Bab 10. Pengejaran

Puluhan warga telah berkumpul di halaman pos ronda dengan membawa obor sebagai penerangan. Suasana malam yang tadinya sepi kini menjadi ramai dengan gemuruhnya suara warga kampung Lemburasri yang sudah siap mengejar kawanan maling.

"Juragan, kira-kira ke arah mana lari nya para pencuri tadi?" Tanya Pak RT ke Juragan Basri.

"Ke arah selatan, Pak RT. Saya yakin mereka belum jauh. Karena ke sananya pesawahan dan juga sungai. Walaupun airnya tidak terlalu deras, tapi tebing nya kan pada curam. Sungainya juga dalam. Kita kejar ke arah sana saja." Juragan Basri memberi penjelasan.

"Ya sudah...ayoo bapak-bapak kita kejar kawanan pencurinya. Bila perlu langsung cincang dan bakar saja nanti kalau ketangkap biar tidak ada lagi pencuri yang masuk ke kampung kita.!" Perintah Pak RT.

"Apa kita berpencar saja, Pak RT..?" Juhro memberi usul.

" Iya Pak RT. Kita berpencar saja, warga kita kan segini mah banyak. Apalagi cuman maling hanya tiga orang." Mang Darta juga mengiyakan.

Akhirnya sesuai kesepakatan warga. Mereka berpencar untuk pengejaran kawanan pencuri yang berhasil lolos dari rumahnya Juragan Basri, yang membawa uang dan juga perhiasan.

Gelapnya malam di sekitaran kampung Lembursari, kini berubah menjadi terang dengan cahaya api obor yang menyala-nyala. Kepulan asap hitam dari nyala obor bergumul di angkasa. Teriakan-teriakan warga yang begitu bising. Kalau saja para kawanan pencuri tahu bagaimana amarah dan dongkolnya warga, pasti dengan drastis akan menciutkan mental para kawanan pencuri tersebut.

Warga kampung terus merangsek ke setiap tempat yang dicurigai. Mereka telah menyebar ke segala penjuru kampung. Bahkan ada dari sebahagian warga yang sudah masuk hutan pinus segala.

Lembah, kebun jagung, kebun kacang, sawah dan juga tepian sungai tidak luput dari incaran warga kampung.

Apalagi setelah mendapat pengumuman dari Juragan Basri, siapa saja yang berhasil membekuk kawanan pencuri, akan diberikan hadiah yang fantastis.

Hal ini yang membuat para warga kampung semakin antusias dan semangat mencarinya. Bahkan sampai pagi sekalipun, warga siap terus menggeledah ke setiap tempat yang dicurigai sebagai persembunyian kawanan bandit rampok tersebut.

*****

#Di lain tempat.

Dari kejauhan, Ki Gendut Ireng melihat cahaya api yang terus berjalan menyebar. Dia yakin warga kampung sedang mengejarnya. Memang benar prediksi Juragan Basri. Ki Gendut Ireng dan anak buahnya merasa kesulitan mencari jalan untuk bisa lolos dari kejaran warga. Karena gelapnya malam yang menghambat pelarian, juga lokasi tempat yang masih asing bagi ketiganya.

Ki Gendut Ireng terus berlari menjauhi perkampungan. Si Codet pun sudah berhasil mengikuti Ki Gendut Ireng di belakangnya begitu pun dengan Anan.

Hingga sampai di suatu tempat yang dirasa aman, Ki Gendut Ireng akhirnya menghentikan langkahnya. Nafasnya kembung kempis, tak beraturan. Detak jantungnya juga cepat sekali. Bajunya sudah basah kuyup dengan keringat yang terus merembas dari setiap lubang porinya.

Ki Gendut Ireng langsung mendudukan pantatnya pada tumpukan jerami kering. Badan nya disandarkan di pohon kelapa.

" Wuaduuuuh... hampir saja kita celaka...Dasar sialan..!!"

Ki Gendut Ireng menggerutu.

