan lupa mulut Juragan Basri dan isterinya tutup dengan lakban agar tidak berteriak...!!" Perintah Ki Gendut Ireng pada Anan, walaupun pelan tapi jelas. Anan hanya diam, perlahan dianggukan kepalanya.
"Bagaimanapun juga aku sudah muak dengan segala perintahmu, ki Gendut jelek..!. dan aku harus mencari cara agar misi Ki Gendut Ireng gagal total, aku juga harus bisa langsung kabur ketika misinya gagal..huhf..!!" Anan membatin. Wajahnya sedikit ditekuk, untung saja suasananya dalam keadaan tidak terlalu terang, dan wajahnya sudah ditutupi kain, sehingga perubahan wajah Anan tidak dicurigai oleh Ki Gendut Ireng.
"Dan kamu Codet, ikuti terus langkah Si Anan, buatlah ancaman pada Juragan Basri dan isterinya, todong kedua orang tua itu dengan pisau belatimu, kalau melawan, apa boleh buat... sikat saja..krekk...!!" Perintah Ki Gendut Ireng lagi yang ditujukan pada Si Codet, sambil menunjukkan telunjuk jarinya dan diletakkan di lehernya.
"Naaah, nanti kalau kedua orang tua itu sudah aman dalam sekapan, segera kita ambil seluruh barang yang berharga. Gue pasti membantumu ngambilin barang-barang. Sebentar lagi kita akan kaya mendadak. Hahahaha..!!!"
"Siap Bos...!!, Ta..tapi si Bos jangan keras-keras bicaranya. Takut ada yang mendengar." Timpal Si Codet, seraya mengingatkan pada Ki Gendut Ireng, yang optimis akan berhasil dalam misinya.
"Hahaha... O iya. Maaf. Ayo kita mulai." Kata Ki Gendut Ireng. Langsung melangkah mendekati pintu belakang. Kemudian mengeluarkan sesuatu alat untuk membuka pintu rumah belakang yang terkunci.
Anan dan Si Codet mengikutinya dari belakang, pandangan kedua lelaki itu waspada, takut ada yang memergoki aksinya.
Tidak berselang lama, akhirnya.
"rkeeeet..." pintu rumah belakang Juragan Basri berhasil dibuka. Sungguh senangnya perasaan Ki Gendut Ireng karena telah berhasil membuka pintu rumah Juragan Basri, baginya usahanya menandakan 50 % sudah berhasil.
"Kamu duluan Anan. dan langsung masuk ke kamar Juragan Basri, semoga saja pintu kamarnya tidak dikunci. Ingat tugas kamu...!!" Ki Gendut Ireng memberi perintah untuk kesekian kalinya pada Anan.
Dengan berat langkah, Anan langsung melangkahkan kakinya masuk ke rumah Juragan Basri.
Sebenarnya, Anan sudah tidak mau lagi kerjasama dengan Ki Gendut Ireng dalam hal kejahatan, tapi apa daya bagi Anan yang masih minim dengan ilmu silatnya dan juga terkadang masih berhutang budi pada Ki Gendut Ireng saat Anan dikeroyok oleh preman kampung. Beruntung saat itu Ki Gendut Ireng datang dan membantu Anan. Akhirnya Anan selamat dari keroyokan preman-preman kampung itu. Hal inilah, menyebabkan dirinya begitu masih merasa sulit terlepas dari lingkaran Setan itu.
Beberapa menit kemudian.
Ketiga kawanan perampok itu sudah berada di ruang tamu. Kebetulan, sinar lampu ruangan rupanya dimatikan oleh pemilik rumah, sehingga keberadaan mereka itu tidak terlihat jelas dari luar rumah.
Sepasang mata Ki Gendut Ireng selalu waspada barangkali ada hal yang mencurigakan. Ia mendekati Si Codet yang sudah siap dengan aksinya. Sementara itu Anan, mengarahkan pandangannya ke pintu depan rumah, seperti sedang memperhatikan sesuatu. Nampak sinar matanya berbinar.
"Hmmm, syukurlah... Nanti aku akan lari lewat pintu depan saja. Aku lihat, kuncinya menggantung. Mudah-mudahan saja, aku berhasil kabur." Anan membatin. Hela nafasnya terasa panjang, seolah apa yang sedang bergemuruh di dadanya segera bisa dikeluarkan semuanya.
Ruangan rumah Juragan Basri lumayan besar dengan gaya klasik dan terdapat 3 kamar tidur. Hingga membuat Ki Gendut Ireng bingung juga, kamar mana yang ada Juragan Basri dan isterinya.
"Codet...!!" Panggil Ki Gendut Ireng pelan tapi jelas.
" Siap Bos...!"
"Menurut lu, kamar Juragan Basri yang mana?, di sini ada tiga kamar.?" Tanya Ki Gendut Ireng meminta pendapat Si Codet anak buah andalannya.
"Hmmm kayaknya ini yang tengah, Bos... Apa Bos tidak mendengar dengkuran orang yang sedang tidur..?" Si Codet balik bertanya. Namun tiba-tiba.
"Uhuk...uhuk.. Uhuk..Uhuk..!"
Terdengar dari kamar, suara seorang wanita yang batuk-batuk. Tidak berselang lama, terdengar suara langkah kaki mendekati pintu kamar.