Si Codet dan Anan tak bisa berkata apa-apa. Keduanya masih mengatur pernafasannya masing-masing. Tenggorokannya terasa kerontang setelah menempuh entah berapa ratus meter. Belum rasa takut yang masih melekat di dada mereka. Tak terkecuali juga hal yang sama dengan Ki Gendut Ireng.

Walaupun termasuk penjahat kelas kakap, ketika dihadapkan dengan seperti tadi, tetap saja membuat dirinya juga merasa shock.

Tidak kebayang kalau saja Ia dan kedua anak buahnya berhasil menjadi bulan-bulan massa.

Masih mending kalau hanya mendapat pukulan dan tendangan. Coba kalau sampai dibakar hidup-hidup.

" iiiiih.... Iiih..." Ki Gendut Ireng tiba-tiba bergidik. Membayangkan jika tubuhnya terpanggang. Tamatlah sudah riwayat hidupnya.

( rupanya bandit ini masih takut dengan api ya, guys.)

"Kenapa, Bos. Apa si Bos melihat hantu..? Kok tiba-tiba bergidik. ?" Tanya Si Codet yang sempat melihat Ki Gendut Ireng seperti melihat sesuatu yang menyeramkan. Kini nafasnya sudah bisa diatur kembali. Tenaganya juga berangsur pulih dan berkumpul.

"Hahahah, nggak ada dari sono nya kalau Ki Gendut Ireng takut dengan Hantu. Yang ada hantunya lari kalau lihat Ki Gendut Ireng hahahaha !!" Ki Gendut Ireng terbahak mendengar tanya dari Si Codet.

"Lha, barusan aku lihat, si Bos bergidik begitu. ?" Tanya Si Codet lagi.

"Gue lagi ngebayangin. Kalau saja tadi kita ketangkap warga. Disiksa lalu dibakar hidup-hidup, kamu mau hah!?"

"Iya yah...iiiih mit amit jabang bayi...!" Si Codet juga ikut-ikutan bergidik.

"Terus, apa yang akan kita lakukan selanjutnya Bos ? Apa menunggu sampai pagi aja di sini..?" Terdengar Anan bertanya yang sedari tadi memijiti kedua betisnya yang terasa pegal dan nyeri.

"Dasar bodoh..!! masa kita harus nunggu sampai pagi. Kamu ingin dibakar hidup-hidup oleh warga kampung sini, hah.. Goblok !!" Ki Gendut Ireng marah mendengar Anan bertanya. Anan terdiam, takut dengan amarahnya Ki Gendut Ireng.

"Kita istirahat dulu di sini. Sambil ngumpulin tenaga.!" Perintah Ki Gendut Ireng pada kedua anak buahnya.

"Codet, aman nggak hasil curiannya..?" Ki Gendut Ireng menoleh ke Si Codet.

"Ini Bos. Aman... dan nggak ada yang jatuh walau tadi aku lari terbirit." Si Codet menyerahkan hasil curiannya ke Ki Gendut Ireng.

"Hahahaha, Bagus... Kerja bagus...!!" Ki Gendut Ireng terbahak sangat senang sekali melihat hasil curiannya. Dan langsung membuka tas ransel yang penuh dengan hasil curian. Rasa pegal di kaki dan capek akibat melarikan diri dari rumah Juragan Basri mendadak hilang seketika. Apalagi ketika Ia melihat emas perhiasan sebegitu banyaknya.

Beberapa menit kemudian, terdengar Ki Gendut Ireng bertanya ke Anan dengan suara bariton nya.

"Anan...!! Kenapa tadi Juragan Basri bisa cepat lepas dari cengkraman Lu, Hah..!! Apa bener tangan dan kakinya Lu ikat.!?" Tatapan tajam Ki Gendut Ireng kini tertuju pada Anan.

"Kan Bos sendiri juga tadi melihatnya. Saya menyeret Juragan Basri dan mengikatnya. " Anan sedikit berkilah dan membela dirinya.

"Gue nggak percaya. Kenapa secepat itu si Juragan Basri bisa langsung terlepas dari ikatannya. Gue jadi curiga sama Lu, Anan.!!" Ki Gendut Ireng setengah membentak pada Anan.

"Siaaaal..bisa bahaya nih, Aku..kalau sampai Ki Gendut Ireng curiga atau bahkan tahu. Hmmmm memang, Aku hanya mengikatkan tali tidak sepenuhnya terikat sehingga Juragan Basri mudah mengikatnya" Anan membatin. Hatinya mulai deg deg an.

"A..apa ma..maksud Bos. ?" Tanya Anan. Pura-pura tidak mengerti. Ditenangkannya hatinya yang mendadak berdegup kencang. Belum rasa lelah dan letihnya yang belum hilang, hingga suaranya terdengar bergetar.

"Kapan kau mulai tuli, hah..? Kalau bodoh mah sudah dari dulu.!!" Bentak Ki Gendut Ireng nadanya semakin meninggi.

"Gue nggak yakin, kamu mengikat tangan dan kaki Juragan Basri dengan kuat. Atau jangan-jangan hanya pura-pura saja mengikatnya. Hah..?!!." Ki Gendut Ireng terus membentak Anan. Membuat Anan terkesiap dan pucat. Untung saja suasananya sedikit gelap. Jadi tidak kentara oleh Ki Gendut Ireng.

"Apa Lu sengaja menggagalkan rencana Gue, Haaaah... !!!? Jawab bodoh...!!" Ki Gendut Ireng terus mencerca Anan. Terdengar gemeretak gigi Ki Gendut Ireng yang semakin geram pada Anan.

"A...a..apa ma..maksud Bos, De..demi Tuhan Sa..saya nggak bermaksud menggagalkan. Saya juga ta..tadi kan kena tendangan dari Juragan Basri." Anan tergagap ketakutan dengan amarah Ki Gendut Ireng.

"Mu..mungkin saja Juragan Basri memakai te...tenaga dalam untuk melepas talinya. Bos. Saya juga terkena tendangan dan pukulannya. Hingga kini masih terasa sakit sekali." Anan menjelaskan sambil meringis menahan kesakitan, agar Ki Gendut Ireng tidak mempermasalahkannya lagi.

"Jangan coba-coba bohongi Gue. Dikira gue nggak ngerti haaaah..!! Emangnya Gue anak kemaren sore yang mudah dikibulin sama Lu..!"

Ki Gendut Ireng malah semakin murka.

"Codeet...!!"

"Siap, Bos..!" Si Codet sigap.

"Ikat tangan dan kakinya. Biar tahu rasa saja orang yang berkhianat ke si Gendut Ireng...!!"

Rupanya Ki Gendut Ireng sudah mulai curiga dengan gerak gerik Anan semenjak awal penyergapan rumah Juragan Basri.

Memang benar, sebenarnya Anan sudah lama ingin terlepas dari kungkungan Ki Gendut Ireng. Naluri hatinya sudah sangat muak dengan pekerjaan dia sekarang ini.

Mendengar perintah dari pimpinannya dan juga sohib malingnya, Si Codet langsung mengeluarkan tali tambang dari tasnya.

"Ampun kang Codet.. ampuuuun saya jangan diikat.!! Sa..saya tidak bermak..!!"

"Diam kamu, keparat...!!" Si Codet bukannya merasa iba, malah ikut tersulut emosi.

"Kalau Gue harus jujur. Sebenarnya Gue juga sudah curiga sama Lu, dari awal Lu masuk rumah Juragan Basri.!!" Si Codet bahkan terus menimpali menyudutkan Anan.

Anan terus memohon ke Si Codet untuk tidak mengikat dirinya. Badanya yang sudah berdiri langsung mundur beberapa langkah, menjauhi Ki Gendut Ireng dan Si Codet.