Ki Gendut Ireng dan kedua kawannya sangat terperangah, mereka tersentak kaget. Kecurigaan mereka sudah pasti. Bahwa yang batuk-batuk itu suara dari isteri Juragan Basri, Nyi Sumarti namanya yang terbangun dari tidurnya.
Dengan serta merta, Ki Gendut Ireng, memberikan aba-aba kepada Codet dan Anan untuk bersembunyi di mana saja kalau saja Nyi Sumarti keluar dari kamarnya tidak menemukan keberadaan mereka.
Codet dan Anan langsung faham. si Codet lari ke ruangan tengah, sepertinya ruangan khusus untuk makan, dan langsung bersembunyi di bawah meja makan yang lumayan tinggi sehingga badannya bisa masuk di bawahnya.
Ki Gendut Ireng berlari ke dekat ruangan dapur yang bersebelahan dengan kamar mandi. Dan ia bersembunyi di balik tirai yang menutupi pintu kamar gudang, tapi masih bisa melihat dan memperhatikan keadaan di ruang tengah dan ruang depan.
Diwaktu yang sama juga, Anan langsung memposisikan dirinya bersembunyi di balik sofa ruang tamu. Hatinya berdegup keras. Begitupun Ki Gendut Ireng dan Si Codet. Walaupun mereka tergolong penjahat kelas kakap. Ketika dihadapkan dengan suasana seperti itu hatinya berdebar, penuh dengan rasa takut. Begitulah kalau orang yang berniat jahat, pasti selalu dihantui rasa takut.
"Ckreeek... Kleek...!"
Terdengar suara pintu kamar Juragan Basri ada yang membuka. Tampak Nyi Sumarti muncul dengan sedikit rambut yang acak-acakan (Maklum habis bangun tidur), berjalan gontai sambil menahan rasa kantuk yang masih melekat di matanya.
Nyi Sumarti berjalan keruang tengah, dan langsung membuka lemari kulkas. Rupanya, wanita paruh baya itu merasa haus setelah melewatkan waktu tidurnya dari tadi.
Dari bawah kolong meja makan, Si Codet melihat jelas wanita paruh baya itu yang hanya memakai pakaian tidur tipis dan transparan, sudah barang pasti terlihat jelas lekuk tubuh Nyi Sumarti.
Demikian juga warna CD dan BH nya yang seragam satu warna, terlihat sangat mengundang birahi bagi Si Codet yang bersembunyi di bawah meja makan. Apalagi saat wanita itu berjongkok untuk mengambil air dingin di kulkas. Wanita paruh baya yang masih terlihat mulus itu membelakangi Si Codet membuat kedua bola matanya hampir lepas melihat pemandangan langka itu.
"Anjaaaaaaay.... wooooiii body nyooo... Hhhmmmh sangat aduhai sekali....!!" Bathin Si Codet. Tenggorokannya mendadak kering kerontang. Kedua matanya masih tak terlepas dari tubuh mulus Nyi Sumarti. Kalau saja tidak sedang menjalankan misi, tentunya Si Codet sudah menerkam wanita itu dari belakang, bak singa lapar yang haus mangsa.
"Hmmmm apa nanti aku lahap saja body nya yah, kalau misi nya telah beres. Tentunya si Bos juga setuju...hahahaha."
Bathin Si Codet terus meracau pikirannya bertraveling pada moleknya isteri Juragan Kaya tersebut.
Sementara itu, Ki Gendut Ireng yang bersembunyi di balik tirai dekat dapur dan kamar mandi, kedua bola matanya tetap mengawasi situasi keadaan yang terjadi. Sebagai penjahat kelas kakap, sudah barang tentu ia mempunyai berbagai cara alternatif yang harus dilakukan. Walaupun tanpa sepengetahuan Si Codet dan Anan. Toh Ki Gendut Ireng lah yang jadi ketua.
"Hmmm keadaan bisa kacau dan gawat nih, kalau sampai isteri Juragan Basri tahu keberadaan gue, Si Codet dan si Anan. Gue harus mengambil tindakan."
Gendut Ireng membatin. Dan langsung berfikir keras. Tiba-tiba, Ki Gendut Ireng dikagetkan dengan suara Nyi Sumarti dan suara langkah kakinya mendekat pintu belakang yang otomatis mendekati dirinya.
"Pintu belakang kok terlihat sedikit terbuka yah. Apa mas Basri lupa tidak menguncinya..?" Ki Gendut Ireng mendengar jelas suara Nyi Sumarti yang rupanya sedang bicara pada dirinya sendiri.
Nyi Sumarti melangkahkan kaki nya mendekati pintu belakang. Dan benar saja ia mendapati pintunya tidak dikunci.
"Lho.. kenapa nggak dikunci.. wah untung saja Aku terbangun...!" Gumam Nyi Sumarti sambil menutup kembali pintunya.
"Kok nggak bisa terkunci sih... !!?? Apa kuncinya rusak. Wah, Aku harus membangunkan mas Basri. Aku jadi curiga.."
Nyi Sumarti terus bicara sendiri. Tidak sadar, bahaya begitu dekat mengintainya.
Dan menit kemudian...
.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 81 Episodes
Comments
Fathiya Fitri
masih setia... jujur aku penasaran pada author nya ... kok kayak orang novelis banget... tahun 2000 an
2024-09-14
0
Fathiya Fitri
kok aku deg deg an yh
/Smile/
2024-09-14
0
Reyy Petualang
baguss alur nya,bikin betah hidup di bumi
2024-09-03
0