Dan dengan gerak cepat, Anan berbalik maksudnya mau melarikan diri. Tapi sayang, Si Codet lebih faham apa yang akan dilakukan Anan. Begitu Anan baru saja melangkahkan kakinya, dengan cepat pula, Si Codet menghalangi Anan, dan

"Bugh..Bugh"

Bogem mentah yang kekar dan bulat Si Codet berhasil menghantam pipi dan perut Anan.

"Aduuuuuh..!!!."

Anan berteriak kesakitan, karena pipi kirinya dapat tonjokan dari pukulan Si Codet. Hingga membuat Anan terhuyung. Pipinya terasa panas dan perutnya juga sakit.

Keseimbangan Anan hampir rapuh. Untung saja ia masih bisa menahan tubuhnya agar tidak jatuh ke selokan di pinggirnya. Rupanya Si Codet belum puas. Ia langsung menendang perut Anan hingga mental beberapa meter.

"Aduuuuuh... Sakiiiit... Ampuuun...!!" Anan sengaja berteriak sekeras mungkin agar bisa kedengaran oleh warga yang sedang mencari nya.

"Mudah-mudahan ada Warga yang tahu. Bahwa aku sedang disiksa oleh temenku sendiri. Ya Tuhaaaan... Aku ingin taubat. Ampuni Aku.. Lepaskan Aku dari para bajingan ini." Anan terus membatin, hati kecilnya meronta, ingin segera terbebas dari pengaruh Ki Gendut Ireng dan Si Codet. Dan bisa menjauhi pekerjaan keji yang merugikan orang lain.

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

Makin seru ya Guys... jangan lupa kasih jempol dan komennya yaaaah.

Salam santun dari Abah NasMuf.

Terpopuler

Comments

Fathiya Fitri

Fathiya Fitri

ngeriii... smoga ada balasannya bagi orng dzalim

2024-09-17

0

dede rohimah

dede rohimah

wah jahat banget

2024-09-14

0

Rina Mes

Rina Mes

Ya Alloh... kasihan banget si Anan.
jangan galak galak atuh Thor...

2024-09-14

0

lihat semua
Episodes
1 Bab 1 Komplotan Perampok Dimalam Hari
2 Bab 2. Mulai Menjalankan Aksi
3 Bab 3. Hampir Kepergok Tuanrumah
4 Bab 4. Rencana hampir gagal.
5 Bab 5. Berhasil Disekap
6 Bab 6. Lepas dari Sekapan Bandit
7 Bab 7. Di Pos Ronda
8 Bab 8. Kabur
9 Bab. 9. Suasana Lemburasri Rame dan Gaduh.
10 Bab 10. Pengejaran
11 Bab 11. Anan, Jadi Sasaran Amarah
12 Bab 12. Siaga Satu
13 Bab.13. Pertarungan lawan Warga.
14 Bab. 14. Malah Bertemu Siluman
15 Bab 15. Ki Gendut Ireng dan Si Codet berusaha kabur lagi.
16 Bab 16. Anan Ketangkap
17 Bab 17. Anan diboyong ke Rumah Juragan Basri
18 Bab. 18. Anan Dibawa Kepada Pihak Berwajib.
19 Bab.19. Pindah Markas
20 Bab. 20. Informasi di Kedai Kopi
21 Bab 20. Sobarna, Penjual Nasi Goreng
22 Bab 22. Bertemu Dengan Kawan Lama di Club.
23 Bab. 23. Bergabung
24 Bab. 24. Isi Celengan Sobarna
25 Bab. 25. Nggak Jadi Kirim Uang
26 Bab 26. Penjahat Dijahati
27 Bab 27. Ki Gendut Ireng dan si Codet Terlelap
28 Bab 28. "Mana Dompetku, Mir?"
29 Bab 29. Di Toko Perhiasan ( POV: Gardi ).
30 Bab. 30. Masih POV Gardi
31 Bab 31. Diajak Kerjasama
32 Bab. 32 Sebelas Duabelas.
33 Bab. 33. "Harus bisa Petak Umpet dengan Pihak Yang Berwajib.
34 Bab 34. Sistem Kerjasama dengan Kang Dudung
35 Bab 35. Aksi di Angkot
36 Bab 36. Serasa Makan Buah Simalakama
37 Bab 37. "Masa Preman ngebahas Sholat,!?".
38 Bab. 38. Lanjut Beraksi
39 Bab. 39. Firasat Seorang Isteri.
40 Bab. 40. Mimpi Buruk.
41 Bab. 41. AWAL PETAKA SOBARNA. ( Part. 1 )
42 Bab 42. AWAL PETAKA SOBARNA ( Part 2 ).
43 Bab 43. Malam yang Malang
44 Bab. 44. Bagi-bagi Hasil
45 Bab. 45. Ditolong Teman.
46 Bab. 46. Lapor Polisi, diantar Anan.
47 Bab. 47.
48 Bab. 48. Berniat Pulang Kampung.
49 Bab. 49. Pulang dengan Bimbang.
50 Bab. 50. Larsih, Sosok Isteri Penyabar.
51 Bab. 51. Desa Lemburasri, Desa Terpencil.
52 Bab. 52. Pengamanan Diperketat di Kampung Lemburasri.
53 Bab. 53. Gelagat Orang yang Mencurigakan
54 Bab. 54. Sobarna Dicurigai
55 Bab. 55 Hampir Jadi Korban Salah Tangkap.
56 Bab. 56 Pulang ke Rumah tengah Malam.
57 Bab 57. Bertemu Isteri
58 Bab. 58.
59 Bab. 59. Cari Solusi
60 Bab. 60. Kecopetan.
61 Bab. 61. Rencana Pinjam Uang ke Juragan Basri.
62 Bab. 62. Bertamu ke Rumah Juragan Basri
63 Bab. 63. Pinjaman Bersyarat.
64 Bab. 64. Syarat Di Luar Nalar.
65 Bab. 65. Sebuah Janji Suci Sobarna dan Larsih.
66 Bab. 66. Keraguan pada Sobarna.
67 Bab 67. Kekhawatiran Larsih
68 Bab. 68. Tamu Tak Diundang, Minta Jaminan
69 Bab. 69. Naluri Lintah Darat
70 Bab. 70. Codet Beraksi Lagi disambut dengan Perlawanan Sobarna
71 Bab. 71. Kekuatan Do'a Sang Isteri
72 Bab. 72. Mencoba Kabur, Cari Selamat.
73 Bab. 73. Si Codet Tertangkap.
74 Bab. 74. Bertemu Lagi dengan Anan.
75 Bab. 75. Akhirnya, Sertifikat Rumah Sebagai Jaminan.
76 Bab 76. Lapak Jualan Yang Terancam Gusuran
77 Bab. 77. Larsih Melahirkan
78 Bab. 78. Jatuh Tempo
79 Bab. 79. Sebuah Pertanda dalam Mimpi
80 Bab. 80. Nyi Sumarti Mulai Menagih.
81 Bab. 81. Mencari Solusi Lain.
Episodes

Updated 81 Episodes

1
Bab 1 Komplotan Perampok Dimalam Hari
2
Bab 2. Mulai Menjalankan Aksi
3
Bab 3. Hampir Kepergok Tuanrumah
4
Bab 4. Rencana hampir gagal.
5
Bab 5. Berhasil Disekap
6
Bab 6. Lepas dari Sekapan Bandit
7
Bab 7. Di Pos Ronda
8
Bab 8. Kabur
9
Bab. 9. Suasana Lemburasri Rame dan Gaduh.
10
Bab 10. Pengejaran
11
Bab 11. Anan, Jadi Sasaran Amarah
12
Bab 12. Siaga Satu
13
Bab.13. Pertarungan lawan Warga.
14
Bab. 14. Malah Bertemu Siluman
15
Bab 15. Ki Gendut Ireng dan Si Codet berusaha kabur lagi.
16
Bab 16. Anan Ketangkap
17
Bab 17. Anan diboyong ke Rumah Juragan Basri
18
Bab. 18. Anan Dibawa Kepada Pihak Berwajib.
19
Bab.19. Pindah Markas
20
Bab. 20. Informasi di Kedai Kopi
21
Bab 20. Sobarna, Penjual Nasi Goreng
22
Bab 22. Bertemu Dengan Kawan Lama di Club.
23
Bab. 23. Bergabung
24
Bab. 24. Isi Celengan Sobarna
25
Bab. 25. Nggak Jadi Kirim Uang
26
Bab 26. Penjahat Dijahati
27
Bab 27. Ki Gendut Ireng dan si Codet Terlelap
28
Bab 28. "Mana Dompetku, Mir?"
29
Bab 29. Di Toko Perhiasan ( POV: Gardi ).
30
Bab. 30. Masih POV Gardi
31
Bab 31. Diajak Kerjasama
32
Bab. 32 Sebelas Duabelas.
33
Bab. 33. "Harus bisa Petak Umpet dengan Pihak Yang Berwajib.
34
Bab 34. Sistem Kerjasama dengan Kang Dudung
35
Bab 35. Aksi di Angkot
36
Bab 36. Serasa Makan Buah Simalakama
37
Bab 37. "Masa Preman ngebahas Sholat,!?".
38
Bab. 38. Lanjut Beraksi
39
Bab. 39. Firasat Seorang Isteri.
40
Bab. 40. Mimpi Buruk.
41
Bab. 41. AWAL PETAKA SOBARNA. ( Part. 1 )
42
Bab 42. AWAL PETAKA SOBARNA ( Part 2 ).
43
Bab 43. Malam yang Malang
44
Bab. 44. Bagi-bagi Hasil
45
Bab. 45. Ditolong Teman.
46
Bab. 46. Lapor Polisi, diantar Anan.
47
Bab. 47.
48
Bab. 48. Berniat Pulang Kampung.
49
Bab. 49. Pulang dengan Bimbang.
50
Bab. 50. Larsih, Sosok Isteri Penyabar.
51
Bab. 51. Desa Lemburasri, Desa Terpencil.
52
Bab. 52. Pengamanan Diperketat di Kampung Lemburasri.
53
Bab. 53. Gelagat Orang yang Mencurigakan
54
Bab. 54. Sobarna Dicurigai
55
Bab. 55 Hampir Jadi Korban Salah Tangkap.
56
Bab. 56 Pulang ke Rumah tengah Malam.
57
Bab 57. Bertemu Isteri
58
Bab. 58.
59
Bab. 59. Cari Solusi
60
Bab. 60. Kecopetan.
61
Bab. 61. Rencana Pinjam Uang ke Juragan Basri.
62
Bab. 62. Bertamu ke Rumah Juragan Basri
63
Bab. 63. Pinjaman Bersyarat.
64
Bab. 64. Syarat Di Luar Nalar.
65
Bab. 65. Sebuah Janji Suci Sobarna dan Larsih.
66
Bab. 66. Keraguan pada Sobarna.
67
Bab 67. Kekhawatiran Larsih
68
Bab. 68. Tamu Tak Diundang, Minta Jaminan
69
Bab. 69. Naluri Lintah Darat
70
Bab. 70. Codet Beraksi Lagi disambut dengan Perlawanan Sobarna
71
Bab. 71. Kekuatan Do'a Sang Isteri
72
Bab. 72. Mencoba Kabur, Cari Selamat.
73
Bab. 73. Si Codet Tertangkap.
74
Bab. 74. Bertemu Lagi dengan Anan.
75
Bab. 75. Akhirnya, Sertifikat Rumah Sebagai Jaminan.
76
Bab 76. Lapak Jualan Yang Terancam Gusuran
77
Bab. 77. Larsih Melahirkan
78
Bab. 78. Jatuh Tempo
79
Bab. 79. Sebuah Pertanda dalam Mimpi
80
Bab. 80. Nyi Sumarti Mulai Menagih.
81
Bab. 81. Mencari Solusi Lain.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!